Kakek Husein berjalan menuju kamar sang cucu usai melaksanakan sholat ashar. Dan saat sebentar lagi akan sampai, alis pria berusia lanjut itu mengernyit saat melihat Tareeq sedang berdiri di luar kamar adiknya sembari bersandar di dinding.
"Apa kau sudah sholat ashar Tareeq?" tanya Kakek Husein, membuat pria itu terperanjat kaget.
"Astaga, Kakek," lirih Tareeq sembari mengusap dadanya yang seakan jantungnya ingin melompat keluar.
"Kenapa terkejut begitu? Kakek hanya bicara pelan loh," ujar Kakek Husain.
"Tidak apa-apa, Kek. Tareeq mau sholat dulu kalau bgitu," ujar pria itu lalu pergi meninggalkan Kakek Husain yang menatap kepergian sang cucu.
Kakek Husain langsung mengetuk pintu lalu masuk ke kamar Nameera. Namun, pemandangan yang ia lihat kali ini membuatnya sangat tersentuh, di mana Nameera dan Zulaikha sholat bersama di samping tempat tidur.
Kakek Husain memilih duduk di sofa sembari memperhatikan mereka, hingga sholat mereka selesai.
"Terima kasih atas pakaiannya Nameera, aku akan mencucinya lebih dulu baru mengembalikannya padamu," ujar Zulaikha setelah sholat.
"Ambil saja Zulaikha, anggap ini hadiahku untukmu," ucap Nameera.
"Tapi, Na...."
"Aku belum pernah memberikan hadiah pertemanan untukmu, jadi anggap saja itu hadiah pertamaku," ungkap Nameera.
"Aku pun belum memberikan hadiah untukmu."
"Siapa bilang, bakso enak tadi adalah hadiahmu untukku, kamu telah membuatnya dengan sepenuh hati."
"Benarkah?"
"Tentu saja, terima kasih," ucap Nameera. Keduanya kini saling melemparkan senyuman.
"Oh iya, aku minta nomor ponselmu, Zulaikha," pinta Nameera.
"Oh iya." Kedua gadis itu kini saling bertukar nomor ponsel mereka.
"Terima kasih untuk pakaiannya Nameera, ini sudah sore, sebaiknya aku kembali dulu." Zulaikha mulai bersiap-siap lalu pamit kepada Kakek Hasan dan Nameera untuk pulang tanpa membawa kembali sisa bakso yang masih ada atas permintaan Nameera.
"Kakek, kapan Nameera memiliki Kakak Ipar yang baik dan tulus seperti Zulaikha yah?" tanya Nameera setelah kembali ke tempat tidurnya.
"Entahlah, Nak. Kenapa kamu tidak tanyakan itu kepada Kakakmu?" sahut Kakek Husein.
"Kakak selalu menolak untuk menikah, Kek. Bagaimana jika kita minta Kakak menikah dengan Zulaikha? Aku suka dengan karakternya. Kakek lihat kan? Kami baru dua kali bertemu dan dia begitu baik selalu menjenguk hingga membawakan makanan seperti tadi," ujar Nameera.
"Kakek tidak yakin Kakakmu mau, Nak. Kamu tahu sendiri, Kakakmu itu sangat kesal dengan orang Indonesia," sanggah Kakek Husein sedikit ragu.
"Tapi Nameera menyukai Zulaikha, Kek. Di antara semua teman Nameera, tidak ada yang setulus Zulaikha, saat Nameera sakit tidak ada satu pun dari mereka yang datang menjenguk, kecuali yang ingin menarik perhatian Kak Tareeq mereka akan selalu datang, tapi setelah Kak Tareeq menolak, mereka langsung hilang." Nameera menatap sang kakek dengan tatapan memelas.
Kakek Husein terdiam sejenak sembari berpikir. "Baiklah, nanti Kakek akan bicara dengan Kakakmu," ucapnya kemudian.
Tak lama setelah itu, pria yang menjadi topik pembicaraan akhirnya datang.
"Assalamu 'alaikum," ucapnya langsung duduk berhadapan dengan Kakek Husain, dan meja menjadi perantaranya.
"Wa'alakum salam," jawab Kakek Husain dan Nameera bersamaan.
"Oh iya, Kek. Kenapa Kakek tidak bilang kalau orang Indonesia itu tinggal di apartemen?" tanya Tareeq.
"Kenapa kakek harus memberitahukanmu? Kan di sana memang tidak ada yang tinggal," jawab Kakek Husain begitu santai.
"Iya, tapi setidaknya Kakek harus mengabariku."
"Memangnya kenapa? Itu kan apartemen Kakek, jadi terserah Kakek dong," balas sang Kakek lagi-lagi tak menghiraukan ekspresi keberatan dari Tareeq.
Tareeq yang merasa tidak puas dengan jawaban Kakeknya hanya bisa menghela napas kasar, mulutnya sudah terbuka untuk kembali berbicara tapi akhirnya ia kembali menutupnya, percuma juga terlalu bersikeras, tetap saja dia yang kalah.
"Kak Tareeq, mau makan bakso tidak?" tanya Nameera mengalihkan pembicaraan antara Kakek dan cucu itu.
"Bakso?"
"Iya kak, enak loh, tuh ada di dalam termos makanan di atas meja." Nameera menunjuk meja di hadapan Tareeq.
"Bagus, kebetulan aku belum makan siang," ucap pria itu lalu menuangkan baksonya ke mangkuk.
"Aroma ini kenapa seperti tidak asing di hidungku yah?" batin Tareeq.
Ia mulai mencicipi bakso itu setelah membaca doa, dan tak ada lagi suara setelah itu. Hanya ada suara dentingan sendok yang sesekali beradu dengan mangkuknya.
"Tambah lagi kak kalau suka," ujar Nameera sembari tersenyum penuh arti.
Benar saja, pria itu kembali menuangkan bakso ke mangkuk yang sudah kosong dan kembali memakannya tanpa suara.
"Gimana? Enak kan, Kak?" tanya Nameera setelah melihat sang Kakak menyelesaikan makanannya.
"Enak, baksonya beli di mana?" tanya Tareeq lalu meminum air dalam kemasan botol.
"Itu Zulaikha yang masak," jawab Nameera begitu santai.
Byuuuur
"Astaghfirullah Tareeq," pekik Kakek Husein saat wajahnya mendapat sedikit semburan air dari cucu tertuanya.
"Maaf, maaf Kakek, Tareeq tidak sengaja." Pria itu segera menghampiri Kakek Husein dan membersihkan wajahnya sang kakek dengan tissue.
Sementara Nameera hanya bisa menahan tawa melihat sang kakak yang kelabakan membersihkan wajah kakeknya.
***
Malam hari di tempat lain, Zulaikha sedang memandang pantulan dirinya di depan cermin. Terlihat seorang gadis yang begitu cantik dalam balutan kerudung berwarna hitam yang baru saja di hadiahkan Nameera untuknya.
"Apa yang terjadi padaku selama 4 tahun terakhir? Kenapa aku benar-benar merasa sangat jauh dari Allah?" Zulaikha berbicara pada pantulan dirinya.
Tak lama kemudian, air mata kembali mengalir membasahi pipinya, bahunya terangkat naik turun dengan cepat, dengan suara isakan kecil yang mulai terdengar.
"Mama, Papa, maafkan Zulaikha, selama ini Zulaikha sudah menjadi anak yang tidak berbakti, hiks," ucapnya sesenggukan di sela tangisannya.
Suara adzan mulai terdengar di seluruh penjuru kota. Zulaikha yang mendengarnya perlahan memejamkan mata dan meresapinya sebagaimana yang di katakan Nameera. Rasa tenang kembali ia rasakan, sungguh lantunan yang begitu indah.
Perlahan gadis itu menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan, kembali ia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sejenak ia meyakinkan hatinya jika apa yang dulu ia lakukan adalah kesalahan, dan Allah mengirimkan sosok Nameera sebagai perantara datangnya hidayah kepadanya.
"Bismillah, aku akan belajar menjadi lebih baik," gumamnya sembari mengepalkan tangan dan mengangkatnya di depan dada.
Setelah meyakinkan dirinya, sesuai dengan yang di ajarkan Nameera, Zulaikha mulai berwudhu lalu melanjutkan dengan menunaikan sholat untuk pertama kalinya seorang diri tanpa ada yang menyuruh. Usai menunaikan sholat, Zulaikha kembali menangis di atas sajadahnya.
Zulaikha pernah jauh, tapi Allah Maha Pengampun, bahkan meski dosa sebanyak buih di lautan selain syirik, pintu ampunan Allah tetaplah terbuka lebar bagi setiap hamba yang bertaubat.
***
Nameera telah tertidur, kondisinya mulai kembali stabil, dan kata dokter, dia bisa kembali ke rumah untuk istirahat jika dia mau. Sementara Kakek Husain dan Tareeq masih serius dalam pembicaraan mereka di sofa.
"Tareeq, usiamu sudah cukup pas untuk menikah, menikahlah, Nak. Nameera sangat menginginkan kamu menikah," ungkap Kakek Husain.
"Maaf, Kek. Tapi Tareeq sama sekali tidak tertarik untuk menikah. Menikah hanya akan membuat hidupku hancur jika suatu saat nanti terjadi perpisahan seperti apa yang ayah alami," tolak pria itu.
"Menikah itu sunnah, Nak," tutur Kakek Husein mengingatkan.
"Iya, Tareeq tahu, Kek. Tapi bukankah Allah membenci perceraian? Dari pada suatu saat nanti Tareeq di ceraikan, lebih baik Tareeq tidak memulainya."
"Tareeq, kamu lihat kakek dan almarhumah nenekmu? hingga di ujung hayatnya dia masih setia bersama Kakek. Jangan samakan semua wanita hanya karena apa yang telah dilakukan Ibumu, Nak."
Tareeq terdiam, hatinya membenarkan perkataan sang kakek, tapi pikirannya menolak dengan keras.
"Tareeq, Kakek tidak pernah memaksamu melakukan sesuatu selama ini, pun saat ini Kakek tidak akan memaksamu, tapi pikirkanlah adikmu, dia sakit, dia sangat mengharapkan seseorang yang bisa selalu bersamanya, dia tidak pernah lagi merasakan kasih sayang Ibu saat kecil, setidaknya dengan kehadiran kakak Ipar, dia merasakan kasih sayang, meski hanya dari seorang kakak perempuan."
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
andi hastutty
Zulaikha masyaAllah 😘
2023-10-06
1
dineeeey
mampir kak
2023-02-16
1
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya gak semua orang indonesia jahat tareeq
2023-02-08
1