Paula keluar dari kamarnya mencari Hamish. Di rumah terlihat sepi. Memang, rumah sebesar itu dengan lima orang penghuni yang sibuk dengan urusan masing-masing akan terlihat sepi. Apalagi para pelayan yang akan kembali ke tempat mereka di belakang selesai melaksanakan pekerjaan di dalam rumah.
Paula mencoba turun ke bawah menuju ruang kerja Hamish. Seharusnya lelaki itu ada di sana karena akhir pekan tak mungkin Hamish berangkat ke kantor.
Benar saja, lelaki itu tengah duduk di mejanya sembari membuka-buka dokumen. Hamish memang pekerja keras. Meskipun di rumah masih saja mengurusi pekerjaan kantor.
"Kenapa berdiri di pintu terus? Masuklah!"
Ternyata keberadaan Paula diketahui oleh Hamish. Ia berjalan mendekat dengan langkah canggung karena takut mengganggu.
"Kamu masih bekerja, ya?" tanyanya.
Hamish mengangguk. "Kamu mencariku? Mau bicara apa?" tanyanya.
Paula menggeleng. "Aku hanya bosan di kamar. Kamu tidak membolehkanku melakukan pekerjaan rumah."
Hamish tersenyum. "Sudah ada banyak pelayan yang bekerja di rumah ini. Kamu tidak perlu melakukan apapun."
"Tapi, aku merasa tidak enak tinggal menumpang di sini."
"Siapa yang bilang kamu menumpang? Kamu di sini karena kamu istriku." Hamish tak menyukai pendapat Paula. "Kalau kamu memang ingin kesibukan, temani aku bekerja. Aku akan sangat senang," pintanya.
"Ah, oke. Aku akan menemanimu bekerja," kata Paula.
Ia hendak duduk di kursi depan Hamish, namun tangannya ditarik hingga tubuhnya jatuh tepat di pangkuan Hamish. Pinggangnya dipeluk dengan mesra, membuat jantung Paula berdebar-debar.
"Sepertinya menyenangkan jika setiap hari bekerja ditemani istri," gumam Hamish.
"Apa ini malah tidak mengganggumu bekerja? Biarkan aku duduk sendiri," kata Paula.
"Tidak perlu, kamu di sini saja. Seperti ini," ucap Hamish.
Paula benar-benar merasa risih dan canggung berdekatan dengan Hamish. Bahkan ia bisa merasakan napas lelaki itu yang mengenai tengkuknya.
Hamish melanjutkan pekerjaannya mengetik sesuatu di laptop dengan aksara arab yang tak Paula pahami.
"Apa aku bisa meminjam jemarimu untuk mengetik?" tanya Hamish.
"Aku tidak pandai Bahasa Arab, kamu lupa?"
"Ah, iya. Aku lupa kalau kamu terbiasa memakai abjad latin."
"Sekalipun aku paham juga tidak bisa membantumu. Soalnya aku tak pernah bekerja di kantor. Aku hanya lulusan SMA."
"Benarkah?" tanya Hamish terkejut.
Paula mengangguk. "Aku yatim piatu. Sejak SMA saja sudah mulai bekerja untuk bertahan hidup. Aku sudah tidak punya keluarga."
"Seharusnya kamu lahir di sini," gumam Hamish.
"Hahaha ... Benar juga. Kalau aku lahir di sini, hidupku pasti terjamin. Sekolah gratis dan mudah mencari kerja."
"Sudahlah, itu juga masa lalu. Yang terpenting adalah masa depan. Kamu bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik kedepannya."
Hamish menghentikan lagi pekerjaannya. Ia kembali memeluk wanita di pangkuannya. Kali ini Hamish menciumi tengkuk Paula dengan gemasnya.
"Kamu bisa melanjutkan pendidikanmu, Paula. Aku akan membiayaimu," kata Hamish.
"Aduh, itu akan aku pikirkan. Tapi, hentikan dulu, ini sangat geli," ucap Paula seraya menggerakkan tubuhnya agar bisa lepas dari Hamish.
Hamish menghentikan perbuatannya. Ia menggeser posisi Paula menyamping agar bisa bertatapan dengannya.
"Sebenarnya aku cukup lelah dan butuh tambahan energi," kata Hamish.
"Oh, apa aku perlu memasakkan sesuatu untukmu? Kamu mau makan apa?" tanya Paula dengan polosnya.
"Memangnya kamu bisa memasak?" tanya Hamish penasaran. Wanita di Qatar kebanyakan tidak bisa memasak karena terbiasa diurusi pelayan rumah.
"Aku bisa memasak. Hanya saja mungkin akan berbeda dengan masakan di sini karena kita beda negara," kata Paula. Ia sempat bekerja di restoran dan sedikit-sedikit bisa memasak.
"Saat aku di Bali, aku suka makanan di sana. Aku yakin bisa menyukai masakanmu juga."
"Hamish ...."
Paula langsung turun dari pangkuan Hamish saat mendengar suara Salma. Ia merasa kikuk dipergoki mertuanya sendiri. Jelas sekali jika tatapan sang mertua terhadapnya menunjukkan rasa tidak suka.
"Ada apa, Ibu?" tanya Hamish.
"Aisy datang. Dia menunggu di ruang tamu. Temuilah dia," pinta Salma.
Hamish mengajak Paula untuk keluar menemui Aisy. Ternyata wanita itu datang untuk mengajak Hamish pergi ke festival.
"Kak Hamish, ayolah ... Kita kan jarang pergi bersama. Sekali ini saja temani aku ke festival musik ... Dulu kita sering melakukannya," rayu Aisy.
Ia terus merengek membujuk Hamish agar mau mememaninya pergi.
"Sudahlah, Hamish, dia kan sepupumu sendiri. Temani Aisy pergi," pinta Salma.
Hamish menoleh ke arah Paula. Wanita itu tersenyum padanya. Ia semakin menjadi tidak enak hati namun tak bisa menolak Aisy dengan cara yang kasar.
"Maaf, Aisy, aku sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor selama seminggu ini. Kamu pergilah dengan temanmu atau Harun," usul Hamish.
"Tidak mau. Aku maunya pergi bareng Kak Hamish. Mereka kurang suka acara musik, tidak seperti kita."
"Harun juga suka," kata Hamish.
"Suka dari mana? Aku pernah mengajaknya tapi baru sepuluh menit sudah meminta pulang. Aku tidak mau!"
Ponsel Hamish berbunyi. Ia mendapatkan telepon dari salah satu anak buahnya di kantor. Ia merasa beruntung karena punya alasan untuk menolak keinginan Aisy.
"Maaf, Aisy. Aku harus kembali ke kantor sekarang. Kamu menonton dengan yang lain saja," ujarnya.
Hamish menghampiri Paula. Ia berpamitan untuk pergi ke kantor. Sebelum pergi, ia sempat mencium kening Paula. Hal itu membuat Aisy terlihat jengkel.
Aisy beralih ke arah taman belakang. Ia memperhatikan beberapa pelayan yang tengah memandikan unta-unta milik keluarga Hamish.
Memang, pernikahan Hamish dan Paula hanya bersifat sementara. Namun, ia tidak rela jika harus menyaksikan kedekatan mereka setiap hari. Apalagi Hamish sekarang terkesan semakin tak peduli padanya.
"Aisy," sapa Paula.
Aisy memasang wajah tak suka saat Paula datang menghampirinya. Mereka sama-masa berdiri di balik pagar memperhatikan pemandangan yang sama.
"Hamish tidak berbohong kalau dia memang sibuk dengan urusan kantornya. Beberapa hari terakhir, ia sering pulang larut malam," kata Paula.
Aisy tersenyum sinis. "Apa kamu sedang pamer kalau sekarang kamu tinggal sekamar dengan Kak Hamish dan tahu kapan dia pulang?"
"Aku tidak berksud begitu." Paula terkejut karena Aisy justru menyalahartikan tujuannya. Niatnya ia ingin menghibur Aisy agar tidak sedih.
"Semua gara-gara kamu! Kalau saja Kak Hamish tidak bertemu denganmu, kami akan lebih cepat menikah!" Aisy menyalahkan Paula.
Paula merasa bersalah. Ia memang orang yang tanpa sengaja hadir di antara mereka.
"Kak Hamish tak pernah menolak ajakanku. Hubungan kami selama ini sangat baik. Sejak ada kamu, Kak Hamish jadi menjauhiku." Aisy mengatakannya dengan tetesan air mata yang mengalir di pipi. Ia merasa sangat sedih harus jauh dari lelaki yang dicintainya.
"Maafkan aku. Semua ini juga terjadi tanpa bisa aku kendalikan," kata Paula. "Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Keadaannya memang sudah seperti ini, aku tak bisa berbuat apa-apa."
"Bagaimana kalau aku yang menemanimu ke festival itu?" tanya Paula menyarankan.
Aisy menoleh ke arah Paula. Melihat wajah wanita itu selalu membuatnya kesal. Ia sebenarnya tak sudi berdekatan dengannya.
"Boleh. Ayo kita pergi bersama," ajak Aisy. Ia memiliki sebuah niat terselubung dengan menyetujui usulan Paula.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Zubaidah Dahlan
hati hati Paula dgn aisy
2023-05-08
0
☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ
baiknya Pau... semoga saja tak terjadi hal yang menakutkan 😌
2023-02-23
0
Lie Hia
paula...jgn dekat2 sm Arsy...dia punya niat tdk baik...
kamu tulus bangets sih Paula...tp jgn bodoh2 jg...ini di negeri org...bkn di Indonesia negara kamu ...ingat itu paula
2023-02-20
0