Debby segera keluar dari gubuk tersebut saat mendengar seseorang yang memanggilnya. Ia jelas mengenali suara itu. Ia begitu senang karena laki-laki yang sudah ia harapkan kedatangannya benar-benar datang untuk membantunya.
“Ikutlah dengan ku Michele. Aku akan meminta nya untuk mengeluarkan mu dan mengembalikanmu ke duniamu,” ucap Debby saat mengingat Michel juga berada di sana.
Debby segera kembali ke gubuk tersebut dan menarik tangan Michele untuk segera keluar. Michelle yang kebingungan dan tak mengetahui apapun hanya menuruti Debby dan mengikuti Debby untuk segera keluar dari gubuk itu.
“Eric,” teriak Debby yang kini mulai berlari menuju Eric yang terlihat menghembuskan nafasnya lega saat melihat keberadaan Debby yang kini berlari ke arah nya sambil menggandeng seorang perempuan yang terlihat kebingungan juga terkejut.
Setelah dekat dengan Eric, Debby langsung melepaskan gadis yang di bawahnya itu lalu memeluk Eric dengan begitu erat yang juga dibalas dengan pelukan oleh Debby.
“Kau begitu membuat ku khawatir,” ucap Eric dengan begitu gusar, ia terlalu bahagia karena akhirnya ia menemukan gadisnya itu.
“Aku begitu takut,” ucap Debby mengadu pada Eric yang kini segera melepaskan pelukannya dari Debby. Rasanya kini ia ingin sekali segera memarahi Debby yang sudah membuatnya begitu khawatir.
“Putri mahkota, siapa dia?” tanya Arthur yang kini menoleh ke arah seorang gadis cantik di samping Michele. Debby menepuk keningnya saat mengingat jika kini ia mengajak Michele. Terlalu bahagia karena ia menemukan Eric dan memiliki harapan untuk keluar membuat nya melupakan Michele.
Michele yang mendengar laki-laki dengan pakaian prajurit yang terlihat begitu gagah itu cukup terkejut mendengar laki-laki itu menyebut Debby, gadis yang baru ia kenal tadi sebagai putri mahkota. Padahal Michele tahu jelas jika Debby hanya lah seorang manusia biasa karena ia tak terlihat seperti makhluk immortal lain yang memiliki ciri-ciri tersendiri sesuai dengan jenis mereka.
“Dia adalah orang yang membantu ku. Tadi aku begitu takut, beruntung Michele menemukan ku dan mengajakku ke gubuk nya,” ucap Debby menjelaskan.
“Lain kali jangan mudah percaya pada orang,” ucap Eric memperingati Debby.
“Kau tak boleh berbicara begitu Eric. Dia adalah orang yang baik. Dia adalah manusia, dia terjebak di sini karena harus menyelidiki kasus. Lebih baik kau membantunya kembali ke dunia manusia,” mohon Debby dengan tatapan penuh permohonan pada Eric yang kini terlihat berpikir sebelum menggelengkan kepalanya.
“Tidak, kita tak tahu dia berkata jujur atau tidak,” ucap Eric menentang keinginan Debby. Namun jelas Debby tak akan menyerah begitu saja. Ia memiliki hutang budi pada Michele dan ia ingin membayar nya dengan mengembalikan Michele ke tempat asalnya.
“Aku mohon Eric,” ucap Debby dengan tatapan memohonnya pada Eric. Eric menghembuskan nafasnya kasar.
“Bawa dia, akan aku pikirkan nanti,” perintah Eric pada Arthur yang segera menjawabnya dengan anggukan. Mendengar hal itu membuat Debby tersenyum dengan senang.
Setelahnya mereka bersama-sama pergi dari tempat yang begitu menakutkan itu. Eric dengn begitu posesif nya merangkul pinggang Debby untuk membawa gadis menuju kamar mereka. Eric sudah nbegitu tak sabar untuk meluapkan amarahnya pada Debby.
Debby yang terlalu senang karena ia terbebas dari hutan itu jelas tak menyadari bahaya lain yang akan segera menghampirinya.
Eric meminta Arthur untuk membawa Michele ke sebuah kamar dengan penjagaan ketat. Sedangkan Debby kini sudah kembali ke kamar nya.
“Kau begitu nakal Debby. Kau membuat ku khawatir dengan tingkah mu,” ucap Eric yang kini menghempaskan tubuh Debby ke atas ranjang. Debby yang terkejut kini membelalakkan matanya sambil berusaha memundurkan tubuhnya.
Namun Eric kini malah sudah menindih tubuhnya, menyatukan tangannya lalu mengangkatnya ke atas. Terlalu takut melihat mata Eric yang terlihat menakutkan saat marah seperti ini membuat Debby mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Lihat aku gadis nakal,” ucap Eric sambil membawa wajah Debby untuk melihatnya. Debby menelan saliva nya susah payah karena Eric yang kini terus menatapnya dengan begitu tajam.
“Bisakah kau tak membuat ku khawatir? Kau tahu betapa takut nya aku saat kau menghilang?” tanya Eric begitu dingin pada Debby yang terus saja berusaha mengalihkan tatapan nya dari Eric. Namun lagi-lagi laki-laki itu membuatnya harus melihat ke arah Eric.
“Maafkan aku, aku hanya ingin pergi dari sini. Aku ingin kembali ke dunia ku. Aku tak ingin menjadi putri mahkota, aku tak ingin menikah denganmu,” tegas Debby yang membuat kilatan amarah di wajah Eric kini semakin terlihat dengan begitu jelas.
“Kau tahu apa yang kau katakan? Kau ingin kembali ke duniamu? Kau tak ingin menikahi ku? Jika bukan dengan ku di mana kau akan tinggal? Kembali bersama keluargamu yang sudah menghancurkan mu itu? Atau kembali dengan kekasih mu yang sudah menjadi tunangan kakak mu itu dan sudah melupakan mu itu?” tanya Eric dengan begitu tajamnya pada Debby yang kini menatap Eric dengan tatapan berkaca-kaca dan itu membuat Eric lemah. Ia paling tidak bisa melihat Debby menangis. Ia tak akan kuat juga sudah melihat Debby menangis.
Eric segera bangkit dari tubuh Debby lalu mengusap wajah nya dengan gusar.
“Hentikan. Jangan menangis. Kau sudah tidak bisa pergi dari ku. Jika kau pergi dari ku kau bisa mati mengenaskan karena kau sudah terikat janji darah dengan ayahku. Dan aku jelas tak akan membiarkan keluargamu terutama ayahmu hidup dengan damai. Dan aku juga akan membuat perhitungan pada mantan kekasihmu itu,” kecam Eric yang kini semakin membuat Debby begitu takut mendengarnya.
Ia tahu apa yang Eric katakan jelas bukanlah sebuah bualan semata. Eric jelas akan menepati omongannya. Mengingat laki-laki itu bukanlah manusia. Ia tak memiliki belas kasih. Meskipun ia begitu marah dan kecewa pada ayahnya namun ia tetap mencintai dan menyayangi laki-laki itu jelas ia tak ingin terjadi sesuatu dengan ayahnya.
Dan tentang janji darah ia sungguh menyesali itu. Ia tak tahu jika hanya dengan menuruti perintah laki-laki itu tanpa bertanya terlebih dulu akan membuat nya terjebak di tempat ini.
“Pikirkan semua apa yang aku ucapkan dengan baik. Karena jelas aku tak main-main dengan ucapan ku itu,” ucap Eric yang setelahnya langsung pergi dari sana meninggalkan Debby dengan air matanya yang kini sudah mengalir begitu deras.
“Mati pun aku tak masalah namun bagaimana dengan Papa juga Luis? Meskipun mereka begitu jahat pada ku tapi mereka adalah orang yang pernah mencintai ku dengan tulus dan mereka adalah orang yang aku sayangi. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada mereka,” tangis Debby dengan begitu lemah nya. Segala kemungkinan begitu membuatnya takut. Jalan terbaik saat ini hanya menyerahkan dirinya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments