Sejak kedatangan Lien Hua pada saat itu, Guan Lin mulai merubah sikapnya sedikit demi sedikit, dan Lien Hua pun semakin sering berkunjung untuk sekedar mengobrol sesaat dengan Guan lin.
Seperti saat ini, Guan Lin dan Lin Hua sedang terlibat dalam percakapan sehari-hari.
"Emm... nona Lien, kau tau?! di akademi pedang dan sihir tempat kami menuntut ilmu, itu sebelumnya kami di haruskan untuk mengikuti kelas etika," Guan Lin memperhatikan ekspresi Lien Hua untuk sesaat, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Semua siswa di akademi di ajari tentang cara beretika dengan baik. Seperti misalnya, jika seseorang sedang mengajak kita berbicara, maka kita yang di ajak bicara harus menatap mata orang yang sedang berbicara kepada kita," terang Guan Lin. Terdengar seperti seorang murid teladan, padahal Guan Lin hanya mengikuti kelas etika beberapa kali saja.
"Mn, aku tau," ucap Lien Hua.
"Lalu? kenapa setiap aku berbicara dengan mu.... kau tidak pernah menatap mataku?" tanya Guan Lin heran.
"Maaf," cicit Lien Hua.
"Tidak masalah, aku hanya sekedar mengingatkan mu," ucap Guan Lin ringan.
"Apa kau merasa tidak nyaman?" kembali Guan Lin bertanya pada Lien Hua karena melihat gadis di sampingnya itu seperti sedang gelisah.
"Aku tidak bisa melihat," suara Lien Hua sangat lirih, namun masih bisa terdengar oleh Guan Lin.
"Maksud mu?" Tanya Guan Lin dengan ekspresi terkejut.
"Sebenarnya, dari awal aku terlahir ke dunia dengan kondisi mata seperti ini, aku tidak bisa melihat apapun," ucap Lien Hua, masih dengan nada lirih.
"Maaf, aku sama sekali tidak tau," Guan Lin pun merasa tidak enak hati karena sudah membuat Lien Hua bersedih.
"Tidak masalah, aku sudah terbiasa," ucap Lien Hua. "Dan jangan pernah mengasihani ku!" kembali Lien Hua berucap.
"Tentu saja tidak, aku justru merasa kagum padamu. kau tau?! aku bahkan tidak tau jika kau tidak bisa melihat jika bukan kau yang mengatakannya sendiri," puji Guan Lin.
"Terima kasih, sepertinya aku harus kembali sekarang," Lien Hua pun berpamitan pada Guan Lin.
"Baiklah, terima kasih juga karena kau telah menemaniku di saat aku hanya menjalankan kehidupan seorang diri di gunung ini," balas Guan Lin.
"Sampai jumpa," ucap Lien Hua.
Seperti biasa, gadis bermata hijau itu mengeluarkan akar-akar andalannya untuk menemani perjalanannya.
"Kembalilah lagi kesini," teriak Guan Lin saat melihat Lien Hua mulai berayun dari pohon satu ke pohon lainnya.
"Pasti," Lien Hua balas berteriak pada Guan Lin.
"Karena kau adalah satu-satunya temanku!" batin Lien Hua.
***
Dua tahun sudah Ming Shu menjalankan hukumannya di atas gunung, sesuai dengan yang di perintahkan oleh sang ketua akademi pedang dan sihir.
Kini Ming Shu akan kembali ke akademi karena ia telah menguasai sihir api dengan baik, Ming Shu juga berhasil mempelajari kitab yang ia pelajari tentang jurus pengendalian api.
"Akhirnya, aku bisa kembali ke akademi, bagaimana dengan bocah nakal itu ya, apa dia juga akan kembali ke akademi?" kini Ming Shu mulai merindukan sosok Guan Lin, bocah nakal yang selalu mengganggunya.
"Kurasa kehadiran bocah nakal itu tidaklah terlalu buruk, menjalankan kehidupan seorang diri pun ternyata tidak seindah yang kubayangkan," batin Ming Shu.
Sebelum Ming Shu kembali ke akademi, ia terlebih dahulu melihat-lihat seputaran gunung yang selama dua tahun ini telah menjadi tempat tinggalnya.
Saat Ming Shu berjalan ke arah Utara, Ming Shu melihat sekumpulan serigala turun dari bukit dan ada juga yang baru naik bukit, entah mengapa Ming Shu merasa ada yang janggal melihat kawanan serigala yang selalu naik turun bukit itu.
Karena rasa penasarannya sangatlah mendominasi, Ming Shu pun memutuskan untuk turun gunung dan akan naik ke atas bukit itu untuk melihat-lihat.
Ming Shu mengikuti jejak kawanan serigala yang ternyata mengarah kedalam sebuah hutan yang terletak di bawah bukit.
Dengan sangat berhati-hati Ming Shu memasuki hutan itu sendirian, dan betapa terkejutnya Ming Shu saat melihat pemandangan di dalam hutan itu.
Ming Shu merasakan mual yang sangat luar biasa saat melihat sekumpulan serigala itu sedang mencabik-cabik tubuh manusia dengan gigi taring tajamnya, sekuat tenaga Ming Shu menahan rasa mual nya agar tidak memuntahkan isi perutnya.
Melihat dari pakaiannya, Ming Shu yakin bahwa mayat yang sedang di perebutkan oleh sekumpulan serigala itu adalah mayat seorang wanita.
Ming Shu bergidik ngeri saat melihat kawanan serigala itu berhasil membuat mayat itu menjadi beberapa bagian, ada yang mendapatkan bagian kakinya, ada yang mendapatkan bagian lengannya dan ada juga yang dengan sadisnya salah satu serigala itu mencakar bagian perutnya sampai organ dalam si mayat berhamburan keluar dari dalam perut si mayat.
Dengan lahap serigala itu memakan organ dalam si mayat sampai habis tanpa tersisa, kemudian kembali serigala itu menajamkan cakarnya dan mulai mencabik organ tubuh lainnya.
Ming Shu merasa sudah tidak sanggup lagi menahan mual jika terus melihat aksi dari kawanan serigala itu, ia pun mengalihkan pandangannya ke samping dan menemukan banyaknya sobekan dari potongan kain yang warnanya sudah bercampur tanah.
Bahkan Ming Shu juga melihat ada beberapa aksesoris wanita seperti kalung ikat rambut dan aksesoris lainnya, perasaan Ming Shu menjadi tidak enak.
Ming Shu segera berbalik arah dan berjalan kembali naik ke atas gunung.
"Pantas saja banyak kawanan serigala yang naik turun bukit itu, ternyata di dalam hutan sana sudah tersedia mayat yang siap santap," batin Ming Shu.
"Kira-kira mayat-mayat itu dari mana ya? huh... sepertinya aku harus segera melapor pada ketua." monolog Ming Shu dalam hati.
Setelah sampai di atas gunung, Ming Shu beristirahat sejenak sambil bersandar pada batang kayu yang berdiri kokoh untuk menjadi tumpuan rumah sederhana yang Ming Shu tempati.
Karena hari sudah mulai gelap Ming Shu pun mulai menumpuk kayu untuk membuat perapian, setelah merasa cukup kini Ming Shu akan berburu ayan hutan atau kelinci untuk dia panggang dan menjadikannya santapan malam.
Malam ini Ming Shu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, saat Ming Shu memejamkan mata, maka bayangan para serigala mencabik-cabik mayat seorang wanita di dalam hutan sana kembali terlintas dalam benaknya.
Pada akhirnya Ming Shu lebih memilih untuk berlatih sampai ia merasa kelelahan, dengan begitu barulah Ming Shu bisa memejamkan matanya dengan perlahan.
Ming Shu pun kini tidur dengan berselimutkan langit malam yang di penuhi bintang, suasana di atas pegunungan pada malam hari sangatlah sunyi. Dan angin yang berhembus pun semakin kencang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
🔴ᴳᴿ🐅⍣⃝ꉣꉣ𝕬ⁿᶦᵗᵃ🤎𓄂ˢᵐᴾ࿐
ngebayangin bikin merinding & mual apa lg yg melihat didepan mata mu sendiri y Mingshu, itu serigala berebutan makan mayat orang 🤢
2023-11-08
0
🔴ᴳᴿ🐅⍣⃝ꉣꉣ𝕬ⁿᶦᵗᵃ🤎𓄂ˢᵐᴾ࿐
gak Puy penglihatan pasti km mempunyai kelebihan yg lain y Lien Hua, yg gak bs dimiliki oleh manusia normal
2023-11-08
0
Alan Bumi
ayan = ayam
2023-10-18
0