Sudah satu jam Paula berkutat dengan pekerjaannya di taman depan. Matahari semakin terik, ia merasa penglihatannya berkunang-kunang.
"Paula!"
Dari arah pagar depan, ia melihat seorang lelaki melambaikan tangan ke arahnya sembari menyapa. Ia tak begitu jelas mengenali orang tersebut. Paula berdiri hendak menyambut kedatangannya. Namun, tubuhnya terasa limbung.
"Hamish," ucapnya sebelum akhirnya jatuh pingsan.
"Paula!" teriak Harun. Untung saja ia berlari cepat dan masih sempat meraih tubuh Paula agar tidak jatuh ke tanah.
"Paula, bangun, Paula!" ucapnya panik.
Paula sudah tak sadarkan diri. Tubuh wanita itu terlihat lemas dan wajahnya pucat. Harun membawanya masuk ke dalam dengan cemas.
"Harun, kenapa dia?" tanya Salma kaget melihat Harun datang sembari memapah Paula yang ia suruh bekerja di luar.
"Bibi, Paula pingsan di depan. Tolong panggilkan dokter ke rumah. Aku takut dia kenapa-kenapa!" pinta Harun.
Tanpa pikir panjang, Harun membawa Paula naik ke kamar atas. Dua orang pelayan turut mengikuti di belakang.
Melihat kondisi Paula yang belum tersadar, Harun tak bisa duduk tenang. Ia memainkan jemarinya untuk menghilangkan kecemasan.
"Apa yang sedang dia lakukan di depan rumah siang-siang begini?" tanya Harun kepada dua pelayan yang berdiri di sana.
Kedua pelayan itu tampak menunduk tak berani bicara.
Beberapa saat kemudian, dokter keluarga yang telah dihubungi oleh Salma datang didampingi oleh dua orang perawat. Sang dokter segera memeriksa kondisi Paula.
"Dia hanya pingsan karena kelelahan dan dehidrasi. Saya akan memasangkan infus untuknya," kata sang dokter.
Orang-orang di sana terlihat lega. Salma juga sebelumnya merasa khawatir. Ia tak berniat sejauh itu memberikan pelajaran kepada Paula.
"Paula!" Seru Hamish.
Ia baru saja tiba. Setelah diberitahu jika Paula jatuh pingsan, ia langsung bergegas pulang. Dilihatnya Paula tengah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang dengan selang infus yang baru saja terpasang di tangan.
"Tidak perlu khawatir, Nona ini hanya perlu istirahat agar bisa pulih. Kami permisi dulu," pamit sang dokter.
Mereka keluar dari kamar Hamish mengiringi kepergian dokter. Hanya Hamish dan Harun yang bertahan di sana untuk menemani Paula.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Hamish. Ia agak kurang suka melihat keberadaan sepupunya itu di sana. Ia tidak ingin lelaki itu dekat-dekat dengan Paula.
"Kamu jangan galak-galak, kalau tidak ada aku, Paula sudah jatuh dan membentur batu. Asal kamu tahu, aku yang menolongnya!" Harun terdengar berbicara dengan lantang.
"Apa maksudmu?" tanya Hamish penasaran.
Tadi pagi ia meninggalkan wanita itu yang masih tertidur dengan tenang. Saking tenangnya, ia sampai tak tega untuk membangunkannya. Entah mengapa pagi tadi rasanya begitu berbunga-bunga karena bisa tidur bersebelahan dengan Paula.
Akan tetapi, perasaan senang itu berubah menjadi kecemasan saat mendapat kabar Paula pingsan.
"Aku datang waktu dia sedang panas-panasan di taman depan. Aku lihat dia seperti sedang mencabuti rumput di siang bolong. Kamu kalau punya istri jangan keterlaluan begitu menyuruhnya kerja di luar siang-siang. Kamu mau membunuhnya apa?"
Hamish tertegun mendengar ucapan Harun. Ia tidak tahu apa yang Paula kerjakan saat ia berada di kantor.
"Aku tahu kamu menikahinya karena terpaksa, tapi jangan perlakukan dia semena-mena. Bagaimanapun juga, dia manusia."
Hamish menoleh ke arah Paula. Wajahnya masih tampak pucat. Kondisi wanita itu memang mencerminkan keadaan sebenarnya.
"Kalau kamu memang tidak sanggup mengurusnya, bagaimana kalau dia tinggal di rumahku?" tanya Harun.
Hamish merasa tidak terima. Ia menghampiri Harun dan mencengkeram kerah lehernya. Tatapan matanya tajam mengisyaratkan kemarahan.
"Apa kamu sadar dengan kata-katamu barusan?" tanya Hamish emosi.
Harun tetap bersikap santai. "Memang apa yang salah dengan pendapatku? Dia kelihatan menderita selama denganmu."
"Sejak kapan kamu jadi senang memperhatikan istri orang?" cibir Hamish.
Harun menepis tangan Hamish dari lehernya. "Sejak aku melihat suami yang mengabaikan istrinya demi dekat dengan tunangannya," kilah Harun.
"Jangan mencampuri sesuatu di luar ranahmu. Ini rumah tanggaku dan dia istriku!"
Harun menyeringai. "Aku tidak ingin ikut campur. Aku hanya ingin menjadi temannya. Aku harap, kamu tak menyia-nyiakannya. Jika itu terjadi, ingat, ada aku yang siap merawatnya."
Harun sangat senang berkenalan dengan Paula. Ia merasa wanita itu nyaman diajak bicara apalagi mereka memiliki kegemaran yang sama. Baru kali ini ia menemukan wanita yang benar-bemar tipenya. Sayangnya, Paula sudah menikah dengan sepupunya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada Paula jika dia sudah siuman nanti. Aku akan mengajaknya menonton pertandingam tim kesayangan kami," kata Harun sebelum meninggalkan kamar itu.
Hamish mengepalkan tangan. Ia tahu Harun sengaja mengatakan hal itu untuk membuatnya semakin marah.
Hamish berjalan mendekati Paula. Wanita itu belum jyga tersadar. Ia memegangi tangan wanita itu dan menciumnya. Ia sangat mencemaskan Paula.
"Siapa yang sudah melakukan hal ini kepadamu?" gumamnya.
Hamish pergi meninggalkan kamar. Ia menuju lantai bawah menjumpai para pelayan dan ibunya.
Mereka tampak tertunduk saat melihat Hamish menuruni satu persatu anak tangga. Mereka seperti sekrang penjahat yang beberapa saat lagi akan mendapatkan putusan hukuman.
"Katakan, apa saja yang istriku lakukan selama aku pergi?"tanya Hamish kepada para pelayan. Namun, tak seorangpun dari mereka berani menjawab. Hal itu semakin membuat Hamish geram.
"Katakan, atau aku harus memecat kalian semua?" ancam Hamish. Tatapan matanya sangat tajam. Ia tak sedang main-main dengan ucapannya.
Para pelayan tampak ketakutan, namun mereka tetap bungkam.
"Anna, apa kamu juga tidak mau menjawab?" tanya Hamish. Ia memilih pelayan paling muda yang biasanya paling terlihat lemah dan tak bisa berbohong.
"Maaf, Tuan Muda. Sejak pagi Nona Paula sudah banyak bekerja dari mengepel, mencuci pakaian, sampai membersihkan halaman depan. Sepertinya Nona juga belum makan sejak pagi," kata Anna dengan nada suara bergetar.
Hamish sangat terkejut mendengarnya. "Siapa yang menyuruh Paula melakukan hal itu?" tanyanya.
Kali ini Anna tak berani menjawab.
"Ibu yang sudah menyuruhnya, Hamish!" tanpa paksaan, Salma mengakui segala perbuatannya kepada putranya.
Hamish sampai tak bisa berkata-kata mengetahui ibunya sendiri yang melakukannya.
"Ibu, Paula itu istriku. Kenapa Anda memperlakukannya seperti itu?" tanya Hamish. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Satu sisi ia tidak tega, di sisi lain ia ingin marah.
"Dia hanya istri sementara, kan?"
"Apapun itu, dia tetap istriku, Ibu, dia menantu Ibu."
"Aku tidak sudi memiliki menantu seperti dirinya!" tegas Salma. "Memantu yang aku inginkan hanya Aisy, camkan itu!" Salma sampai menunjuk-nunjuk saat mengatakannya.
"Ibu ...."
"Apa yang sudah Paula lakukan itu sebenarnya tugas seorang istri. Aku tidak ada salahnya menasihati agar ia mau bekerja di rumah ini. Dia saja yang lemah untuk melakukan tugas seorang istri. Jangan menyalahkanku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Zubaidah Dahlan
kelihatannya ada bibit cinta
2023-05-08
0
🍁Naura❣️💋👻ᴸᴷ
ngerjain tugas seorang istri sih iya tapi pake rasa kemanusiaan dikit ke kasih makan dulu d suruh istirahat bantaran ke lah ini makan minum gak istirahat bentar d marahin dasar nyonya iblis😡😡😡
2023-03-06
0
☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ
ya emang boleh ngajarin mantu buat tau pekerjaan rumah bumer..tapi ga gitu juga konsepnya.. minimal kasih makanan yang layak lah..kerbau aja sebelum membajak dikasih makan dulu biar kuat kerja.. hadeehhh 😌
2023-02-22
0