Tak Seromantis di Film

Masih sama. Flashback wkwkwk

Aku hanya menggeleng cepat saat sekilas menatap ke arah Pak Malik yang menatap dan ternyata mendengar ucapanku.

"Maaf, permisi. Orang tua Abibah?" tanya Tante Dwi pada kedua orang tuaku yang tengah membelakangi kami.

"Iya, ada apa, ya?" tanya Mama dan di susul Papa menatap ke arah Tante Dwi juga Om Dimas.

Wajah mereka tampak terkejut, Mama sampai membekap mulutnya dan berdiri. Matanya sudah berkaca-kaca, aku sedikit ke depan untuk melihat ekspresi wajah Tante Dwi.

Ternyata sama saja, dia juga tampak terkejut, bahagia serta senang. Dari situlah aku tahu bahwa mereka adalah sahabat dari SMP hingga kuliah.

Mereka berpisah karena Tante Dwi yang menikah lebih dulu dan lost kontak dari Mama, hingga akhirnya mereka berpikir untuk menjodohkan kami.

Bukan karena ada perjanjian di masa sekolah. Namun, Tante Dwi ingin aku mengubah anaknya agar tak menyentuh barang haram itu lagi.

Karena, dirinya pun masih awam. Mama dan aku memang belum se-agamis orang-orang, belum bisa ikut kajian setiap harinya bahkan aku pun terkadang masih menggunakan celana meski tak ketat saat keluar rumah.

Akan tetapi, Mama dan aku sudah berhijrah dengan istiqamah menggunakan kerudung. Mama sudah bisa menggunakan gamis syar'i sedangkan aku kadang-kadang.

Di dalam lubuk hati yang paling dalam sudah sangat menginginkan. Namun, lihatlah dari kejadian hari ini.

Kalau orang lain berpikiran negatif tentangku, mungkin mereka akan mencibir dengan kalimat, "Pakak gamis, syar'i banget ternyata pulang sampai jam tengah dua belas malam. Wanita apaan begitu."

Itu sebabnya aku masih enggan bukan berarti tak mau, sangat mau dan sangat ingin pastinya. Semoga suatu hari nanti.

Flashback off

"Woy!" teriak Aulia sambil memegang bahuku yang refleks terangkat karena aku kaget. Dia malah tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat aku kaget.

"Haish lu ini! Pen gue tabok, ya?" tanyaku dengan menatap tajam ke arahnya tangan yang sudah siap melayang.

"Lagian, lu ngapain di sini? Kelas udah mau mulai, tuh! Ngelamun sendirian, dimasuki sama Mbak Kunti baru tau, lu!" tegur Aulia yang berdiri di sampingku.

Kulihat arloji, benar saja ternyata aku sudah terlalu lama mengingat kejadian yang unfaedah itu.

"Yaudah, yuk! Ke kelas," ajakku dengan berdiri dan mulai melangkah ke kelas selanjutnya.

"Lu dari mana aja?" tanyaku sambil mengayunkan kaki menyusuri kampus.

"Ngisi perut."

"Sama apa?"

"Batagor tadi."

"Oh."

"Udah, gitu aja?" tanya Aulia kaget.

"Lah, jadi harus gimana?"

"Tawari makanan yang lebih layak kek!"

"Emangnya batagor gak layak?"

"Dahlah, susah punya bos pelit mah!" cibir Aulia.

"Ck! Keuangan belum gue liat, gosah segala bilang mau di traktir deh! Lagian, bentar lagi juga gajian lu!" sebalku menatap Aulia.

Kami masuk ke kelas yang belum ada dosennya, satu mata kuliah jadwal tatap muka selama 50 menit pun selesai.

Saat tengah merapi-rapikan buku, tiba-tiba datang seseorang menghampiri meja Aulia yang berada tepat di sampingku.

"Aulia, dipanggil Pak Daryo tuh. Disuruh ke ruangannya," ucap mahasiswi tersebut dengan datar dan berlalu pergi begitu saja.

"Oh, makasih. Abibah, gue ketemu Pak Daryo dulu, ya. Lu pulang aja duluan, nanti sore gue datang ke cafe, kok," ucap Aulia dan berlari kecil keluar kelas.

Pak Daryo adalah bagian meminta iuran mahasiswa setiap semesternya, aku segera mengikuti Aulia. Tak mungkin dirinya disuruh ke ruangan Pak Daryo kalau bukan karena masalah kampus.

Aulia sudah menghadap ke Pak Daryo, beruntung pintu tak tertutup semuanya. Sedikit mengintip dengan keadaan Pak Daryo yang fokus ke arah Aulia.

"Aulia, ini sudah satu bulan kamu nunggak iuran kuliah. Kamu mau gak bisa ikut ujian?" tanya Pak Daryo tegas menatap ke arah Aulia.

"Ma-maaf Pak, kemarin gajian saya kasih ke Ibu. Soalnya Ibu lagi sakit dan butuh biaya yang banyak," lirih Aulia.

Hatiku terenyuh mendengar penuturan temanku itu, dia tak pernah memang mau meminjam apalagi cerita tentang kesusahannya padaku.

Dirinya akan selalu tampak baik-baik saja tanpa beban, padahal ternyata ada beban yang begitu berat di pundaknya.

"Saya gak mau tau lagi Aulia, minimal kamu cicil juga gak papa. Kamu mau langsung gak bisa ikut ujian?" tanya Pak Daryo dengan kumis hitam tebalnya itu.

Aku merasa sudah cukup tahu apa yang harus kubantu, mulai mundur dan menegapkan badan yang sempat membungkuk tadi.

"Aaaa ...!" teriakku dan orang di depan langsung membekap mulutku. Bagaimana aku tak teriak? Tiba-tiba saat ingin berbalik sudah ada orang yang berdiri di belakangku.

Aku meronta meminta dilepaskan, ia malah membawa aku ke koridor yang sedikit sunyi. Kupukul lengannya agar membuka bekapan mulut ini.

"Bapak apaan, sih!" ketusku sengit dengan mengusap bibirku.

"Kamu yang apaan? Teriak-teriak kayak di hutan aja!" tegurnya.

"Lagian Bapak ngapain ada di belakang saya tadi?"

"Kamu ngapain ada di depan ruangan itu tadi?"

"Bukan urusan Bapak!" potongku dengan cepat dan berniat meninggalkan dia.

Namun, aku kalah cepat. Tangan mungilku ini lebih dulu ditarik Pak Malik kembali membuat aku menabrak dadanya.

Tuk ...!

Sakit, plis! Gak ada romantis-romantisnya kek di novel apalagi film Aca-aca onoh! Atau ... aku yang akan ada di tangannya sebelah sambil kami saling pandang.

Gak ada kayak gitu, nih hidung sakit juga wajah karena nabrak dada dia yang udah kayak besi!

"Aw ... sakit, Pak!" keluhku memukul lengannya dengan kuat. Eh, kok lancang Anda Abibah!

Kuusap wajahku juga hidungku dengan cemberut, suer ini sakit sih!

"Maaf, saya gak sengaja," lirih Pak Malik dan sedikit menunduk agar bisa melihat wajahku.

"Kalo emang gak mau dijodohkan, yaudah sih! Gak usah nyakiti saya juga, saya pun gak suka kok sama Bapak dan gak mau sama Bapak! Tapi, jangan kayak gini dong!" bentakku dengan sendu.

Aku segera berlari dengan embun yang sudah tak tertahankan, lah-lah? Kok malah nangis beneran, entahlah aku masih sakit hati terlebih dia mengatai aku tak beradab.

Kusapu air mata juga cairan bening yang selalu hadir meskipun tak diundang menggunakan kerudungku.

Mengayunkan kaki dengan cepat, kembali melewati kantor Pak Daryo. Kulihat, sudah tak ada Aulia.

"Pak, permisi!" ucapku di ambang pintu sambil melihat kanan-kiri berharap Aulia tak mengetahui aku tengah berada di sini.

"Masuk!" titah Pak Daryo menyuruhku untuk masuk.

Aku mengangguk setelah merasa tak ada tanda-tanda Aulia, duduk di bangku yang berhadapan dengan Pak Daryo.

"Maaf menganggu Pak, saya Abibah."

"Iya, saya sudah kenal. Kenapa? Kamu 'kan gak ada tunggakan," jelasnya menatap ke arahku.

"Saya tau, kok, Pak. Ini masalah mahasiswi yang namanya Aulia. Dia ... nunggak berapa bulan dan biayanya berapa, ya, Pak?"

"Dia nunggak satu semester," jelas Pak Daryo tanpa ekspresi ramah sedikit pun.

"8 juta Pak?" tanyaku kaget. Pasalnya, aku tak pernah menggaji dia telat apalagi kurang selalu kulebihkan karena agar membantu meringankan biaya kuliahnya.

"Enggak, dia udah cicil 5 juta. Tinggal 3 juta lagi, kok," ungkap Pak Daryo.

"Oh, yaudah kalau gitu Pak. Saya yang lunaskan, bentar, ya." Kuambil handphone di dalam tas dan langsung membuka aplikasi dompet digital.

Setelah mengetik nomor tujuan, kukirim sejumlah tiga juta langsung ke Pak Daryo, "Udah 'kan Pak?" tanyaku dengan sedikit senyum dan membuang napas lega.

"Oke, sudah. Terima kasih," ucap Pak Daryo sambil mencari berkas. Mungkin, ingin mencoret nama Aulia dari daftar mahasiswi yang belum bayar semesteran.

"Oh, iya Pak. Jangan bilang sama Aulia kalo saya yang bayarin, ya, Pak. Kalo gitu saya pamit, permisi!"

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!