Bab 6: VVIP Room

"Oh ... Sampai kapan aku harus melihat wajah buruk ini!" ketus Salma. Ia tidak tahan jika setiap hari harus bertemu dengan Paula di rumahnya sendiri. Ia memilih pergi setiap kali Paula muncul di hadapannya.

Paula merasa keberadaannya di sana seperti virus yang harus dibasmi atau dijauhi. Kalau bukan karena sikap Hamish yang baik padanya, mungkin Paula sudah kabur dari sana.

Paula menikmati makan siangnya bersama Hamish setelah Salma pergi dari sana. Selama 5 hari tinggal di rumah Hamish, ia masih dianggap seperti orang asing. Selain terkendala faktor bahasa juga faktor restu atas pernikahan mereka tentunya.

"Hamish, boleh aku minta sesuatu?" tanya Paula di sela-sela aktivitas makan mereka.

"Kamu mau minta apa? Katakan saja," kata Hamish.

"Bolehkah hari ini aku pergi ke stadion untuk menonton pembukaan piala dunia?" tanyanya.

Hamish memperlambat kunyahan makanan di mulutnya. Ia seakan tengah memikirkan tentang permintaan Paula. "Nanti kamu pergi bersamaku saja!" ucapnya. "Hari ini semua keluarga juga akan pergi ke sana untuk menonton.

Paula tersenyum kecut. "Bolehkah aku menonton sendiri saja? Aku sungkan berbaur dengan mereka," pinta Paula.

"Bukankah aku sudah memberitahumu? Di negara ini wanita kurang baik jika bepergian sendiri, harus disertai mahram. Aku harus menemanimu sebagai suami," ujar Hamish.

Perkataan Hamish sudah tak bisa dibantah karema memang itu aturan agama. "Tapi, aku takut mereka juga tidak nyaman dengan keberadaanku," tukasnya.

"Kenapa mesti begitu? Tujuan kita kan sama ingin menonton pembukaan piala dunia. Kamu tidak perlu memikirkan hal lain. Toh aku yang akan membayar tiketmu. Ayolah, kita habiskan saja makan siangnya!"

Hamish bersikap santai dalam merespon keluhan Paula. Menurut Paula, lelaki itu kurang bisa membaca isi hati dan pikirannya. Namun, ia tak ingin berdebat karena akan percuma saja.

"Selamat siang, Bibi ...."

Seorang wanita tampak memberi salam dan masuk ke dalam rumah. Paula hanya bisa mengintip sedikit dari arah ruang makan karena penasaran.

"Oh, Aisy kesayanganku ...." Salma terlihat kegirangan. Dari ruang tengah ia segera beranjak menghampiri tamu tersebut. Seperti telah begitu akrab, mereka saling berpelukan dengan hangat.

"Akhirnya kamu datang juga, Sayangku, Bibi sangat merindukanmu," ucap Salma.

Aisy menunjukkan senyuman manisnya. "Terima kasih Bibi sudah mengundangku untuk pergi menonton bersama."

"Ayo, Aisy ... Kamu harus duduk dulu bersama Bibi!"

Salma menarik tangan Aisy agar ikut dengannya ke ruang tengah. Di sana ada Faruq dan Najma yang tengah menonton televisi.

"Selamat siang, Paman, Najma," sapa Aisy dengan lembut.

"Duduklah, Aisy! Sudah lama kamu tidak berkunjung ke sini," kata Faruq.

"Maaf, Paman. Bulan lalu ayah dan ibu mengajak ke Dubai menghadiri pesta pernikahan saudara dan mengurus bisnisnya. Kebetulan Bibi Salma menghubungiku untuk datang dan aku baru kembali."

"Oh, aku sampai lupa kalau ayahmu sedang mengembangkan bisnisnya di Dubai."

Aisy hanya tersenyum.

"Oh, iya. Ngomong-ngomong, Kak Hamish dimana?" tanya Aisy.

Ketiga orang tersebut langsung terdiam, raut wajah mereka berubah. Mereka saling berpandangan satu sama lain seolah tak mau menjawab pertanyaan Aisy.

"Aku di sini," sahut Hamish yang baru selesai makan.

Aisy tersenyum mendengar suara Hamish. Ia berbalik dan melihat seorang wanita berjalan berdampingan dengan sepupunya. Perlahan senyuman yang terlukis di wajahnya kian memudar.

"Kak Hamish ...." Aisy terlihat kecewa melihat Hamish bersama wanita lain.

"Ini memang akan sedikit mengagetkan, Aisy," ucap Salma. Ia berusaha menenangkan calon menantu idamannya itu.

"Beberapa waktu yang lalu, Hamish mengalami musibah. Ia dirampok orang asing. Kebetulan wanita itu yang menolongnya. Ternyata ada razia mendadak dan mereka dituduh berzina, makanya mau tidak mau Hamish harus menikahi wanita itu." Salma berusaha menjelaskan dengan singkat dan detil.

Raut wajah Aisy tampak sekali menggambarkan kekecewaan. Hamish merupakan calon suami yang dijodohkan oleh keluarganya sejak mereka kecil. Keluarga Hamish dan Aisy masih ada ikatan saudara. Sudah menjadi tradisi di sana untuk menikahkan anak-anak mereka dengan sepupunya, termasuk Hamish dan Aisy.

"Lalu, bagaimana dengan perjodohan kami?" tanya Aisy dengan raut sedih.

Salma memeluk Aisy. "Kamu jangan khawatir, Hamish hanya menikahinya selama kontrak. Selepas piala dunia berakhir, wanita itu akan kembali ke negaranya."

"Kak Hamish ...." rengek Aisy.

"Apa yang ibuku katakan itu benar," kata Hamish.

Giliran Paula yang hatinya seakan terasa remuk di sana. Keberadaannya sama sekali tidak dianggap. Namun, ia mencoba untuk tidak peduli. Ia meyakinkan diri sendiri bahwa tujuannya ke Qatar hanya untuk bertemu Paulo Dybala, bukan menangis-nangis karena cinta.

Menjelang sore, mereka bersiap berangkat ke stadion beramai-ramai. Karena personil yang cukup banyak, mereka menaiki tiga mobil yang dikemudikan oleh masing-masing sopir.

Mobil pertama dinaiki Paula dan Hamish, mobil kedua dinaiki Najma dan Aisy, serta mobil ketiga dinaiki oleh Salma dan Faruq.

Sesampainya di parkiran dekat stadion, mereka harus keluar mobil dan melanjutkan berjalan kaki sekitar 30 menit menuju stadion.

Aisy terlihat terus mencari kesempatan untuk berjalan di sebelah Hamish. Paula yang sadar diri telah mengganggu mereka memilih mundur dan berjalan bersebelahan dengan Najma. Adik Hamish yang satu itu terlihat sangat pendiam.

"Bagaimana dengan usaha Kak Hamish yang baru? Aku dengar Kakak baru saja membeli saham perusahaan gas XXX?" tanya Aisy.

"Sejauh ini masih berjalan dengan baik."

"Ayah selalu memuji-muji Kak Hamish, katanya sangat hebat dalam membaca peluang bisnis," puji Aisy.

"Aku tidak sehebat itu." Hamish merendah.

Hamish mengajak seluruh anggota keluarganya menuju pintu masuk VVIP. Mereka dipandu oleh dua orang panitia menuju ruangan yang secara khusus telah Hamish sewa untuk keluarganya.

Paula hanya bisa tercengang saat menyaksikan sederetan fasilitas mewah yang menanti lewat akses khusus penonton VVIP.

Di ruangan itu terdapat bangku penonton yang mengarah langsung ke tengah lapangan yang dibatasi oleh sekat kaca tebal. Mereka bisa menonton dengan tenang tanpa kebisingan dari luar.

Di sana juga disediakan kamar tidur, toilet, serta aneka makanan yang dimasakkan langsung oleh koki khusus. Mereka bisa memesan makanan apa saja kepada sang koki.

"Yo! Akhirnya aku menemukan kalian di sini!" seru seorang lelaki muda yang baru saja datang.

"Hai, Hamish, terima kasih undangannya," kata Harun seraya mengerlingkan mata genitnya.

Hamish terlihat malas meladeni sepupu yang ia anggap gila itu. Ia bahkan tak merasa mengundannya. Hamish hanya menjawab ia akan perhi ke stadion, bukan mengajak sepupunya itu.

"Aisy, kamu menempel terus ke Si Bodoh Hamish! Kamu kira kamu perangko?" sindir Harun.

"Apaan sih, nggak jelas!" gerutu Aisy.

"Najma, ngapain anak kecil datang ke sini? Tugas sekolah sudah kamu selesaikan belum?"

Najma memilih membuang muka dari pada mengurusi sepupunya yang suka membuat ramai itu.

"Hai, Paman, Bibi ... terima kasih sudah mengundang." tak lupa Harun memberikan salamnya.

Terpopuler

Comments

Zubaidah Dahlan

Zubaidah Dahlan

aduhh sabar sajala la paula

2023-05-08

0

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

sabar Pau..sabar... nanti ada saatnya semua akan menjadi indah 😌

2023-02-22

0

Lie Hia

Lie Hia

wah Paula bisa nonton pertandingan dgn gretong yaaaa...hanya dgn semalam, wah impian tercapai nih

2023-02-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!