Nameera si Gadis Qatar

Adzan berkumandang menggema di seluruh penjuru kota Doha, membangunkan tiap insan yang masih betah berada di alam mimpinya, tak terkecuali Zulaikha.

Namun, sepertinya gadis itu masih enggan meninggalkan kasur yang begitu empuk menurutnya, sangat jauh berbeda dengan kasur yang berada di rumah paman dan bibinya, terasa begitu keras dan tipis. Suhu yang lumayan dingin sekitar 10 derajat celcius semakin membuat Zulaikha enggan untuk keluar dari gulungan selimut.

Seutas senyuman kembali tersungging di bibirnya saat mengingat malam kemenangan Argentina yang membuat suaranya hampir habis karena ikut bersorak penuh semangat. Malam itu, Zulaikha berhasil melupakan kesedihannya sesaat.

"Yeee Mas Messyku menang," ucapnya dengan suara serak dan mata yang perlahan kembali terpejam. Tepat setelah mengatakan itu, Zulaikha kembali tenggelam dalam muara mimpinya.

Sholat? Zulaikha hanya melakukannya sesekali semenjak orang tuanya meninggal, itu pun hanya saat Bibi Anisa menyuruhnya. Keterpurukannya saat itu benar-benar membuatnya semakin jauh dari Allah.

--

Zulaikha perlahan membuka matanya saat sinar matahari mulai menerobos masuk kamar melalui celah-celah gorden di penginapan tempat ia tinggal.

Tring

Sebuah notifikasi pesan berbunyi membuat gadis itu segera meraih ponselnya yang tersimpan di atas nakas.

Romi

Hey, Zul, di mana kamu? Aku baru saja tiba di hotel tempat acara pernikahanmu, Tapi kenapa yang menikah dengan Suryamu bukan kamu? Apa yang terjadi?

Zulaikha menepuk jidatnya, ia benar-benar melewatkan rekan kerjanya itu. Padahal selama ini, semua persiapan nikah Romi yang membantunya.

"Jadi dia nggak mau rugi, hotel itu kan tempat pernikahannya denganku, bukan dia dengan selingkuhannya. Ih dasar breng***," teriaknya sembari menendang-nendang angin di atasnya dalam posisi masih berbaring di kasur.

Setelah puas mengumpat mantan calon suaminya itu, Zulaikha memutuskan untuk sarapan lalu mencari angin segar di kota Doha, kota yang menjadi Ibu Kota Qatar.

Corniche Road, salah satu tempat yang letaknya di tepi kota Doha. Di sepanjang jalan ini, dapat terlihat jelas pemandangan kota Doha yang begitu indah, serta teluk dan beberapa bangunan megah yang mengelilinginya.

Di tempat ini juga terdapat hamparan rerumputan hijau yang cukup luas, sangat cocok untuk dijadikan tempat piknik bersama keluarga. Entah sudah berapa banyak kalimat pujian yang dilontarkan Zulaikha sejak ia tiba di Corniche Road itu, bagaimana tidak, tatanan kota, serta arsitektur tiap bangunan yang unik dan begitu megah seolah menjadi bagian yang menambah keindahan kota itu.

"Sayang sekali aku menikmati tempat ini dalam kesendirian," ucap Zulaikha lesu, sembari mengabadikan setiap keindahan itu melalui kamera di ponselnya yang sederhana, sayang jika di lewatkan, kapan lagi ia bisa liburan ke luar negeri setelah ini, begitu pikirnya.

Puas menikmati suasana di sepanjang Corniche Road, kini perhatian Zulaikha tertuju pada sebuah bangunan unik yang berada di tepi teluk tidak jauh dari tempatnya saat ini yaitu MIA atau Museum of Islamic Art.

Sebuah kolam dengan air mancur di tambah deretan pohon kurma yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju MIA begitu menambah keindahan lokasi itu. Sambil berjalan, Zulaikha tak henti-hentinya memotret tempat itu.

Hingga ia tidak sengaja menangkap gambar seorang gadis yang kira-kira berusia 18 tahun. Dengan memakai pakaian muslimah warna hitam dengan aksen putih di ujung pakaiannya, dipadukan dengan kerudung berwarna hitam yang menutupi kepalanya hingga dada. Hanya memperlihatkan wajahnya yang cantik khas Timur Tengah dan telapak tangannya yang begitu putih bersih.

Merasa dipandangi oleh Zulaikha, gadis itu datang menghampiri Zulaikha.

"Assalamu 'alaikum," ucapnya sembari tersenyum ramah.

"Wa'alaikum salam," jawab Zulaikha dengan senyum yang tak kalah ramah.

"Atasmahiina lii bi an ata'aaraf ma'aki? (Bolehkah saya berkenalan denganmu?)" tanya gadis itu menggunakan bahasa Arab.

Zulaikha mengerutkan keningnya mendengar perkataan asing itu di telinganya. "Can you speak English?"

Gadis itu tampak langsung mengangguk paham sembari tersenyum, "Yes, I Can. Bolehkah aku berkenalan denganmu?" tanya gadis itu kembali dengan bahasa Inggris.

"Tentu saja, Namaku Zulaikha," ucapnya sembari mengulurkan tangannya.

"Nama yang cantik, namaku Nameera, senang berkenalan denganmu." Gadis itu menyambut uluran tangan Zulaikha sembari tersenyum ramah.

"Apa kamu sedang berlibur di sini?" tanya Nameera.

"Iya, aku berlibur sekalian nonton piala dunia," jawab Zulaikha.

"Benarkah? Aku juga semalam sempat nonton bola bersama kakakku.

"Wah, semalam kan Argentina melawan Australia, kamu dukung yang mana?" tanya Zulaikha begitu antusias seolah sudah lama mengenal Nameera.

"Aku tidak mengidolakan salah satunya, aku hanya ikut memeriahkan saja," jawab Nameera sembari tertawa kecil di akhir kalimat.

"Kupikir kamu juga suka, aku suka nonton bola, sayangnya, semakin maju ke babak selanjutnya harga tiket semakin mahal, aku hanya bisa nonton yang 16 besar saja."

Nameera mengangguk sembari tersenyum. "Bisa ikut nonton langsung saja itu udah syukur banget, banyak yang mau nonton juga tapi belum rezeki mereka," ujar Nameera, membuat Zulaikha menganggukkan kepala.

"Biar ku tebak, kamu orang Melayu kan?" tebak Nameera.

"Iya, aku dari Indonesia. Kok kamu bisa tahu?" tanya Zulaikha.

"Aku punya beberapa teman orang Melayu, seperti kamu, sangat khas dan cantik," pujinya, membuat semburat merah muncul di pipi putih Zulaikha.

"Terima kasih," ucapnya. "Ohh iya, aku penasaran dengan Museum itu, apa kamu mau menjadi tour guide-ku?" Zulaikha menunjuk MIA yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.

"Dengan senang hati, Zulaikha," ucap Nameera. Mereka pun berjalan beriringan menuju ke MIA.

"Ini adalah Museum of Islamic Art, museum ini menyimpan beberapa benda peninggalan Islam dan juga beberapa karya seni lain dalam dunia Islam. Museum ini baru saja mengalami renovasi dan perombakan besar-besaran sebelum akhirnya siap menerima arus pengunjung di Piala Dunia ini." Nameera menjelaskan dengan begitu detail sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam museum.

Lagi-lagi mata Zulaikha di manjakan oleh interior museum yang begitu mewah dan unik.

"MIA memiliki 18 galeri, karena kita berada di lantai pertama, maka aku akan mengajakmu masuk ke galeri pertama," tuturnya sembari menarik tangan Zulaikha memasuki sebuah ruangan yang berisi beberapa mahakarya.

"Ini semua adalah benda-benda berharga karena signifikansi sejarah dan budayanya yang didedikasikan untuk awal mula Islam."

Nameera kini melangkah mendekati sebuah vas. Desain artefaknya tampak begitu unik dengan warna dark blue dan gold yang mendominasi.

"Ini namanya Cavour vase abad ke-13. Benda ini di buat khusus untuk Pameran Masalah Suriah untuk menyoroti warisan budaya yang luar biasa dan warisan unik dari Negara Suriah, salah satu negara yang menjadi awal perkembangan sejarah Islam. Kalau aku tidak salah, Cavour vase ini terbuat dari kaca, enamel dan gilt." jelasnya.

"Lalu ...." Penjelasan Nameera terhenti saat ponselnya berdering.

"Aku mengangkat telepon dari kakekku dulu yah," izinnya lalu mulai berbicara dengan bahasa Arab.

Tak lama setelah itu, ia mengakhiri sambungan telepon tersebut.

"Zulaikha, aku mohon maaf, kakekku sudah menjemputku, lain kali lagi kita bertemu yah," ucapnya lalu menyalami Zulaikha.

"Aku akan menemanimu keluar," tawarnya dan mendapat anggukan dari Nameera.

Mereka pun berjalan bersama, hingga langkah kaki Zulaikha terhenti di tepi jalan.

"Semoga Allah menakdirkan kita bertemu kembali," ucapnya lalu pergi menuju ke mobil mewah yang berada tidak jauh dari tempat mereka saat ini.

Zulaikha memicingkan mata saat melihat seorang pria berusia lanjut yang duduk di jok kedua mobil tersebut.

"Kenapa wajah Kakek Nameera seperti tidak asing yah? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?"

-Bersambung-

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

nameera kayanya adik yg sering bertabrakan ma Zulaikha

2023-10-06

1

Neneng cinta

Neneng cinta

apa kakanya ameera yg tabrakan sm zul ya🤔

2023-02-12

1

manda_

manda_

lanjut lagi

2023-02-07

1

lihat semua
Episodes
1 Surya yang Meredup
2 Welcome to Qatar
3 Nameera si Gadis Qatar
4 Dua Pria Beda Generasi
5 Menyampaikan Amanah
6 Korban Broken Home
7 Bakso ala Zulaikha
8 Dia yang Tidak Sempurna
9 Kakak Ipar
10 Gadis dengan Abayha
11 Dia Calon Istriku
12 Aku Pamit
13 Pengakuan Sang Mantan
14 Hubungan Tanpa Cinta
15 Jangan Berharap Lebih
16 Boleh Aku Menggandeng Tanganmu?
17 Ancaman Bibi Afra
18 Bekerja dalam Senyap
19 Kebiasaan Makan
20 Membuatnya Terbiasa
21 Kamu Sangat Tampan Saat Tersenyum
22 Nameera Drop
23 Memiliki Dua Istri?
24 Mulai Terbiasa
25 Rindu yang Tak Sampai
26 Ternyata Kamu Cantik juga.
27 Kemarahan Tareeq
28 Di mana Dia?
29 Merindukannya
30 Memperlakukanmu Sebagai Istriku
31 Gombalan Pria Qatar
32 Angin Segar Untuk Nameera
33 Saat Harus Memilih
34 Misi Zulaikha dan Tareeq
35 Pertemuan dengan Billy
36 Liciknya Qifty
37 Saat Ujian Kembali Menghampiri
38 Kamu Licik Aku Lebih Licik
39 Hikmah dari Allah
40 Memafkan itu Menenangkan
41 SPA dan Setrika
42 Pertemuan Karena Ngidam
43 Rencana Buruk
44 Kadatangan Tiga Pria
45 Keberanian Zulaikha
46 Misi Penyelamatan
47 Curi Pandang
48 Cerita Tiga Pria
49 Permintaan Nameera
50 Jawaban Khalid dan Ali
51 Keputusan Nameera
52 Uhibbuka Fillah
53 Rasa Gelisah
54 Kembali Hancur
55 Terpuruk Lagi
56 Kembalilah ke Qatar
57 Menuju Pernikahan Nameera
58 Pesta Pernikahan di Qatar
59 Melepas Kerinduan
60 Hamidun?
61 Ujian Kesabaran
62 Pria Baik
63 Dijodohkan Lagi
64 Balapan Unta
65 Welcome Baby F
66 Kebahagiaan Zulaikha
67 Permintaan Maaf Qifty
68 Saran Untuk Khalid
69 Kejutan Untuk Zulaikha
70 Tasbih Cinta (TAMAT)
71 He's Not A Bad Boy
72 PROMO NOVEL BARU
73 MOZAIK KENANGAN
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Surya yang Meredup
2
Welcome to Qatar
3
Nameera si Gadis Qatar
4
Dua Pria Beda Generasi
5
Menyampaikan Amanah
6
Korban Broken Home
7
Bakso ala Zulaikha
8
Dia yang Tidak Sempurna
9
Kakak Ipar
10
Gadis dengan Abayha
11
Dia Calon Istriku
12
Aku Pamit
13
Pengakuan Sang Mantan
14
Hubungan Tanpa Cinta
15
Jangan Berharap Lebih
16
Boleh Aku Menggandeng Tanganmu?
17
Ancaman Bibi Afra
18
Bekerja dalam Senyap
19
Kebiasaan Makan
20
Membuatnya Terbiasa
21
Kamu Sangat Tampan Saat Tersenyum
22
Nameera Drop
23
Memiliki Dua Istri?
24
Mulai Terbiasa
25
Rindu yang Tak Sampai
26
Ternyata Kamu Cantik juga.
27
Kemarahan Tareeq
28
Di mana Dia?
29
Merindukannya
30
Memperlakukanmu Sebagai Istriku
31
Gombalan Pria Qatar
32
Angin Segar Untuk Nameera
33
Saat Harus Memilih
34
Misi Zulaikha dan Tareeq
35
Pertemuan dengan Billy
36
Liciknya Qifty
37
Saat Ujian Kembali Menghampiri
38
Kamu Licik Aku Lebih Licik
39
Hikmah dari Allah
40
Memafkan itu Menenangkan
41
SPA dan Setrika
42
Pertemuan Karena Ngidam
43
Rencana Buruk
44
Kadatangan Tiga Pria
45
Keberanian Zulaikha
46
Misi Penyelamatan
47
Curi Pandang
48
Cerita Tiga Pria
49
Permintaan Nameera
50
Jawaban Khalid dan Ali
51
Keputusan Nameera
52
Uhibbuka Fillah
53
Rasa Gelisah
54
Kembali Hancur
55
Terpuruk Lagi
56
Kembalilah ke Qatar
57
Menuju Pernikahan Nameera
58
Pesta Pernikahan di Qatar
59
Melepas Kerinduan
60
Hamidun?
61
Ujian Kesabaran
62
Pria Baik
63
Dijodohkan Lagi
64
Balapan Unta
65
Welcome Baby F
66
Kebahagiaan Zulaikha
67
Permintaan Maaf Qifty
68
Saran Untuk Khalid
69
Kejutan Untuk Zulaikha
70
Tasbih Cinta (TAMAT)
71
He's Not A Bad Boy
72
PROMO NOVEL BARU
73
MOZAIK KENANGAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!