Paula tak henti-hentinya dibuat ternganga dengan kemewahan rumah Hamish. Ia selalu berpikir pekerjaan apa yang dilakukan orang-orang sampai bisa memiliki kekayaan berlimpah seperti itu. Ia yang bertahun-tahun telah bekerja keras saja masih menjadi penghuni kontrakan kecil di tempat kumuh.
Hamish membukakan pintu kamarnya. Ruangan yang ada di dalam bukan lagi kamar biasa, tapi sudah seperti istana. Bahkan luasnya tidak ada bandingannya dengan kamar kontrakannya.
"Masuklah!" pinta Hamish.
Tentu saja dengan senang hati Paula masuk ke dalam. Ia tersenyum lebar saat mencoba kasur empuk yang nyaman di kamar itu.
"Mulai sekarang ini akan menjadi kamar kita. Aku harap mamu bisa betah tinggal di sini."
"Apa?" senyuman yang tadinya melekat di wajah Paula seketika menghilang. "Kita tidur bersama di sini?" tanyanya memastikan. Ekspektasi awalnya ia kira Hamish meminjamkan kamar itu untuk kamarnya sendiri dan Hamish akan menempati kamar lain.
"Kita sudah suami istri, akan aneh kalau tidur secara terpisah."
"Tapi, kita hanya menikah sementara demi menghindari penjara." Paula terlihat kikuk.
"Ya, untuk sementara juga kita akan bersikap seperti pasangan yang telah menikah. Di sini sudah biasa untuk melakukan nikah kontrak."
"Aku tidak mau tidur denganmu!" teriak Paula seraya bangkit dari duduknya. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada seolah memberi jarak dengan lelaki itu.
Hamish sampai mematung melihat kelakuan Paula di hadapannya.
"Aku hanya setuju menikah pura-pura, ya! Tidak untuk berhubungan badan! Aku mau melakukannya dengan suami asli yang aku nikahi karena cinta!"
"Memangnya siapa yang mau mengajakmu melakukan hal semacam itu? Kamu pikir aku tertarik denganmu?" ucap Hamish. Ia merasa wanita itu sedikit gila bisa mengungkapkan hal semacam itu di hadapannya.
Paula langsung merasa malu. Dirinya ternyata sudah berpikir berlebihan. Ia hanya bisa tersenyum cengengesan. " Lalu, aku harus tidur dimana? Kamar ini hanya punya satu ranjang," tanyanya.
"Kamu bisa tidur di sofa. Tempat tidur itu tentu saja milikku!" tegas Hamish.
"Ah!"
Lelaki itu berteriak sembari memegangi perutnya. Paula yang panik langsung berlari mendekat.
"Kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
Hamish menyingkapkan pakaiannya. Luka yang telah diperban itu sepertinya kembali terbuka dengan darah yang merembes keluar.
"Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus pergi ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Paula dengan panik.
"Sudahlah, aku hanya butuh istirahat," tolak Hamish.
"Pokoknya kita harus ke rumah sakit sekarang!" paksa Paula.
Ia menarik-narik tangan Hamish agar keluar kamar. Sikapnya yang aneh membuat beberapa pelayan yang melihat keheranan. Baru kali ini rumah yang biasanya tentram dan damai menjadi ribut karena ulah Paula yang panik sambil mengomel tidak jelas.
Hamish meminta sopirnya mengantar ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Paula terus mengomel.
"Kamu ini terkena luka tusukan, bukan tergores pisau! perawatan luka yang semalam itu hanya sementara. Makanya aku bilang cepat pergi ke rumah sakit supaya mendapat penanganan. Tapi, kamu malah memilih untuk pulang ke rumah!" gerutu Paula menggunakan Bahasa Inggris.
Hamish memegangi kepalanya. Ia bahkan tak memiliki kesempatan untuk bicara. "Aku ini, korban, kenapa kamu malah memarahiku?" tanyanya.
"Siapa yang sedang memarahi? Aku begini karena peduli! Untuk apa juga malam itu aku kesusahan menolongmu sampai aku jadi sudah sendiri!" kesal Paula.
Hamish memandangi wanita itu tanpa berkedip. Sesaat kemudian, ia tertawa kecil. Wanita itu ternyata lebih cerewet dari yang ia kira. "Oke, aku akan menurut," katanya.
Paula langsung berhenti bicara. Ia mengalihkan pandangan pada jajaran gedung-gedung megah yang ada di Kota Doha. Jalanan di siang hari terlihat cukup lengang. Kalau digambarkan, Doha seperti sebuah kota di tengah gurun pasir yang gersang. Bahkan pepohonan hampir tak ada yang tumbuh di sana.
Sesampainya di rumah sakit, Hamish mendapatkan pengobatan yang lebih baik oleh dokter.
"Kamu mau jalan-jalan?" tanya Hamish usai dokter mengobati lukanya.
"Apa? Jalan-jalan? Tapi, kamu kan masih sakit."
Siapa yang mau menolak jika ditawari untuk jalan-jalan di Doha? Paula juga sebenarnya sangat mau. Tapi, mengingat luka Hamish ia jadi tidak enak hati untuk menerima tawaran itu.
"Kata dokter lukaku tidak parah. Ini tidak apa-apa asal tidak kamu pukul saja," ujar Hamish.
"Oke, aku tidak menolak ajakanmu!" seru Paula dengan semangat.
Hamish memperhatikan penampilan Paula dari atas sampai bawah. "Sebelum itu. Sepertinya kita perlu membeli sesuatu," katanya.
Paula dibawa ke sebuah mall terbesar di Kota Doha. Hamish mengajak Paula untuk memilih pakaian yang pantas dikenakan di negara itu.
"Wanita di sini biasa mengenakan abaya dan hijabnya. Aku harap kamu tidak keberatan untuk berpakaian sopan selama berada di sini," ucap Hamish.
Paula melihat penampilannya sendiri. Ia sudah terbiasa tampil mengenakan kaos dan celana jeans. "Apa menurutmu ini kurang sopan?" tanyanya. Padahal, menurut Paula pakaian yang dikenakan tak terlalu vulgar.
"Bukan seperti itu. Tapi, di negara ini punya standar tersendiri tentang kesopanan."
Paula mengangguk paham. Ia menerima pakaian yang Hamish pilihkan untuknya. Sebuah abaya hitam lengkap dengan jilbabnya.
Paula membawa pakaian tersebut ke dalam ruang ganti. Ia terlihat ragu untuk mengenakan model pakaian yang belum pernah ia coba sebelumnya.
"Bagaimana? Apa ini bagus?"
Hamish tertegun melihat penampilan Paula yang baru keluar dari ruang ganti. Mengenakan abaya hitam dan jilbab senada yang terjuntai, wanita itu terlihat anggun dan menawan. Ia sampai tak bisa mengalihkan pandangannya.
"Hamish? Jelek, ya?" tanya Paula yang heran menunggu respon lama dari lelaki itu.
"Ah, tidak. Itu sangat cocok untukmu," ucap Hamish. Ia mengalihkan pandangan ke tempat lain karena salah tingkah. Mau memuji namun merasa canggung.
"Oh, mungkin memang aku terlihat aneh karena tidak terbiasa berpakaian seperti ini," kata Paula.
"Tidak, tidak ... Itu sangat cocok untukmu."
Hamish mengatakan Paula tak perlu mengganti pakaian yang telah dikenakannya. Ia langsung membayar apa yang Paula kenakan dan menambahkan beberapa pakaian sejenis untuk Paula.
Hamish mengajak Paula jalan-jalan di sekitaran Teluk Persia.
Negara gurun itu benar-benar memanjakan mata pengunjung dengan pemandangan yang indah. Pantainya bersih, airnya jernih. Keberadaan Teluk Persia bagaikan oasis di tengah gersangnya gurun.
"Apa di sini juga harus mengenakan pakaian yang sopan?" tanya Paula heran. Sejak tadi ia tidak melihat orang berbikini yang bermain di sekitaran pantai.
"Iya, tidak boleh berbikini atau hanya bercelana pendek saja saat bermain di pantai ini. Aturan negara ini memang cukup ketat dalam hal berbusana," kata Hamish.
Paula baru tahu negara kecil seperti Qatar yang menjadi negara terkaya di dunia mampu berpegang teguh pada aturannya sendiri. Bahkan pendatang harus mengikuti aturan yang mereka miliki.
"Ikut aku. Ada tempat yang pasti akan sangat senang kamu lihat," ucap Hamish.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Zubaidah Dahlan
hamish mcm sd ada bunga dlm hati
2023-05-08
0
Rose Mustika Rini
hiks hiks hiks jadi ingat sama someone di Doha..when you come to Indonesia? 😔 i miss you...
2023-02-25
0
☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ
ehek ehek ada yang tersepona...awas jatuh hati🤭🤭
2023-02-22
0