Debby kini menatap pantulan cermin yang memperlihatkan gadis yang begitu cantik dengan tatapan tak percaya nya. Bahkan sesekali gadis tersebut mendekatkan wajahnya atau memicingkan matanya menatap lebih teliti pada pantulan cermin di depannya.
“Apa kau sudah selesai?” tanya Eric yang sedari tadi terus memperhatikan apa yang Debby lakukan.
Sebelumnya bahkan Eric tak tahu jika ternyata Debby memiliki sisi gelapnya sendiri. Ia pikir selama ini Debby adalah gadis kuat dan manja. Namun dibalik semua sikapnya itu ia memiliki sisi gelapnya sendiri sebagai gadis yang begitu konyol dan polos.
“Ck! benarkan dia adalah aku?” tanya Debby sambil menunjuk dirinya sendiri di depan cermin.
Debby benar-benar dibuat pangling dengan dirinya sendiri yang kini terlihat begitu cantik. Walau hanya dengan make up tipis yang memang sebelumnya tak pernah ia gunakan karena Luis yang melarangnya memakai make up dan hanya memakai bedak juga lipstick. Kini Debby benar-benar berubah seperti bidadari.
“Apa kau adalah hantu yang bisa memiliki wajah lain?” sinis Eric yang kini menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari gadis tersebut.
Debby hanya nyengir lalu segera berdiri dan kini saling berhadapan dengan Eric. Eric kini membeku di tempatnya. Setelah melihat Debby dengan jelas ia begitu dibuat terpesona oleh gadis di depannya itu.
Debby kini padahal hanya menggunakan Dress putih yang baru saja Eric belikan untuknya dan sedikit sentuhan make up juga rambut coklat alaminya yang kini di gerai dengan curly di bagian bawahnya. Namun kesan cantik gadis tersebut tak bisa ditampik begitu saja.
“Tuan, Anda baik-baik saja?” tanya Debby sambil melambaikan tangannya di depan Eric untuk menyadarkan laki-laki yang masih terpaku dengan kecantikan Debby.
Eric berdekhem lalu segera berjalan lebih dulu. Debby mengerutkan keningnya bingung namun akhirnya tetap saja ia mengikuti Eric di belakang laki-laki itu dengan menggerutu karena kesal pada sikap Eric yang suka semena-mena.
Namun tak lama, Eric malah menghentikan langkahnya. Debby yang tak fokus dan tak tahu Eric menghentikan langkahnya malah menabrak laki-laki tersebut.
“Aduh,” keluh Debby sambil mengelus keningnya yang terasa sakit.
“Kau berjalan begitu lama,” sinis Eric yang dengan tanpa aba-aba malah langsung menarik Debby kedalam rangkulannya. Hingga kini tubuh mungil Debby sudah di rangkul dengan begitu posesif oleh Eric.
“Jangan membantah, aku tak suka di bantah,” ucap Eric tegas seolah tak menerima bantahan.
Ia adalah penguasa dan belum pernah mendapatkan bantahan. Hingga kebiasaan itu menjadi sikap nalurinya sendiri. Debby yang bagai terhipnotis akhirnya hanya diam saja dan membiarkan Eric melakukan apapun yang laki-laki itu inginkan.
“Sial, mengapa aku seperti di hipnotis,” gerutu Debby dalam hatinya yang jelas tak bisa ia suarakan dengan jelas karena terlalu takut pada Eric.
“Kemana kita akan pergi?” tanya Debby saat Eric yang kini merangkul pinggangnya dengan begitu posesif membawanya keluar dari mall besar tersebut.
“Setelah mengantarmu berbelanja dan ke salon aku lapar,” ucap Eric datar.
Jelas ia tak bisa merasa lapar hanya saja ia tahu Debby pasti kini sudah begitu lapar. Eric terlalu gengsi untuk mengatakan kepeduliannya pada Debby jadi ia malah terus bersikap datar dan menyebalkan pada gadis tersebut.
Mendengar jawaban Eric, Debby hanya menjawabnya dengan anggukan.
***
Sebuah restoran mewah dengan ornamen klasik kini terpampang jelas id depan Debby. Tak dapat Debby pungkiri ia benar-benar takjub dengan restoran di depannya. Sebelumnya Debby tak pernah datang ke restoran tersebut, Luis memang sering mengajaknya datang ke restoran mewah namun restoran kali ini terasa berbeda bagi Debby karena tempatnya yang memang begitu megah dan harus ada reservasi saat datang.
Eric membenarkan pakaiannya, setelahnya ia menarik tangan Debby dalam genggamannya. Awalnya Debby dibuat tercekat dengan tingkah Eric namun pada akhirnya ia hanya bisa menurut dan mengimbangi langkah Eric.
“Meja atas nama Eric Lawfence,” ucap Arthur yang berada di belakang Eric pada seorang karyawan yang menghampiri mereka.
Debby yang mendengar nama yang tampak tak asing baginya itu, berpikir sejenak sambil melihat ke arah Eric yang kini juga melihat ke arah Debby dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Mari saya antar Tuan,” ucap karyawan restoran yang kini sudah berjalan lebih dulu memimpin jalan yang diikuti oleh Eric, Debby, juga Arthur dan satu pengawal Eric.
Debby kini masih saja menatap Eric dengan tatapan bingung juga tatapan menyelidiknya. Dan tentu saja hal itu membuat Eric bingung dengan sikap gadis tersebut. Hingga tak lama Debby memelototkan matanya saat sudah mengetahui siapa laki-laki yang salam ini menyekapnya.
“Ada apa denganmu?” tanya Eric bingung.
Kini mereka sudah sampai di privat room. Eric dan Debby kini duduk saling bersisian di meja bundar yang sudah disediakan.
“Tidak,” ucap Debby sambil menggelengkan kepalanya dan mengalihkan tatapan nya dari Eric.
Debby sungguh tak menyangka jika yang selama ini menyekapnya adalah seorang pengusaha yang begitu terkenal. Pengusaha kaya yang dengan banyak perusahaan di berbagai bidang. Sekarang haruskah Debby merasa senang? Atau malah sebaliknya?
Debby menggelengkan kepala nya tegas berusaha menjauhkan berbagai pikiran buruk yang bersarang di kepalanya. Bagaimana ia senang jika ia saja di culik? Mengingat kuliahnya juga teman-temannya Debby jadi merasa tak senang di culik oleh pengusaha kaya raya itu.
Tak lama banyak pramuniaga yang masuk ke privat room tersebut untuk menyajikan makanan juga minuman yang sebelumnya sudah di pesan oleh Eric.
Eric dengan telaten memotong motong stick nya menjadi bagian kecil lalu memberikannya pada Debby dan mengambil alih milik Debby.
“Makan lah,” tegas Eric tanpa menoleh ke arah Debby.
Tanpa sadar senyuman gadis tersebut mengembang melihat bagaimana perhatiannya laki-laki itu padanya. Meskipun tak pernah mengatakannya namun sikap Eric begitu manis pada Debby dan siapa yang tak akan lemah jika mendapatkan semua perhatian itu?
Disaat kita merasa tak ada yang menyayangi kita, tiba-tiba saja ada yang datang dan memberikan banyak perhatian. Hati mana yang tak akan luluh? Namun Debby kini berusaha meyakinkan hatinya dan membangun benteng yang begitu tinggi agar tidak ada yang menerobos paksa.
“Debby berhenti memikirkannya. Luis yang kau kira baik saja pada akhirnya meninggalkanmu,” batin Debby berusaha mensugesti dirinya sendiri untuk tidak mudah tertarik pada orang lain lagi.
Kini hanya dirinya sendiri lah yang mampu menjaga dan mencintai dirinya sendiri. Tak ada yang sebaik diri sendiri dalam mencintai diri kita sendiri. Itu lah yang kini Debby yakinkan pada dirinya sendiri. Ia tak ingin untuk terluka dan terjatuh kembali. Mungkin untuk saat ini.
Lagi pula sampai sekarang ia masih tak tahu, apa sebenarnya motif Eric yang terus membantunya dan terus menyepaknya. Debby akhirnya memilih untuk segera menghabiskan makannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments