Riska, Erna, dan Wati tercengang saat taksi tersebut berhenti di sebuah rumah mewah yang besar.
"Ini yakin kita mau masuk?" tanya Riska.
"Sudah jauh-jauh sampai di sini masa mau pulang? Ayo kita selesaikan sekarang! Kalau memang dia bukan Hamish yang kita cari, ya sudah kita cari jalan lain saja," usul Erna.
"Siapa yang mau masuk?" tanya Riska lagi.
"Bareng saja kita bertiga. Kalau ada yang marah lagi kan jadi ada temannya," usul Wati.
"Baiklah, ayo kita masuk!" ajak Erna.
Ketiganya mendekat ke arah gerbang yang tinggi menjulang. Kedatangan mereka disambut oleh seorang satpam yang menanyakan identitas serta keperluan mereka datang.
Satpam tersebut membukakan pintu dan memandu mereka menuju ke arah rumah utama yang benar-benar megah.
"Siapa mereka?" seorang wanita yang kebetulan lewat dari arah dalam berjalan menghampiri mereka.
Dari raut wajah yang tidak ada keramahan itu, mereka bertiga sudah punya firasat jika tujuan mereka tak akan berjalan mulus.
"Nyonya, mereka Mahasiswa Indonesia yang datang untuk bertemu dengan Tuan Muda," kata satpam.
"Apa? Indonesia?" Salma seakan punya kebencian tersendiri saat nama negara itu disebut. "Suruh mereka pergi sekarang juga!" perintahnya dengan nada meninggi.
"Tapi, Nyonya ... Katanya mereka ada informasi penting."
"Aku tidak peduli! Pokoknya aku tidak mau kedatangan tamu seperti mereka!" bentak Salma. "Kalian tunggu apa lagi? Cepat pergi dari rumahku!" usirnya.
"Maaf, Nyonya. Beri kami kesempatan sebentar saja dengan Tuan Hamish," pinta Riska dengan tatapan penuh harap.
"Pergi!" bentak Salma.
Ketiga wanita muda itu jadi ketakutan karena dimarahi.
"Kita pergi saja, ayo ayo ...," ajak Erna dengan suara lirih seraya menarik tangan Riska.
"Ada apa ini?"
Hamish baru saja turun dari lantai atas. Ketampanannya membuat mereka bertiga tercengang. Riska segera menyadarkan dirinya karena bukan saatnya untuk mengagumi seseorang.
Ia memanfaatkan kesempatan itu berlari mendekat ke arah Hamish degan nekad.
"Heh! Lancang sekali kamu! Keluar dari rumahku!" omel Salma.
"Tuan Hamish, apa Anda mengebal Paula? Wanita yang berasal dari Indonesia? Dia sedang kesulitan sekarang," kata Riska.
Salma melangkah dengan penuh amarah berusaha menyeret Riska agar keluar dari rumahnya. "Kurang ajar sekali kamu! Orang tidak tahu diri!"
"Ibu, tolong hentikan!" pinta Hamish. Ia sangat terkejut mendengar wanita itu menyebut nama istrinya.
"Hamish ...." Salma menatap tajam ke arah putranya.
"Aku ingin mendengarkan mereka bicara. Tolong Ibu jangan menganggu."
Tak ada yang bisa Salma lakukan ketika Hamish telah mengungkapkan kemauannya. Mereka dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu bersama Hamish. Salma yang tidak suka hanya mengamati dari kejauhan.
"Tuan, apa benar Anda yang telah menikahi teman kami karena razia?" tanya Riska.
Hamish hanya mengangguk. Ia tidak tahu untuk apa mereka menanyakan hal tersebut karena Aisy bilang jika Paula memutuskan untuk pergi dengan teman laki-lakinya. Ia sudah berusaha menghubungi Paula, namun ponselnya tidak pernah aktif.
"Bisakah kami meminta kartu identitas Paula? Dia bilang masih tertinggal di rumah ini," ucap Riska.
Tampak jelas jika wajah Hamish terlihat kecewa. "Kenapa tidak dia sendiri saja yang datang mengambilnya? Apa dia mau buru-buru pulang untuk menikah?"
"Menikah bagaimana? Paula ada di penjara!" celetuk Erna.
Wati reflek menutup mulut wanita yany suka ceplas-ceplos itu.
Hamish tertegun sesaat. "Apa kamu bilang? Paula dipenjara?" tanyanya.
Riska menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan Paula malam itu di tempat festival. Ia juga sempat memberi tumpangan tempat tinggal dan memberi pekerjaan. Sayangnya, Paula terkena masalah saat bekerja karena menggunakan indentitas palsu. Sudah sekitar sepuluh hari Paula mendekam di penjara.
"Bawa aku menemui Paula!" pinta Hamish.
Ketiganya terlihat lega. Mereka kira Hamish tidak akan membantu Paula.
"Hamish, untuk apa kamu mengurusinya? Dia sendiri yang sudah memutuskan untuk kabur darimu. Memangnya keluarga kita tidak punya harga diri?" ucap Salma.
"Paula tidak tidak kabur, Ibu. Aisy yang sudah membohongi kita," katanya.
"Itu tidak mungkin. Aisy anak yang baik, tidak mungkin bohong kepada kita. Pasti wanita itu yang sudah berbohong. Kamu tidak usah percaya!"
Hamish mengabaikan ucapan ibunya. Di pikirannya saat ini hanya mengkhawatirkan Paula. Ia mengajak ketiga wanita itu agar mengantarnya ke tempat Paula.
Riska dan teman-temannya menaiki taksi, sementara Hamish mengikuti mereka dengan mobilnya sendiri. Salma yang khawatir jika putranya akan kembali pada wanita itu, menyuruh sopir untuk mengikuti Hamish.
Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat Paula ditahan.
"Hamish, ini akan sangat memalukan jika sampai ada yang mengenali kita di tempat ini. Apalagi kalau ada yang tahu kamu telah menikahi seorang wanita kriminal," ujar Salma.
Hamish tetap berjalan dan mengabaikan ucapan ibunya. Ia merasa sangat menyesal bahwa selama satu pekan itu meyakini bahwa Paula telah meninggalkannya seperti ucapan Aisy. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Paula dan tidak ada jawaban. Karena itu ia percaya ucapan Aisy.
"Ibu mertuanya galak begitu, pantas Paula tidak mau pulang," ucap Erna sembari berbisik-bisik dengan kedua temannya.
"Jadi bagaimana, kamu juga mau kan seperti Paula?" ledek Wati.
"Kayaknya aku akan merubah ucapanku deh. Aku mau suami setampan dia tapi juga ibu mertua yang baik. Kalau harus punya ibu mertua galak, mending aku cari calon suami yang yatim piatu," canda Erna.
Riska dan Wati dibuat cekikikan karena lawakan Erna.
"Hamish, dengarkan ibumu! Apa kamu tidak peduli dengan reputasimu? Hamish!" Salma merasa kesal dengan putranya sendiri.
"Reputasi seperti apa yang Ibu maksud? Aku datang ke sini karena yakin jika Paula tidak bersalah. Aku akan membebaskannya dan membersihkan namanya," kata Hamish.
"Aisy tidak akan membohongimu, dia pasti memang sudah berbuat kriminal sampai harus dipenjara." Salma terus berusaha menyalahkan Paula.
Hamish menghentikan langkah dan memandang sendu ke arah ibunya. "Ibu, aku ingin menemui Paula sendiri. Tunggulah di sini atau pulang," pintanya.
Ia ingin menghormati ibunya sebagai orang tua, namun ia tak bisa mengabaikan wanita yang pernah menyelamatkan nyawanya dan saat ini berstatus sebagai istrinya merasa menderita.
Hamish masuk sendiri ke tempat pertemuan diantar seorang petugas di sana. Tak berapa lama berselang, Paula masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Hamish?" Paula sangat terkejut saat mengetahui kehadiran lelaki itu di sana. Ia tak menyangka jika Hamish akan datang menemuinya.
Hamish berjalan menghampiri Paula. Tanpa berkata-kata lagi, ia memberikan pelukan kerinduannya.
Paula membalas pelukan itu. Ia sampai menangis tersedu-sedu saking bahagianya melihat Hamish ada di sana. Ia hampir menyerah dan putus asa menjalani hari-harinya di dalam penjara yang penuh dengan keterbatasan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Zubaidah Dahlan
aduhh aku jadi panasaran
2023-05-08
0
☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ
sedih bercampur lega sih..gini amat nasibmu Pau🥺
2023-02-23
0
syieqah fieqah
klo aq jdi paula. klo sdh tau c aisy fitnah nnti lepas d bebaskan.. aq balas blek.. mesra2 depan aisy biar dia tau rasa..paula..patutnya lebih tegas lagi orgnya
2023-02-21
0