Bab 14: Festival Musik

Aisy dan Paula turun dari mobil yang mengantarkan mereka ke pusat acara. Dari lapangan parkir saja sudah terlihat bahwa event tersebut padat dipenuhi pengunjung. Baik warga lokal maupun pendatangan berbaur menjadi satu dalam event tersebut.

"Anda pulang saja, Pak. Nanti jemput kami jam 10 malam," ucap Aisy kepada sang sopir.

"Baik, Nona."

"Ayo!"

Aisy mengajak Paula berjalan menuju tempst festival. Mereka harus membayar tiket masuk yang terbilang cukup murah. Mulai dari pintu masuk sudah berjajar para pedagang yang menawarkan aneka makanan khas Qatar. Ada pula yang berjualan pakaian dan aksesoris lainnya.

"Tempat ini lumayan rame juga. Apa karena ada piala dunia?" tanya Paula.

"Tidak juga. Setiap tahun juga ramai. Walaupun memang kali ini lebih ramai dan lebih banyak orang asing yang datang."

"Eh, itu lucu!" seru Paula saat melihat pedagang aksesoris yang memamerkan dagangannya berupa aneka bando karakter. Paula berjalan mendekati pedagang tersebut.

"Ck!" Aisy berdecak kesal. Menurutnya, tidak ada lucu-lucunya barang dagangan pedagang itu. Namun, ia tetap mengikuti Paula.

Aisy hanya memperhatikan Paula yang tampak antusias mencoba satu per satu bando karakter telinga binatang yang dijual pedagang tersebut.

"Aisy, ayo coba! Kamu suka yang mana?" tanya Paula. Ia telah mengenakan bando telinga kelinci di atas kerudungnya.

"Tidak, aku tidak mau!" tolak Aisy.

Paula mengambilkan satu bando telinga Mickey Mouse. Ia bawakan kepada Aisy.

"Cobalah dulu, ini lucu!" paksa Paula.

"Tidak, aku tidak mau!" Aisy tetap menolak.

Paula tetap memaksa memasangkannya di atas kepala Aisy. Ia menarik tangan Aisy agar mendekat ke arah cermin. "Kamu jadi lebih imut memakai ini," pujinya.

Aisy memperhatikan pantulan bayangannya sendiri dalam cermin. Bando itu memang membuat penampilannya lebih terlihat manis. Dalam hati ia mengakuinya namun tidak mau mengatakan pada Paula.

"Foto berdua, yuk!" ajak Paula. Ia mengeluarkan ponsel dan menyalakan kameranya.

"Apaan sih! Aku tidak mau difoto!"

Aisy menunduk malu-malu saat Paula mengajaknya berfoto. Namun, lambat laun ia juga tertarik untuk berpose bagus di kamera. Ia mulai mengangkat kepala dan tersenyum. Beberapa kali Aisy juga berpose dengan jari yang dimainkannya. Paula sampai senyum-senyum sendiri karena wanita itu ternyata cukup lucu.

"Aku mau makan. Kira-kira makanan apa yang enak di sini?" tanya Paula.

"Kamu pernah mencoba samoosa?" tanya Aisy.

Paula mengerutkan dahi. "Samoosa? Apa itu?"

"Ayo ikut aku!"

Aisy menarik tangan Paula melewati jajanan kuliner yang sangat banyak. Ia mengarahkan pandangan ke kanan dan kiri mencari makanan yang dimaksud.

"Nah, ini namanya samoosa. Menurutku ini enak sekali," ujar Aisy. Ia menunjuk pada makanan semacam gorengan berbentuk segitiga yang mirip dengan pastel jika di negara Paula.

"Ayo coba!" Aisy menyodorkan satu samoosa agar dicicipi oleh Paula.

Paula menerima makanan tersebut. Satu gigitan pertama, ia merasa familiar dengan rasanya. Memang hampir sama dengan pastel, namun isian di dalamnya seperti ada cincangan daging ayam yang dicampur sayuran.

"Makannya pakai ini." Aisy memberikan saus kemasan kecil kepada Paula.

Jika biasanya Paula memakan pastel dengan cabe rawit, di sana memakan samoosa dengan saus. "Ini enak," katanya.

"Benar, kan? Aku sudah yakin kalau kamu akan suka." Aisy membayar dua biji samoosa yang mereka makan.

"Kita jalan lagi cari makanan enak yang lain mumpung di sini," ajak Aisy.

"Ini namanya kousa mahshi. Cobalah!" pinta Aisy.

Paula mengamati makanan bentuknya seperti timun yang dikeluarkan isinya dan diganti dengan cincangan daging di dalamnya. Ia menggigit makanan itu dan ternyata rasanya tak terlalu buruk untuknya.

"Ini bahannya timun Jepang, ya?" tanya Paula mengingat sayuran yang digunakan sebagai wadah itu bentuknya seperti timun Jepang namun rasanya memang berbeda.

"Bukan, itu namanya sayur zukini atau lebih dikenal dengan sebutan terong Italia."

"Oh ...." Paula mangguk-mangguk mengiyakan ucapan Aisy.

Aisy terus memperkenalkan makanan khas yang ada di negaranya kepada Paula sampai perut mereka kekenyangan. Sepanjang jalan, mereka sesekali bercanda mengomentari apa yang dilihat di sana. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk duduk beristirahat di salah satu tempat duduk sembari menikmati minuman lemonana.

"Aku dan Hamish telah dijodohkan sejak kecil oleh orang tua kami." Aisy memulai pembicaraan yang terdengar serius.

Paula sudah merasa tak enak hati untuk membahas hal semacam itu. Ia hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang hendak Aisy sampaikan kepadanya.

"Di negara kami sudah menjadi hal wajar untuk menjodohkan anak mereka dengan kerabat dekatnya. Menurut mereka, itu lebih baik karena saudara pastinya lebih memahami dari pada menjodohkan dengan orang asing. Itu juga dilakukan untuk melestarikan keturunan. Artinya, mereka tak ingin memiliki keturunan yang hilang ciri-ciri khasnya akibat perkawinan silang."

"Kamu tahu sendiri kan, aku dan Hamish menikah juga karena tidak sengaja," kilah Paula.

"Ya, aku tahu. Aku hanya takut jika ketidaksengajaan itu aman mendatangkan cinta di antara kalian." Aisy menatap dalam-dalam mata Paula seolah ingin mengatakan bahwa dirinya mau dimengerti.

Paula terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa. Meskipun ia belum yakin dengan perasaannya terhada Hamish, lelaki itu telah secara berani mengungkapkan perasaan kepadanya. Hamish jatuh hati padanya.

"Apa kamu bisa membayangkan rasanya hubungan yang telah terjalin selama belasan bahkan puluhan tahun kalah dengan pertemuan satu malam? Sebenarnya aku sedih dan tidak terima menerima kenyataan Kak Hamish telah menikahimu."

Aisy mengatakannya dari dalam lubuk hatinya. Ia merasa terluka sampai air matanya menetes.

Sebagai sesama wanita, Paula merasa berempati padanya. Ia juga tak bermaksud ada di antara mereka. Tapi, takdir sama sekali tak bisa dihindari. Bahkan impiannya untuk menikmati piala dubia dengan suka cita harus terdistrak oleh masalah pernikahan itu. Ia tak sepenuhnya fokus pada tujuan awalnya untuk piala dunia dan Paulo Dybala.

Paula memberikan pelukan kepada Aisy. "Maafkan aku yang tanpa sengaja telah menyakiti perasaanmu. Hubungan kami hanya sebatas kontrak. Ketika piala dunia berakhir, hubungan kami juga akan berakhir," ucapnya.

Paula memberikan tisu kepada Aisy untuk mengelap air mata.

"Aku datang ke Qatar untuk bersenang-senang bukannya mencari musuh. Bagaimana kalau kita berteman?" usul Paula.

"Kamu apa-apaan? Mana mungkin kita bisa berteman. Aku sangat membencimu!" ujar Aisy.

Paula menyunggingkan senyum. "Kenapa kita harus saling membenci? Aku sudah bilang akan pergi setelah piala dunia usai. Kamu boleh melanjutkan lagi hubunganmu dengan Hamish. Jadi, jangan musuhi aku yang hanya tinggal sementara di sini. Aku juga ingin punya banyak teman, salah satunya kamu."

Paula ingin sisa waktunya di sana bisa dijalani dengan penuh senyuman. Meskipun Hamish telah menyatakan cinta, Paula sangat berpikir realistis. Hubungan yang tidak direstui orang tua tidak akan berjalan dengan baik. Ia lebih baik mundur.

Terpopuler

Comments

Zubaidah Dahlan

Zubaidah Dahlan

Paula seorang yg sangat baik

2023-05-08

0

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

nah..bener banget tuh pemikiran Pau...ga ada restu yang ada bakal ribut terus

2023-02-23

0

Lie Hia

Lie Hia

Jangan omong begitu ke Aisy...dia cuma pura2 baik ke padamu Paula...

nnti klo jodohmu dgn Hamish bgmn ?? Aisy itu tidak baik padamu Paula ...harus hati2 yaaa dia punya maksud tdk baik padamu

2023-02-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!