Saat ini Guan Lin sedang asyik memanggang ayam hutan yang tadi sore ia tangkap untuk menu makan malamnya, sambil bersiul-siul Guan Lin mem bolak balik ayam yang sedang ia panggang.
Guan Lin menengadahkan kepalanya ke atas melihat pemandangan langit yang kini sangatlah indah, begitu banyaknya bintang yang bertaburan di langit menemani sang rembulan yang hanya sendirian.
"Huh, indah sekali pemandangan langit malam ini," gumam Guan Lin.
"Besok guru pembimbing akan datang kesini, apakah aku akan ikut kembali ke akademi?" tanya Guan Lin dalam hati.
Sudah beberapa hari ini Guan Lin selalu bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ia akan kembali ke akademi atau tetap tinggal di gunung ini.
"Tapi aku mulai nyaman tinggal di sini, di sini begitu tenang dan Lien Hua juga sering datang untuk menemaniku akhir-akhir ini," monolog Guan Lin dalam hati.
Saat Guan Lin masih larut dalam lamunannya, tiba-tiba seekor kera datang menghampiri Guan Lin tanpa di sadari oleh Guan Lin.
Dan saat Guan Li lengah, dengan gerakan yang sangat cepat kera itu berhasil merebut ayam yang sudah hampir matang dari tangan Guan Lin.
Guan Lin pun tersentak, Guan Lin melihat si kera itu berbalik dan segera melompati pohon satu ke pohon lainnya sambil menenteng ayam panggang yang sudah susah payah Guan Lin panggang.
"Oh tidak, kera nakal itu lagi!" geram Guan Lin.
Guan Lin begitu geram dengan kera nakal yang satu ini, kera itu selalu mengganggu ketenangan Guan Li. Selain itu kera itu juga sering mencuri makanan di saat Guan Li lengah.
"Apakah ini yang dinamakan karma?" batin Guan Lin.
"Kenapa di saat aku telah menjadi orang yang lebih baik, kenapa malah aku yang sering di kerjain oleh kera nakal itu?" ucap Guan Lin.
"Oh, sekarang aku tau perasaan mu Ming Shu. Kau pasti merasa kesal padaku, sama seperti aku sangat kesal dengan kera nakal itu!" desis Guan Lin.
Dan ternyata kera nakal yang merebut ayam panggang Guan Lin berhenti di salah satu dahan pohon yang tidak terlalu jauh dari Guan Lin berdiri, saat Guan Lin melihat ke arah kera nakal itu, kera nakal itu menjulurkan lidahnya pada Guan Lin seperti sedang mengejek.
Emosi Guan Lin pun kembali memuncak, Guan Lin langsung melompat ke atas pohon dan hendak melompat ke dahan pohon dimana kera nakal itu berada.
Namun sayang, dengan lincah kera nakal itu kembali melompat ke dahan pohon lainnya. Guan Lin pun tidak tinggal diam, Guan Lin terus mengejar kera nakal itu dengan cara yang sama, melompat dari dahan pohon satu ke dahan pohon lainnya.
Namun naasnya, saat Guan Lin akan melompat kembali ke dahan pohon yang ada di depannya, tidak sengaja kaki Guan Lin tergelincir dan Guan Lin pun hilang keseimbangan.
Guan Lin pun terjatuh dari atas pohon, namun badan Guan Lin tidak juga menyentuk tanah melainkan seperti sedang melayang di udara.
Si kera nakal yang melihat Guan Lin terjatuh, langsung menjatuhkan ayam panggang yang ia pegang. Kini kera nakal itu terduduk lesu di atas dahan pohon.
Di dalam lubuk hati kera nakal itu, kera nakal itu merasa bersalah karena telah membawa Guan Lin untuk main kejar-kejaran ke arah jurang yang tidak di ketahui seberapa dalamnya jurang itu.
***
Ming Shu begitu bersemangat saat melihat guru pembimbing yang datang untuk menjemputnya pulang ke akademi pedang dan sihir.
Selama dua tahun ini, guru pembimbing juga tinggal di bawah gunung untuk selalu mengontrol keadaan Ming Shu, sesekali ia akan datang untuk menanyakan kabar dan memberikan kebutuhan sehari-hari Ming Shu.
"Apa tuan muda Ming sudah siap?" tanya guru pembimbing.
"Yah, aku sudah tidak sabar untuk segera kembali," jawab Ming Shu.
"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai perjalanan!" ajak guru pembimbing.
Dalam perjalanan Ming Shu dan guru pembimbing melakukan percakapan ringan.
"Apa bocah nakal itu juga akan kembali hari ini?" tanya Ming Shu.
"Emm... apa maksud tuan muda Ming adalah tuan muda Guan?" guru pembimbing bertanya untuk memastikan.
"Tentu saja, selain dia siapa lagi yang pantas dengan sebutan bocah nakal," jawab Ming Shu sambil menyeringai.
Sepertinya sepulang dari tempat hukumannya Ming Shu mendapat sedikit perubahan, kini Ming Shu lebih sering tersenyum walaupun senyumannya seperti seringai yang agak menakutkan.
"Oh, kalau itu saya belum tau pasti, kabarnya tuan muda Guan juga telah menguasai sihir angin dengan baik, bahkan tuan muda Guan juga sudah menguasai beberapa gerakan pedang," jawab guru pembimbing.
"benarkah? ternyata bocah nakal itu hebat juga," puji Ming Shu.
"Mn, tapi saya dengar dari guru pembimbing yang mengawasi tuan muda Guan, katanya tuan muda Guan masih ragu untuk kembali ke akademi," terang guru pembimbing.
"Kenapa, apa dia tidak merasa kangen pada orang tuanya? ataukah dia sudah merasa nyaman tinggal di gunung itu?" kembali Ming Shu bertanya.
"Entahlah tuan muda Ming, saya juga kurang tahu pastinya," jawab guru pembimbing.
Saat di tengah perjalanan, tiba-tiba Ming Shu teringat akan peristiwa kemarin saat Ming Shu melihat sekumpulan serigala yang sedang memakan mayat seorang wanita.
"Gawat, sebaiknya kita melakukan perjalanan dengan cepat, ayo guru!" Ming Shu pun mengajak guru pembimbing untuk mempercepat perjalanan.
Guru pembimbing merasa heran dengan tingkah Ming Shu, sesaat sebelumnya Ming Shu terlihat begitu santai bahkan mengajaknya untuk mengobrol sambil melakukan perjalanan.
Namun kini Ming Shu terlihat gelisah, Ming Shu begitu terburu-buru dalam melangkahkan kakinya seolah ia ingin segera sampai di akademi.
Sebenarnya guru pembimbing ingin bertanya, namun ia urungkan saat melihat ekspresi Ming Shu yang berubah jauh lebih serius dari waktu ke waktu.
Ming Shu memang ingin segera tiba di akademi untuk melaporkan tentang penemuannya di dalam hutan yang terletak di bawah bukit tidak terlalu jauh dari gunung yang ia tempati, Ming Shu akan menceritakan apa yang telah Ming Shu saksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Guru pembimbing pun ikut menyeimbangi langkah Ming Shu, mereka melakukan setengah dari perjalanannya tanpa beristirahat.
Saat menjelang sore, akhirnya Ming Shu dan guru pembimbing pun tiba di gerbang akademi pedang dan sihir.
Tanpa menghiraukan sapaan dari beberapa siswa yang menyapa Ming Shu, Ming Shu terus melangkahkan kedua kakinya menuju aula ketua akademi.
"Salam Ketua." begitu sampai di depan aula ketua, Ming Shu langsung memberi salam pada ketua Guan Lao yang kini sedang berdiri di depan aula.
"Shu'er telah kembali," ketua Guan Lao begitu senang melihat Ming Shu kembali.
Untuk sesaat ketua Guan Lao memperhatikan Ming Shu dengan seksama.
"Bagus. Kau telah belajar dengan keras, selamat kau telah berhasil," ucap ketua Guan Lao.
"Terima kasih Ketua," balas Ming Shu.
"Ketua. Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan pada ketua, ini sangat serius!" ucap Ming Shu dengan wajah yang masih tegang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
🍌 ᷢ ͩ🤎ᴰᵉᵈᵉรωεεƭყˡᵉⁿ💋•§¢•
Eh kera nya bisa sedih juga... kira2 jatuh nya kemana ya itu.
2023-10-10
0
Ney Maniez🍒⃞⃟🦅
😲😲😲😲jatoh ke jurang,,, 🤦♀️🤦♀️
2023-09-11
1
Ney Maniez🍒⃞⃟🦅
😂😂ngerasa ya
2023-09-11
1