Bab 11: Kissing

Hamish kembali lagi ke kamarnya memandangi Paula yang masih terbaring di ranjang. Ia mengusap lembut dahi wanita itu sembari berharap Paula bisa segera siuman.

Kata-kata Harun masih terngiang di kepalanya. Harun memintanya melepaskan Paula jika memang tidak bisa memperlakukan Paula dengan baik.

Ia memang belum yakin tentang perasaannya terhadap wanita itu. Pernikahan yang mereka jalani bukanlah sesuatu yang direncanakan, terjadi secara mendadak dan tiba-tiba. Ada banyak perbedaan di antara mereka dan terbesar adalah masalah ras.

Hamish tak pernah menyangkan akan bertemu dengan seseorang yang berasal dari belahan bumi lain. Paula memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda dari orang-orang di sana. Meski demikian, ia peduli dengan Paula. Ia tidak ingin wanita itu terbebani selama tinggal bersamanya.

"Uh, kepalaku ...."

Hamish langsung terkesiap mendengar suara Paula. "Kamu sudah sadar?" ia begitu lega saat melihat Laula membuka mata dan mulai berbicara.

Paula perlahan memfokuskan matanya yang masih terlihat kabur. Lama kelamaan pandangannya kembali. Dilihatnya sosok Hamish yang berada di dekatnya. Ia memandangi tangannya sendiri yang telah terpasang selang infus.

Paula mulai mengingat kejadian sebelumnya. Sejak pagi ia belum sarapan dan disuruh melakukan banyak pekerjaan. Saat berada di taman depan, ia jatuh pingsan dan Hamish menolongnya.

Paula tersenyum. "Terima kasih, Hamish," ucanya.

Hamish mengerutkan dahi tak paham dengan apa yang Paula katakan. Namun, ia tetap senang melihat wanita itu siuman.

"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Hamish.

"Yah, sepertinya masih lemas dan pusing."

"Tunggu sebentar!"

Hamish berlari ke luar pintu. "Bibi ... Tolong bawakan makanan untuk Paula!" serunya.

Entah siapa pelayan yang mendengarnya, ia berharap ada salah satu yang segera naik membawakan makanan. Hamish kembali masuk ke dalam kamar menghampiri Paula. Ia membatu wanita itu duduk di atas ranjang.

Hamish memegangi tangan Paula yang masih terasa lemas. "Aku minta maaf atas perlakuan ibuku padamu," katanya.

Paula tertegun. Ia bahkan tak menceritakan apapun, namun Hamish telah meminta maaf lebih dulu. "Aku tidak apa-apa, kamu jangan khawatir," jawab Paula dengan sedikit tersenyum.

"Ibuku sudah sangat keterlaluan memperlakukanmu sampai pingsan begini. Lain kali, kamu tidak perlu menuruti kemauannya."

"Itu bukan masalah besar. Memang mengurus rumah juga merupakan bagian dari tugas seorang istri. Aku hanya merasa pusing saat membersihkan halaman depan. Untung saja kamu cepat datang dan menolongku."

Hamish terdiam. Senyuman manis Paula seakan tak ditujukan padanya, melainkan kepada orang yang telah menolongnya. Ia merasa tak perlu mengatakan siapa yang telah menolong Paula.

"Pokoknya, lain kali kamu jangan memaksakan diri menuruti kemauan orang lain. Aku membawamu ke rumah ini sebagai istriku, bukan sebagai pembantu," tegas Hamish.

Paula tertawa kecil. "Pernikahan kita ini hanya kontrak, kamu jangan serius begitu. Aku ...."

Belum sempat Paula menyelesaikan kalimatnya, Hamish lebih dulu membungkam mulutnya dengan ciuman. Ia terkejut sampai membulatkan mata. Ciuman itu membuat Paula tertegun beberapa saat.

"Maaf, sepertinya aku sangat ingin menciummu," kata Hamish.

Lelaki itu menarik tengkuk Paula dengan lembut seraya memagutkan bibirnya secara lembut di atas bibir Paula.

Hamish seperti hilang kendali. Ia memberikan ciuman agresif terhadap wanita yang baru sadar dari pingsan.

Kedua tangan Paula sampai mer emas sprei dengan kencang. Hamish seperti ingin memakan bibirnya sampai habis. Ia tak kuasa menolak ciuman yang diberikan. Bahkan rasanya ia ikut terhanyut dalam setiap kecupan yang mendarat di bibirnya.

Tok tok tok

Hamish mengakhiri perbuatannya saat pintu kamar diketuk. Dua orang pelayan masuk ke kamar membawa nampan berisi makanan. Hamish dan Paula sedikit saling menjauh dan membuang muka karena malu.

"Tuan Muda, ini makanan yang Anda minta," kata sang pelayan.

"Bawa ke sini! Taruh di atas sini!" Hamish meminta mereka memaruh makanan itu di meja dekat ranjang supaya mudah dijangkau oleh Paula.

Setelah mengantarkan makanan, kedua pelayan itu keluar kamar.

Hamish mengambil salah satu nampan dan berniat untuk menyuapi Paula.

"Aku bisa makan sendiri!" seru Paula. Ia masih merasa canggung karena ciuman tadi. Bahkan ia tak berani memandang mata Hamish.

"Kamu sedang sakit, biarkan aku membantu menyuapimu. Aku sudah jauh-jauh pulang dari kantor demi dirimu," kata Hamish.

Paula tak bisa berkata-kata. Ia terpaksa membuka mulutnya saat Hamish menyuapinya. Paula terlihat malu-malu dengan perlakuan Hamish terhadapnya.

"Aku minta maaf jika perbuatanku barusan membuatmu tidak nyaman," kata Hamish.

Wajah Paula menjadi sedikit memerah. Ia memang tidak menyangka jika Hamish bisa melakukan hal semacam itu. Namun, ia juga tidak membencinya.

Ciuman pertama itu membuat jantungnya serasa berdebar-debar. Ia juga tersipu malu untuk menatap orang yang tengah menyuapinya.

"Apa ... Di negaramu kamu sudah punya pacar atau tunangan?" tanya Hamish.

"Tidak," kata Paula malu-malu.

"Sepertinya aku mulai menyukaimu."

Paula kembali dibuat tertegun dengan pengakuan Hamish. Rasanya ia tak bisa percaya lelaki yang terlihat dingin dan pendiam itu menyatakan perasaan kepadanya. Bahkan ciuman yang barusan hampir mustahil bisa terjadi di antara mereka.

"Apa kamu sedang bercanda? Kita baru saja saling mengenal sekitar sepekan," kata Paula.

"Entahlah, aku selalu memikirkanmu dan mengkhawatirkanmu sepanjang waktu."

Paula masih merasa bahwa kebaikan yang Hamish berikan terhadapnya tak lebih dari sekedar rasa terima kasih karen dia pernah menyelamatkan nyawa lelaki itu.

"Bagaimana dengan Aisy? Bukankah dia tunanganmu?" tanya Paula. Ia sadar keberadaannya di sana tak tepat waktu. Ia bahkan selalu merasa bersalah setiap kali mengingat bahwa dirinya menjadi orang ketiga di antara Hamish dan Aisy.

"Kami tidak bertunangan, itu perjodohan yang dilakukan orang tua. Aku hanya menganggap Aisy sebagai sepupuku saja."

Paula menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terlihat bingung. "Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kamu tahu sendiri kalau aku berasal dari negara yang jauh. Bukan hanya perbedaan negara dan budaya saja, status sosial kita juga berbeda. Aku orang miskin dan yatim piatu."

Hamish meraih tangan Paula dan menggenggamnya. Ia menatap dalam-dalam mata paula. "Bisakah kita mengatur kepada siapa akan jatuh cinta? Apa aku salah jika tertarik padamu?"

Paula mematung. Dicintai seorang sultan rasanya seperti cerita dongeng yang tidak nyata.

"Aku tidak ingin memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Tapi, bisakah kamu membuka diri untuk kita saling mengenal?" tanya Hamish.

Paula masih terdiam.

"Kamu bisa meninggalkanku setelah kontrak pernikahan ini berakhir jika memang tak ada perasaan apa-apa kepadaku. Tapi, jika memang kita memiliki perasaan yang sama, mari kita menikah kembali setelah ini," kata Hamish.

Paula belum terpikirkan untuk menikah. Membayangkan mertua seperti itu, ia tak tahu akan kuat atau tidak menjalaninya. Menurutnya, hidup seorang diri bahkan lebih baik dari pada menikah.

Terpopuler

Comments

Zubaidah Dahlan

Zubaidah Dahlan

akhirnya mereka Saling ada perasaan cinta

2023-05-08

0

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

ya mungkin bisa dicoba untuk membuka hati Pau...tapi kalo bumer masih kayak gitu bisa makan hati tiap hari nanti 😌

2023-02-22

0

Lie Hia

Lie Hia

Hamish mulai jatuh cinta yaaa sm paula, tp jgn menyakitinya yaaa, kasian...dia yatim piatu ....
tujuan nonton pertandingan piala dunia...mengapa bisa jadi bgini yaaa

2023-02-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!