Bab 16: Volunteer Piala Dunia

"Maaf, ya. Tempatku berantakan. Duduklah!"

Riska mengajak Paula masuk ke dalam apartemen tipe studio miliknya. Meskipun tidak terlalu luas, namun cukup untuk tinggal sendiri maupun berdua. Kamar mandi, dapur, serta ruang tamu sederhana juga tersedia di dalamnya.

"Kamu masih kuliah tapi bisa tinggal di tempat yang bagus seperti ini," gumam Paula. Tempat itu bahkan jauh lebih bagus dibandingkan penginapannya waktu itu.

Riska menaruh tasnya di atas meja dan melepaskan aksesoris yang menempel di badannya. "Aku sambil kerja juga di sini. Dan untuk mahasiswa, memang ada bantuan untuk biaya hidup termasuk tempat tinggal."

"Kamu kerja apa?" tanya Paula.

"Serabutan sih, apa saja aku lakukan asalkan halal ... Kalau sekarang, aku sedang jadi volunteer piala dunia. Membantu orang-orang berkebutuhan khusus yang ingin menonton di stadion."

"Jadi, kamu ada di acara tadi karena jadi volunteer?"

Riska mengangguk. Ia menuju dapur kecilnya mengambil dua bungkus mie instan lalu memasaknya.

"Jadi, niatnya kamu mau apa sekarang? Kalau ingin pulang ke tanah air, nanti aku bantu ke kedutaan besar. Bilang saja kamu kerampokan supaya urusannya lebih mudah," ujar Riska.

Paula terdiam sejenak. Kalau ia kembali ke rumah itu, Hamish pasti akan menahannya agar tidak pergi. Sementara, Aisy dan Salma jelas-jelas tak menginginkan keberadaannya.

"Kalau boleh, biarkan aku menumpang di sini selama piala dunia. Aku bisa membantumu mengurus tempat ini. Atau kalau disuruh bekerja bersamamu, aku juga mau. Pokoknya aku tidak mau kembali ke rumah itu," kata Paula.

"Bagaimana kalau kamu ikut jadi volunteer sepertiku?" usul Riska.

"Memangnya bisa? Aku tidak punya identitas apa-apa."

"Benar juga, ya!" Riska jadi ikut bingung. Ia membawa dua mangkok mie yang baru saja di buatnya ke tempat Paula duduk. "Atau kamu bisa menggantikan temanku! Dia juga jadi volunteer, tapi sedang sakit. Kamu pakai saja identitasnya. Aku juga disuruh mencari orang untuk menggantinya."

"Kalau bisa seperti itu, aku mau," kata Paula. Ia sangat senang bisa mendapatkan kesempatan terlibat dalam piala dunia. Apalagi ia akan bertugas di stadion, meskipun sudah tak punya uang, ia bisa tetap punya kesempatan ikut menonton piala dunia.

"Oke, besok aku ajak kamu kerja, ya! Sekarang kita makan dulu."

***

Sore hari Paula pergi bersama Riska menuju ke stadion. Mereka mengenakan seragam dan rompi yang menunjukkan bahwa mereka menjadi volunteer. Paula mengenakan kalung identitas milik teman Riska yang bernama Erna Listy.

"Nanti pintu masuk untuk para penyandang disabilitas ada di sebelah sini. Selain disabilitas, lansia juga diperkenankan masuk lewat tempat ini."

"Oh, oke." Paula mendengarkan baik-baik penjelasan yang Riska berikan.

"Kamu sudah membaca aturan-aturannya, kan? Pokoknya kalau melihat atribut kelompok tertentu, suruh mereka menanggalkannya sebelum masuk stadion. Kalau tidak mau, jangam biarkan merek masuk," kata Riska.

"Ya, aku paham."

Paula mengembangkan senyum di depan pintu masuk stadion bagi penyandang disabilitas. Ia turut membantu para penonton memasuki stadion. Jika ada penonton yang cidera kaki atau lumpuh, ada kursi roda yang disediakan khusus untuk mereka.

Kebanyakan penonton merupakan warga asing dari Benua Eropa dan Amerika. Kemampuan Bahasa Inggrisnya yang lumayan cukup membantu dalam melaksanakan pekerjaannya.

"Apa kamu lelah?" tanya Riska sembari menyodorkan sebotol air mineral kepada Paula.

"Tidak, ini sangat menyenangkan. Aku berterima kasih padamu telah memberiku kesempatan merasakan pengalaman seperti ini," ucap Paula dengan rasa takjubnya.

Bisa masuk stadion karena memiliki tiket merupakan pengalaman yang membanggakan. Namun, terlibat langsung sebagai volunter piala dunia, membantu orang lain, merupakan pengalaman yang sangat luar biasa baginya. Ia akan mengingatnya sebagai salah satu kenangan tak terlupakan di Doha.

"Oh, iya. Setelah ini, kamu cek ke bagian kran-kran air minum yang ada di depan, ya. Jangan lupa mengingatkan pengunjung agar mematuhi aturan," pinta Riska.

"Ya di sini bagaimana?" tanya Paula.

"Biar digantikan dengan yang lain. Kalau sudah selesai, langsung kembali ke dalam, ya! Kita bertemu di sana lagi nanti," kata Riska.

"Oke!"

Paula dan Riska berpisah. Paula mengecek kondisi di luar stadion sementara Riska mengecek kondisi di dalam stadion.

Paula mulai memeriksa kran-kran air minum di sana. Ia mematikan kran yang tetap mengalir padahal tak ada yang memakainya. Memang susah membuat setiap orang punya kesadaran akan hal itu.

"Excuse me, Sir. You can smoke there," kata Paula kepada salah satu pengunjung yang dengan santainya merokok di area terbuka. Padahal, di sana sudah disediakan ruangan khusus untuk para perokok agar asapnya tidak kemana-mana.

Beruntungnya lelaki bertubuh kekar itu mau menurut. Paula sempat takut kalau orang yang ditegurnya akan memarahinya balik dan membantingnya. Ia bisa mengalami patah tulang.

"Excuse me, Mam, please, pick up your trash!"

Paula menasehati seorang ibu-ibu yang membuang sampah sembarangan. Kali ini ia harus berlapang dada karena orang yang ditegur tidak terima.

Paula melanjutkan berkeliling, beberapa pengunjung sempat menghampirinya untuk bertanya dan ia jawab dengan ramah. Saat mendatangi suatu sudut di dekat pintu masuk kelas VVIP, tanpa sengaja ia melihat Hamish datang bersama keluarganya dan Aisy.

Entah mengapa hatinya terasa sesak. Kelihatannya mereka bisa tersenyum-senyum bahagia padahal dirinya tidak ada. Hamish bahkan seperti tak. Berusaha mencarinya.

Paula kembali ke ruangan di dalam stadion. Di sana ia mendengarkan briefing yang dilakuka. Oleh ketua tim. Ternyata warga negara yang menjadi volunteer bukan hanya dia dia dan Riska. Ada tiga wanita muda lainnya yang juga berasal dari negara yang sama dengannya. Mereka juga mahasiswa sama dengan Paula.

Bisa memakai bahasa sendiri membuat Paula merasa seperti di tanah air sendiri. Perasaannya sedikit membaik saat dihabiskan dengan canda tawa bersama mereka.

Sebagai seorang volunteer, ia berkesempatan ikut menyaksikan pertandingan bola di ruangan khusus sembari menikmati makanan gratis yang disediakan.

"Aku sama sekali tidak paham kenapa orang-orang sangat suka bola," ujar Riska.

Paula tersenyum. "Mungkin kamu belum mencoba mengenal olahraga ini saja. Permainan sepak bola itu menyenangkan, membuat penontonnya ikut tegang."

Riska menggeleng. "Kalau soal Drama Korea aku cukup paham. Tapi, kalau soal bola aku nol besar. Memangnya kamu suka bola?"

"Iya, aku suka bola sejak SMA."

"Siapa idolamu?"

"Paulo Dybala, dari Argentina."

"Oh, yang kemarin kalah itu, ya?"

Paula cukup terkena mental karena memang Argentina kalah di pertandingan pertamanya. "Meskipun sempat kalah, aku yakin nanti bisa masuk final dan jadi juara," kata Paula dengan mantap.

"Memangnya bisa main lagi? Aku kira kalau kalah langsung disuruh pulang," ujar Riska.

Paula hanya tersenyum-senyum. Susah memang untuk berbicara dengan orang yang sama sekali tak menyukai bola.

Terpopuler

Comments

Zubaidah Dahlan

Zubaidah Dahlan

kenapa hamish tidak mencari isterinya... sungguh kejam

2023-05-08

0

Nuris Wahyuni

Nuris Wahyuni

apa hamist gak nyari Paula ya ,apa bisa JD hamist dpt hasutan aisy🤔🤔

2023-04-08

0

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ

ya mungkin begitu lebih baik untuk Pau...meski belum ada kata pisah ya

2023-02-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!