Bab 17: Di Balik Jeruji Besi

Pertandingan hari ini telah usai. Paula kembali bersiap di tempatnya membantu para penonton yang hendak keluar dari sana. Ada banyak volunteer yang ditugaskan untuk membantu orang-orang yang butuh bantuan.

"Selamat malam, Nyonya. Apa Anda menikmati pertandingan hari ini?" sapa Paula seraya membantu mendorong kursi roda yang dinaiki wanita tersebut.

"Hahaha ... Aku sangat senang karena tim kesayanganku menang. Besok rencananya aku juga akan datang lagi untuk menonton," kata wanita itu.

"Kalau boleh tahu, Anda berasal dari mana?"

"Aku datang dari Sydney, Australia."

"Oh, cukup jauh juga."

"Tidak juga. Jaman sekarang jaman menjadi dekat karena sudah ada pesawat."

"Kenapa Anda menonton sendirian?"

"Putraku ada meeting penting. Tapi, dia bilang sudah menungguku di pintu keluar. Aku sangat terbantu dengan adanya kalian. Orang lumpuh sepertiku jadi mudah untuk menonton bola seperti orang normal."

"Anda jangan bicara seperti itu. Menurut kami, semua yang datang ke stadion adalah sama."

Paula mendorong kursi roda tersebut menyusuri lorong stadion yang panjang sebelum mencapai pintu keluar. Selain dirinya, ada temannya yang lain juga membantu penonton berkebutuhan khusus untuk keluar dari tribun.

"Awas ... awas ... Minggir ... Bahaya ....!"

Tiba-tiba suasana koridor berubah kacau. Orang-orang berlarian sambil menjerit dan berusaha menghindari sesuatu. Paula yang belum tahu merasa heran dengan keributan yang terjadi.

Brak!

Sebuah kendaraan pengangkut barang yang melaju tanpa kendali menabrak kursi roda yang didorong Paula. Paula jatuh tersungkur, sementara kursi roda yang dinaiki wanita itu terguling. Wanita itu tertimpa salah satu dus barang dari kendaraan itu.

"Nyonya ... Nyonya ...." Paula berteriak khawatir dengan kondisi wanita yang ditolongnya itu. Orang-orang segera berkerumun, termasuk petugas kesehatan dan keamanan turut datang.

"Paula, kamu tidak apa-apa?" tanya Riska panik.

"Iya, aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan Nyonya itu?" Paula masih terlihat panik.

"Sudah, kamu coba tenangkan diri. Dokter pasti akan segera menolongnya."

Paula melihat tim medis menaikkan tubuh wanita itu ke atas bed dan mendorongnya dengan buru-buru.

"Nona, mari ikut kami ke ruangan. Ada beberapa hal yang perlu kami tanyakan," kata petugas keamanan yang berjaga di sana.

Paula dan Riska saling berpandangan. Keduanya merasakan firasat yang tidak baik. Paula tetap menurut dan mengikuti petugas keamanan tersebut ke dalam ruangan. Riska dan beberapa orang lainnya juga turut dipanggil.

"Apa kamu yang tadi membantu wanita itu?" tanya petugas bernama Zein dari papan nama yang menempel di bajunya.

"Benar, Pak. Saya yang bertugas membantunya," kata Paula.

"Bagaimana kronologinya?"

"Saya keluar dari arah lorong, di bagian persimpangan tiba-tiba kendaraan itu menabrak kami. Saya tidak bisa mengelak."

"Zein, coba lihat ini."

Seorang petugas polisi bernama Ahmad datang mendekati Zein sembari memperlihatkan sesuatu di dalam laptopnya. Kedua lelaki itu menatap curiga ke arah Paula.

Paula hanya bisa pasrah. Mereka sepertinya telah menemukan sesuatu.

"Siapa namamu?" tanya Zein.

Paula menunduk. Ia sudah tahu jika polisi tersebut telah mencurigai identitasnya.

"Nona, jawab pertanyaan kami. Siapa namamu?" tanya Zein sekali lagi.

Namun, Paula tetap diam.

Brak!

Polisi tersebut menggebrak meja hingga mencuri perhatian yang lain. "Apa kamu mata-mata, hah? Kamu pakai identitas orang untuk menyelinap masuk dan berpura-pura sebagai volunteer?" cecarnya.

"Katakan! Siapa yang sudah menyuruhmu menyelinap ke tempat ini!" bentak Zein.

Paula semakin takut jika Riska juga akan terlibat karena dirinya. Teman barunya itu sudah cukup dia repotkan dan ia tak ingin menambah bebannya.

"Maaf, Pak. Kalau saya mau menjadi penyusup, untuk apa saya bersusah payah masuk volunteer? Anda bisa mengecek CCTV, sepanjang hari saya bertugas dengan baik," kilah Paula.

"Memakai identitas orang lain sudah termasuk pelanggaran hukum berat, Nona."

"Saya minta maaf," kata Paula. "Saya hanya ingin bisa masuk stadion secara gratis dan makan gratis. Makanya saya mengambil identitas volunteer yang terjatuh milik orang dan berpura-pura jadi dirinya," aku Paula.

"Bagaimana ini?" tanya Zein pada rekannya.

"Kita bawa saja dulu ke kantor untuk diproses lebih lanjut," usul Ahmad.

"Pak, Anda mau membawa teman kami kemana?" tanya Riska. Ia dan teman-teman satu negaranya yang lain merasa cemas dengan kondisi Paula.

"Terpaksa kami akan bawa ke kantor karena dia memakai identitas orang," kata Zein.

"Paula ...."

Paula berusaha tersenyum. "Kalian tenang saja, aku akan baik-baik saja," katanya.

Padahal, Paula sendiri tidak yakin dengan nasibnya ke depan. Ia hanya pasrah saat digiring masuk ke dalam kantor polisi.

"Masuk!" perintah Zein. Ia mendorong kasar Paula agar masuk ke dalam sel penjara. Setelah Paula masuk, ia kembali mengunci pintunya dan pergi.

Di dalam sel tersebut ada tahanan lain yang sepertinya lenih tua darinya. Dengan langkah canggung, Paula berjalan mendekat dan duduk dinsebelah wanita itu dalam jarak yang tak terlalu dekat.

Paula tidak menyangka jika akhirnya ia akan masuk penjara juga. Padahal, ia sempat menikah dengan Hamish untuk menghindari tempat yang menyeramkan seperti itu.

"Kamu dari Indonesia juga, ya?"

Tiba-tiba wanita tersebut bertanya padanya. Ia kaget karena lagi-lagi bertemu dengan orang yang berasal dari negara Indonesia.

"Benar, apa Anda juga orang Indonesia?" tanya Paula.

Wanita itu tertawa. "Seharusnya dari wajah juga sudah tahu kalau aku dari Indonesia," ujarnya.

Paula masih belum bisa menebak orang yang berasal dari Indonesia jika berada di luar negeri. Menurutnya, penduduk di tanah air terlalu beragam dan tak bisa ditebak hanya dari wajah saja.

"Siapa namamu?" tanya wanita itu.

"Paula."

"Kenapa kamu bisa ditangkap?"

"Aku ketahuan menggunakan identitas orang lain untuk menjadi volunteer piala dunia," jawab Paula.

"Oh, berani sekali kamu melakukannya."

Paula bahkan tidak menyangka hal itu akan menimbulkan masalah yang besar bagi dirinya. Ia kira hanya akan dimarahi, tapi nyatanya ia malah dituduh sebagai penyusup.

"Kalau Anda sendiri kenapa bisa ditahan di sini?" tanya Paula balik.

Wanita itu tersenyum. "Namaku Surti. Sudah satu tahun aku mendekam di sini karena tuduhan telah mencuri di rumah majikan. Aku seorang TKW sebelumnya."

"Bukannya setiap WNI yang bermasalah bisa mendapat bantuan hukum dari kedutaan?" tanya Paula heran.

"Harusnya seperti itu. Tapi, semua surat-suratku masih dipegang majikan. Aku juga tak punya kenalan yang bisa menyampaikan keluhanku terhadap pihak kedutaan."

"Tapi, apa benar kamu telah mencuri?" tanya Paula.

"Tentu saja tidak, bodoh!" kilah Surti. "Mereka sebenarnya tidak punya bukti untuk memenjarakanku. Tapi, karena mereka punya uang, makanya membiarkanku tetap meringkuk di sini tanpa dilakukan proses peradilan."

Surti mengenang kembali masa-masa pahitnya sebagai TKW di Qatar. Bukannya kesejahteraan yang didapatkan, ia malah harus berurusan dengan dunia hukum. Sekitar 1 tahun lamanya ia meringkuk di tempat itu sendirian. Baru kali ini ia bisa mendapatkan teman.

Terpopuler

Comments

Nuris Wahyuni

Nuris Wahyuni

BKN merantau dinegeri org aja yg senang ketemu sesama saudara kita hidup dlm negeri sendiri aja senangnya minta ampun temu sama2 suku bangsa 👍👍

2023-04-08

0

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

Pau dan Surti adalah dua dari sekian banyak orang yang mungkin bernasib sama di negara lain🥺🥺🤧

2023-02-23

0

emak ⏤͟͟͞R

emak ⏤͟͟͞R

ini Hamis kemana sih kok gak nyariin Paula.

2023-02-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!