Ini adalah hari kedua Deby berada di rumah sakit setelah gadis itu sadar, laki-laki yang selama ini menjaganya dan mengaku yang merawatnya selama di rumah sakit tak pernah putus mengawasi Deby dan melarang gadis itu untuk pulang ke rumahnya. Dan bagai terhipnotis Deby hanya bisa menurut.
Kini jam sudah menunjukkan pukul satu siang dan laki-laki tersebut belum juga muncul ini adalah kesempatan yang bagus untuk Deby pergi dari rumah sakit.
Gadis itu segera melepaskan selang infusnya lalu segera berganti pakaian dengan cepat. Memastikan jika di luar ruangan tak ada yang menjaganya, gadis itu mengintip dari kaca di pintu setelah merasa aman gadis itu segera keluar dan berlari menuju parkiran.
Deby segera menyetop taxi yang lewat dan menyebutkan alamat rumahnya. Gadis itu akhirnya bisa menghela nafasnya lega karena akhirnya ia bisa lolos dari laki-laki tersebut.
Tak beberapa lama akhirnya Deby sampai di depan rumahnya yang terlihat begitu ramai membuat kening Deby berkerut.
“Pak tunggu lah sebentar saya akan mengambil uang untuk Anda,” ucap Deby pada sang sopir taxi sambil tersenyum.
“Tidak perlu Nona, anggap saja saya tengah bersedekah,” ucap sopir taxi tersebut dengan senyumannya.
“Terima kasih banyak Pak,” ucap Deby yang setelahnya langsung bergegas menuju rumahnya yang begitu ramai tersebut.
Saat Deby memasuki rumahnya ternyata rumah tersebut sudah dihias dengan begitu indah semakin membuat Deby bingung apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa mereka tengah merayakan kematianku?” tanya Deby dengan sinis. Namun saat ia menuju taman belakang dapat ia lihat keluarganya yang tengah berbincang dengan keluarga Luis.
Deby semakin di buat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, bahkan banyak saudara nya yang juga masih berada di sana.
“Apa yang tengah terjadi ini?” suara Deby yang sarat akan kebingungan membuat seluruh mata tertuju padanya dengan terkejut.
Berbeda dengan tatapan terkejut dari orang lain Deby dapat melihat kebingungan yang terlihat di wajah Luis. Namuan tatapan terkejut itu setelahnya berubah menjadi tatapan iba saat melihat Deby membuat Deby semakin kebingungan.
“Mom sedang apa kalian disini?” tanya Deby menghampiri ibu Luis yang kini tengah menatap iba pada Deby.
“Mengapa kalian hanya diam?” tanya Deby dengan berbagai pemikiran buruk yang bermunculan di otaknya apalagi saat melihat Luis yang berada dalam gandengan Laura.
“Luis apa yang kau lakukan, mengapa kau menggandeng Laura?” ucap Deby sambil melepaskan tangan Deby dan Luis. Air mata gadis itu sudah mengalir membasahi wajahnya.
“Sialan siapa kau, datang-datang mengganggu ku? Laura adalah tunanganku,” ucapan Luis tersebut berhasil membuat Deby terdiam membeku dengan air mata yang terus mengalir.
Dapat Deby lihat Laura yang tengah tersenyum penuh kemenangan padanya.
“Aku adalah kekasihmu Luis,” ucap Deby dengan berteriak di depan Luis.
“Kau bercanda? Apa kau sedang berhalusinasi?” tanya Luis dengan senyuman sinisnya. Perkataan Luis itu sukses membuat Deby bingung sekaligus terkejut karena Luis tak mengenalnya. Sebenarnya apa yang terjadi setelah kecelakaan itu?
“Deby bisakah kau ikut dengan Mom sebentar?” Ibu Luis menarik tangan Deby dengan lembut membawa gadis itu ke dalam kamarnya.
Setelah sampai di kamar Deby, Ibu Luis langsung memeluk Deby menenangkan gadis yang masih menangis tersebut.
“Luis mengalami lupa ingatan setelah kecelakaan itu,” ucap Mary memulai ceritanya.
Mendengar pernyataan Mary membuat Deby terkejut dan segera melepaskan pelukan mereka.
“Lalu bagaimana Luis bisa mengira Laura adalah kekasihnya?” tanya Deby dengan kerutan di dahinya.
“Mom juga tak tahu, dua hari lalu tiba-tiba saja Luis meminta untuk segera menikahinya dengan Laura. Sepertinya semua ini ulah licik Laura, karena memang Laura sering datang untuk menjenguk Luis,” jelas Mary yang semakin membuat Deby menangis mendengarnya.
Kakak tirinya itu memang benar-benar licik, bahkan ia begitu tega mengambil kekasih Deby.
“Kemana kau selama ini sayang?” tanya Mary pada Deby yang menghilang hampir sebulan.
“Saat kecelakaan aku bersama dengan Luis, dan selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi saat aku terbangun dua hari yang lalu aku sudah berada di rumah sakit,” ucap Deby menjelaskan apa yang dialaminya.
“Tapi saat kejadian itu bahkan tak ada yang melihatmu,” jelas Mary yang berhasil membuat Deby terkejut mendengarnya.
“Keluargamu juga membuat berita jika kamu kabur setelah kalian bertengkar,” ucap Mary dengan wajah sedihnya.
“Aku tak memiliki bukti untuk mendukung apa yang aku ucapkan karena satu-satunya saksi yang aku punya pun saat ini lupa ingatan, jadi apa kau mempercayai ku Mom?” tanya Deby dengan wajah sedihnya.
“Tentu saja mom mempercayaimu, tapi maaf Sayang saat ini Mom tak bisa membantumu,” ucap Mary dengan wajah sedihnya.
Ia sangat menyesal karena gadis yang ia dambakan menjadi menantunya malah gagal menjadi menantunya dan digantikan dengan gadis licik yang bahkan tega merebut kekasih saudaranya.
“Kau harus kuat sayang, Mom mencintaimu. Kau akan selalu menjadi anak Mom,” ucap Mary dengan senyumannya dan mengelus puncak kepala Deby.
“Malam ini adalah pesta pertunangan mereka,” info Mary yang tak kuasa memberi tahu semua ini pada Deby.
“Aku tak akan kuat untuk hadir Mom,” ucap Deby dengan senyuman kecut nya.
***
Malam kini telah tiba, malam yang harusnya menjadi malam bahagia untuk nya karena malam ini adalah malam ulang tahunya namun nyatanya ini adalah malam terburuknya saat melihat kekasih yang begitu dicintainya harus bertunangan dengan kakaknya sendiri.
“Mereka memang begitu jahat, aku sungguh membenci kalian,” ucap Deby penuh emosi hingga tak lama pintu kamarnya dibuka menampilkan ayahnya yang tengah menatap sendu putrinya.
“Maafkan Dad sayang,” ucap Peter dengan guratan lelah bercampur sedih apalagi saat melihat kondisi Deby yang saat Ini begitu terpuruk.
“Kau tak perlu meminta maaf, bukankah menyakiti ku adalah kesenangan kalian?” ucap Deby berusaha menahan air matanya untuk tidak menetes.
Ia harus kuat apalagi di depan lelaki yang pernah menjadi cinta pertamanya itu, bukankah seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya? Namuan yang debi rasakan adalah sebuah kebencian, hanya kebencian.
“Kau bahkan tak pernah peduli padaku,” ucap Deby dengan suara yang sudah bergetar.
“Dad menyayangimu Nak, Dad peduli padamu,” ucap peter sambil berusaha menyentuh putrinya namun Deby segera mengelak.
“Benarkah? Apa kau mencariku saat aku tidak ada? Kau tahu saat itu aku tengah bersama Luis jadi kau pasti tahu aku berada dalam kecelakaan itu. Apa kau mengkhawatirkanku? Aku rasa tidak, kau tidak mengkhawatirkan ku,” ucap Deby yang sudah tak sanggung menahan air matanya lagi.
Gadis itu sudah menangis dengan terisak merasakan penderitaan yang dirasakannya. Peter yang melihat putrinya yang terlihat begitu hancur merasa begitu ibah. Ia mengerti, Luis adalah satu-satunya yang Deby miliki, laki-laki yang mencintai anaknya dengan tulus namun kali ini ia malah merusak kebahagian putrinya itu.
“Jika kau mengkhawatirkan ku kau pasti mencariku tapi kau melakukannya, apa kau percaya saat itu aku sudah menyusul Mom? Tapi seharusnya memang itu yang aku lakukan,” ucap Deby dengan suara yang begitu keras hingga mungkin para tamu undangan bisa mendengarnya.
“Kau tahu Luis adalah satu-satunya orang yang aku sayangi, satu-satunya orang yang begitu mencintaiku dan orang yang selalu percaya serta mendukungku, tapi lihatlah Tuan apa yang kau lakukan. Kau mengambilnya untuk anakmu,” ucap Deby dengan teriakannya.
“Deby bisakah kau tidak berteriak? Kau membuat kami malu,” suara itu berasal dari Linda yang kini berada di belakang Peter.
“Memangnya kenapa? Karena itulah kebenarannya, kalian merebut Luis dariku,” bentak Deby yang memancing kekesalan Linda.
Linda yang sudah kesal dan malu akhirnya menyeret Deby menuju gudang yang berada di lantai tiga dekat loteng.
“Linda lepaskan anakku,” ucap Peter yang tak tega melihat anaknya yang di seret.
“Diam kau Peter, anakmu ini sudah membuat kita malu,” ucap nya dengan amarahnya yang memuncak tak peduli lagi jika adala yang melihatnya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments