"Mau pergi denganku?" tanya Hamish.
"Kenapa?" tanya Paula. Ia baru saja selesai menyisir rambut usai mandi.
"Ikut saja, nanti kamu akan tahu!" ucap Hamish.
Paula segera memakai abaya dan jilbabnya dengan cepat tanpa melepaskan kaos yang dikenakannya.
Hamish menarik tangan Paula agar ikut dengannya. Ia melihat ke sekeliling, rumahnya sedang sepi. Siang hari memang biasanya orang rumah tidur siang. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi ke luar bersama Paula.
Kali ini ia menggunakan mobil Ferrari merah yang terparkir di garasi. "Pakai sabuk pengamannya," ucap Hamish.
"Oke!"
Saat Paula tengah sibuk memasangkan sabuk pengamannya, Hamish mengeluarkan dua lembar tiket pertandingan bola.
Mata Paula melebar saking senangnya melihat tiket pertandingan itu. "Oh, itu tiket Argentina Vs Saudi Arabia, kan?" gumamnya senang. Apalagi yang Hamish berikan merupakan tiket kelas VIP.
"Seharusnya kita memberi tahu Harun juga, dia suka Argentina sama sepertiku," kata Paula dengan semangat.
"Jangan sebut nama lelaki lain. Aku tidak menyukainya," protes Hamish.
Senyuman Paula berubah kikuk. "Oh, maafkan aku," ucapnya.
Pertandingan segera dimulai. Para pemain dari kedua negara memasuki lapangan untuk saling berhadapan. Paula sibuk mencari-cari pemain kesayangannya, Paulo Dybala.
"Dia tidak ikut main hari ini," kata Hamish yang seakan bisa membaca pikiran Paula.
"Hah, apa? Paulo tidak diturunkan?" tanya Paula terkejut. Idolanya merupakan salah satu pemain terbaik yang Argentina miliki. Ia mengarahkan pandangan ke layar yang menyorot bangku cadangan. Paulo juga tidak ada di sana.
"Mungkin pelatih belum mau menurunkannya di pertandingan pertama. Kamu tahu sendiri kan, dia belum lama mengalami cedera."
"Ah, iya. Kamu benar juga."
Paula terlihat sedikit kecewa. Ia sengaja datang jauh-jauh ke Qatar hanya untuk melihat idolanya bermain. Ternyata, Paulo tidak diturunkan di laga pertama pertandingan melawan Saudi Arabia.
Hamish menyentuh tangan Paula dan menggenggamnya. "Mungkin di laga selanjutnya dia akan main, jangan sedih begitu," hiburnya.
Paula mengembangkan senyum dan menganggukkan kepala.
Keduanya menikmati jalannya pertandingan yang berlangsung sangat seru. Kedua tim mengeluarkan pemampilan terbaiknya. Tanpa diduga, Saudi Arabia mampu menumbangkan Argentina dengan skor 2-1. Tidak ada yang menyangka Argentina akan kalah di laga pertama mereka.
Paula langsung merasa lemas. Ia takut Argentina akan tersingkir lebih dulu dari event piala dunia Qatar.
"Ini luar biasa Saudi Arabia bisa menang melawan Argentina. Tapi, kedua tim memang kuat," kata Hamish.
"Iya. Kenapa Argentina bisa kalah? Ini tidak bisa dipercaya," gumam Paula.
"Aku tahu kamu sedang sedih. Bagaimana kalau kita jalan-jalan untuk menghilangkan kesedihanmu?"
Paula menyetujui ajakan Hamish. Mereka keluar dari area stadion dan berpindah menikmati pemandangan senja di gurun.
"Aku takjub dengan negara ini. Dari yang awalnya negara miskin bisa berubah menjadi negara terkaya di dunia. Bahkan bisa menjadikan tempat setandus ini untuk mengembangkan kehidupan," gumam Paula sembari menikmati hamparan gurun pasir yang begitu luas di hadapannya.
"Jadi, apa kamu menyukai negara ini?" tanya Hamish.
Tatapan mata mereka bertemu. Paula mengembangkan senyum saat ditanya tentang itu.
"Kalau untuk liburan, tempat ini memang menyenangkan. Tapi bukan untuk tempat tinggal," ujarnya.
Hamish mengernyitkan dahi, "Kenapa? Kehidupan di sini menurutku mudah. Sejak masih bayi, setiap penduduk sudah dijamin kehidupannya. Sekolah dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi gratis. Setelah lulus dijamin akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Saat menikah akan diberikan tempat tinggal secara gratis. Apa di tempatmu ada kebijakan semacam itu."
"Tidak ada, di negaraku tidak ada hal semacam itu. Tapi, jangan bandingan sebuah negara dengan 3 juta penduduk dengan 260 juta penduduk. Lagipula, kebijakan di negara ini hanya berlaku untuk penduduk asli, bukan pendatang sepertiku."
"Kalau kamu tetap bersamaku, hidupmu akan terjamin," ucap Hamish.
Paula terdiam. Perlakuan semena-mena yang Salma berikan kepadanya tak bisa dilupakan. Memang Hamish sangat kaya, namun jika harus tinggal bersama mertua dengan watak seperti itu, ia rasa tidak akan kuat. Apalagi dengan banyaknya perbedaan budaya di antara mereka.
"Kenapa kamu lebih bisa tertawa bersama Harun dibandingkan denganku. Apa aku buka. Tipe lelaki yang menyenangkan?"
"Apa?" tanya Paula heran. Ia tidak menyangka jika Hamish memiliki pikiran semacam itu.
"Kamu bisa langsung berbicara dan tertawa dengan Harun yang baru kamu kenal. Sementara denganku, aku seperti punya beban mental," keluh Hamish. Ia terlihat seperti cemburu saat mengatakannya.
"Ah, bagaimana kamu bisa berkata seperti itu? Bukankah hal wajar kalau kita harus ramah kepada orang lain? Waktu itu hanya Harun yang mau mengajakku bicara," kilah Paula.
Saat itu, Hamish kelihatan sibuk dengan Aisy. Begitu pula dengan keluarga Hamish, tak ada yang mengajaknya bicara. Hanya Harun yang bersikap ramah dan mau menemaninya bicara.
Hamish terdiam. Waktu itu ia bukannya tidak mau berdekatan dengan Paula. Ia hanya bingung bagaimana cara menjauh dari Aisy, apalagi ibunya terus berusaha mendekatkan mereka.
"Lain kali jangan berbicara berdua saja dengannya. Kalau butuh teman bicara, bicaralah bersamaku," ucap Hamish.
"Tapi, dia kan sepupumu," ujar Paula.
Hamish melepaskan keffiyeh di kepalanya. Ia melebarkan benda itu lalu menutupkan ke kepala dirinya dan Paula. Di dalam selubung keffiyeh milihnya, ia mencium bibir Paula seolah ingin menegaskan bahwa wanita itu adalah miliknya.
Paula tertegun saat Hamish memagut bibirnya dengan lembut. Lelaki itu sungguh berani melakukan hal semacam itu di tempat umum.
"Aku sungguh ingin menjadikanmu sebagai istriku, aku telah jatuh cinta padamu," ucapnya tegas.
Angin gurun yang berhembus menerpa keffiyeh yang menutupi wajah mereka. Keduanya saling bertukar pandang. Jantung Paula masih berdegup kencang. Tidak disangka jika lelaki itu begitu terbuka untuk menyatakan perasaannya.
"Kamu tahu, kita belum saling lama mengenal. Pernikahan itu juga terjadi karena kebetulan."
"Aku tahu. Tapi, mungkin itu adalah takdir. Baru pertama aku merasa jatuh cinta yaitu kepadamu, Paula."
"Keluargamu tidak bisa menerimaku dan mereka telah menjodohkanmu."
"Mari kita buat mereka menerimamu dan aku juga akan menolak perjodohan itu. Memang, aku pernah bilang akan memberimu waktu untuk menjawab ini. Tapi, aku tidak sabar mendengarnya jika kamu mau menjadi istriku selamanya."
Ada banyak hal yang Paula pertimbangkan sebelum menjawab pertanyaan Hamish. Ia merasa tak bisa tinggal di sana. Ia lebih menyukai tanah kelahirannya. Apalagi memiliki mertua yang kejam padanya, ia lebih baik hidup sendiri dari pada menikah.
"Apa aku sama sekali tak membuatmu tertarik?" tanya Hamish. "Apa aku kalah jauh dibandingkan Paulo Dybala?"
Paula tertawa mendengarnya. "Tidak juga. Aku akui kamu termasuk lelaki tampan yang terlahir ke dunia."
"Kalau begitu, jatuh cintalah padaku," paksa Hamish.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Zubaidah Dahlan
lagi.. teruskan cerita ta.. bagus
2023-05-08
0
Imel N Dri Dri
ceritanya bagus, sayang yang ngelike nya dikit 😅
2023-02-26
0
Xyezon
diiihhh tuan pemaksa tp aku suka gayamu hamish
2023-02-23
0