Kuberikan helm dengan sedikit kasar ke tukang gojeknya, serius aku kesal sekali dengan tukang gojek kali ini.
"Mbak!" teriaknya saat aku hendak membuka gerbang.
"Apa lagi, Pak?" tanyaku dengan teriak juga.
"Jangan lupa kasih bintang 5-nya, ya," pintanya dengan tersenyum.
"Ogah!" ketusku dan langsung masuk ke dalam rumah.
Saat akan masuk ke rumah yang memang tak terlalu besar karena penghuninya hanya sedikit, kulihat ada mobil yang terparkir di depan rumah.
"Mobil siapa ini?" tanyaku dan berjalan cepat ke dalam rumah.
"Assalamualaikum!" salamku dan membuka pintu.
"Waalaikumsalam, sini masuk Sayang!" panggil Silki Parasati--mama Abibah.
Aku masuk ke dalam dengan langkah yang sedikit lambat, karena ternyata bukan hanya ada Mama di ruangan ini tapi juga ....
"Wah ... calon menantu Tante udah pulang?" tanya Dwi Ariyanti-mama Malik dengan merentangkan tangannya.
Berhambur ke pelukannya, meskipun sebenarnya enggan. Dia mengusap punggungku dan juga mengecup pipi ini.
Sangat berbeda dengan Mama kandungku, bukan? Bahkan, Mama cuma tersenyum menatap adegan di hadapannya ini.
"Kamu ikut Tante, yuk!" ajak Tante menatap aku yang baru duduk di single sofa di depan mereka.
"K-ke mana Tante?"
"Ke rumah Tantelah, kamu harus lebih dekat dengan Malik. Meskipun kalian satu kampus, tapi pasti tetap jaga jarak. Gak bisa bercanda atau ngobrol intens, gitu," jelas Tante Dwi tersenyum hangat padaku sangat hangat.
Aku cengengesan dan menggaruk tengkuk yang tertutup dengan kerudung ini, "M-maaf, Tan. Abibah gak bisa, soalnya lagi ada tugas. Nah, iya, tugas," ucapku penuh semangat setelah mendapatkan alasan yang cukup masuk akal.
"Kan besok cuti kuliah, Sayang. Kamu punya waktu besok untuk ngerjain tugasnya," timpal Mama yang ternyata tak membelaku.
"Bukannya bantuin anaknya, eh, malah menyerahkan anaknya begitu aja," gumamku.
"Jadi gimana, Sayang? Kamu mau, ya," pinta Tante Dwi yang masih menanyakan jawabanku karena aku belum menjawabnya.
Dengan berat hati, jiwa dan raga. Aku memaksa kepala yang sejujurnya enggan untuk mengangguk ini.
***
"Heh, ngapain kamu di rumah saya?" tanya seseorang dari belakang.
Aku langsung menatap ke arah pemilik suara yang sebenarnya tak asing di telingaku, tapi untuk memastikan saja.
"Main ayunan!" ketusku dan membuang pandangan.
Karena posisiku sekarang, aku memang tengah bermain ayunan yang ada di rumah Pak Malik. Tante Dwi dia tengah pergi ke luar sebentar karena ada keperluan.
Aku disuruh untuk tetap di rumahnya karena sebentar lagi juga akan pulang anaknya yang b saja ini.
"Kamu sama siapa ke sini?" tanyanya dengan datar dan menatap ke arah pintu rumahnya yang tertutup.
"Sama Tante Dwi."
"Mama ke mana?"
"Dih, Mama Bapak kenapa nanya saya?"
"Saya baru pulang, jadi mana saya tau Mama saya di mana."
"Sejak kapan kampus masih buka jam 7 malam? Oh, atau selain ngajarin kalangan manusia. Bapak juga ngajarin kalangan jin?" tanyaku dengan menahan tawa.
Sedangkan dia, setelah datar malah menampilkan wajah kesal. Apa wajahnya hanya ada dua ekspresi saja? Dasar kaum Adam!
Dia pergi begitu saja berlalu dari hadapan wanita cantik sepertiku, sepertinya dia minder karena dia belum mandi.
Meskipun, tak tercium bau keringatnya sih. Tak lama dia masuk ke dalam rumah, Tante Dwi pun akhirnya kembali bersama dengan pembantunya.
Itu sebabnya aku tak masuk ke dalam, karena di dalam tak ada siapa-siapa. Bukan takut kalo ada setan yang menggangu, aku takut jika ada manusia yang maling nanti.
"Malik udah pulang, Sayang?" tanya Tante Dwi dengan nada begitu lembut.
"Udah Tante, baru aja pulang tadi," jawabku sambil keluar dari ayunan.
"Yaudah, yuk kita masuk!" ajak Tante merangkul bahuku.
Aku melihat ke arah tangan Tante Dwi dan melirik ke belakang arah Mbok Jum, "Tante beli apaan? Kok gak ada bawa apa-apa?" tanyaku merasa aneh.
"Eh, iya, apa yang Tante cari ternyata habis. Jadi, Tante gak jadi beli, deh," gelagap Tante Dwi.
Aku sedikit tak percaya, tapi biarlah jika dia berbohong itu urusannya dengan yang di atas.
"Sayang, kamu panggil Malik, ya. Biar makan sama-sama," suruh Tante saat aku ingin ikut masuk ke dapur.
"Mmm ... Mbok Jum aja deh Tante, Abibah bantu beres-beres aja," kilahku karena memang sangat malas sekali jika harus bertemu dengan orang tersebut.
"Kesian Mbok Jum, Sayang. Kan, baru aja pulang mana tadi kami jalan. Masa, Mbok Jum harus naiki anak tangga lagi, sih?" tanya Tante Dwi tersenyum ke arahku.
Kalau kalian ingin tahu bagaimana lembutnya suara Tante Dwi, lihat dan dengar saja gaya bicara Kak Jill yang penjual gorden sepuluh gelombang kanan dan kiri tersebut.
Tapi yang membuat aku heran, kenapa Mamanya begitu lembut sedangkan anaknya begitu menakutkan?
"Sayang, kok malah bengong?" tanya Tante Dwi membuat aku tersadarkan.
"Eh, iya Tante. Yaudah, deh. Abibah panggil Pak Malik dulu, ya. Abibah izin ke atas Tante."
"Iya, Sayang. Makasih, ya."
Aku tersenyum dan mengangguk, mengayunkan kaki ini melangkah menaiki anak tangga satu per satu meskipun dengan keadaan batin menolak keras melakukan hal ini.
Tok ...!
Tok ...!
Tok ...!
Kuketuk pintu yang tertutup dengan keras, "Dih, ngapain sih nih orang di dalam? Semedi kali, ya?" gerutuku saat tak kunjung pintu terbuka.
Ini memang bukan kali pertama aku datang ke sini, tentu saja dengan paksaan Tante Dwi yang membuat aku bermain ke sini.
Dia memberi tahu aku tentang setiap sudut rumah ini, di mana kamar dia dan suaminya dan di mana kamar Pak Malik.
Bahkan, dia juga sudah memberi tahu di mana kamar pengantin kami berdua nanti. Astaga ....
"Pak Malik! Kata Tante turun, ayo makan malam! Ngapain sih di kamar? Semedi, ya? Bukannya semedi di gua? Biar tenang gitu!" teriaku dengan keras agar human yang ada di dalam bisa keluar.
Ceklek!
'Berhasil' batinku berseru ketika melihat kaki laki-kaki tersebut.
"Pak, kata Tante D--" Aku tak sanggup menyambungkan ucapanku kala melihat pemandangan di depanku saat ini, "aaaa ... Pak Malik mesum!" teriakku menutup mata dan langsung berlari turun ke bawah.
Malik menatap Abibah yang tak perlu 10 detik dirinya sudah tak ada lagi di tangga, "Dih, kenapa sih tuh bocah? Orang cuma gak pake kaos aja sampe segitunya!" ketus Malik santai dan melihat ke arah dadanya yang berbentuk kotak-kotak tersebut.
Dirinya menutup kembali pintu kamar dan memakai kaos polos tak terlalu tebal, membuat badan kotak-kotaknya terpampang jelas.
"Malik, kamu apakan anak orang?" tanya Dwi dengan tajam ke arah Malik yang baru sampai di meja makan.
"Dia aja yang lebay, Ma. Cuma liat dada Malik aja dia sampe kayak gitu, AC di kamar Malik mati jadi panas di kamar. Malik lupa nyuruh tukang AC buat perbaikinya," jelas Malik dan duduk di salah satu bangku yang cukup jauh dari Abibah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
Alhamdulillah rezekimu, Neng...
2023-07-12
0
Dian Citra Utami
br baca 2 bab.. enak bacanya, bahasa nya gak belibet.. ceritanya jg bagus
2023-06-27
0
orchid
lucu thor, enak bacanya
2023-05-19
0