Bukan Dalam Hati

"Kami, mau permisi boleh, Pa? Malik, pengen ajak Abibah jalan-jalan sebentar naik mobil," kata Pak Malik menatap ke arah Om Dimas dan Papaku secara bergantian.

"Boleh, kok. Nanti, kamu antarkan Abibah pulang, ya," sahut Papa.

"Iya, Om." Dia berdiri sedangkan aku masih stay duduk dan menatap tubuh tegapnya.

"Abibah, sana!" usir Mama dan akhirnya aku pun menurut untuk ikut dengannya.

Di perjalanan yang entah ingin ke mana, aku hanya membuang pandangan ke arah samping dan tak berniat menanyakan tujuan kami.

"Saya akan bertemu dengan Vilo, kau mau ke mana?" tanya Pak Malik memecah keheningan.

"Antarkan ke cafe aja," jawabku dan membuka cincin tanpa melihat ke arahnya.

"Kenapa dibuka?" tanya Pak Malik yang ternyata melihat apa yang aku lakukan.

Aku menatap ke arahnya dengan cincin yang sudah tak tersemat di jari manis, "Dih, ogah banget kalo sampe orang tau saya lamaran. Yang ada nanti, gebetan saya pada ngejauh semua Pak!" terangku dan membuat Pak Malik kembali menatap ke arah depan.

"Terserahmu," jawabnya singkat. Se-singkat hubungan pernikahan kunanti dengannya.

Tak lama, mobil telah sampai di depan cafe, "Jangan jemput saya, saya akan pulang dengan seseorang nanti!" ujarku dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil Pak Malik.

Berlari kecil ketika melihat sudah banyak kendaraan berjejer di depan cafe milikku, kasihan jika Aulia harus bekerja sendirian.

"Siapa yang akan menjemput dia?" tanya Pak Malik menatap punggung Abibah yang sudah masuk ke dalam cafe, "apa urusannya denganku? Mau pulang dengan siapa pun dia, itu bukan urusanku!"

Roda empat itu pun akhirnya meninggalkan cafe Abibah dan melesat pergi ke tempat Vilo berada.

"Maaf, ya, gue lama," ucapku sambil memakai celemek.

"Lu dari mana? Pakaiannya juga rapi bener," kritik Aulia menatap penampilanku dari atas hingga bawah dengan tangan yang tetap sibuk menyiapkan kopi.

"Habis ada acara dinner sama temen Mama dan Papa gue," sahutku dan mulai menatap customer yang sudah menunggu.

Kuselesaikan semua pekerjaan dengan telaten, Aulia memutuskan untuk makan malam karena memang dirinya tak sempat untuk makan-makanan yang tadi sore kubeli.

"Oh, iya, lu ngasih nomor gue ke Kak Abil, ya?" tanyaku dengan menyipitkan mata menatap tak suka ke arah Aulia.

"Hehe, dia yang minta. Jadi, gue kasih aja deh. Lagian, kayaknya tuh orang baik, deh," ucap Aulia sembari mengunyah makanannya.

"Baik?" tanyaku menaikkan alis, "tau dari mana? Ketemu juga baru sekali udah bisa cap orang lain baik!" Kujatuhkan bobot tubuh ke kursi di samping Aulia karena customer sudah tak ada lagi.

"Lah, lu masa gak bisa bedain sih? Lain hawa orang baik dan enggak!"

"Iya, kek sekarang gue ngarasa panas deket sama lu. Itu artinya hawa lu gak baik 'kan?" ketusku dengan wajah datar.

Aulia hanya mencebik dengan memakan lalapan kol mentah di cocol dengan sambal.

"Tuh, ada yang beli!" tegur Aulia menyenggol lenganku.

"Ck! Kenapa lu pulak yang kayak bos! Dasar, menyebalkan!" cercaku dan bangkit kembali.

"Mau pesen apa Kak?" tanyaku dan menatap ke arah orang tersebut.

"Eh, Kak Abil?" sambungku saat mendapati bahwa Kak Abil yang sekarang tengah berada di depanku.

"Hehe, iya, Abibah. Mmm ... tolong buatkan yang sama seperti tadi sore, ya," pinta Kak Abil dengan tersenyum menampakkan lesung pipinya.

Ya, ampun! Kalo bisa mencair, mungkin aku udah mencair saat ini juga karena senyuman manisnya itu.

"B-baik, Kak. Silahkan duduk," titahku dengan terbata-bata.

"Terima kasih." Dia tersenyum kembali dan mencari tempat yang kosong.

Setelah kepergian Kak Abil, aku memukul kepalaku pelan dan merutuki diri kenapa bisa-bisanya terbata-bata seperti itu saat menjawab ucapan Kak Abil.

Saat tengah fokus membuat kopi pesanan Kak Abil, Aulia datang dengan menyenggol lenganku. Ternyata, wanita ini telah selesai makan.

"Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Baru aja dibicarakan, eh, orangnya udah datang. Ini, nih yang dinamakan definisi jodoh," ucap Aulia dengan menekan kata 'jodoh'

Aku hanya menatap acuh ke arahnya, "Kalau mau nanam cabe, di halaman depan aja. Gosah di gigi lu, karena gak akan tumbuh!" ejekku dan pergi meninggalkan dirinya untuk mengantarkan kopi Kak Abil.

Kulirik kebelakang, Aulia langsung membuka handphone. Paling melihat kamera dan mencari tahu di mana letak cabenya, aku hanya tertawa kecil melihat kelakuan wanita itu.

"Ini, Kak pesanannya," ucapku meletakkan kopi di mejanya.

Dia tengah sibuk berkutat dengan laptop di hadapannya, "Oh, ya, terima kasih Abina," jawabnya dengan fasih menyebut namaku.

Aku tersenyum dan mengangguk, baru satu langkah menjauh dari mejanya berniat kembali ke tempat kasir.

Kak Abil menghentikan langkahku, "Ya, ada apa Kak?" tanyaku menatap ke arahnya kembali.

"Mm ... apa kau sedang sibuk Abibah?" tanya Kak Abil sambil menatap di mana biasanya orang antre untuk memesan.

"Tidak, Kak. Emangnya ada apa?"

"Boleh temani aku? Mmm ... itu pun kalau kau tak keberatan, kalo emang lagi sibuk dan tak mau pun tak masalah," pinta Kak Abil dengan wajah yang seperti berharap.

"Boleh, deh Kak. Hanya sebentar tapi, ya? Aku soalnya gak enak kalo sampe orang lain liat," ungkapku dan duduk di bangku yang agak jauh darinya.

"Terima kasih," kata Kak Abil saat aku sudah duduk di sampingnya.

Aku tersenyum dan mengangguk, kuedarkan pandangan dan ternyata menatap ke arah Aulia yang sudah tersenyum dengan mengejek dari sana.

"Kamu masih kuliah?" tanya Kak Abil tiba-tiba dan membuat aku segera mengalihkan pandangan ke arahnya.

Entah sejak kapan dia menatapku, tapi ketika aku mengalihkan pandangan ternyata dia pun tengah memandangku juga.

"I-iya, Kak. Udah mau nyelesaikan skripsi, kok," gagapku kembali kambuh di saat yang sangat tak tepat.

"Haha, kamu lucu, ya. Suka tiba-tiba gagap kayak gitu," ucap Kak Abil dengan tertawa dan menyeruput kopinya.

"Hehe, iya. Kakak juga lucu," gumamku sambil menatap lantai.

"Uhuk!" Kak Abil tersedak dengan kopinya yang baru dia seruput setelah mendengar ucapanku, "kamu bilang apa tadi Abibah?"

"Ha?" tanyaku dengan wajah kaget, "aku bilang apa tadi Kak?" Eh, bukannya aku tadi mengucapkan itu dalam hati? Kenapa Kak Abil bisa tahu apa yang ada di dalam hatiku? Astaga ....

"Tadi, kamu bilang kalo saya lucu," beo Kak Abil mengingatkan ucapanku tadi.

"Hehe, mungkin Kakak salah denger kali," kilahku dengan cengengesan.

Kak Abil menggaruk tengkuknya dan terlihat salah tingkah, apakah dia baper dengan ucapanku tadi?

Jangan Kak, kumohon janganlah baper dengan diriku ini. Sedangkan Aulia yang kulihat dari sini tengah menutup mulutnya menahan tawa ke arahku.

Apakah dia dari tadi memperhatikan kami? Apakah kami terlihat seperti orang yang tengah PDKT? Kuharap, tidak seperti itu sama sekali.

Terpopuler

Comments

Dian Citra Utami

Dian Citra Utami

Pepet terus Bil 😁

2023-06-27

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!