Bab 9: Jadi Pembantu

Paula terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di atas kasur yang empuk. Ia langsung terkesiap kaget. Hamish tak lagi ada di sampingnya.

Sepertinya hari telah pagi, terlihat dari sinar matahari yang mulai masuk melalui celah-celah tirai yang menutupi jendela.

Semalam ia menonton pertandingan bola bersama Hamish. Ia bahkan tak tahu siapa yang menang di akhir pertandingan. Sepertinya ia tertidur di sana.

"Kenapa dia tidak mengusirku? Dia kan paling benci kasurnya ditempati orang," gumamnya.

Paula menuju ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dan gosok gigi.

"Apa dia sudah berangkat ke kantor? Kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya pada diri sendiri. "Ah! Kenapa harus aku pikirkan? Lebih baik aku sarapan!"

Dengan langkah semangat ia berjalan ke arah pintu. Saat ia membuka pintu, Salma tepat berdiri di sana memandanginya dengan raut wajah yang sinis. Ia manjadi kikuk.

"Kamu pikir sedang ada di mana? Jam segini baru bangun!" bentak Salma.

"Ah, maaf, Bu. Saya kesiangan," jawab Paula.

"Kewajiban seorang istri itu mengurus suami dan rumah. Kamu bahkan tidak mengantar saat suamimu berangkat kerja. Memang wanita asing itu tidak punya adab yang baik," gerutunya.

Salma sangat tidak suka dengan keberadaan Paula di sana. Apalagi melihat wanita itu keluar dari kamar putranya membuat ia merasa kesal. Ia hanya menginginkan Aisy yang menjadi menantunya. Selain cantik, Aisy berasal dari keluarga terhormat dan masih termasuk kerabatnya.

"Kamu bantu pekerjaan pelayan membersihkan rumah di bawah!" perintahnya.

"Baik, Ibu."

Paula menurut. Ia mengikuti langkah Salma turun ke bawah dan mengambil alat pel untuk membantu pelayan yanh sedang bersih-bersih. Padahal, kondisi perutnya sudah cukup lapar. Semalam ia belum sempat makan dan ketiduran. Harapannya bangun pagi dapat sarapan malah disuruh mengepel rumah seluas istana itu.

"Orang sepertimu memang pantasnya jadi pelayan di sini. Jangan macam-macam untuk menggoda putraku, kalian tidak cocok bersama. Ingat, ya! Pernikahan kalian hanya sementara," ujar Salma.

Paula menghela napas. Ia berusaha bersabar mendengarkan kata-kata pedas yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Dalam kondisi bekerja dan perut kelaparan, rasanya ia hampir tak bisa menahan kesabaran.

"Kamu mendengarkanku apa tidak? Jangan ganggu putraku!" sekali lagi Salma menegaskan kata-katanya.

Paula tersenyum sangat manis kepada Salma. "Anda tidak perlu khawatir, saya hanya akan berada di sini selama piala dunia," katanya.

"Baguslah kalau kamu sadar diri! Pel rumah ini sampai bersih!" perintah Salma.

Dengan sabar Paula melanjutkan pekerjaannya. Ia tak menyangka ibu mertua bisa segalak itu. "Sepertinya pernikahan itu memang memusingkan. Lebih baik aku melanjutkan kebucinanku pada Paulo. Setelah ini aku akan berpikir ulang untuk menikah. Punya ibu mertua itu menyeramkan," gumamnya.

Paula terus mengepel seisi rumah sampai selesai. Setelah, itu, ternyata pekerjaannya masih belum selesai. Ia diminta membantu pelayan mencuci pakaian dan menjemurnya.

"Nona, wajahmu pucat sekali. Beristirahatlah, biar saya yang melanjutkannya," ucap pelayan yang mendapat tugas menjemur pakaian. Ia terlihat peduli dengan kondisi Paula.

Paula memang merasa sedikit pusing. Ia rasanya sudah tak punya tenaga untuk melanjutkan pekerjaannya.

"Terima kasih, ya! Aku mau duduk sebentar," kata Paula.

"Iya, duduklah! Saya bisa melanjutkan pekerjaan ini sendiri," katanya.

Paula memperhatikan pelayan muda yang berbaik hati padanya. Di rumah itu memang ada banyak pelayan, namun tak banyak yang mau berbicara dengannya.

"Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Paula.

"Nama saya Anna, Nona."

"Oh, Anna." Paula mangguk-mangguk. "Kamu sudah lama bekerja di sini?" tanyanya lagi.

"Belum, Nona. Saya baru satu tahun di sini menggantikan ibu saya yang sedang sakit dan butuh biaya." Anna menjawab sembari menjemur seprei di atas tali jemuran.

"Kamu tidak perlu memanggilku Nona, namaku Paula."

"Maaf, Nona. Itu tidak terdengar sopan. Bagaimanapun juga Anda istri dari Tuan Muda Hamish."

Paula ingin tertawa. "Memangnya kamu tidak tahu cerita tentang aku yang tiba-tiba ada di sini?" tanyanya. Hampir semua pelayan meremehkannya karena statusnya hanya sebagai istri kontrak tak disengaja.

"Saya tahu. Tapi, di mata saya Anda tetap istri Tuan Muda yang harus dihormati."

Paula terharu bisa bertemu dengan orang yang memperlakukannya dengan baik. "Aku datang jauh-jauh dari negaraku hanya untuk menonton bola. Tidak disangka aku malah masuk ke rumah ini."

"Mungkin itu takdir Anda bertemu dengan Tuan Muda," ujar Anna.

Paula hanya tersenyum mendengarnya. Jika hal itu merupakan takdir, maka ia akan sangat ingin menghindari takdir itu. Ia sadar diri telah masuk ke tempat yang seharusnya tak ia masuki.

"Nona, apa tidak sebaiknya Anda masuk ke dalam saja? Wajah Anda terlihat sangat pucat. Saya khawatir dengan Anda."

Paula menyunggingkan senyum. "Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah," kilahnya. Sebenarnya Paula tengah menahan rasa laparnya.

"Oh, kamu disuruh membantu malah bersantai seperti ini!" Salma datang marah-marah melihat Paula tengah duduk di dekat area penjemuran.

Paula langsung bangkit berdiri. "Maaf, Ibu, saya hanya istirahat sebentar."

"Pekerjaan masih banyak, kalau kamu bersantai seperti ini, kapan selesainya?" omel Salma.

"Iya, Ibu. Saya akan melanjutkan bekerja."

Paula kembali menghampiri Anna dan membantu menjemur pakaian yang tersisa. Ia tak ingin mencari ribut dengan ibu Hamish.

"Nona, biar saya melakukan sendiri," ucap Anna dengan nada lirih.

"Tidak apa-apa, kalau aku membantu ini akan cepat selesai," katanya.

Paula tahu Salma masih berada di sana untuk mengawasi pekerjaannya. Mau tidak mau ia harus menyelesaikan pekerjaan di sana.

Selepas menjemur cucian, Paula diberi tugas untuk menyapu menyapu halaman depan dan mencabuti rumput liar.

"Jangan ada yang membantunya! Biarkan dia melakukannya sendiri!" ucap Salma kepada para pelayan. Ia memberikan peralatan berkebun kepada Paula.

Meskipun area Doha penuh dengan gurun pasir, bukan berarti pepohonan tak bisa tumbuh di sana. Halaman rumah Hamish ditanami beberapa jenis tanaman yang mampu hidup di wilayah gurun. Jika diperhatikan sepertinya Salma yang memiliki hobi berkebun.

Matahari semakin meninggi, suhu udara terasa semakin panas. Paula tetap bersabar melakukan pekerjaannya mencabuti rumput liar.

"Sabar, Paula ... Kamu selama ini kan sudah biasa bekerja. Kamu juga sudah biasa dimarahi atasan. Ini hanya satu bulan, semangat ... Semangat ... Demi ketemu Paulo Dybala." ia menyemangati dirinya sendiri.

"Nona ...," panggil Anna.

Pelayan itu merasa sangat kasihan melihat Paula panas-panasan di sana. Dia yang orang asli Doha saja pasti akan sangat kepanasan bekerja di bawah terik matahari, apalagi pendatang seperti Paula.

"Aku tidak apa-apa, kamu masuk saja ke dalam!" perintah Paula. Ia tak mau menunjukkan wajah kasihan di depan orang lain.

Terpopuler

Comments

🍁Naura❣️💋👻ᴸᴷ

🍁Naura❣️💋👻ᴸᴷ

pernah kurasakan kerja d negri orang duh kerjaan kaya gak ada habisnya apa lg majikan kaya salma ih mit amit aq pergi lg k negri orang

2023-03-06

0

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

ya ampun bumer...jahat sekali sama menantunya siihh..gitu juga kan sesama manusia bumer🤧🤧🥺🥺

2023-02-22

0

Lie Hia

Lie Hia

heii Salma jgn jahat2 sm paula...kasian...niatnya sungguh baik nolong anakmu yg di rampok, balasannya bgini toh ????? dasar...btr lg karma dtg lho klo jahat2

2023-02-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!