Tubuh Debby kini terasa begitu lelah. Setelah datang dari pesta yang begitu menguras tenaga juga perasaan. Debby kini merebahkan tubuhnya di kasur king size nya yang. Debby memejamkan matanya berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya.
“Lebih baik untuk membersihkan tubuhku dulu agar tidak semakin merasa lelah,” ucap Debby yang setelahnya langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang mengganti pakaiannya.
Setelah selesai ia segera kembali menuju ranjang nya dan segera merebahkan tubuhnya di sana. Debby menghembuskan nafasnya kasar. Pikirannya kini terus terarah pada Luis. Ia merindukan laki-laki itu. Namun Luis bahkan kini tak mengenalinya.
“Hentikan Debby, kau tak boleh memikirkannya lagi. Lebih baik sekarang aku segera tidur,” ucap Debby yang kini langsung memejamkan matanya.
Namun baru saja ia akan masuk ke dalam alam mimpinya. Ia dikejutkan dengan seseorang yang kini terasa memeluknya. Namun saat Debby membuka matanya ia tidak menemukan siapapun disana. Membuatnya kebingungan.
“Please, setan penunggu kamar. Bisakah kau tidak menggangguku sekarang? Aku begitu lelah,” ucap Deby yang seolah tak lagi ada takutnya pada sosok tak kasat mata yang belakangan ini sering mengganggunya dengan terus memeluknya.
Setelah Debby mengatakan hal itu tak ada lagi yang memeluknya, namun kini diganti dengan suara pintu yang terbuka. Debby segera menoleh ke arah pintu dan terkejut mendapati Eric yang kini berjalan ke arahnya.
“Untuk apa kau kemari?” tanya Debby dengan terkejut melihat keberadaan Eric.
Seingat nya ia sudah mengunci pintu kamarnya namun bagaimana Eric bisa masuk? Debby hanya tak tahu saja jika yang belakang ini mengganggunya adalah Eric dan bukanlah setan penunggu kamar. Jadi pasti tak akan sulit bagi Eric untuk masuk ke kamar tersebut.
“Tidur,” ucap Eric dengan santainya yang kini malah membuat Debby melongo mendengar ucapan laki-laki tersebut yang mengatakannya dengan begitu mudah.
“Tidak. Bagaimana kau akan tidur di sini?” tanya Deby dengan tatapan tak percaya nya namun Eric kini malah tetap saja mendekatkan dirinya pada Debby lalu segera merebahkan tubuhnya di ranjang.
Debby yang kaget langsung terbangu. Namun baru saja ia duduk, Eric malah sudah menarik nya hingga ia kembali tertidur dan kini berada di pelukan Eric. Melihat hal itu Debby memelototkan matanya. Dan berusaha untuk meronta, namun tenaganya jelas tak akan sebanding dengan Eric.
“Tidur lah. Lagi pula kita sudah terbiasa seperti ini,” ucap Eric dengan begitu santainya yang kini malah membuat Debby terkejut mendengarnya. Gadis itu dengan segera membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Eric dengan tatapan bingung dan terkejutnya.
“Apa maksudmu?” tanya Debby bingung. Jelas ia tak mengetahui apa yang Eric katakan. Jika saat tertidur saja Eric lebih memilih untuk menyembunyikan dirinya agar tidak ketahuan oleh Debby jika ia sering memeluknya saat gadis itu tertidur.
“Tidak. Tidur lah,” ucap Eric yang kini sudah memejamkan matanya. Debby menghembuskan nafasnya kasar, berusaha untuk memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi. Dengan Eric yang kini masih memeluk nya dari belakang.
Hingga setelah berusaha dengan keras untuk memejamkan matanya dan beristirahat karena tubuhnya yang sudah lelah. Debby akhirnya sudah masuk ke alam mimpi. Begitupun dengan Eric yang kini sudah tertidur dengan memeluk Debby.
***
Gadis berumur empat belas tahun yang tak lain adalah Debby kecil, kini berjalan seorang diri. Menyusuri hutan dengan tebing curam di sampingnya. Gadis itu berjalan dengan hati-hati, karena takut tergelincir.
“Ini harusnya bukan tugasku,” dengus Debby merutuki kakak tirinya yang begitu jahat hingga menyuruhnya untuk mengambil kayu bakar.
Dengan was was gadis itu menoleh ke sekeliling, takut jika ada hewan buas yang malah datang menghampirinya mengingat kini ia tengah berada di hutan. Namun saat Debby menoleh kebelakang, ia malah melihat kakak tiri nya itu menyeringai ke arahnya.
“Kak Laura….” belum sempat Debby melanjutkan ucapannya Laura kini malah mendorong nya. Hingga tanah yang licin itu membuat nya terjatuh ke dalam jurang yang begitu tinggi.
Debby hanya memejamkan matanya merasakan sakit pada tubuhnya yang terkena batu ataupun pepohonan yang melukai kulitnya. Bahkan jika harus mati saat ini juga rasanya gadis itu sudah siap. Di atas sana Laura tersenyum senang lalu segera pergi begitu saja.
Dengan samar Debby melihat seoarang laki-laki tampan yang menolong nya. Menepuk pipinya untuk memeriksa kesadarannya.
“Debby, hey. Bangun lah. Debby,” suara itu terdengar begitu nyata. Hingga Debby membuka matanya dan langsung bangun dari mimpi yang sering datang itu semenjak kejadian yang dialaminya. Ya, tadi itu adalah mimpi.
Nafas nya kini memburu, Debby berusaha mengontrol nafasnya lalu menatap Eric yang kini menatap nya dengan khawatir sambil menyodorkan aur untuk Debby.
Debby segera mengambil air tersebut lalu menegak nya hingga tandas. Eric yang melihat keringat yang berada di kening Debby segera menyeka nya.
“Eric, kau adalah laki-laki itu,” ucap Debby dengan tatapan takut nya pada Eric.
Sedangkan Eric kini menatap Debby dengan tatapan bingung nya. Melihat Debby yang begitu ketakutan ia jadi bingung sendiri melihat gadis itu.
“Siapa kau? Mengapa kau masih sama seperti dulu saat aku terakhir menemuimu tujuh tahun lalu. Kau adalah orang, bukan? Kau adalah orang yang membantuku saat aku terjatuh di jurang,” ungkap Debby yang sontak membuat Eric terkejut mendengar ucapan Debby. Debby mengetahuinya? Siapa yang memberitahunya? Sebuah mimpi? Apa mimpi yang baru saja Debby alami?
“Ya. Aku lah yang menolongmu saat itu,” ucap Eric yang membuat Debby memelototkan matanya mendengar ucapan Eric.
Jadi benar laki-laki yang ia lihat saat itu dan laki-laki yang selama ini menghantui mimpinya adalah Eric. Laki-laki yang membantunya. Selama ini mimpi itu terlihat samar. Namun malam ini semua ingatannya begitu jelas.
“Semua sudah berlalu tujuh tahun, tapi mengapa kau tidak menua? Kau terlihat sama seperti tujuh tahun lalu,” ucap Debby dengan tatapan terkejut nya pada Eric. Ia ingin mengetahui semua nya.
Saat itu ia terjatuh dari tempat yang begitu tinggi, namun saat terbangun ia malah tidak mengalami luka yang serius, ia baik-baik saja dan hanya luka kecil yang sembuh dalam beberapa hari. Dan semenjak itu juga Debby mencari orang yang membantunya karena semua terasa aneh baginya. Bahkan Laura tanpa terkejut melihat Debby yang baik-baik saja saat itu.
“Siapa kau?” tanya Debby lagi karena tak mendapat jawaban dari Eric.
Eric memejamkan matanya. Berusaha mengontrol dirinya. Ia rasa ini saatnya untuk ia mengungkapkan siapa dirinya. Karena cepat atau lambat Debby harus mengetahuinya karena ia akan segera menjadi putri mahkota.
“Aku tidak menua karena aku bukan manusia,” ucapan Eric tersebut bagai petir yang menyambar bagi Debby. Debby kini menatap Eric dengan tatapan tak percaya nya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments