"Kak, La'eeb kelihatan lucu banget, ya!" ujar Aisy. Ia mengembangkan senyuman lebar saat melihat maskot piala dunia itu diterbangkan di stadion.
Saat ia menoleh ke arah Hamish, ternyata sejak tadi lelaki itu tak mendengarkan ucapannya. Seketika senyuman yang terkembang di wajahnya sirna. Hamish terus melihat ke arah Paula.
Ada rasa iri yang Aisy rasakan ketika melihat Paula. Wanita asing itu begitu mudah menarik perhatian lelaki yang sangat dicintainya. Meskipun pernikahan mereka sebatas syarat, namun ada rasa was-was jika Hamish akhirnya jatuh cinta pada wanita itu.
"Sepertinya Paula wanita yang gampang dekat dengan lawan jenis ya, Kak. Dia kelihatan ceria sekali bersama Harun," ujar Aisy.
Hamish berhenti memperhatikan Paula. Ia merasa sudah ketahuan bahwa dirinya tengah memperhatikan wanita itu. Ia memang tidak suka melihat kedekatan istri dan sepupunya.
"Sebenarnya wanita macam apa yang sudah kamu nikahi? Bisa-bisanya dia tertawa-tawa begitu leluasa di hadapan lawan jenis," sindir Salma. Ia juga merasa tidak suka dengan perilaku Paula.
"Paula sangat menyukai bola. Harun juga sama, jadi mereka bisa saling nyambung saat bicara." Hamish berusaha menutupi perilaku istrinya meskipun ia sendiri tak menyukai kedekatan mereka.
"Itulah kenapa aku sangat tidak setuju kamu menikahi sembarang wanita. Dia sama sekali tidak tahu sopan santun yang berlaku di negara ini. Berbeda sekali dengan Aisy, dia sudah lahir di negara ini, tingkah lakunya juga sangat baik."
Aisy tersenyum. Ia merasa senang disanjung oelh bibinya.
"Ah!" pekik Hamish sembari memegangi perutnya.
"Kak Hamish kenapa?" tanya Aisy khawatir.
"Hamish! Mana yang sakit?" Salma ikut merasa khawatir, begitu juga dengan Faruq dan Najma.
Paula dan Harun yang mendengar suara Salma ikut mendekat dan ingin tahu keadaan Hamish.
"Hamish, ada apa?" tanya Paula khawatir.
Keberadaan Paula di sana mendapatkan sambutan yang sinis dari Aisy dan Salma.
"Perutku terasa sakit," kata Hamish.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit, biar aku yang mengantarmu!" sahut Harun
"Tidak, tidak, kalian di sini saja. Aku hanya perlu pulang dan istirahat," ucap Hamish.
"Kamu ini bagaimana? Kalau sakit ya ke rumah sakit, masa pulang ke rumah?" omel Salma.
"Tidak apa-apa, Ibu. Ini hanya sakit sedikit, jangan khawatir," kata Hamish seraya bangkit dari duduknya. "Paula, ayo kita pulang!" ajaknya.
Paula tertegun. "Aku pulang denganmu?" tanyanya bingung. Mereka juga terlihat bingung karena Hamish mengajak Paula pulang.
"Iya, kamu pulang denganku!" pinta Hamish.
Lelaki itu berjalan lebih dulu. Paula berjalan menyusul di belakangnya. Mereka tak berani mengomentari kepergian Hamish dengan mengajak Paula bersamanya.
"Apa aku perlu mencarikan sopir pengganti? Atau kamu mau menghubungi sopir rumahmu?" tanya Paula.
Ia terlihat khawatir karena Hamish memaksakan diri ingin menyetir mobilnya dalam keadaan sakit.
"Kamu tenang saja, aku masih kuat untuk menyetir," ucap Hamish.
"Jangan nekad! Kamu sedang sakit! Bagaimana kalau nanti terjadi kecelakaan!" gerutu Paula.
Hamish hanya tersenyum. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya dan mengemudi. Perasaannya menjadi jauh lebih baik setelah berhasil membawa Paula pulang bersamanya.
Sepanjang perjalanan, Paula tampak gelisah takut Hamish menabrak. Apalagi situasi jalan raya sangat ramai pada awal pembukaan pesta piala dunia malam itu.
"Maaf ya, gara-gara aku kamu tidak bisa menyaksikan pesta pembukaan sampai selesai," kata Hamish.
"Tidak apa-apa, kesehatanmu lebih penting dari pada acara itu."
Meskipun Paula berkata demikian, sebenarnya ia agak sedih harus pulang di pertengahan acara. Ia bahkan belum sempat mengambil banyak foto di sana karena terlalu sibuk bercerita dengan Harun.
"Sangat disayangkan hari pertama pertandingan Qatar Vs Ekuador," gumam Hamish.
"Kita bisa menyaksikannya di televisi, kan? Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan." Paula berusaha menghibur Hamish yang pastinya sedih tak bisa menyaksikan pertandingan negaranya sendiri.
"Menurutmu, siapa yang akan menang nanti?" tanya Hamish.
Paula terdiam, ia terlihat tengah berpikir. "Apa aku perlu menjawabnya?" tanyanya.
Hamish tertawa kecil. Sepertinya ia sudah tahu dengan apa yang ingin Paula katakan padanya. "Kamu jangan sungkan, katakan saja apa yang ada di pikiranmu," ucapnya.
"Kalau menurutku, terus terang ... Ekuador yang akan memenangkan pertandingan malam ini," tebak Paula. "Tapi, jangan pesimis dulu. Siapa tahu ada keajaiban. Qatar bermain di kandang sendiri dengan jumlah pendukung yang banyak. Seharusnya itu bisa menjadi faktor luar yang mendorong keberhasilan."
Hamish menganggukan kepalanya. "Memang tidak bisa dipungkiri jika Ekuador masih lebih unggul dari segi kemampuan para pemainnya."
sesampainya di rumah, Paula membantu Hamish berjalan menuju kamar mereka di lantai atas.
Tatapan Hamish terpaku pada wanita yang terlihat sangat perhatian padanya. Padahal, sakit yang dirasakan hanya dibuat-buat karena terlalu kesal melihat kedekatan Paula dengan Harun.
"Berbaringlah! Aku akan mengambilkan kotak obat!" ucap Paula setelah membantu Hamish naik ke atas ranjang.
Hamish meraih remot TV dan menekannya. Ternyata pertandingan antara Qatar dengan Ekuador belum dimulai. Siaran masih menampilkan acara pembukaan.
"Aku buka sedikit bajumu, ya! Biar aku ganti perban lukanya!" kata Paula yang telah kembali membawa kotak obat.
Ia menyingkapkan pakaian milik Hamish dan memeriksa bekas luka di sana.
Hamish menutupi wajahnya yang memerah karena sentuhan Paula. Selama wanita itu memegangi perutnya, ia tak bisa berkonsentrasi sedikitpun pada siaran TV. Debaran jantungnya juga berpacu lebih kencang dari biasanya.
"Sudah aku ganti perbannya. Lukamu semakin membaik, semoga bisa cepat sembuh," kata Paula. "Kalau begitu, kamu beristirahatlah! Aku akan turun ke bawah dulu supaya tidak mengganggumu," ujarnya.
Hamish menahan tangan Paula. "Kamu di sini saja, kita nonton bersama," pinta Hamish.
Paula tersenyum kikuk. Ia duduk di tepi ranjang tak jadi pergi ke luar.
"Naik sini! Tidak nyaman kalau kamu duduk begitu." Hamish menepuk bagian ranjang kosong di sebelahnya.
Paula semakin merasa tidak nyaman. Lelaki itu pernah mengatakan jika ranjangnya tak boleh ia tempati. Namun, hari ini Hamish justru menyuruhnya naik.
"Aku di sini saja," ucap Paula.
"Sudah, naik saja! Apa perlu aku menarik tanganmu supaya mau?" kesal Hamish.
"Tidak perlu, aku bisa naik sendiri," ucap Paula. Dengan sungkan ia naik ke atas ranjang dan duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Pertandingannya akan segera dimulai. Aku harap Qatar bisa menorehkan sejarah baru kali ini," kata Hamish penuh harap.
"Aku akan jalan kayang di depanmu jika Qatar bisa menang malam ini," ucap Paula.
Hamish melirik tajam ke arahnya. Paula langsung menutup mulutnya sendiri. Ia lupa jika orang di sebelahnya merupakan penduduk asli Qatar.
"Ingat baik-baik ucapanmu itu tadi. Aku sangat berharap Qatar juara supaya bisa melihatmu jalan kayang di depanku," ledek Hamish.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Zubaidah Dahlan
apa ka hamish sd tjatuh cinta
2023-05-08
0
☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ
scene ini bikin aku senyum senyum sendiri,, lucu banget, tadinya Hamish cuek bebek kan ya..malah pura-pura sakit biar bisa berduaan sama Pau😁🤭🤭
2023-02-22
0
Lie Hia
Hamish mulai cemburu yaaa, sampai hrs pura2 sakit gitu, paula jd tdk selesai menyaksikan piala dunia, tp benar2 paula baik yaa dan tulus, dia tdk apa2...nonton di rumah pun dia setuju dan tdk marah yaa ato ngambek
2023-02-20
0