Saat sampai di rumah waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, semua ini karena guru pembimbingnya yang terus mengawasinya entah apa yang sebenarnya pak tua itu inginkan. Tak seperti dosen pembimbing lainnya yang hanya memberikan bimbingan namun pak tua itu terus mengawasinya untuk menyelesaikan skripsi.
Sangat membuat kesal hingga membuat Deby harus pulang malam karena pak tua itu. Saat Debby baru saja masuk rumah kakak tirimu sudah berdiri di depan pintu dengan wajah angkuhnya dan tangan yang bersedekap dada.
“Kau sungguh tidak tahu aturan jam sudah sangat larut malam kau baru pulang?” ucap Laura dengan sinisnya. Deby hanya menatap tak suka pada kakaknya itu dan hendak berlalu namun ucapan Laura berikutnya berhasil membuat Deby berhenti.
“Apa kau mulai menjadi ayam kampus?” Debby mengepalkan tangannya lalu berbalik menatap Laura tajam.
Kakak tirinya itu memang sangat suka mencari masalah dengannya, seperti tak pernah bosan untuk mencari kesalahan yang Debby buat ataupun tidak.
“Apa kau tak pernah kuliah sebelumnya? Oh atau kau yang ayam kampus itu? Jadi kau tak tahu rasanya bersusah-susah menyusun skripsi, oleh karena itu yang ada di otakmu hanya ************,” tandas Debby dengan sinisnya membuat Laura mengepalkan tangannya marah mendengar cemoohan Deby.
“Kau sedang membuat alibi? Apa kau tak memiliki alibi lain selain kuliah?” tanya Laura yang berusaha mengendalikan amarahnya dengan senyuman yang mengejek.
“Kau berkata seperti itu seolah tak pernah pulang hingga subuh,” sindir Deby dengan senyuman sinisnya membuat Laura yang mendengarnya mengepalkan tangan marah.
“Deby apa pantas berbicara seperti itu pada kakakmu?” suara dari arah belakang membuat Debby mendengus kasar, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk Deby.
“Aku hanya mengatakan apa yang harus aku katakan, lagi pula dia yang memulai duluan,” ucap gadis tersebut dengan malas.
“Tapi aku yakin kau tak akan percaya dengan apa yang aku katakan, karena memang setelah memiliki keluarga baru kau tak pernah peduli padaku apalagi mempercayai ucapanku,” ucap Deby dengan sinis pada Peter, ayah Deby.
Laki-laki itu menatap anaknya dengan tatapan lelah. Menghadapi kedua putrinya yang selalu bertengkar tentu saja tak dapat mencapai keharmonisan dalam keluarga dan itu membuatnya lelah, di tambah yang Peter tahu anaknya lah yang selalu membuat ulah. Tanpa tahu ternyata yang sebenarnya adalah anaknya adalah korban dari istri dan anak tirinya.
“Aku hanya bertanya mengapa kau pulang sangat larut, aku hanya mengkhawatirkanmu,” ucap Laura dengan wajahnya yang sengaja dibuat sedih. Rasanya Debby ingin muntah mendengarnya.
“Lihatlah, kakakmu hanya mengkhawatirkanmu. Jadi bisakah kau bersikap baik dan tidak membuat masalah?” tanya peter dengan wajah kesalnya pada Debby yang kini hanya dibalas dengan senyuman sinis.
“Cih! berhentilah membuat drama Laura, kau membuat aku mual,” ucap Deby dengan malas dan segera pergi dari sana namun Peter malah menahan tangan Deby dan tiba-tiba menampar Debby membuat gadis itu memelototkan matanya dengan air mata yang mengaliri pipi mulusnya..
Dapat Debby lihat Laura tengah tersenyum melihatnya, Peter menatap tangannya penuh penyesalan karena telah menampar anaknya.
“Debby!” Debby menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Luis yang tengah menatap kaget padanya..
Luis berjalan ke arah Peter dan tanpa aba-aba laki-laki itu langsung memukul Peter membuat jeritan terdengar.
“Hey! Apa yang kau lakukan pada suami ku?” suara bentakan itu berasal dari arah tangga yang tak lain adalah ibu tiri Debby, Linda.
“Tanya pada suamimu apa yang dia lakukan pada gadisku,” bentak Luis dengan amarahnya. Luis adalah laki-laki yang paling menjaga Debby, tak membiarkan siapapun untuk melukai gadisnya tersebut termasuk ayah gadis itu sendiri.
“Beraninya kau menampar gadisku,” ucap Luis sambil menarik tangan Deby untuk segera pergi dari rumah tersebut.
“Kau selalu menyalahkan Debby atas apa yang baru kau lihat, tanpa tau apa yang awalnya terjadi,” ucap Luis dengan ucapan sinisnya dan amarahnya.
“Kau adalah orang kaya tapi terlihat miskin, harusnya kau memasang cctv dengan penyadap suara agar kau tahu apa yang terjadi,” ucap Luis dengan senyuman sinisnya.
“Berani sekali kau menghina kami,” ucap Linda dengan amarahnya.
“Mengapa aku harus takut? Aku bahkan bisa menghancurkan kalian dengan menarik semua investasinya di perusahaan kalian, ingatlah saat perusahaan kalian dalam masa kritis aku mau membantu hanya karena Debby,” kecam Luis dengan amarahnya mengingatkan kejadian tiga tahun lalu saat keluarga Debby berada dalam keterpurukan, Luis yang membantu mereka untuk bangkit kembali.
“Jika bukan karena Deby aku tak akan membantu iblis seperti kalian, yang sudah akan tumbang tanpa investor dan kerugian besar,” ucap Luis dan segera pergi dari sana menarik Deby untuk ikut bersamanya.
Peter hanya bisa terdiam menatap kepergian putrinya bersama kekasihnya, Laura yang melihat hal tersebut mengepalkan tangannya kesal.
“Kali ini kau mungkin beruntung tapi tidak selanjutnya, Luis akan menjadi milikku,” gumam Laura menatap penuh benci pada Deby yang sudah menghilang di balik pintu.
Di sisi lain kini Deby dan Luis berada di dalam mobil Luis dengan Deby yang sudah menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Luis.
“Sebelumnya Dad tak pernah menamparku tapi kali ini dia melakukannya demi Laura,” tangis Debby membuat Luis menjadi tak tega hanya membiarkan gadisnya itu puas menangis dalam dekapannya.
Luis akan setia menemani gadisnya itu hingga tangisnya reda, ia mengerti pasti Debby sangat terpukul dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ayah, yang dulu sangat mencintainya kini malah menamparnya.
“Kau masih memiliki ku sayang, aku tak kan melepaskanmu, aku akan selalu menemanimu dan menjagamu,” ucap Luis dengan sesekali mengecup kening Deby.
Ia sangat mencintai gadisnya itu, ia sudah berjanji untuk selalu menemani dan menjaga Deby.
Setelah tangisan Deby reda Luis melepaskan pelukannya, menangkup wajah kecil Deby dan tangannya.
“Lebih baik sekarang kita ke rumahku,” ucap Luis dengan senyuman menenangkannya yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Debby.
Rasanya malas untuk kembali ke rumah tersebut untuk kali ini, jadi ia ingin menenangkan diri lebih dulu dan rumah Luis adalah pilihan yang tepat.
Tak lama akhirnya Luis melajukan mobilnya menuju ke arah rumahnya, selama di perjalanan laki-laki itu tak pernah melepaskan tangannya dari Deby, sedangkan gadis itu hanya melihat ke arah keluar jendela.
“Luis, bagaimana kau bisa berada di rumahku tadi?” tanya Debby membuka suara.
“Ah ya aku lupa, aku ingin mengembalikan ponselmu yang tertinggal,” ucap Luis sambil melirik ke arah Dashboard untuk mengambil ponsel milik Debby namun tanpa mereka sangka dari arah berlawanan sebuah mobil truk besar melaju dengan kecepatan penuh hingga suara benturan yang begitu keras dapat memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
Sebuah bayangan hitam muncul di tengah kerumunan orang yang tengah berusaha untuk menolong Deby dan Luis. Bayangan hitam itu seolah menyusup dalam kerumunan hingga gadis cantik yang berada dalam mobil tersebut menghilang dalam sekejap, bahkan tak ada yang tahu jika terdapat korban wanita di dalam kecelakaan itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Hana Nisa Nisa
nyimak dulu
2024-03-08
0