Aisy dan Paula menjadi akrab setelah saling mengungkapkan perasaan. Mereka tertawa-tawa sambil menikmati pentas musik yang sangat meriah.
Ini juga pertama kalinya bagi Paula menikmati waktunya untuk bersenang-senang. Selama ini, ia hanya disibukkan hanya bekerja demi menyambung hidup. Ia bersyukur bisa pergi ke festival bersama Aisy. Apalagi wanita itu kini telah baik kepadanya.
"Kita pulang sekarang, yuk! Sepertinya sudah sangat malam," ajak Aisy.
"Oke, ayo kita pulang!" seru Paula.
Keduanya bergandengan tangan mencoba menerobos kepadatan pengunjung di sana. Malam itu benar-benar sangat padat, ada ribuan orang berkumpul di sana.
"Aduh, ini keluar lewat mana? Kenapa semua orang dorong-dorong?" keluh Paula yang merasa terdesak oleh pengunjung lain dari berbagai arah.
"Aku juga tidak tahu. Biasanya tidak sepadat ini." Aisy juga kesulitan bergerak. "Terus genggam tanganku, jangan sampai kita terpisah!" pintanya.
Keduanya kembali berusaha untuk menerobos kerumunan agar bisa keluar dari sana. Banyaknya orang sampai membuat bernapas juga terasa sulit. Apalagi dorong-dorongan antar pengunjung semakin terasa berat.
"Aisy! Aisy!" teriak Paula saat pegangan tangan mereka terlepas.
Ia melihat Aisy juga tengah berteriak dan mencoba meraih tangannya. Namun, mereka terjebak di tengah kerumunan. Keduanya terbawa dorongan penonton yang lain hingga terpisah cukup jauh.
Paula terpaksa mengikuti arus gerakan pengunjung lain. Ia hanya berharap bisa segera keluar dari sana sebelum kehabisan napas. Ia akan mencari Aisy setelah kerumunan berkurang.
Sekitar 30 menit lamanya akhirnya Paula bisa keluar dari sana. Bando kelincinya sampai rusak, satu telinganya copok akibat desak-desakan. Penampilannya juga sangat berantakan.
Hari sudah larut, namun kerumunan di sana tak juga berkurang. Padahal ada beberapa orang yang pingsan, namun pihak kepolisian tidak mengambil tindakan untuk membubarkan kerumunan.
Paula di sana seperti orang hilang. Ia kebingungan mencari keberadaan Aisy di tempat seluas itu di antara ribuan orang. Ia juga lupa membawa ponsel dan dompetnya.
"Aku harus mencari kemana?" gumamnya cemas.
Paula khawatir Aisy jatuh di tengah-tengah kerumunan lalu terinjak. Di bagian tengah tadi sangat menyeramkan baginya.
Lama tak menemukan Aisy, Paula akhirnya berjalan menyusuri tempat festival. Ia mencari keberadaan Aisy semampunya.
"Aduh, apa yang harus aku katakan kalau Aisy hilang?"
Paula terus mencari Aisy seperti orang gila. Ia tak berani pulang ke rumah sebelum menemukan Aisy. Ia juga tak berani minta tolong polisi karena masih trauma hampir mau dipenjara. Ia berpikir jika terjadi apa-apa dengan Aisy, pasti dirinya yang akan disalahkan.
Dari jarak yang cukup jauh, Aisy memadangi Paula yang tengah berjalan sendirian. Ia juga telah berhasil keluar dari kerumunan.
"Nona, apa kita akan pulang sekarang?" tanya sang sopir.
"Iya, Pak. Kita pulang sekarang saja," kata Aisy.
"Dimana teman Nona yang tadi?"
Aisy terdiam sejenak. "Ah, dia bilang mau bertemu dengan temannya, jadi kita tidak perlu menunggunya," kata Aisy.
"Apa Nona yakin? Saya khawatir terjadi apa-apa dengan teman Nona."
"Tidak apa-apa. Dia yang minta sendiri untuk di tinggal. Ayo kita pulang!" ajak Aisy.
Ia bersama sang sopir berjalan menuju parkiran. Sebelum pergi, Aisy sempat menyeringai kala menoleh ke arah Paula yang masih kebingungan mencarinya.
Di dalam mobil, Aisy tersenyum-senyum sendiri. Ia puas telah meninggalkan wanita yang dibencinya sendirian di pusat kota tengah malam. "Aku yakin kamu tidak tahu arah jalan pulang, Paula," ucapnya lirih.
Tidak dipungkiri, selama acara festival Aisy merasa senang menghabiskan waktu bersama Paula. Wanita itu sangat menyenangkan dan bisa membuat suasana jadi ceria.
Saat berdesak-desakkan di kerumunan, ia juga takut terpisah dengan Paula. Ia berusaha menggapai kembail wanita itu, namun gagal. Setelah bersusah payah akhirnya ia berhasil keluar dari kerumunan.
Sebenarnya Aisy juga berniat mencari Paula karena mencemaskannya. Namun, ketika mengingat kembali tentang pertunangannya dengan Hamish, ia mendadak menjadi gelap mata. Ia ingin menggunakan kesempatan itu untuk memisahkan Paula dari Hamish seperti rencana sebelumnya.
***
Hari telah memasuki dini hari, bahkan hampir pagi. Paula sudah kelelahan berjalan tanpa arah mencari keberadaan Aisy. Rasanya ia ingin menyerah. Kerumunan orang-orang telah berkurang namun Aisy tak terlihat dimanapun. Ia sempat mengecek data pengunjung yang terluka, tak tertera identitas nama Aisy.
"Apa aku pulang dulu? Tapi, aku tidak punya uang. Aku juga tidak punya alamat rumah Hamish!" katanya dengan sendu.
"Excuse me, are you okay?"
Seorang wanita datang menghampiri Paula. Sepertinya ia mengira jika Paula sakit karena sejak tadi berjongkok sembari menyembunyikan wajahnya. Dari pakaian yang dikenakan sepertinya wanita itu merupakan salah satu staf dari penyelenggara. Paula menemukan ada bendera Indonesia yang terpasang di rompi wanita itu.
"Apa kamu dari Indonesia?" tanyanya.
Wanita itu mengerutkan dahi. "Kamu orang Indonesia juga, ya?" tanyanya antusia. Seperti biasa, di luar negeri jika bertemu orang satu begara serasa bertemu dengan saudara yang telah lama terpisah.
"Iya, aku dari Indonesia," jawabnya.
"Kenalkan, namaku Riska " wanita itu menyodorkan tangannya.
Paula menjabat tangan itu. "Namaku Paula."
"Apa yang kamu lakukan di Qatar? Kuliah atau kerja?" tanya Riska.
Paula tersenyum. "Sebenarnya aku datang hanya untuk menonton piala dunia," jawabnya.
"Wah, keren sekali jauh-jauh menonton langsung ke Doha. Padahal di TV juga bisa lihat," candanya.
"Itu memang salah satu impianku, jadi aku ingin mewujudkannya."
Riska terlihat takjub pada mimpi dan realisasi yang Paula lakukan sampai jauh-jauh ke Doha.
"Lalu, kenapa kamu ada di sini sendirian?"
"Sebenarnya aku datang bersama seorang teman. Tapi, tadi di tengah sempat ada dorong-dorongan. Kami terpisah dan dia menghilang," kata Paula.
"Mungkin saja temanmu sudah pulang lebih dulu. Voba aku tanyakan kepada petugas."
Riska mengajak Paula mendatangi bagian informasi. Ia menanyakan tentang identitas teman Paula. Mudah untuk mengetahui pengunjung yang hadir karena ada barcode yang harus ditunjukkan saat masuk dan keluar dati tempat acara.
"Menurut data, dia sudah pulang empat jam yang lalu."
Paula tertegun. Ia tak menyangka jika Aisy tega meninggalkannya di sana.
"Kalau begitu, aku antar kamu pulang. Dimana tempat tinggalmu?" tanya Riska.
"Sepertinya itu tidak perlu," ucap Paula.
Ia menceritakan kejadian yang menimpanya serta cerita bagaimana ia bisa menikah terpaksa karena razia. Ia tak ingin pulang ke rumah itu. Menurutnya percuma saja ia kembali, banyak yang tak menyukainya.
"Bagaimana kalau malam ini kamu tidur di tempatku?" tanya Riska.
Ia merasa iba dengan nasib yang menimpa saudara setanah airnya. Paula tak punya pilihan lain. Dari pada menjadi gelandangan, lebih baik ia menumpang sementara di tempat Riska.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Zubaidah Dahlan
kesian Paula sd la yatim piatu nasib ya dijahati oleh mentua
2023-05-08
0
Nuris Wahyuni
klau kita baik pasti Allah akan nolong umatnya yg tulus 🙏
2023-04-08
0
☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ
bersyukur ketemu orang baik.. se-tanah air pula 🥺
2023-02-23
0