Dia yang Tidak Sempurna

Zulaikha menatap sendu Nameera yang kini sudah tertidur di atas tempat tidur. Ia berdiri di ujung tempat tidur sembari mengusap kaki gadis itu yang tertutupi selimut.

"Nameera sudah lama dinyatakan mengidap leukimia, penyakitnya sempat sembuh melalui kemoterapi, tapi tak lama kemudian muncul lagi. Sudah banyak pengobatan yang dilakukan tapi itu justru semakin menyiksa Nameera. Kata dokter satu-satunya cara yang dapat menyembuhkan Nameera hanyalah transplantasi sum-sum tulang belakang. Namun, hingga detik ini tak satu pun yang cocok dengan Nameera, termasuk Tareeq selaku saudara kandungnya," terang Kakek Husein sembari mengusap tangan sang cucu.

"Kondisi Nameera sekarang bagaimana, Kek?" tanya Zulaikha.

"Saat ini penyakitnya masih stadium awal, jadi sembari menjalani pengobatan, Nameera biasa menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan kemana pun ia mau. Katanya, 'selagi masih bisa menghirup udara bebas, akan ia lakukan,' kakek tidak bisa selalu menemaninya karena keberadaan kakek yang selalu melarang hanya akan menghalangi kebebasannya," jelas Kakek Husein.

"Itu sebabnya kami bertemu di Corniche Road?"

"Benar, Corniche Road adalah tempat favoritnya. Di sana dia bisa melihat pemandangan indah dan banyak orang," balas Kakek Husain.

Fakta kali ini benar-benar menampar Zulaikha, terutama karena ia pernah menganggap hidup Nameera sangat sempurna sehingga di balas dengan ibadah yang sempurna juga Namun, ia salah, justru kehidupannya lah yang lebih baik dari pada Nameera, tapi di balik keadaannya yang tidak sempurna, ia berusaha melakukan ibadah sebaik mungkin.

Lalu, apa kabar dengan dirinya yang ibadah saja masih sangat jauh dari kata baik? Entah kenapa dadanya kali ini terasa sesak, matanya terasa panas seolah ada sesuatu yang ingin menerobos keluar. Zulaikha memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi sejenak untuk menenangkan perasaannya.

Air mata mulai membasahi pipi gadis itu, kata-kata kedua orang tuanya saat menyuruhnya sholat seketika mampir di ingatannya.

"Nak, sholat dulu yah, sholat itu wajib, ia adalah kunci di terimanya semua ibadah, jika sholatmu saja malas, jangankan di terima ibadahmu yang lain, dihitung saja tidak."

Selama 4 tahun semenjak kematian kedua orang tuanya, ia benar-benar banyak berubah, lebih tepatnya ia semakin menjauh dari Allah.

Cukup lama ia menerenung di dalam kamar mandi, hingga ia mendengar suara Nameera mencarinya. Gegas ia membasuh wajahnya agar tak terlihat jika ia baru saja menangis.

"Zulaikha, kupikir kamu sudah pulang," ujar Nameera.

"Belum kok, aku ingin menemanimu di sini, boleh kan?" tanya Zulaikha.

"Tentu saja, aku sangat senang jika kamu ada di sini, asal itu tidak memberatkanmu saja," tutur Nameera.

"Tenang saja, aku justru merasa ringan berada di sini," canda Zulaikha membuat gadis berwajah pucat itu tertawa.

"Kalian di sini dulu, Kakek akan ke masjid untuk sholat ashar," pamit Kakek Husein lalu segera keluar dari ruangan itu.

Tepat setelah Kakek Husein keluar, adzan sholat ashar mulai berkumandang. Lagi-lagi Nameera terdiam sembari memejamkan mata, hal itu membuat Zulaikha penasaran dengan yang dilakukan Nameera. Perlahan ia memejamkan mata, mengikuti gadis di hadapannya.

Ada rasa tenang saat menghayati panggilan sholat itu. Benar, adzan memanglah lantunan panggilan yang sangat indah jika di dengarkan dengan seksama, sayangnya ia sering sekali mengabaikannya.

Zulaikha dan Nameera perlahan membuka mata saat adzan telah berakhir. Senyuman tulus dilayangkan Nameera saat menyadari bahwa Zulaikha baru saja melakukan hal yang sama dengan dirinya.

"Nameera, kenapa kamu selalu diam dan memejamkan mata saat adzan?" Zulaikha benar-benar tidak tahu akan hal itu, entah ia lupa atau memang dulu ia tidak peduli.

Nameera tersenyum mendengar pertanyaan Zukaikha. "Tadi kamu baru saja melakukannya kan? Apa yang kamu rasakan?" alih-alih menjawab, gadis itu justru balik bertanya.

"Rasanya tenang, suara adzan itu ternyata indah," jawab Zulaikha sekaligus menjawab sebagian dari pertanyaannya sendiri.

"Nah, itulah yang kulakukan, aku menyukai lantunan adzan, dan aku meresapinya dalam hati."

"Apa hanya itu?"

"Lebih dari itu, Kakek pernah membacakan sebuah hadis yang intinya mengatakan bahwa orang yang diam saat adzan dikumandangkan, kelak saat sakratul maut nanti, Allah akan ringankan lidahnya untuk mengucapkan kalimat 'lailahaillallah,' kalimat sederhana tapi bermakna agung, kalimat yang jika berhasil di ucapkan pada napas terakhir, maka Allah akan menjamin surga untuk kita."

Zulaikha ternganga sejenak mendengar penuturan Nameera, hal yang ringan dilakukan rupanya sangat berarti diakhir hidup nanti.

"Emm, Zulaikha, apa kamu bisa membantuku lagi ke kamar mandi? Aku ingin mengambil wudhu," ucap Nameera memecah lamunan Zulaikha.

"Tentu saja, ayo." Zulaikha kembali membantu Nameera menuju kamar mandi, sementara ia diam di luar kamar mandi dengan tatapan kosong, perkataan demi perkataan Nameera sejak pertama kali bertemu hingga saat ini selalu saja berputar dalam ingatannya.

"Aku sudah selesai," ujar Nameera setelah keluar dari kamar mandi.

"Nameera, bisakah kamu mengajariku berwudhu? Sudah sangat lama aku tidak melakukannya jadi aku sedikit lupa," cicit Zulaikha sedikit malu.

Mendengarnya, Nameera menganggukkan kepala seraya tersenyum. "Tentu saja, dengan senang hati."

Nameera mulai mengajarkan gerakan-gerakan wudhu secara berurutan dengan tenang dan sabar. Inilah yang membuat Zulaikha merasa sedikit ringan dan nyaman untuk mengakui kelalaiannya di hadapan gadis itu. Biasanya jika ada yang mengetahui kelalaiannya, belum ia menjelaskan alasan, ia telah lebih dulu mendapat komentar yang justru menjuge dan menyudutkannya, seolah-olah dia adalah manusia paling berdosa dan tidak memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Berbeda dengan Nameera, gadis itu memberikan banyak pelajaran kepadanya tanpa kesan mengajari, menasehati tanpa kesan menggurui. Ia tak pernah menyuruh Zulaikha melakukan sesuatu sebagaimana yang ia lakukan, sebaliknya ia hanya memperlihatkan teladan kepada Zulaikha.

"Apa kamu ingin sholat bersamaku, Zulaikha?" tanya Nameera.

"Aku tidak mempunyai mukenah," jawab Zukaikha.

"Mukenah?" Nameera merasa asing dengan bahasa itu.

"Kain yang dipakai untuk menutupi seluruh tubuh saat sholat," jawab Zulaikha.

"Oh, I see. Di sini kami tidak menggunakan itu saat sholat, kami hanya memakai pakaian yang kami pakai, seperti abayha dan penutup kepala karena itu sudah menutupi aurat kami," terang Nameera.

"Jika kamu ingin, kamu bisa memakai pakaianku," sambung Nameera seraya menyodorkan baju dan penutup kepala berwarna hitam kepada Zulaikha.

Setelah memakai abayha yang panjangnya menutupi kaki, kini Nameera membantu Zulaikha menutupi kepalanya.

"Nameera, aku tidak pernah melihatmu melepas penutup kepalamu? Kenapa? Ini kan di kamarmu, ruangan tertutup," tanya Zulaikha sembari memperhatikan wajah Nameera dari dekat karena fokus memakaikannya kerudung.

"Kerudung ini kugunakan untuk menutupi rambut dan leherku, aku memakainya di mana pun kecuali di kamarku, dan ini kamar rumah sakit, laki-laki bukan mahram seperti dokter, perawat dan petugas kebersihan bisa masuk kapan saja."

Zulaikha terdiam sembari tertunduk memegangi kerudung yang sudah menutupi kepalanya.

"Aku tahu perasaanmu, Zulaikha. Mungkin kamu mengingat kedua orang tuamu jika memakainya. Sama, aku pun mengingat ayahku, tapi apa kamu tahu? Kedua orang tuamu pasti sangat senang melihatmu memakainya, bukankah itu keinginan terakhir mereka hingga kamu di belikan kerudung yang banyak?" Zulaikha mengangguk membenarkan perkataan Nameera.

Kenapa baru kali ini ia menyadarinya? Selama ini ia telah dibutakan oleh kesedihan dan keterpurukan yang membuatnya tak mampu berpikir jernih. Zulaikha semakin tertunduk dalam, tubuhnya mulai bergetar, sesekali terdengar isakan yang lolos dari bibirnya. Nameera tahu Zulaikha saat ini sedang menangis, oleh sebab itu ia memeluknya agar hatinya lebih tenang.

"Mama, Papa, maafkan Zulaikha, hiks," lirihnya di tengah isakan kecilnya.

***

Di luar kamar Nameera, seorang pria tampak bersandar di balik dinding samping pintu, rupanya semua pembicaraan antara dua gadis itu di dengar olehnya meski awalnya ia tak sengaja mendengarkan.

-Bersambung-

Terpopuler

Comments

Syakila Putri

Syakila Putri

/Whimper/

2024-08-13

0

andi hastutty

andi hastutty

sedih

2023-10-06

1

Mommy QieS

Mommy QieS

Alhamdulillah, semoga Zulaikha dapat hidayah

2023-03-16

1

lihat semua
Episodes
1 Surya yang Meredup
2 Welcome to Qatar
3 Nameera si Gadis Qatar
4 Dua Pria Beda Generasi
5 Menyampaikan Amanah
6 Korban Broken Home
7 Bakso ala Zulaikha
8 Dia yang Tidak Sempurna
9 Kakak Ipar
10 Gadis dengan Abayha
11 Dia Calon Istriku
12 Aku Pamit
13 Pengakuan Sang Mantan
14 Hubungan Tanpa Cinta
15 Jangan Berharap Lebih
16 Boleh Aku Menggandeng Tanganmu?
17 Ancaman Bibi Afra
18 Bekerja dalam Senyap
19 Kebiasaan Makan
20 Membuatnya Terbiasa
21 Kamu Sangat Tampan Saat Tersenyum
22 Nameera Drop
23 Memiliki Dua Istri?
24 Mulai Terbiasa
25 Rindu yang Tak Sampai
26 Ternyata Kamu Cantik juga.
27 Kemarahan Tareeq
28 Di mana Dia?
29 Merindukannya
30 Memperlakukanmu Sebagai Istriku
31 Gombalan Pria Qatar
32 Angin Segar Untuk Nameera
33 Saat Harus Memilih
34 Misi Zulaikha dan Tareeq
35 Pertemuan dengan Billy
36 Liciknya Qifty
37 Saat Ujian Kembali Menghampiri
38 Kamu Licik Aku Lebih Licik
39 Hikmah dari Allah
40 Memafkan itu Menenangkan
41 SPA dan Setrika
42 Pertemuan Karena Ngidam
43 Rencana Buruk
44 Kadatangan Tiga Pria
45 Keberanian Zulaikha
46 Misi Penyelamatan
47 Curi Pandang
48 Cerita Tiga Pria
49 Permintaan Nameera
50 Jawaban Khalid dan Ali
51 Keputusan Nameera
52 Uhibbuka Fillah
53 Rasa Gelisah
54 Kembali Hancur
55 Terpuruk Lagi
56 Kembalilah ke Qatar
57 Menuju Pernikahan Nameera
58 Pesta Pernikahan di Qatar
59 Melepas Kerinduan
60 Hamidun?
61 Ujian Kesabaran
62 Pria Baik
63 Dijodohkan Lagi
64 Balapan Unta
65 Welcome Baby F
66 Kebahagiaan Zulaikha
67 Permintaan Maaf Qifty
68 Saran Untuk Khalid
69 Kejutan Untuk Zulaikha
70 Tasbih Cinta (TAMAT)
71 He's Not A Bad Boy
72 PROMO NOVEL BARU
73 MOZAIK KENANGAN
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Surya yang Meredup
2
Welcome to Qatar
3
Nameera si Gadis Qatar
4
Dua Pria Beda Generasi
5
Menyampaikan Amanah
6
Korban Broken Home
7
Bakso ala Zulaikha
8
Dia yang Tidak Sempurna
9
Kakak Ipar
10
Gadis dengan Abayha
11
Dia Calon Istriku
12
Aku Pamit
13
Pengakuan Sang Mantan
14
Hubungan Tanpa Cinta
15
Jangan Berharap Lebih
16
Boleh Aku Menggandeng Tanganmu?
17
Ancaman Bibi Afra
18
Bekerja dalam Senyap
19
Kebiasaan Makan
20
Membuatnya Terbiasa
21
Kamu Sangat Tampan Saat Tersenyum
22
Nameera Drop
23
Memiliki Dua Istri?
24
Mulai Terbiasa
25
Rindu yang Tak Sampai
26
Ternyata Kamu Cantik juga.
27
Kemarahan Tareeq
28
Di mana Dia?
29
Merindukannya
30
Memperlakukanmu Sebagai Istriku
31
Gombalan Pria Qatar
32
Angin Segar Untuk Nameera
33
Saat Harus Memilih
34
Misi Zulaikha dan Tareeq
35
Pertemuan dengan Billy
36
Liciknya Qifty
37
Saat Ujian Kembali Menghampiri
38
Kamu Licik Aku Lebih Licik
39
Hikmah dari Allah
40
Memafkan itu Menenangkan
41
SPA dan Setrika
42
Pertemuan Karena Ngidam
43
Rencana Buruk
44
Kadatangan Tiga Pria
45
Keberanian Zulaikha
46
Misi Penyelamatan
47
Curi Pandang
48
Cerita Tiga Pria
49
Permintaan Nameera
50
Jawaban Khalid dan Ali
51
Keputusan Nameera
52
Uhibbuka Fillah
53
Rasa Gelisah
54
Kembali Hancur
55
Terpuruk Lagi
56
Kembalilah ke Qatar
57
Menuju Pernikahan Nameera
58
Pesta Pernikahan di Qatar
59
Melepas Kerinduan
60
Hamidun?
61
Ujian Kesabaran
62
Pria Baik
63
Dijodohkan Lagi
64
Balapan Unta
65
Welcome Baby F
66
Kebahagiaan Zulaikha
67
Permintaan Maaf Qifty
68
Saran Untuk Khalid
69
Kejutan Untuk Zulaikha
70
Tasbih Cinta (TAMAT)
71
He's Not A Bad Boy
72
PROMO NOVEL BARU
73
MOZAIK KENANGAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!