Spek Cakep Tinggi

"M-makasih, ya," ucap Deo terbata-bata.

Kulirik ke arah pintu kantin, hatiku puas saat dia memilih pergi kembali dengan kekasihnya itu.

"Abibah, hey!" panggil Deo yang membuat aku tersentak kaget dan menatap ke arahnya.

"Kamu liatin apa, sih?" tanya Deo melirik ke arah pintu kantin dan beruntungnya sudah tak ada siapa-siapa lagi di sana.

"Gak ada, kok. Gak siapa-siapa," kilahku cepat.

Aku dan Aulia harus berpisah dengan Deo karena kita berbeda jurusan. Kelas pagi ini akan di isi dengan dosen tersebut, siapa lagi kalo bukan ....

"Gini, nih, yang gue suka. Kelas pagi-pagi tuh di isi dengan orang yang cakep, gitu. Bisa sekalian cuci mata, cakepnya kayak Pak Malik. Ini nanti, yang masuk semua perutnya kayak orang hamil 9 bulan," gerutu Aulia mengeluarkan pendapat.

"Emangnya Pak Malik cakep?" tanyaku dengan fokus ke arah lurus.

Aulia menatap ke arahku, "Lu buta atau gimana? Ya, jelas Pak Malik cakeplah, woy! Tapi, sayang. Pacarnya udah ada, insecure gue mah. Mana mampu melawan Mis Vilo."

"Dih, b aja gitu dibilang cakep. Spek cakep menurut lu terlalu rendah!" cibirku.

"Emangnya spek cakep yang tinggi menurut kamu yang gimana?" tanya seseorang dengan suara bariton dari belakang.

Suara yang tak asing, apakah dia benar ada di belakang? Oh, Tuhan! Kenapa dia harus mendengar pembicaraan mahasiswi-nya, sih?

Kami tentu saja langsung berhenti ketika merasa kaget dengan suara seseorang yang tiba-tiba itu.

Aulia membalikan tubuhnya lebih dulu, sedangkan aku melirik ekspresinya dengan tubuh tetap membelakangi orang tersebut.

"E-eh, Pak. I-ini, anu, apa namanya? Abibah cuma becanda, kok, Pak," kata Aulia membelaku.

Wah ... lihat, dia memang sahabat the best! Karena, pasti akan selalu membela diriku baik salah atau pun salah banget.

"Saya bertanya dengan temanmu, kau boleh masuk ke kelas sekarang!" titahnya dengan tegas.

Karena kebetulan, kami memang sudah berada di depan kelas. Tentu saja Aulia langsung mengangguk dan masuk ke dalam dengan menatap ke arahku kesihan.

Aih ... apa-apaan tuh tatapan, apakah dia kira aku akan dimakan oleh buaya? Tidak Aulia! Aku akan masuk ke perut singa ini mah!

"Ehem! Apakah perlu saya yang membalikkan tubuhmu?" tanya Pak Malik kembali.

Dengan cepat, aku membalikkan tubuh ini. Bahkan sangking ingin cepatnya, aku hampir berputar.

Gleg ...!

Kutelan saliva banyak-banyak karena merasa tenggorokan tiba-tiba musim kemarau padahal barusan minum dua gelas pas di kantin.

Hening. Pak Malik tak ada berbicara kembali, aku kepo akan kegiatannya sekarang. Dengan sedikit keberanian, kudonggakkan wajah ini untuk menatapnya.

'Sial!' batinku saat ternyata dia juga tengah menatap ke arahku.

Kutampilkan senyum lima jari, bahkan sepuluh jari juga bisa masuk ke mulutku sangking lebarnya nih senyum!

"Ada apa, ya, Pak? Kalo gak ada apa-apa lagi, saya izin pamit masuk ke dalam. Mari, Pak!" pamitku dan mulai melangkahkan kaki yang kaku ini masuk ke dalam ruangan.

"Siapa yang izinkan kamu masuk?" tanya Pak Malik dengan wajah datar dan mendekat ke arahku.

"Jadi, saya harus ngapain Pak? Saya 'kan ke sini mau kuliah untuk belajar. Kalo saya gak masuk nanti artinya saya gak belajar. Kalo saya gak belajar nanti saya gak pinter, dong!" tegasku.

Sedetik kemudian aku baru tersadar, 'Dih, kok malah gue yang ngegas! Astaga Abibah, lu dudul banget sih jadi manusia! Kalo dia semakin marah, gimana?' batinku merutuki diri sendiri dengan menundukkan pandangan.

"Kamu lagi mencibir diri sendiri atau saya di dalam hatimu itu?" tanya Pak Malik membuka suara lagi.

"Ha? Enggak, Pak! Gak mencibir siapa-siapa, kok," timpalku dengan cepat.

"Saya tunggu jawabannya nanti di ruangan saya!" tegasnya dan masuk mendahului aku ke ruangan.

"Ha? Pertanyaan apaan, woy?" gumamku menatap punggung yang meletakkan buku di mejanya itu.

"Kamu mau tetap di luar?" tanya Pak Malik dari dalam.

Aku langsung tersadar dan dengan cepat berlari ke arah meja dan bangku yang masih kosong. Mana saja boleh! Dan tentunya yang kosong cuma tinggal bangku di belakang.

Karena, cewek pasti akan langsung berburu bangku paling depan ketika tahu Pak Malik yang masuk.

Satu jam pelajaran Pak Malik telah selesai, "Baiklah, pertemuan kita cukup sampai di sini. Terkhusus Abibah Eviza, jangan lupa ke ruangan saya lebih dulu sebelum melanjutkan kelasmu yang berikutnya!" tegas Pak Malik dan berlalu keluar.

Aku yang tengah menyusun buku untuk dimasukkan ke dalam tas langsung melorotkan bahu kala ternyata ucapannya tadi tak main-main.

Beberapa mata menatap ke arahku dengan sorot mata yang tak suka, ya, pastinya mereka yang menyukai Pak Malik.

Kupakai tas dan berdiri hendak keluar kelas, "Lu kenapa disuruh ke tempat Pak Malik?" tanya Aulia berjalan di sampingku.

Aku hanya menaikkan bahu acuh, "Ke perpus, yuk! Gue mau ngerjain tugas buat mata pelajaran selanjutnya, nih!" kataku berjalan ke arah perpustakaan.

"Lah, lu 'kan disuruh ke ruangan Pak Malik!" jelas Aulia mengingatkan padahal aku emang ingat.

"Bodo amatlah! Lagian, lebih penting tugas guelah dibanding Pak Malik!" ketusku dengan mengayunkan langkah kaki agak cepat.

Suara lari Aulia terdengar menyusul langkah kakiku, kami langsung masuk ke perpustakaan mencari buku yang berkaitan dengan tugas.

Dua jam lagi kelas selanjutnya baru akan dimulai, hari ini aku hanya ada dua kelas sedangkan Aulia akan ada kelas tambahan.

Sebenarnya, aku juga ingin juga memiliki kelas tambahan. Hanya saja, tak ingin harus melalaikan cafe milikku.

Setengah jam berlalu, aku fokus menulis dan mencari jawaban di buku yang tengah kubaca.

"Abibah, dicariin Pak Malik tuh!" ucap seseorang yang berdiri di mejaku dan Aulia.

Aku dan Aulia menatap orang tersebut, "Sekarang?" tanyaku menautkan alis.

"Iya, ke ruangan Pak Malik, ya!" Setelah berkata seperti itu, dia pun akhirnya berlalu dari hadapan kami.

"Udah, sana! Ntar, dimarahi Pak Malik, lho," kata Aulia.

"Nyusahin banget sih tuh dosen!" gerutuku menyusun buku dan membawanya. Rencananya, aku akan membawa buku dari perpustakaan ini ke ruangan Pak Malik.

Aku ingin dia tahu bahwa aku punya tugas yang lebih penting daripada meladeni perdebatan unfaedah darinya.

"Mana masih ada tiga soal lagi yang belum kelar!" gerutuku di perjalanan menuju ruangan Pak Malik dengan memeluk buku cetak juga buku tulisku.

"Awas aja kalo pembahasannya gak penting, aku tinggal dia!"

"Arggg ... kenapa, sih? Kenapa harus si Pak Malik itu?"

Berbagai umpatan kukeluarkan sebelum sok manis nantinya di hadapan Pak Malik, bagaimana pun aku ingin nilaiku bagus juga skripsi cepat di acc olehnya.

Kutarik napas dan membuangnya dengan perlahan, "Sabar Abibah sabar, kamu harus tau bahwa dia adalah dosen kamu. Kalo kamu ngegas sama dia dan emosi, bisa-bisa kacau semuanya!" gumamku menyemangati diri sendiri.

Tok ...!

Tok ...!

Tok ...!

"Siapa?" tanya seseorang dari dalam.

"Saya, Pak Malik. Abibah," sahutku setengah berteriak.

"Silahkan masuk!" titahnya.

Ceklek ...!

'Astagfirullah Pak Malik ...!' batinku dan dengan cepat menundukkan pandangan.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!