“Kami tidak memiliki surat nikah. Semalam dia hanya membantuku karena kami hampir mati. Kami tidak berbuat yang macam-macam!” bantah Hamish.
“Hahaha … setiap orang yang melanggar hukum memang suka mencari-cari alasan.” Tetap saja petugas polisi itu tidak mau menerima alasan yang Hamish berikan.
“Kalian sudah terbukti melanggar aturan. Kalian akan dihukum penjara kurungan selama dua tahun. Kecuali jika memang kalian mau menikah, maka tidak perlu menjalani masa hukuman itu.”
Hamish memegangi dahinya. Ia kebingungan. Kondisinya masih lemah dan tidak membawa apapun bersamanya. Tas dan ponselnya telah dirampas oleh penjahat semalam.
“Bagaimana?” tanya Paula yang tidak tahu apa hasil pembicaraan mereka.
Hamish menghela napas. “Kita akan dipenjara selama dua tahun karena tuduhan perzinahan.”
Paula tertegun mendengarnya. Hukum di Qatar memang tidak macam-macam. Mereka sangat tegas untuk menjatuhi hukuman kepada orang yang bersalah.
Ia menggigit bibir saking bingungnya. Mimpi menonton piala dunia seakan sirna malah ia harus masuk penjara di negara orang.
“Apa tidak ada cara lain untuk menghindari hukuman itu?” tanyanya.
“Ada,” kata Hamish.
“Apa? Bagaimana caranya?” Paula penasaran.
Hamish terlihat seperti ragu untuk mengatakannya. “Kita harus menikah,” ucapnya.
Paula kembali mematung. Tidak mungkin rasanya menikah dengan seorang lelaki yang bahkan ia tidak kenal asal-usulnya. Apalagi dia berasal dari negara yang berbeda dengannya.
“Kamu jangan bercanda ….” Paula tidak percaya dengan ucapan Hamish.
“Itu satu-satunya cara. Mereka masih menunggu jawaban kita. Kalua tidak mau menikah, kita akan langsung masuk penjara.”
Melihat raut wajah serius Hamish, Paula akhirnya percaya. “Jadi, bagaimana?” tanyanya.
“Aku mau saja menikah supaya masalahnya cepat selesai. Kalau kamu sendiri bagaimana?” tanya Hamish.
“Aduh … aku susah menjawabnya. Ini aneh sekali.” Tiba-tiba Paula merasa pusing. Tidak disangka mimpinya yang sangat sederhana membawa dirinya dalam masalah sebesar itu.
“Kita bahkan tidak melakukan apapu, kita juga tidak saling kenal … tidak masuk akal kalua kita menikah.”
“Mereka tidak mau tahu dengan alasan apapun.”
“Bagaimana, ya” Paula masih terlihat cemas.
“Kalau kita menikah secara kontrak?” tanya Hamish. “Kamu bisa berpura-pura menjadi istriku sampai nanti pulang kembali ke negaramu. Kita menjadi pasangan suami istri selama 40 hari. Menurutmu bagaimana?”
“Hey, kalian sedang membahas apa? Kami tidak paham?” sahut petugas polisi. Hamish dan Paula memakai Bahasa Inggris sehingga mereka tidak tahu.
“Kami sedang membahasnya, Pak. Mohon bersabar sebentar lagi,” pinta Hamish. Ia kembali menoleh ke arah Paula untuk menunggu jawaban dari wanita itu. “Mereka menginginkan keputusan kita,” kata Hamish.
Paula menghela napas. Ia mengusap kasar wajahnya. “Baiklah, ayo kita menikah!” ucapnya mantap.
Hamish memberi tahu bahwa mereka sepakat untuk menikah. Keduanya diminta bersiap-siap lalu dibawa ke sebuah ruangan berkumpul dengan beberapa orang yang juga tertangkap basah tengah sekamar tanpa bisa menunjukkan bukti bahwa mereka suami istri. Hamish memberikan jam tangannya sebagai mahar pernikahannya.
Paula tidak pernah menyangka dia akan menikah dalam kondisi seperti itu. Ia bahkan hanya sempat mencuci muka dan mengenakan pakaian seadanya untuk menikah dengan Hamish, lelaki yang baru dikenalnya semalam.
“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril amdzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq,” ucap Hamish.
Dengan ucapan itu, maka resmi Paula menjadi seorang istri dari Hamish. Rasanya Paula ingin tertawa. Ia bahkan belum terpikir untuk punya pacar, tiba-tiba sudah menjadi istri orang. Hidup memang tidak ada yang tahu dengan jalan ceritanya.
Setelah menandatangani beberapa surat-surat dan menyerahkan dokumen yang diperlukan kepada pihak kepolisian Doha, mereka akhirnya dibebaskan data hukuman penjara. Keduanya terdiam lemas, saling pandang seakan masih tidak percaya denga napa yang baru saja terjadi.
“Sekarang bagaimana?” tanya Paula bingung.
“Kamu sudah jadi istriku, jadi harus tinggal bersamaku,” kata Hamish enteng. “Sekarang, kemasi barang-barangku dan ikut aku!” perintahnya.
Paula menurut. Ia mengemasi barang-barang bawaannya ke dalam koper. Setelah itu, mereka keluar dari area penginapan dan menunggu kendaraan yang lewat.
“Kamu punya uang 50 Riyal?” tanya Hamish.
“Ah, iya, ada.” Paula mengambil dompetnya dan mengeluarkan selembar pecahan uang 50 Riyal kepada Hamish.
“Kamu pegang saja, nanti bayarkan kepada sopir taksi. Dompetku hilang dan aku tidak punya sedikitpun uang.”
“Kamu tidak mau ke rumah sakit? Aku takut lukanya akan bertambah parah.”
“Tidak perlu. Kita pulang dulu ke rumah.”
Hamish melambaikan tangannya menghentikan sebuah taksi yang lewat. Ia mengajak Paula naik bersamanya. Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu sekitar 45 menit.
Di depan sebuah rumah besar dan megah seperti istana, taksi itu berhenti. Paula sampai tertegun melihat bangunan yang kini ada di hadapannya. Mungkin jika dibandingkan sudah seperti istana negara.
“Apa … ini rumahmu?” tanya Paula memastikan.
“Ya, ini rumahku.”
Hamish mendekati gerbang yang menjulang tinggi dan berbicara kepada seorang penjaga. Tak lama setelah itu, gerbang terbuka. Paula turut berjalan di samping Hamish dengan penuh kekaguman.
“Aku kira dia gembel di Qatar,” gumam Paula.
“Apa katamu?” tanya Hamish.
“Tidak, tidak …. “ Paula melebarkan senyuman.
“Oh, Ya Tuhan … Hamish … apa yang terjadi padamu?”
Seorang wanita paruh baya mengenakan pakaian abaya berwarna hitam menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Namanya Salma. Dia adalah ibu kandung Hamish.
Salma memegangi wajah putranya yang penuh luka dengan tatapan khawatir. Apalagi melihat lengan putranya yang terbalut lilitan perban. “Apa yang terjadi, Hamish?”
Hamish mengajak kedua orang tuanya duduk Bersama. Ia menceritakan apa yang baru saja menimpanya, dari kejadian kerampokan hingga penangkapan oleh polisi Doha hingga akhirnya ia harus menikah dengan wanita yang dibawanya.
Salma memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing. “Kenapa jadi begini, Hamish? Kamu tidak bisa melakukannya? Ah, Ya Tuhan … kamu tidak bisa menikah dengan sembarangan orang yang tidak jelas asal-usulnya.”
Salma menoleh ke arah Paula, memandangi wanita itu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Kepalanya terasa semakin pening mengetahui wanita itu telah menjadi menantunya yang sangat tidak diharapkan.
“Bagaimanapun caranya, aku tidak mau dia di sini. Batalkan pernikahannya! Aku tidak mau memiliki menantu yang bukan asli Doha.”
“Ibu, jangan seperti itu. Dia yang sudah menolongku,” bujuk Hamish.
“Kamu sudah ibu jodohkan dengan Aisy, Hamish! Kamu tidak bisa begini!” ujar Salma dengan nada tegasnya.
“Salma, berhentilah keras kepala! Bukan itu yang harus kita ributkan sekarang. Lebih baik kamu panggilkan dokter untuk memeriksa kondisi Hamish,” ucap Faruq, ayah Hamish.
“Pokoknya aku tetap tidak setuju dengan pernikahan ini!”
Salma segera bangkit meninggalkan mereka.
Hamish tertunduk di hadapan ayahnya. Sementara, Paula sejak tadi diam karena tidak terlalu paham denga napa yang mereka bicarakan. Tapi, sekilas menyimak kosa kata yang ia tahu dan mimik ekspresi lawan bicaranya, ia tahu jika orang tua Hamish tidak menyukai keberadaannya di sana.
“Pergilah ke kamar dan ajak istrimu!” perintah Faruq.
Hamish mengangguk. Ia bangkit dari duduknya dibantu oleh Paula.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Zubaidah Dahlan
kesian Paula sd membantu in
2023-05-08
0
☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ
haiiihhhh udah yang gagal nonton piala dunia sekarang ditolak mentah-mentah sama bumer...nasib...nasib😌
2023-02-22
1
Lie Hia
Bukan hanya kamu Salma yg pusing, Paula apalagi ...niat mo nolong jadi bgini ...wah impiannya jd rusak gara2 kasus seperti ini...ngebayangi aja gak mo...ini kenyataan pula dlm cerita ini
2023-02-19
0