Bukan Dosen

Masih Flashback

Tanpa pikir panjang, mobil langsung kuhidupkan dan kujalankan menuju rumah Pak Malik.

"Pak Malik, rumah Bapak di mana?" tanyaku sambil melirik ke arahnya sekilas.

Serius, aku sama sekali gak tau di mana rumah dia. Karena, kalau ada tugas pasti langsung ngerjain dan kumpul di kampus.

Kuhentikan mobil dan menatap dirinya yang sepertinya pulas atau tengah berkhayal dengan mata yang terpejam.

"Pak, amit, ya. Saya izin pegang Bapak, bukan niat buruk lho. Saya cuma mau nyari KTP Bapak aja," ucapku meskipun pasti dirinya tak akan menyadari itu.

Saat aku mulai mendekat, aroma aneh tercium di inderaku, "Ck! Bapak mabok, ya? Pantesan aja bego," caciku sambil tertawa.

Kapan lagi 'kan bisa mencaci dosen, wkwwkwk.

"Ketemu!" seruku dan menjauh dari tubuhnya. Kubuka dompet yang kutemukan di saku celananya.

"Widih, banyak banget duitnya buset! Ya, Allah. Jangan datangkan setan ke telingaku, ya. Aku takut khilaf," ujarku mengoceh sendiri.

Kuambil KTP dan kuletakkan dompetnya di depan, untung aku termasuk cewek yang mandiri dan bisa baca maps sendiri.

Jadi, tak terlalu sulit untuk mencari rumah Pak Malik.

Tok ...!

Tok ...!

Tok ...!

Kuketuk rumah lantai dua tapi tak menggunakan pagar ini, entah kenapa tak pakai pagar aku pun tak tahu.

"Huwek ...!"

Mataku terbelalak kala mendengar suara orang ingin muntah di dalam mobil, "Jangan muntah di situ Pak!" teriakku dan langsung berlari membuka pintu mobil.

Tepat waktu! Beruntung! Selamat! Aku membuka dengan sangat tepat di saat Pak Malik sudah tak bisa menahan isi perutnya.

Ia membuangkan isi perut di samping mobil yang sudah terbuka, hanya sedikit saja bagian mobilku yang kena. Tak apalah.

Dia kembali lemas dan menyandarkan tubuh ke kursi mobil, "Dih, gak kuat mabok sok mau mabok lu! Sok oke banget!" gerutuku menyandarkan tubuh yang sudah mulai lelah.

Sambil berharap pintu rumah Pak Malik segera terbuka, aku sungguh sudah sangat lelah bahkan mata pun sudah ingin tertutup rasanya.

"Clarisa ...," panggil Pak Malik.

Aku langsung menoleh dan menatap mata yang ingin terbuka, tak berniat membantunya kalo bisa tertutup saja selamanya. Huh, menyebalkan!

"Kenapa Clarisa?" racau Pak Malik lagi.

Kata orang, sangat menyenangkan melawan berbicara orang yang tengah mabok. Aku belum pernah sama sekali melawan orang yang tengah mabok, ide jahil pun terlintas di benakku.

"Kenapa apa?" tanyaku menyahut ucapannya.

"Kenapa kau tega menyelingkuhiku demi laki-laki brengsek itu!" bentaknya yang ternyata memang masih emosi.

"Karena ... dia lebih tampan darimu, dia tak pernah memberi tugas begitu banyak kepada mahasiswa dan mahasiswinya, dia juga baik, lembut dan lebih penyabar dibanding kamu," jawabku menahan tawa.

Padahal, aku sendiri belum tahu tuh orang seperti yang kusebutkan tadi atau bukan. Orang aku belum pernah ketemu, tapi, ya, bodo amatlah!

"Karena dia bukan dosen! Coba dia dosen maka akan memberi tugas juga!"

"Hahahaha," tawaku tak tertahankan ketika dia menjawab dengan sebal. Meskipun dengan nada yang tinggi tapi menurutku sangat lucu.

Aku tak mau kualat, lebih baik kuketuk kembali pintu ini. Apa aku salah rumah? Menurut penjaga kompleks memang ini, kok rumahnya.

Tok ...!

Tok ...!

Tok ...!

"Bapak ... Ibu ... ini anaknya! Apa gak ngerasa kehilangan anak, ya?!" teriakku dengan keras.

Kulihat di samping pintu, kutepuk jidat ini merutuki kebodohan, "Buset, ini ada bell!" Berjalan ke arah bell dan memencetnya tanpa henti agar orang yang di dalam rumah terganggu.

Suara dering handphone dari saku milikku, kurogoh dengan mengganti tangan untuk memencet bell.

"Iya, ada apa Bik?" tanyaku.

"Non kok belum pulang? Udah jam 1 malam ini non."

"Iya, Bik. Ini, lagi ada anuan. Nanti saya telepon bibik, ya."

"Anuan apa Non?" tanya Bibik dengan kebingungan di sebrang sana.

"Mmm ... ada sesuatu Bik, nanti saya hubungi balik. Udah, ya, Bik. Assalamualaikum!"

Tut ...!

Kumatikan panggilan, sebenarnya aku pun tak akan berani untuk pulang sendirian jika sampai orang tua Pak Malik dengan tega mengusirku pulang.

Papa dan Mama lagi pergi ke luar kota untuk suatu urusan, mereka itu selalu saja sibuk. Menyebalkan sekali, bukan?

"Aaaa ...!" teriakku menutup mata kaget saat melihat sudah ada dua orang yang berdiri di ambang pintu.

Bukan, karena aku lebay. Tapi, karena salah satu di antara mereka ternyata tengah menggunakan masker wajah.

"Kan, Mama! Udah Papa bilang gak usah ikut atau hapus maskernya, liat tuh dia jadi kaget!" ketus Om-om yang sepertinya Papa dari Pak Malik.

"Ih, belum kering Pa," jawab wanita di sampingnya yang sudah pasti Mama Pak malik juga.

"Kamu ada apa ke sini malam-malam Dek? Mana ribut banget lagi, gak ada jedanya memencet bell," sindir Om tersebut dan kubalas cengiran juga mengaruk tengkuk yang tak gatal.

"Ini Pak, nama saya Abibah dan saya mahasiswi Pak Malik. Itu, Pak Malik ada di dalam mobil saya. Tadi, saya ---"

"Malik!" teriak mereka berdua dan meninggalkan aku yang baru saja hendak menjelaskan. Si Om-om itu langsung membawa Pak Malik ke dalam rumah.

"Mobil kamu dimasukkan ke garasi saja, Sayang. Kamu bisa masuk untuk menjelaskan dan menginaplah di sini satu malam, ini sudah sangat larut," ucap Tante tersebut dan masuk ke dalam rumah ikut meninggalkan aku.

Aku mencebik, "Apakah begini cara mereka memperlakukan tamu?" tanyaku memutar bola mata malas.

Berjalan ke arah mobil dan langsung meletakkan mobil di garasi mereka, garasi tak dikunci dan tak ada satu pun mobil di dalamnya.

Aku langsung masuk ke dalam dan sudah kudapati Tante tadi di ruang tamu dengan wajah cemasnya, btw, dia sudah membasuh masker tadi.

"Maaf, Tante. Kunci garasinya mana?" tanyaku pelan.

"Oh, iya, bentar ya!"

Dia berlari masuk ke kamar, kuedarkan pandangan dan terdengar suara air yang mengalir.

Sepertinya Om tadi tengah memandikan Pak Malik, ingin sekali rasanya aku untuk melihat hal tersebut dan mem-videokannya.

Pasti sangat lucu saat seluruh mahasiswi tahu bahwa dosen idaman mereka mandi saja minta bantuan.

"Ini, Sayang," ucap Tante tadi tiba-tiba datang dan membuat aku sedikit tersentak.

"I-iya, Tante. Makasih."

Kembali dengan tergopoh-gopoh dan mengunci pintu utama, sudah benar-benar seperti rumah sendiri aku buat.

Kuhampiri kedua orang yang tengah duduk di sofa, dengan hati-hati aku mulai mendekat, "Ini Tante kuncinya, makasih," ucapku tersenyum dan mengembalikan kunci.

"Duduklah Nak!" titah Om dan langsung kuangguki.

"Ceritakan bagaimana kau bisa bertemu dengan Malik."

Kutelan saliva dan mulai menceritakan kejadian yang cukup panjang kali tinggi kali lebar kali alas ini, eh!

"Jadi, gitu ceritanya Om," ucapku pelan dengan menatap lantai.

"Terima kasih, ya, kalau gak ada kamu entah apa yang terjadi sama dia. Malam ini kamu tidur di sini saja, besok kami akan datang ke rumah orang tua kamu menjelaskan bahwa kamu tengah membantu anak saya. Biar mereka tidak berkata bahwa kamu tengah berbohong," tegas Om tersebut yang membuat aku tertegun.

Papa Pak Malik ternyata begitu tegas dan berwibawa. Aku langsung mengangguk karena benar juga. Tak mungkin aku pulang sudah selarut ini.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!