Kutatap wajahku dari pantulan kaca yang ada di depan, wajahku telah selesai dirias juga tubuh telah di balut dengan gaun berwarna putih terlebih dahulu.
Mama memegang pundakku dan menatap aku dari kaca, ada tatapan sendu di matanya. Jangankan wanita itu, aku pun sangat ingin menangis saat ini.
Namun, bukan tangisan bahagia pastinya, "Sebentar lagi, kau akan menjadi seorang istri, Sayang," lirih Mama tersenyum kepadaku.
"Hanya setahun, Ma," sahutku tanpa senyum bahagia sedikit pun.
"Dan Mama berharap, sebelum setahun cinta sudah tumbuh di pernikahan kalian. Mama keluar dulu," pamit Mama dan pergi dari ruangan kembali meninggalkan aku sendirian.
Apa pun yang terjadi di depan, aku tak mau tahu sebenarnya. Namun, ruangan ini memiliki televisi yang menghubungkan acara di depan.
Jadi, otomatis aku tahu apa yang sedang terjadi di depan. Di mana Pak Malik sudah duduk dengan penghulu di depannya.
"Baik, acara akan kita mulai saja," kata Pak penghulu melihat ke sekitar meja yang sudah ada Papa juga Om Dimas di situ serta saksi dua orang lainnya.
Papa mengulurkan tangannya dan disambut oleh Pak Malik dengan wajah yang tampak tak bahagia.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Malik Faza Gafi bin Dimas Prasetyo dengan anak saya yang bernama Abibah Eviza dengan mahar berupa uang 30 juta dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!"
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Abibah Eviza binti Yusuf Ahmad dengan mahar yang tersebut, tunai!" Satu kali penyebutan tanpa ada kesalahan yang membuat kini statusku berubah.
Papa dan orang-orang yang ada di ruangan itu menangkup tangannya ke wajah seolah bersyukur dengan kelancaran yang terjadi.
Sedangkan aku? Entahlah, rasanya aku ingin kabur dari ruangan ini dan pergi dari pernikahan yang tak kuinginkan.
Pintu kembali terbuka, Mama datang dengan mata yang sembab. Beliau pasti bahagia karena aku menikah, aku sudah tahu hal itu.
"Sayang, ayo kita ke depan!" ajak Mama dan membantuku berdiri. Tak ada orang yang kukenal menjadi tamu undangan.
Semua hanya rekan bisnis Mama, Papa, Tante dan juga Om serta beberapa kerabat baik dari pihak keluargaku juga Pak Malik.
"Maa Syaa Allah pengantinnya, cantik banget. Eh, ini gak dipaksa 'kan? Kok kayak gak ada senyumnya, sih?" celetuk Pak penghulu dengan tersenyum ke arah kami menatap semua orang yang masih ada di meja.
"Maklum Pak, masih baru," potong Mama yang ternyata masih ada di belakangku.
"Tersenyumlah kalian berdua," bisik Mama di tengah-tengah kami. Aku melirik ke samping dan tampak Mama sudah tak ada yang mengakibatkan pandanganku bertemu dengan Pak Malik.
Aku akhirnya tersenyum dengan menanda tangani kertas yang diberi juga buku nikah, sesi foto pun akhirnya akan segera dimulai.
Aku dan Pak Malik berjalan secara beriringan dengan tanganku yang kukaitkan di lengannya.
"Jangan mencari kesempatan!" gerutu Pak Malik saat kami sudah akan sampai di bangku pengantin. Kalau kata orang-orang mah singgasana sementara.
Aelah, kagak ada yang begituan! Itu hanya ada di pernikahan yang diimpikan, bukan yang dipaksakan kayak kami sekarang.
"Dih, ogah banget nyari kesempatan sama Bapak! Gosah kepedean, deh!" ketusku dengan tetap membuat tangan di lengannya.
Akhirnya, kami sampai juga. Aku sedikit mendengus kesal menatap gaun yang menjuntai ini.
"Kenapa jadi panjang seperti itu?" tanya Pak Malik menatap gaunku yang begitu panjang.
Kubuka sedikit gaunnya agar terlihat apa yang kupakai, "Ha? Kau pakai sendal jepit?"
"Ya, kata Bapak pakai apa yang membuat saya nyaman. Nah, saya nyaman pakai ini. Mau berlari juga saya bisa."
"Lari ke mana?"
"Lari dari kenyataan yang sangat menyeramkan ini!" ketusku dan mengalihkan pandangan.
Kulihat MC sudah mulai membuka acara, tamu sudah mulai datang. Katanya, acaranya hanya sampai sore.
Aku memang tak mau lama-lama, sangat bosan pastinya nanti.
"Sut-sut!" panggilku dengan sedikit memberi kode ke WO.
"Iya, ada apa Mbak?" tanya salah satu WO yang menggunakan kacamata.
"Mbak, saya mau ambilkan makanan dong. Sekalian cuci mulutnya juga, ya, saya belum makan soalnya dari tadi malam. Bisa pingsan saya nanti!" bisikku dan langsung diberi anggukan oleh WO tersebut.
Dia kembali melangkah ke arah hidangan makanan, aku tersenyum gembira karena dirinya menuruti apa mauku.
Oh, ya, yang nunggu atau ada adegan kis di kening tadi. Emang ada, tapi jangan mengira bahwa Pak Malik akan mencium keningku lama.
Hanya bibirnya yang dimojongkan dan menyentuh keningku sedikit lalu dia tarik kembali. Sembari menunggu WO tadi, aku memainkan kakiku dengan mengayunkannya.
Kulirik ke arah Pak Malik, dia tampak bosan dengan kegiatan sekarang. Aku dan dia agak berjauhan duduknya, tak seperti pengantin lainnya tentunya dong.
"Pak, bosen 'kan?" tanyaku menatap ke arahnya.
"Hmm," dehemnya sebagai jawaban dan melirik ke arahku dengan malas.
"Pak, setelah ini saya boleh kuliah di luar negri, gak?" tanyaku mencoba bertanya apa yang akan terjadi setelah ini.
"Tidak, karena kerjaan saya banyak di sini."
Aku terdiam, tapi tak lama aku kembali sumbringah dan sedikit mendekat ke arah Pak Malik, "Bapak mau tau sesuatu? Jadi, seminggu atau tepatnya beberapa hari yang lalu. Aku dan Mama membuat kesepakatan!" seruku dengan menggebu.
"Kesepakatan? Kesepakatan apa?" tanya Pak Malik menaikkan sebelah alisnya. Nah 'kan, kepo juga ternyata beliau ini.
"Pernikahan kita akan diberi jangka waktu selama satu tahun, nanti kalau selama satu tahun di pernikahan kita gak ada benih-benih cinta yang emang udah pasti gak akan ada. Mama akan mengurus perceraian kita!" setuku dengan semangat dan menatap ke arahnya.
Pak Malik semakin mendatarkan wajahnya, aku langsung mengerutkan dahi dan menatap lekat ke arahnya, "Bapak kok gak bahagia?" tanyaku membuat dia menatap ke arahku.
"Ha? G-gak, saya bahagia. Kata siapa saya gak bahagia?" gelagap Pak Malik dengan wajah yang dibuat setenang mungkin.
Acara kembali berlangsung, sekarang proses aku dan Pak Malik memohon atau apalah itu namanya di kaki kedua orang tua kami secara bergantian.
Tante Dwi memeluk tubuhku, "Berjanjilah sama Tante untuk tak mudah menyerah di dalam pernikahan kalian," pesan Tante Dwi dengan tatapan sendu ke arahku dengan pelukan yang dilepas.
Aku langsung menatap ke arah Pak Malik yang berada di sampingku karena menunggu giliran.
"Abibah gak bisa janji, Tante," lirihku menunduk.
"Hmm ... tak apa, sekarang panggil saya Mama. Bukan Tante lagi," ucap Mama Dwi menaikkan daguku agar menatapnya.
Aku mengangguk dan berpindah posisi sekarang jadi di depan Om Dimas atau sekarang beliau juga mau kupanggil Papa?
Selesai sungkeman, nah, iya, namanya sungkeman. Aku baru mendengarnya setelah MC tadi berkata, "Setelah sungkeman, kita masuk ke acara selanjutnya."
Kami berdua masih berdiri, tidak dengan tangan yang bergandengan atau pinggang yang dirangkul.
Katanya, selanjutnya adalah proses lempar bunga pengantin. Aku tak tahu kalau ada proses seperti itu.
Namun, ikuti sajalah acara demi acara ini agar cepat selesai. WO yang berkacamata sudah selesai mengambilkan makanan.
Dia berdiri dengan tangan yang penuh dengan piring di samping tukang kamera, "Lama lagi kah ini lempar bunganya? Orang udah lapar juga!" keluhku dengan mengusap perut rata yang berbalut gaun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments