Επτά

Keringat dingin kini mengucur membasahi wajah gadis yang masih terlelap dalam tidurnya yang begitu tak tenang, mimpi berulang yang sudah sering muncul dalam tidurnya terus saja berulang. Trauma masa lalu nya membuat gadis tersebut selalu merasakan ketakutan dalam tidurnya. Hingga sebuah usapan lembut pada keningnya menyadarkan gadis yang tak lain adalah Debby, dari tidurnya.

“Sial, mengapa mimpi itu lagi?” tanya Debby pada dirinya sendiri sambil mendudukkan dirinya dan mengusap wajahnya gusar.

Hingga tak lama gadis tersebut tersadar, jika tadi ia merasakan seseorang mengusap keningnya. Debby memperhatikan sekitar, namun nihil. Ia tak melihat apapun di sana. Hanya dirinya yang berada dalam ruangan besar tersebut seorang diri.

“Sepertinya aku hanya berhalusinasi,” ucap Debby yang tengah berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak semakin merasa takut.

Debby melihat ke arah dinding yang terdapat sebuah jam yang begitu antik dan kuno. Dan ternyata jam masih menunjukkan pukul 3.00 dini hari. Namun rasanya ia tak akan bisa tertidur lagi setelah mimpi buruk itu.

“Selalu saja mengganggu waktu istirahat ku,” keluh Debby karena sudah merasa lelah dengan mimpi yang sering mengganggu tidurnya.

Jika mimpi itu hadir dalam tidurnya, saat terbangun Debby selalu tak bisa untuk tertidur kembali. Rasa takut itu selalu muncul. Luis pernah memintanya untuk memeriksakan dirinya ke psikiater namun Debby menolaknya karena baginya ia masih baik-baik saja dan tidak ingin orang lain tahu tentang trauma nya.

“Sudah bertahun-tahun berlalu, aku pikir aku akan baik-baik saja tapi ternyata mimpi itu terus mengganggu ku,” helaan nafas terdengar dari Debby.

Gadis tersebut kini memilih berdiri di depan kaca jendela besar kamar yang ditempatinya. Menatap ke arah bangunan yang masih di hiasi lampu ataupun dari kendaraan di bawah sana yang masih saja berlalu lalang tanpa melihat jam.

Angin yang berhembus mengantarkan seseorang tak kasat mata kini memeluk Debby. Debby yang merasakan seseorang memeluknya dari belakang segera menoleh, namun tetap saja ia tak mendapati siapapun di sana kecuali dirinya sendiri.

“Ada apa ini? Apa rumah ini ada hantunya? Memang rumah terlalu besar tak akan bagus, karena akan banyak makhluk halus yang ikut menumpang di dalamnya,” monolog Debby sambil bergidik ngeri dan memeluk dirinya sendiri karena merasa takut.

Tak ingin dilingkupi rasa takut. Akhirnya Debby memilih kembali ke ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di sana lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia benar-benar takut sekarang. Namun tak ada yang bisa ia lakukan, pintu kamarnya selalu di kunci dari luar membuat Debby rasanya benar-benar terkurung.

Lagi pula bukankah yang paling aman memang lah kamar sendiri? Siapa yang tahu jika Debby keluar maka hantu di luar akan lebih banyak.

“Baiklah mungkin hantu di kamar ini ingin berkenalan dengan ku,” ucap Debby yang selanjutnya membuka selimut yang digunakan untuk menutupi tubuhnya.

Tanpa gadis tersebut ketahui ada sosok lain yang kini diam-diam tersenyum melihat tingkah menggemaskan Debby. Sosok tak kasat mata yang kini sebenarnya duduk saling berhadapan dengan gadis tersebut.

“Namaku Deborah kalian bisa memanggil ku Debby, aku adalah penghuni baru yang di sekap di sini oleh tuan lama kalian. Kalian tak perlu menakuti ku, karena aku memang penakut. Jika kalian terus menyakiti ku, aku akan loncat dari jendela itu karena pintu kamar ini pun dikunci dari luar,” ucap Debby yang kini mulai memperkenalkan dirinya, dengan sedikit ancaman di dalamnya.

“Tidakkah kalian merasa kasihan pada ku? Hidupku bahkan sudah terlalu hancur jadi jangan biarkan aku mati konyol disini hanya karena takut. Aku masih ingin berumur panjang dan membalaskan dendam ku. Hey! Dengar aku sudah memiliki sedikit jiwa-jiwa setan dengan berpikir untuk balas dendam jadi aku mohon agar kalian berbelas kasih padaku.” Debby kini sudah menautkan tangannya meminta permohonan pada setan penunggu kamarnya yang jelas tak dapat ia lihat.

Aneh memang gadis tersebut malah meminta belas kasih dari makhluk yang bahkan tak dapat ia lihat keberadaannya. Eric yang sebenarnya terus berada di kamar tersebut tanpa bisa Debby lihat kini ingin sekali meledakkan tawanya.

“Sungguh menggemaskan,” ucap Eric mengagumi gadis yang kini berada di hadapannya itu.

“Ini masih malam jadi sebaiknya kau kembali istirahat,” ucap Eric lalu meniup wajah Debby hingga perlahan mata tersebut kembali terpejam.

Eric membenarkan posisi tidur gadis tersebut, agar Debby tak sakit leher ataupun bagian tubuh lainnya saat terbangun. Setelahnya Eric menatap Debby lama. Wajah yang terlihat lelah itu begitu cantik dan polos.

“Kau akan selalu berada di sini. Aku akan menjagamu, karena kau adalah milikku,” ucapan terakhir dari Eric sebelum akhirnya laki-laki itu benar-benar menghilang dari kamar tersebut.

***

Guratan senja yang menyapa di ufuk timur menandakan aktifitas yang akan segera dimulai. Perlahan sinar dari sang surya menembus melalui jendela yang tak tertutup tirai. Menyilaukan Debby yang masih terlelap dalam tidurnya.

Gadis tersebut akhirnya menggeliat dalam tidurnya, lalu membuka matanya.

“Benarkah aku bisa tidur hingga mentari menyalakan lampunya begini?” tany Debby tidak percaya.

Pasalnya ia memang tak pernah terbangun saat mentari menyapa. Ia selalu akan terbangun karena mimpi buruknya atau alarm dari ponselnya.

“Ah benar ponsel ku,” ingat Debby saat menyadari jika ia tak membawa apapun ke rumah besar tersebut.

Debby menepuk keningnya karena masalah yang baru saja di alaminya kemarin ia sampai melupakan banyak hal. Bahkan ia lupa jika kemarin adalah hari ulang tahunnya. Hari ulang tahun yang begitu menyakitkan untuknya.

“Sudah lah, kau tak perlu memikirkannya lagi Debby,” ucap Debby sambil menepuk-nepuk pipinya. Berusaha untuk memberikan semangat pada dirinya sendiri.

“Aku harus kuliah tapi saat ini, aku malah masih tetap terkurung di sini.” Debby melihat sekitar lalu beranjak dari ranjang yang ditempatinya.

Langkah kaki gadis tersebut membawanya menuju ke arah pintu kamar namun ternyata pintu kamar tersebut terkunci.

“Andai aku adalah rapunzel,” seloroh Debby dengan wajah menyedihkannya.

Entahlah, meskipun hidupnya tak selalu bahagia dan hanya dipenuhi oleh luka. Namun Debby adalah gadis yang lucu. Gadis yang selalu berusaha untuk membuat dirinya sendiri tertawa dengan tingkahnya. Membuat sebuah lelucon untuk dirinya sendiri. Itulah Debby.

Tak lama, suara pintu di buka membuat Debby yang awalnya akan berjalan menuju walk in closet menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pintu yang kini sudah terdapat empat pelayan yang tersenyum ke arahnya.

“Nyonya, kami akan membantu Anda membersihkan tubuh. Tuan sudah menunggu Anda di bawah untuk sarapan,” jelas pelayan tersebut sambil berjalan ke arah Debby namun Debby sontak menggelengkan kepalanya tegas.

“Aku bisa membersihkan tubuhku sendiri, kalian bisa membantu yang lain nanti,” ucap Debby yang setelahnya langsung berlari ke arah kamar mandi dan menguncinya.

Debby memegangi dadanya, semua memang di luar nalarnya. Bagaimana bisa ia yang sudah berusaha 21 tahun masih dibantu untuk mandi? Apa mereka pikir Debby anak kecil?

“Gila.”

***

Episodes
1 ένας
2 Δύο
3 τρία
4 τέσσερις
5 πέντε
6 έξι
7 Επτά
8 Οκτώ
9 εννέα
10 δέκα
11 έντεκα
12 δώδεκα
13 δεκατρείς
14 δεκατέσσερα
15 δεκαπέντε
16 δεκαέξι
17 δεκαεπτά
18 δεκαοχτώ
19 Δεκαεννέα
20 Είκοσι
21 Είκοσι ένα
22 Είκοσι δύο
23 Είκοσι τρία
24 Είκοσι τέσσερα
25 είκοσι πέντε
26 εικοσι εξι
27 είκοσιεφτά
28 Είκοσι οχτώ
29 Εικοσι εξι
30 τριάντα
31 τριάντα ένα
32 τριάντα δύο
33 τριάντα τρία
34 Τριάντα
35 Τριάντα πέντε
36 τριανταέξι
37 είκοσιεφτά
38 είκοσι οχτώ
39 είκοσι εννέα
40 σαράντα
41 σαράντα ένα
42 Σαράντα δύο
43 Σαράντα τρία
44 Σαράντα τέσσερις
45 Σαράντα πέντε
46 Σαράντα έξι
47 Σαράντα επτά
48 Σαρανταοκτώ
49 Σαράντα εννέα
50 Πενήντα
51 Πενήντα ένα
52 Πενήντα δύο
53 Πενήντα τριών
54 Πενήντα τεσσάρων
55 Πενήντα πέντε
56 Πενήντα έξι
57 Πενήντα επτά
58 END
59 Aiken 1
60 Aiken 2
61 Aiken 3
62 Aiken 3
63 Aiken 4
64 Aiken 6
65 Aiken 7
66 Aiken 8
67 Aiken 9
68 Aiken 10
69 Aiken 11
70 Aiken 12
71 Aiken 13
72 Aiken 14
73 Aiken 15
74 Aiken 16
75 Aiken 17
76 Aiken 17
77 Aiken 18
78 Aiken 19
79 Aiken 20
80 Aiken 21
81 Aiken
82 Aiken 23
83 Aiken 24
84 Aiken 24
85 Aiken 25
86 Aiken 26
87 Aiken 26
88 Aiken 27
89 Aiken 28
90 Aiken 29
91 Aiken 30
92 Aiken 31
93 Aiken 31
94 Aiken 32
95 Aiken 33
Episodes

Updated 95 Episodes

1
ένας
2
Δύο
3
τρία
4
τέσσερις
5
πέντε
6
έξι
7
Επτά
8
Οκτώ
9
εννέα
10
δέκα
11
έντεκα
12
δώδεκα
13
δεκατρείς
14
δεκατέσσερα
15
δεκαπέντε
16
δεκαέξι
17
δεκαεπτά
18
δεκαοχτώ
19
Δεκαεννέα
20
Είκοσι
21
Είκοσι ένα
22
Είκοσι δύο
23
Είκοσι τρία
24
Είκοσι τέσσερα
25
είκοσι πέντε
26
εικοσι εξι
27
είκοσιεφτά
28
Είκοσι οχτώ
29
Εικοσι εξι
30
τριάντα
31
τριάντα ένα
32
τριάντα δύο
33
τριάντα τρία
34
Τριάντα
35
Τριάντα πέντε
36
τριανταέξι
37
είκοσιεφτά
38
είκοσι οχτώ
39
είκοσι εννέα
40
σαράντα
41
σαράντα ένα
42
Σαράντα δύο
43
Σαράντα τρία
44
Σαράντα τέσσερις
45
Σαράντα πέντε
46
Σαράντα έξι
47
Σαράντα επτά
48
Σαρανταοκτώ
49
Σαράντα εννέα
50
Πενήντα
51
Πενήντα ένα
52
Πενήντα δύο
53
Πενήντα τριών
54
Πενήντα τεσσάρων
55
Πενήντα πέντε
56
Πενήντα έξι
57
Πενήντα επτά
58
END
59
Aiken 1
60
Aiken 2
61
Aiken 3
62
Aiken 3
63
Aiken 4
64
Aiken 6
65
Aiken 7
66
Aiken 8
67
Aiken 9
68
Aiken 10
69
Aiken 11
70
Aiken 12
71
Aiken 13
72
Aiken 14
73
Aiken 15
74
Aiken 16
75
Aiken 17
76
Aiken 17
77
Aiken 18
78
Aiken 19
79
Aiken 20
80
Aiken 21
81
Aiken
82
Aiken 23
83
Aiken 24
84
Aiken 24
85
Aiken 25
86
Aiken 26
87
Aiken 26
88
Aiken 27
89
Aiken 28
90
Aiken 29
91
Aiken 30
92
Aiken 31
93
Aiken 31
94
Aiken 32
95
Aiken 33

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!