Keringat dingin kini mengucur membasahi wajah gadis yang masih terlelap dalam tidurnya yang begitu tak tenang, mimpi berulang yang sudah sering muncul dalam tidurnya terus saja berulang. Trauma masa lalu nya membuat gadis tersebut selalu merasakan ketakutan dalam tidurnya. Hingga sebuah usapan lembut pada keningnya menyadarkan gadis yang tak lain adalah Debby, dari tidurnya.
“Sial, mengapa mimpi itu lagi?” tanya Debby pada dirinya sendiri sambil mendudukkan dirinya dan mengusap wajahnya gusar.
Hingga tak lama gadis tersebut tersadar, jika tadi ia merasakan seseorang mengusap keningnya. Debby memperhatikan sekitar, namun nihil. Ia tak melihat apapun di sana. Hanya dirinya yang berada dalam ruangan besar tersebut seorang diri.
“Sepertinya aku hanya berhalusinasi,” ucap Debby yang tengah berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak semakin merasa takut.
Debby melihat ke arah dinding yang terdapat sebuah jam yang begitu antik dan kuno. Dan ternyata jam masih menunjukkan pukul 3.00 dini hari. Namun rasanya ia tak akan bisa tertidur lagi setelah mimpi buruk itu.
“Selalu saja mengganggu waktu istirahat ku,” keluh Debby karena sudah merasa lelah dengan mimpi yang sering mengganggu tidurnya.
Jika mimpi itu hadir dalam tidurnya, saat terbangun Debby selalu tak bisa untuk tertidur kembali. Rasa takut itu selalu muncul. Luis pernah memintanya untuk memeriksakan dirinya ke psikiater namun Debby menolaknya karena baginya ia masih baik-baik saja dan tidak ingin orang lain tahu tentang trauma nya.
“Sudah bertahun-tahun berlalu, aku pikir aku akan baik-baik saja tapi ternyata mimpi itu terus mengganggu ku,” helaan nafas terdengar dari Debby.
Gadis tersebut kini memilih berdiri di depan kaca jendela besar kamar yang ditempatinya. Menatap ke arah bangunan yang masih di hiasi lampu ataupun dari kendaraan di bawah sana yang masih saja berlalu lalang tanpa melihat jam.
Angin yang berhembus mengantarkan seseorang tak kasat mata kini memeluk Debby. Debby yang merasakan seseorang memeluknya dari belakang segera menoleh, namun tetap saja ia tak mendapati siapapun di sana kecuali dirinya sendiri.
“Ada apa ini? Apa rumah ini ada hantunya? Memang rumah terlalu besar tak akan bagus, karena akan banyak makhluk halus yang ikut menumpang di dalamnya,” monolog Debby sambil bergidik ngeri dan memeluk dirinya sendiri karena merasa takut.
Tak ingin dilingkupi rasa takut. Akhirnya Debby memilih kembali ke ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di sana lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia benar-benar takut sekarang. Namun tak ada yang bisa ia lakukan, pintu kamarnya selalu di kunci dari luar membuat Debby rasanya benar-benar terkurung.
Lagi pula bukankah yang paling aman memang lah kamar sendiri? Siapa yang tahu jika Debby keluar maka hantu di luar akan lebih banyak.
“Baiklah mungkin hantu di kamar ini ingin berkenalan dengan ku,” ucap Debby yang selanjutnya membuka selimut yang digunakan untuk menutupi tubuhnya.
Tanpa gadis tersebut ketahui ada sosok lain yang kini diam-diam tersenyum melihat tingkah menggemaskan Debby. Sosok tak kasat mata yang kini sebenarnya duduk saling berhadapan dengan gadis tersebut.
“Namaku Deborah kalian bisa memanggil ku Debby, aku adalah penghuni baru yang di sekap di sini oleh tuan lama kalian. Kalian tak perlu menakuti ku, karena aku memang penakut. Jika kalian terus menyakiti ku, aku akan loncat dari jendela itu karena pintu kamar ini pun dikunci dari luar,” ucap Debby yang kini mulai memperkenalkan dirinya, dengan sedikit ancaman di dalamnya.
“Tidakkah kalian merasa kasihan pada ku? Hidupku bahkan sudah terlalu hancur jadi jangan biarkan aku mati konyol disini hanya karena takut. Aku masih ingin berumur panjang dan membalaskan dendam ku. Hey! Dengar aku sudah memiliki sedikit jiwa-jiwa setan dengan berpikir untuk balas dendam jadi aku mohon agar kalian berbelas kasih padaku.” Debby kini sudah menautkan tangannya meminta permohonan pada setan penunggu kamarnya yang jelas tak dapat ia lihat.
Aneh memang gadis tersebut malah meminta belas kasih dari makhluk yang bahkan tak dapat ia lihat keberadaannya. Eric yang sebenarnya terus berada di kamar tersebut tanpa bisa Debby lihat kini ingin sekali meledakkan tawanya.
“Sungguh menggemaskan,” ucap Eric mengagumi gadis yang kini berada di hadapannya itu.
“Ini masih malam jadi sebaiknya kau kembali istirahat,” ucap Eric lalu meniup wajah Debby hingga perlahan mata tersebut kembali terpejam.
Eric membenarkan posisi tidur gadis tersebut, agar Debby tak sakit leher ataupun bagian tubuh lainnya saat terbangun. Setelahnya Eric menatap Debby lama. Wajah yang terlihat lelah itu begitu cantik dan polos.
“Kau akan selalu berada di sini. Aku akan menjagamu, karena kau adalah milikku,” ucapan terakhir dari Eric sebelum akhirnya laki-laki itu benar-benar menghilang dari kamar tersebut.
***
Guratan senja yang menyapa di ufuk timur menandakan aktifitas yang akan segera dimulai. Perlahan sinar dari sang surya menembus melalui jendela yang tak tertutup tirai. Menyilaukan Debby yang masih terlelap dalam tidurnya.
Gadis tersebut akhirnya menggeliat dalam tidurnya, lalu membuka matanya.
“Benarkah aku bisa tidur hingga mentari menyalakan lampunya begini?” tany Debby tidak percaya.
Pasalnya ia memang tak pernah terbangun saat mentari menyapa. Ia selalu akan terbangun karena mimpi buruknya atau alarm dari ponselnya.
“Ah benar ponsel ku,” ingat Debby saat menyadari jika ia tak membawa apapun ke rumah besar tersebut.
Debby menepuk keningnya karena masalah yang baru saja di alaminya kemarin ia sampai melupakan banyak hal. Bahkan ia lupa jika kemarin adalah hari ulang tahunnya. Hari ulang tahun yang begitu menyakitkan untuknya.
“Sudah lah, kau tak perlu memikirkannya lagi Debby,” ucap Debby sambil menepuk-nepuk pipinya. Berusaha untuk memberikan semangat pada dirinya sendiri.
“Aku harus kuliah tapi saat ini, aku malah masih tetap terkurung di sini.” Debby melihat sekitar lalu beranjak dari ranjang yang ditempatinya.
Langkah kaki gadis tersebut membawanya menuju ke arah pintu kamar namun ternyata pintu kamar tersebut terkunci.
“Andai aku adalah rapunzel,” seloroh Debby dengan wajah menyedihkannya.
Entahlah, meskipun hidupnya tak selalu bahagia dan hanya dipenuhi oleh luka. Namun Debby adalah gadis yang lucu. Gadis yang selalu berusaha untuk membuat dirinya sendiri tertawa dengan tingkahnya. Membuat sebuah lelucon untuk dirinya sendiri. Itulah Debby.
Tak lama, suara pintu di buka membuat Debby yang awalnya akan berjalan menuju walk in closet menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pintu yang kini sudah terdapat empat pelayan yang tersenyum ke arahnya.
“Nyonya, kami akan membantu Anda membersihkan tubuh. Tuan sudah menunggu Anda di bawah untuk sarapan,” jelas pelayan tersebut sambil berjalan ke arah Debby namun Debby sontak menggelengkan kepalanya tegas.
“Aku bisa membersihkan tubuhku sendiri, kalian bisa membantu yang lain nanti,” ucap Debby yang setelahnya langsung berlari ke arah kamar mandi dan menguncinya.
Debby memegangi dadanya, semua memang di luar nalarnya. Bagaimana bisa ia yang sudah berusaha 21 tahun masih dibantu untuk mandi? Apa mereka pikir Debby anak kecil?
“Gila.”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments