Zulaikha berdiri bersamaan dengan dua pengawal wanita Nameera saat melihat dua pria yang baru saja datang dengan langkah cepat, wajah mereka tampak begitu khawatir, bahkan kehadiran Zulaikha di sana sama sekali tidak di sadari oleh mereka.
Seorang pria usia lanjut tapi memiliki tubuh tinggi dan tegap, Zulaikha mengetahuinya sebagai kakek Nameera, dan seorang pria yang berusia sekitar 27 tahun, sangat tampan dengan postur tubuh lebih tinggi dan sedikit berotot. Tidak salah lagi, dia adalah pria sama yang ia tabrak di bandara dan di stadion waktu itu.
Dokter keluar dari ruangan di mana Nameera dirawat, terdengar mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Arab. Zulaikha sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, tapi ia menduga bahwa Nameera saat ini sedang tidak baik-baik saja di dalam sana, ia tahu itu dari ekspresi wajah mereka yang khawatir dan takut.
Setelah kepergian dokter, kedua pria itu langsung masuk untuk melihat keadaan Nameera.
"Maaf, kalau boleh tahu, apa mereka keluarga Nameera?" tanya Zulaikha kepada pengawal wanita tersebut.
"Mereka adalah Kakek dan Kakak Nona Nameera," jawab salah satu dari mereka.
Zulaikha membulatkan bibirnya pertanda ia paham dengan jawaban pengawal wanita itu. "Qatar memang sempit," gumamnya pelan.
Kakinya melangkah perlahan mendekati pintu ruangan di mana Nameera di rawat. Ada rasa takut untuk membuka pintu itu, tapi rasa khawatirnya pada gadis yang baru dua hari ia kenal membuatnya nekat memegang gagang pintu dan membukanya dengan begitu hati-hati.
Terdengar suara Kakek Nameera sedang berbicara dengan Nameera, rupanya gadis itu sudah sadar.
"Kakek, di mana temanku?" tanya Nameera dengan menggunakan bahasa Arab.
"Teman yang mana?" tanya Kakeknya.
"Dik, kenapa tiba-tiba menanyakan teman? Pikirkanlah dulu kesehatanmu," ujar pria muda yang tidak lain adalah Kakak Nameera.
"Tadi aku jalan-jalan bersamanya sebelum akhirnya aku pingsan, apa dia ada di sini?" tanya Nameera lagi.
"Tapi, Dik ... "
"Tareeq, coba kau keluar mengeceknya, siapa tahu teman adikmu itu memang sedang menunggunya di luar," titah sang Kakek.
Pria bernama Tareeq lantas berbalik untuk keluar, tapi tatapannya tidak sengaja bertemu dengan tatapan Zulaikha yang sedikit mengintip dari luar. Dengan langkah lebar, Tareeq langsung membuka pintu dan menemui Zulaikha yang sudah kembali ke tempatnya semula setelah melihat tatapan tajam Tareeq.
"Hey, apa kamu ... Kamu?" Tareeq mengarahkan jari telunjuknya ke arah Zulaikha saat menyadari jika Zulaikha adalah gadis yang sudah menabraknya sebanyak dua kali waktu itu.
Entah kenapa, nyali gadis itu seketika menciut saat mendapat tatapan intimidasi dari Tareeq. Zulaikha semakin tertunduk tatkala pria itu melangkah ke arahnya.
"Man Anti?" (siapa kamu?) tanya Tareeq.
"Tolong berbicaralah dengan bahasa Inggris," pinta Zulaikha menggunakan bahasa Inggris.
"Siapa kamu?" ulang Tareeq dengan bahasa Inggris.
"Namaku Zul...."
"Aku tidak ingin tahu namamu, yang aku ingin tahu apa kamu temannya Nameera?" ujar Tareeq begitu dingin dan arogan.
"I-iya, aku temannya Nameera."
"Kalau begitu masuk! Dia mencarimu," ujar Tareeq dan langsung berbalik menuju kamar sang adik.
"Astaga, kenapa aura orang ini mencekam sekali? Sangat berbeda dengan adiknya yang begitu ramah dan baik," batin Zulaikha sembari berjalan di belakang Tareeq.
"Zulaikha? Sudah ku duga kamu tidak akan meninggalku pergi, kemarilah," panggil Nameera dengan suara yang sedikit lemah.
Zulaikha berjalan melewati Tareeq dan sang Kakek mendekati tempat tidur Nameera.
"Kakek, Kak Tareeq, perkenalkan ini temanku, namanya Zulaikha, dia orang Indonesia." Nameera memperkenalkan Zulaikha di hadapan dua pria itu.
"Apa? Indonesia?" tanya Tareeq dengan rahang yang mulai mengeras.
"Iya, Kak. Zulaikha orang Indonesia, dia sangat baik," jawab Nameera.
Tak lagi menjawab, Tareeq langsung keluar dari ruangan itu meninggalkan semuanya.
"Salam kenal, Nak. Aku Husein, kamu bisa memanggilku dengan Kakek Husein. Jangan pikirkan sikap Tareeq, dia memang akan bereaksi seperti itu jika mendengar Indonesia, bukan karena tidak suka, dia hanya memiliki masalah pribadi dengan salah satu orang Indonesia," jelas Kakek Husein panjang lebar menggunakan bahasa Inggris dengan pembawaan yang begitu ramah.
"I-iya, Kek. Tidak apa-apa," jawab Zulaikha menunduk sopan.
"Oh iya, kalian bicaralah dulu, Kakek ingin pergi menemui dokter," ujar Kakek Hasan lalu segera keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaanmu, Nameera?" tanya Zulaikha sembari duduk di samping tempat tidur gadis itu.
"Aku baik-baik saja," jawab Nameera.
"Apa kamu terlalu lelah karena selalu menemaniku jalan-jalan?" Maafkan aku," ucap Zulaikha dengan perasaan bersalah.
"Kamu tidak salah Zulaikha, aku memang memiliki penyakit yang sewaktu-waktu membawaku ke sini."
"Apa itu?"
"Hanya penyakit biasa, hehehe," jawab Nameera sembari tertawa pelan.
"Syukurlah, kupikir kamu sakit apa, semoga lekas sembuh yah."
"Aamiiin, terima kasih." Nameera tersenyum tipis.
Mereka kembali bercerita membahas banyak hal. Sesekali Nameera di buat tertawa oleh tingkah lucu Zulaikha. Sepertinya, tanpa di sadari, pertemuan mereka satu sama lain seolah menjadi kekuatan tersendiri yang membuat semangat mereka untuk menjalani hidup kembali bangkit.
Hingga adzan ashar mulai berkumandang, membuat gadis berkerudung cokelat itu langsung diam seraya memejamkan matanya.
Zulaikha merasa bingung dengan apa yang di lakukan Nameera. Tapi ia tidak akan bersuara sampai gadis itu yang lebih dulu buka suara. Mungkin seperti itu cara orang-orang di negara ini bersikap saat adzan sudah berkumandang, begitulah pikirnya.
"Zulaikha, bisa kamu membantuku ke kamar mandi? Aku ingin berwudhu?" tanya Nameera setelah adzan berhenti berkumandang.
"Tapi kan kamu sakit, Nameera, kamu tidak perlu sholat, istirahat saja yah," sanggah Zulaikha, membuat gadis itu tersenyum.
"Aku memang sakit Zulaikha, tapi sakit bukan alasan gugurnya kewajiban sholat, aku tetap harus sholat meski harus berbaring sekali pun."
Seketika Zulaikha terdiam, jawaban Nameera bagaikan sebuah tamparan baginya. Terang saja, ia hanya sholat saat diperintahkan oleh Bibi Anisa, dan akan meninggalkannya saat tidak ada yang mengingatkan, bahkan mukenah pun tidak ia bawa dalam perjalanan panjangnya kali ini.
"Baiklah, biar aku membantumu pergi ke kamar mandi," ucap Zulaikha setelah terdiam sejenak. Ia membantu memegangi tangan Nameera yang masih sedikit lemah dan membawakan cairan infusnya.
Beberapa menit telah berlaku, Nameera telah menyelesaikan sholat asharnya dengan cara duduk di karenakan tubuhnya yang masih terasa lemah untuk berdiri. Sementara Zulaikha hanya duduk di sofa memperhatikan apa yang dilakukan gadis itu.
"Hidupmu pasti sangat sempurna hingga kamu melaksanakan ibadahmu dengan sempurna pula," batin Zulaikha.
"Karena kamu sudah sholat, aku akan kembali dulu ke penginapanku untuk bersih-bersih. Besok aku akan datang lagi," ujar Zulaikha.
Nameera mengangguk dengan senyuman manisnya. "Baiklah, terima kasih yah sudah menemaniku hari ini, semoga Allah selalu melindungimu."
Zulaikha keluar dari ruangan Nameera, ia berjalan sembari tertunduk, entah kenapa pikirannya mendadak tidak tenang usai mendengar perkataan Nameera tadi.
"Zulaikha," suara bass Kakek Husein berhasil membuatnya langsung mengangkat wajah.
"Iya Kakek?"
"Apa kamu akan pulang? Kamu tinggal di mana?"
"Iya, Kek. Saya tinggal di penginapan yang dekat dengan stadion Ahmed bin Ali."
"Oh, baiklah, terima kasih telah menemani Nameera, semoga Allah menjagamu," ucap Kakek Husein lalu kembali melanjutkan jalannya.
"Emm, Kakek Husein," panggil Zulaikha, membuat pria berusia lanjut itu langsung berbalik ke arahnya.
"Ada apa, Nak?"
"Saya mau menyampaikan salam dari Paman saya, namanya Harun."
Mata Kakek Husein seketika membola, seakan begitu terkejut saat mendengar nama itu.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
andi hastutty
kenapa kakek dan nameera sakit apa yah ?
2023-10-06
1
Mommy QieS
dua kuntum gift 🌹 untuk mu, kak😊😘
2023-02-16
1
Mommy QieS
Maa syaa Allah merinding aku membaca part ini kak
2023-02-16
1