Masih dengan setia tetua Ming Hao memberikan arahannya kepada Tian Zhi dan Ming Shu.
"Yang kesembilan. Tekuk siku dan posisikan di dekat tubuh, seperti ini!" tetua Ming Hao mempraktikkan langsung dan di ikuti oleh Guan Zhi dan Ming Shu.
"Yang kesepuluh. Lakukan serangan pertama."
"Kesebelas. Temukan dan pertahankan jarak berdasarkan keseimbangan dengan lawan."
"Kedua belas. Usahakan untuk selalu tenang dan percaya diri, karena itu adalah salah satu kunci dari kemenangan!"
"Ketiga belas. Temukan alur pertempuran dan cobalah untuk mengendalikannya ketika pertarungan dimulai!" tetua Ming Hao menghela nafas sejenak dan melanjutkan.
"Ingat, tekad yang kuat juga adalah salah satu kunci dari keberhasilan."
***
Tidak salah gelar jenius disematkan pada Tian Zhi dan Ming Shu, karena dari sekian banyak siswa yang belajar di akademi ini hanya mereka berdua yang selalu paling menonjol bakatnya dalam segala hal. Seperti saat ini, Tian Zhi dan Ming Shu melanjutkan latih tanding dengan sesuai arahan yang tetua Ming Hao berikan.
Keduanya nampak seimbang dalam melakukan serangan maupun bertahan. Sudah beberapa gerakan yang mereka gunakan namun masih saja belum ada tanda-tanda akan adanya kekalahan, keduanya hampir seimbang. Terkadang Ming Shu di buat terpojok oleh serangan yang Tian Zhi berikan namun kemudian Ming Shu mampu membalik keadaan menjadi Tian Zhi yang harus berada di posisi bertahan.
Semua orang yang menyaksikan latih tanding antara Tian Zhi dan Ming Shu begitu kagum. Melihat gerakan Tian Zhi yang luwes seperti sedang menari dengan pedangnya namun menjadi serangan yang mematikan.
Sementara gerakan Ming Shu yang tampak sangat brutal namun dengan tempo yang pas, bisa dilihat bahwa Ming Shu mempunyai semangat yang berapi-api.
Ketua Guan Lao yang kebetulan lewat pun ikut menyaksikan pertarungan dua anak didiknya merasa bangga, ketua Guan Lao senang karena kedua anak dari teman baiknya mempunyai bakat yang luar biasa. Ketua Guan Lao mengedarkan pandangannya ke sekitar setelah teringat dengan anak semata wayangnya.
"Di mana Lin'er? haishh... bocah itu."
Ketua Guan Lao pun berjalan ke belakang akademi hendak mencari anak satu-satunya yang ketua Guan Lao yakini saat ini pasti anaknya itu sedang bermain-main di dalam hutan.
***
"Lin'er," sapa ketua Guan Lao pada anaknya.
"Ayah. Lihat, kelinci ini sangat menggemaskan!" Guan Lin memangku kelinci itu dan membawanya duduk didekat sang ayah.
"Lin'er kenapa tidak ikut berlatih, bukankah ini masih jam pembelajaran?" ketua Guan Lao menegur anak kesayangannya itu dengan lembut.
"Ayah, Guan Lin tidak mau menggunakan pedang, pedang itu tajam."
"Nak, dengarkan ayah, penting bagi kita bisa menguasai gerakan pedang. Suatu saat nanti jika perang besar terjadi, setidaknya kau bisa menggunakan pedangmu untuk melindungi diri sendiri. Ayah sudah mulai tua, tidak akan selalu bisa melindungi Lin'er."
"Tapi ayah, bukankah saat ini dunia kita sudah aman dan damai, kenapa masih akan ada perang lagi?" tanya Guan Lin dengan wajah polosnya.
Bukan tanpa alasan ketua Guan Lao mengkhawatirkan akan datangnya masa perang itu kembali. Sudah beberapa kali dalam beberapa tahun belakangan ini ketua Guan Lao mendapat kabar bahwa seringnya terjadi pembantaian di perbatasan beberapa desa terpencil yang jauh dari pengawasan ibu kota, sudah menjadi korban pembantaian dalam tempo serangan satu malam bersih tanpa tersisa tanda-tanda kehidupan.
Ketua Guan Lao menarik nafas berat mengingat semua berita mengenaskan itu.
"Lin'er dunia ini tidaklah pernah benar-benar damai, dalam kehidupan ini selalu saja ada pertikaian yang terjadi besar ataupun kecil. Maka dari itu kita harus selalu waspada, siapa yang tau dunia yang kita rasa damai selama ini menyimpan suatu gejolak yang bisa meledak kapan saja."
"Guan Lin mengerti ayah, mulai sekarang ayah tidak perlu mengkhawatirkan Guan Lin, Guan Lin bisa menjaga diri sendiri bahkan Guan Lin akan berusaha untuk melindungi ayah, ibu dan juga semua orang yang Guan Lin sayangi. Guan Lin akan belajar menjadi lebih kuat supaya Guan Lin bisa menjadi sang pahlawan seperti yang selalu ibu ceritakan," dengan niat dan penuh tekad Guan Lin berucap dengan sungguh-sungguh.
Ketua Guan Lao tersenyum sekaligus terharu mendengar perkataan anak kesayangannya. Ketua Guan Lao memegang kedua tangan Guan Lin dan menggenggamnya seraya berkata. "Ayah bangga pada mu Lin'er, ayah akan selalu mendukungmu. Ingat itu!"
Sebuah akar menjalar tiba-tiba langsung melilit ketua Guan Lao, akar itu menarik ketua Guan Lao dan sukses membuat ketua Guan Lao jatuh terduduk dengan sangat tidak elegan.
"Oh, jadi kalian berdua disini?! dan apa tadi yang kau katakan, akan selalu mendukungnya? mendukung meskipun dia bolos kelas pedang?!"
Yah, siapa lagi yang telah dengan beraninya menyerang sang ketua agung akademi di akademinya sendiri. Kecuali tetua Nuwa sang istri tercinta, seorang master sihir pengendali alam. Tetua Nuwa bisa mengendalikan beberapa elemen yang berhubungan dengan alam salah satunya elemen kayu, namun meski begitu sihirnya tidak lah sekuat sihir yang mengendalikan hanya satu elemen saja.
Meskipun kekuatan ketua Guan Lao di atas tetua Nuwa, namun ketua Guan Lao tidak pernah berniat untuk membalas serangan tetua Nuwa, seorang ketua agung akademi yang gagah perkasa sudah seperti harimau tanpa taring saja jika berhadapan dengan sang istri.
"Ibu, lepaskan ayah, kasihan ayah ibu." rengek Guan Lin pada sang ibu sambil menarik-narik jubah yang tetua Nuwa kenakan, Guan Lin tidak tega melihat wajah tanpa daya sang ayah, sudah seperti ayam jantan yang masuk perangkap dan menunggu untuk di sembelih. Beruntung semua orang masih sibuk dengan aktifitas masing-masing, sehingga kondisi sang ayah yang memprihatinkan tidak di saksikan orang lain.
Tetua Nuwa pun menarik kembali sihirnya karena merasa sudah terlalu berlebihan pada sang suami, namun tetua Nuwa masih memasang wajah masam, tentu saja karena tetua Nuwa masih merasa kesal pada ulah sang suami yang selalu memanjakan anak mereka. Dan mendengar pernyataan bahwa suaminya akan selalu mendukung anak kesayangannya seketika darah tetua Nuwa langsung mendidih, beruntung tetua Nuwa hanya mengeluarkan sihir kayu dan bukan sihir api.
"Ibu, mari kita pulang, besok Guan Lin akan masuk kelas sihir!" Guan Lin menggenggam salah satu tangan sang ibu dengan tangan kanannya, kemudian Guan Lin mengulurkan tangan kirinya yang langsung di sambut oleh sang ayah. "Ayah, tidak apa-apakan?" tanya Guan Lin memberi perhatian pada sang ayah.
"Ayah baik-baik saja nak!" Ketua Guan Lao melirik pada tetua Nuwa dan berkata.
"Kau dengar, akhirnya lin'er kita mau belajar. Bukankah aku sebagai ayahnya yang baik dan bijaksana harus mendukungnya?!" Guan Lao berkata sambil me naik turunkan alisnya menggoda tetua Nuwa.
Senyum pun akhirnya terbit di bibir tetua Nuwa dan menghiasi wajah cantiknya. "Benarkah lin'er besok akan masuk kelas sihir?" tanya tetua Nuwa pada Guan Lin memastikan.
"Mn. tentu saja, sekarang mari kita pulang!"
Guan Lin pun berjalan sambil bergandengan tangan dengan kedua orang tuanya, senyum bahagia terlukis di wajah Guan Lin, tetua Nuwa dan ketua Guan Lao, sungguh indah melihat pemandangan keluarga kecil yang harmonis.
.........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
༅⃟🥂ALINA_12࿐✅
Totok saja, terus lempar ke kolam ikan hahaha
2023-10-30
0
༅⃟🥂ALINA_12࿐✅
Lawan istri sendiri, auto ngalah dong ya hahaha kalo ga ngalah ga ada jatah 😅🤣🤣🤣
2023-10-30
0
༅⃟⚜️🅺🅴🅸ʷᵃʳᵃˢ✅
Saling bergandengan tangan, hati" nyeberangnya
2023-10-07
2