Gelang Pemberian

Selesai mencoba baju pengantin, akhirnya kami keluar juga dari toko ini. Biaya baju sudah dibayar full oleh Tante Dwi, seharusnya bajunya ada 5 ganti.

Namun, aku menolak karena membayangkannya saja sudah sangat melelahkan. Beruntung, Pak Malik juga menolak dan mengikuti mauku. Akhirnya, baju pengantin hanya 2 pasang.

"Kalian pulang berdua aja, Tante ada lagi urusan yang lain," titah Tante Dwi menatap ke arah kami secara bergantian.

"Gak usah Tante, Abibah mau pulang naik taksi aja," potongku cepat.

"Udah, sana sama Malik aja," suruh Tante Dwi mendorong tubuhku pelan, "hati-hati Malik, jangan ngebut-ngebut!" Tante Dwi menatap tajam ke arah Pak Malik.

Mau tak mau, akhirnya aku menurut masuk kembali ke mobil yang rasanya sangat tak nyaman. Bukan mobilnya, tapi suasana di dalamnya.

Di perjalanan, tak ada yang membuka suara. Aku menatap jalanan dan Pak Malik fokus menyetir.

"Hmm ... hmm ... hmm," ucapku dengan sedikit bernada sedangkan mulut mengatup.

"Apakah di saat aku mabuk waktu itu, aku tak berucap sesuatu?" tanya Pak Malik yang membuat aku langsung diam dan menatap ke arahnya.

Memajukan bibir dan mengerutkan kening mencoba mengingat, "Kayaknya ada deh, Pak. Bapak nyebut nama cewek," ujarku yang mulai ingat tapi tak terlalu.

"Oh, ya? Siapa namanya?" tanyanya menatap ke arahku dengan wajah datar.

Aku bergeming, mencoba mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, "Clarisa! Nah, iya itu Pak!" seruku karena merasa bangga pada diri sendiri yang mampu mengingat nama wanita yang disebut Pak Malik.

"Dia adalah pacar saya," jawab Pak Malik singkat yang membuat aku membulatkan mata.

"Lah, bukan Mis Vilo? Bapak buaya banget, dah!" caciku dengan menautkan alis.

"Saya dan Vilo gak ada apa-apa, dia yang suka dan selalu dekat dengan saya. Sedangkan Clarisa, dia adalah wanita yang saya cintai."

"Hingga kini?"

"Ya," celetuk Pak Malik menatap ke arahku, "hingga kini." Dia kembali menatap ke arah jalanan.

Aku hanya mengangguk paham sekarang, "Bapak gak ada rasa sama Mis Vilo, tapi bisa rangkul pinggang dia dan berdua-duaan di ruangan. Sangat luar biasa!"

"Bahkan, saya gak ada rasa denganmu tapi bisa ingin menikah," ujarnya yang membuat aku seolah tengah di sambar petir di sore ini.

Benar, sangat benar. Pak Malik tak ada rasa denganku tapi kami malah akan mau menikah dalam hitungan hari.

"Saya mau, kamu gak ikut campur dalam urusan saya meskipun nanti kita sudah menikah. Baik itu urusan perasaan, kerjaan dan lainnya. Kamu gak perlu repot-repot jadi seorang istri yang sempurna bagi saya, karena mau mencoba bagaimana pun kamu di mata saya kamu gak akan pernah sempurna menjadi seorang istri. Karena, istri yang saya mau itu bukan kamu," jelas Pak Malik dan membuat aku mengangguk.

"Oke, lagian saya juga sama. Suami idaman saya bukan yang kayak Bapak dan soal ikut campur? Saya punya banyak kerjaan yang harus diurus, jadi gak akan ada waktu untuk hal itu!" tegasku yang tak ingin disemena-menain.

Aku langsung bersedekap dada dan menatap ke arah samping, kesal rasanya mendengar ucapannya itu. Dia kira aku segabut itu sampai akan mau ikut campur dalam urusannya, apa?

"Saya tidak mampir, titip salam saya buat orang tuamu," kata Pak Malik saat kami sudah sampai di depan rumahku.

Aku diam dan langsung turun tanpa sepatah kata pun, kututup pintu mobil cukup keras dan tak lupa melepas cincin saat akan masuk ke dalam rumah.

Saat sudah memegang gagang pintu dan ingin masuk, tiba-tiba suara dering ponselku terdengar.

"Iya, ada apa?" tanyaku sambil membuka pintu dan segera masuk tanpa melihat mobil Pak Malik masih ada atau tidak.

"Lu datang ke sini 'kan?" tanya Aulia dari sebrang sana. Ternyata, dia sudah sampai di cafe.

"Iya, datang. Nanti gue ke sana, mau mandi bentar. Lu tunggu aja."

"Oke!"

Tut ...!

Panggilan diputuskan olehnya, aku langsung meletakkan sepatu ke rak yang tersedia di dalam rumah.

"Gimana, udah dipilih gaunnya?" tanya Mama yang keluar dari dapur.

"Sudah, Ma. Abibah mau ke kamar, ya," pamitku tanpa membalas senyuman Mama. Aku enggan melihatkan kebahagian, karena nyatanya aku tak bahagia.

Silki hanya menatap punggung Abibah yang masuk ke dalam kamarnya, sebenarnya ada rasa bersalah.

Namun, ini pasti yang terbaik untuk anaknya. Abibah hanya belum terbiasa, itu yang ada di pikirannya.

Tepat pukul empat sore, aku sudah siap untuk berangkat ke cafe. Memilih untuk ke dapur lebih dulu.

Membawa bekal untukku juga Aulia nanti di sana, tak ada Mama. Aku pun memang tak mencari, biarlah ke mana Mama pergi.

Kembali keluar dengan mengendarai mobil milikku membawa papar bag yang berisi makanan.

Di parkiran cafe sudah terlihat mobil yang tak asing, aku turun dari mobil membawa papar bag dan benar saja.

"Eh, Kak Abil. Udah lama di sini?" tanyaku saat mendapati keberadaan Kak Abil yany duduk di bangku depan kasir.

"Enggak, baru, kok. Cuma mau ngasih ini aja, tadi di jalan nemu jualan gelang yang kayaknya cantik kalo dipake di tangan kamu," kata Kak Abil sambil menyerahkan gelang berwarna putih itu kepadaku.

"Maa Syaa Allah, cantik banget. Makasih, ya, Kak," ujarku beralih pandangan dari menatap gelang ke Kak Abil.

Dia tersenyum dan mengangguk, turun dari bangkunya dengan menepuk-nepuk tangannya, "Kalau begitu, saya pulang, ya. Udah sore soalnya," pamit Kak Abil.

"Hati-hati, Kak."

Dia tersenyum dan melangkah ke luar, aku menatap punggungnya hingga keluar dari cafe. Beralih ke arah Aulia yang sudah senyum-senyum tak jelas.

"Uhuk! Cie-cie, yang dapat hadiah dari penggemar," goda Aulia padaku yang membuat aku langsung mendatarkan wajah.

"Apaan, sih lu! Penggemar, dia tuh pelanggan bukan penggemar!" ketusku berjalan ke arahnya.

Meletakkan papar bag, memakai celemek, "Pasangin, dong!" pintaku menyerahkan gelang tadi ke arah Aulia.

"Cielah, langsung dipakai nih! Ada yang akan sold out deh tahun ini kayaknya!" ejek Aulia mengambil gelang dan memasangkannya di lengan sebelah kiriku.

"Ini namanya menghargai, kali!" timpalku dengan menatap tangan yang sudah selesai dipasangkan Aulia gelang pemberian Kak Abil tadi.

"Eh, tapi, kalian cocok lho! Kak Abil juga kayaknya ada perasaan sama lu, hati-hati lho. Awas ... buat orang kenyamanan tapi tak bisa beri perasaan untuknya kembali," bisik Aulia tersenyum dan berlalu pergi.

Aku terdiam, memikirkan apa yang dia ucapkan. Benar, bagaimana kalau ternyata Kak Abil punya perasaan padaku? Sedangkan aku tak mungkin bisa membalas perasaannya karena sebentar lagi akan menikah.

Kutepis pikiran itu, tak mungkin jika dia suka padaku. Orang baik pada sesama belum tentu memiliki perasaan, bukan?

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!