“Can you speak English? I don’t really understand Arabic,” ucap Paula seraya membawakan kotak obat untuk lelaki itu.
“Ya, aku bisa Bahasa Inggris,” jawab lelaki itu sembari menahan sakit.
“Maaf sebelumnya.” Paula meminta ijin menyingkapkan kaos yang lelaki itu kenakan. Ia terperangan melihat luka goresan benda tajam yang ada di perut lelaki itu. Terlihat lukanya tak terlalu dalam, namun masih mengeluarkan darah.
Perlahan Paula membersihkan area luka dengan cairan antiseptik. Sesekali ia menghela napas karena tidak tega melihat darah yang cukup banyak keluar. Apalagi lelaki itu terdengar merintih saat ia menyentuh lukanya.
“Kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa seperti ini?” tanya Paula sembari terus membersihkan sisa-sisa darah di sekitar luka.
“Ada yang merampokku di jalan. Mereka juga sepertinya berusaha untuk membunuhku,” kata lelaki itu sembari mengatur napasnya. Ia bersandar di dinding, sesekali meringis merasakan perih Ketika lukanya dibersihkan.
“Apa kamu pendatang? “
“Bukan. Aku penduduk asli kota ini.”
Paula memandang sekilas wajah lelaki yang ditolongnya. Memang, wajahnya menunjukkan ciri-ciri penduduk timur tengah dengan bentuk wajah yang tegas, alis tebal, hidung mancung, dan berjambang. Kelihatannya lelaki itu juga tampan meskipun saat ini penampilannya sangat berantakan.
“Aku pernah baca kalau Doha kota teraman nomor dua di dunia. Seharusnya tidak ada kejadian seperti ini apalagi kamu penduduk asli.”
Lelaki itu terkekeh. “Pelakunya bukan penduduk asli Doha. Aku rasa mereka pendatang yang ingin menyaksikan piala dunia. Mungkin kekurangan uang, jadi mereka merampok orang.”
“Aku juga pendatang, tapi tidak merampok orang juga,” gumam Paula dalam Bahasa Indonesia.
“Apa katamu?” tanyanya.
Paula meringis. “Tidak apa-apa,” katanya.
Paula mengoleskan obat dan menempelkan perban pada luka di perut lelaki itu. Ia juga mengobati luka sayatan yang ada di lengan kanannya.
“Asalmu dari mana?” tanya lelaki itu.
“Indonesia. Mungkin kamu tidak tahu, pokoknya ada di Asia Tenggara.” Paula juga membalut luka yang ada di lengan lelaki itu.
“Aku tahu, aku pernah ke Bali.”
Paula tersenyum. Ternyata ia bertemu dengan orang asing yang mengenal negaranya. Kini ia beralih membersihkan luka yang ada di wajah lelaki itu. Tatapan mata mereka saling bertemu.
“Oh, iya. Namamu siapa? Kita belum berkenalan. Kalau namaku Paula Paulina, biasa dipanggil Paula.”
“Namaku Hamish,” jawab lelaki itu singkat.
Setelah mengobati Hamish, paula beralih menuju dapur kecil yang ada di ruangan itu. Ia berniat membuatkan mie instan dan teh hangat. Hanya perlu waktu kurang dari sepuluh menit ia sudah selesai membuatkan makanan itu.
“Makanlah! Entah kamu suka atau tidak, kamu kelihatan pucat,” kata Paula sembari menyodorkan semangkok mie instan dan secangkir teh di hadapan Hamish.
Hamish menatap makanan yang Paula bawakan untuknya. Terlihat biasa namun aromanya tercium enak. Ia ingin memakannya, namun Ketika hendak menggerakkan tangan kanan, lengannya terasa sakit. “Ah!” pekiknya.
“Biar aku bantu menyuapimu!” Paula yang melihat Hamish kesakitan berinisiatif untuk membantunya makan.
Rasanya agak canggung menyuapi orang asing yang baru ditemuinya. Hamish memang sepertinya kelaparan. Lelaki itu menikmati suapan demi suapan yang Paula berikan.
“Kamu … kenapa datang ke sini?” tanya Hamish.
“Mau menonton piala dunia.”
“Dengan siapa?” tanya Hamish lagi.
“Sendirian.”
Hamish membulatkan mata, “Sendirian?” tanyanya memastikan.
“Iya, sendirian. Memangnya kenapa?” Paula merasa aneh mendengar pertanyaan itu.
“Kalau di sini, wanita tidak boleh bepergian sendiri, mereka harus ditemani mahramnya.”
“Mau ditemani siapa? Aku tidak punya keluarga. Orang tuaku sudah lama meninggal. Kerabat dekat juga tidak ada. Mau ajak teman, tidak ada yang suka bola sepertiku. Mereka rata-rata suka idol K-Pop. Kalau diajak nonton konser baru mau. Ini kan pertandingan bola.”
Paula senyum-senyum mengingat respon setiap teman yang ia beri tahu kalau dirinya suka bola. Mereka suka menganggap aneh jika seorang wanita suka hal seperti itu.
“Kamu boleh tidur di kasurku, biar aku tidur di sofa,” kata Paula setelah Hamish menghabiskan makannya.
“Tidak apa-apa, biar aku di sini saja.” Hamish meluruskan kakinya sembari menyandarkan punggung di dinding.
Paula baru selesai mencuci peralatan makan yang digunakan. Ia kembali menghampiri Hamish. “Wajahmu masih pucat, aku tidak mau kamu mati kalau tidak beristirahat. Jangan membuat pertolonganku sia-sia. Besok, kamu harus ke rumah sakit dan mengobati lukamu ini!” tegas Paula.
Ia membantu Hamish berdiri dan memapahnya menuju tempat tidur.
“Kamu yakin aku boleh tidur di sini?” tanya Hamish.
Paula mengangguk. Ia membiarkan Hamish tidur di ranjangnya dan menyelimuti tubuh lelaki itu dengan selimut.
Paula beralih ke dapur, menyeduh segelas teh untuk dirinya sendiri. Ia membawa secangkir teh buatannya ke luar pintu. Hawa dingin menyambutnya. Tak lama ia berdiri di luar lalu masuk kembali ke dalam.
Ia meringkuk di pojokan sembari meminum sisa teh yang mulai dingin. Lama kelamaan tubuhnya terasa kedinginan, Paula menggigil. Padahal ia sudah mengenakan pakaian yang cukup tebal.
Suhu udara di Doha saat dini hari benar-benar membuatnya hampir membeku. Meskipun sudah melipat tubuhnya, tak mampu mengurangi rasa dingin di tubuh.
“Sepertinya aku yang akan mati,” gumamnya dengan bibir yang bergetar.
Tak tahan lagi dengan rasa dingin itu, akhirnya ia nekad naik ke atas ranjangnya dan berbaring di samping Hamish yang telah terlelap tidur. “Maaf, ya, aku terpaksa ikut tidur di sini dari pada mati,” ucapnya seraya ikut masuk ke dalam selimut yang sama.
Rasa dingin yang ia rasakan berangsur-angsur menghilang. Punggung Hamis yang ada di hadapannya seakan memberikan hawa hangat yang menenangkannya. Akhirnya, lambat laun ia tertidur karena nyaman.
Dug dug dug!
“Patroli … patroli ….”
Brak!
Paula dan Hamish terbangun saat mendengar suara pintu kamar mereka dibuka secara paksa dari luar. Keduanya saling berpandangan dan merasa kebingungan. Mereka heran karena akhirnya tidur satu ranjang.
“Coba tunjukkan mana bukti surat nikah kalian!” kata salah seorang berpakaian seperti polisi dengan nada kesal.
“Dia bilang apa?” tanya Paula karena tidak paham.
“Dia meminta surat bukti pernikahan,” kata Hamish dengan nada lemas.
Mereka kedapatan sedang berduaan di dalam kamar oleh polisi Kota Doha. Hamish menghela napas karena urusannya akan panjang.
Paula juga kebingungan. Ia baru ingat jika Qatar menerapkan sejumlah kebijakan terkait dengan event piala dunia yang melarang pasangan di luar pernikahan tidur dalam satu kamar. Mereka pasti salah paham melihat apa yang mereka lakukan.
Hamish bangkit dari ranjang. Dengan menahan rasa sakit yang masih terasa, ia berjalan menghampiri ketiga petugas kepolisian Doha.
“Maaf, Pak. Saya semalam baru saja dirampok dan hampir mati terbunuh. Ini buktinya.” Hamish memperlihatkan luka di bagian perut dan lengannya.
“Itu urusan yang berbeda. Kamu bisa melaporkannya untuk kasus lain.” Petugas polisi terlihat tidak mau tahu denga napa yang menimpa Hamish.
“Sekarang, tunjukkan bukti surat nikah kalian!” pinta si petugas polisi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
beybi T.Halim
jadi keinget telenovela cinta Paulina😀
2023-08-21
1
Zubaidah Dahlan
mcmana boleh ketahuan
2023-05-08
0
hjp 117
kenapa kamu ngk ngjak aku Paula, PD hal AQ juga suka bola, tapi sayank AQ ngk punya uang untuk kesana waktu itu😇
2023-04-10
0