Flashback lagi
Aku mengerjapkan mata kala mendengar suara bentakan dari luar kamar, aku memang tengah tak mengerjakan kewajiban.
Segera ke kamar mandi untuk buang air seni lebih dulu dan juga membasuh muka ini, handphone kuletakkan di nakas dan segera mengambilnya.
"Baru jam tujuh," gumamku melihat angka yang tertampil.
Dengan sangat perlahan, kubuka pintu kamar tamu ini agar tak membuat mereka mengalih pandangan ke arahku.
"Abibah?" tanya seseorang dari belakang saat aku tengah menutup pintu kamar padahal sudah sangat pelan.
Aku langsung membalikkan badan dan melihat ke arah Pak Malik yang memicingkan matanya menatap tajam ke arahku.
"Ya, mahasiswimu sendiri yang menyelamatkanmu! Apa kau tak malu, ha?" tanya Om tersebut dengan nada yang kembali tinggi.
Aku masih mematung, enggan untuk mendekat ke arah mereka. Takut jika aku akan kena semburan juga.
"Ke sinilah, Nak. Kenapa kau masih berdiam diri di situ?" tanya suara bariton itu lembut kepadaku. Sungguh sangat aneh, tadi sama Pak Malik suaranya begitu menakutkan.
Giliran samaku? Eh, tapi masa dia juga marah ke aku. Apa salahku? Dengan keberanian aku mengangguk dan berjalan ke arah mereka bertiga.
"Andai tidak ada Abibah tadi malam, mungkin kau sudah jadi mayat pagi ini!" tegas Om Dimas dan pergi berlalu padahal aku baru duduk.
Tante Dwi mengusap lutut Pak Malik, aku yang duduk di single sofa hanya menatap mereka saja. Pak Malik menatap lantai dengan penyesalan.
Sedangkan aku, masih seperti orang yang merindukan bantal, guling juga kasur. Ngantuk sekali rasanya!
"Ayo kita sarapan, setelah ini kita ambil mobilmu dan antar Abibah buat pulang," jelas Tante Dwi menatap ke arahku lembut.
Aku tersenyum dan mengangguk, wanita itu pergi ke arah yang sama dengan Om Dimas tadi. Aku pun hendak menyusul mereka.
Namun, tanganku ditarik oleh Pak Malik membuat aku kembali terduduk di tempat semula, "Ada apa Pak?" tanyaku menautkan alis bingung.
"Kamu bilang apa aja ke orang tua saya?" tanyanya dengan sorot mata menyalang seperti orang yang siap memakan manusia lainnya hidup-hidup.
"Gak bilang apa-apa, kok. Cuma ngasih tau kalo Bapak mabok, eh bukan. Papanya Bapak juga udah tau kok kalo Bapak mabok," jawabku santai dan melepaskan cekalan tangannya di tanganku.
Dia menatap apa yang tengah kulakukan, "Bapak kurang pro, masa baru minum begituan aja udah mabok. Berapa botol, Pak? Paling setengah gelas 'kan? Saya 5 botol aja masih bisa bawa mobil ke planet Mars. Cemen Bapak mah!" cibirku dan segera berlari ke jalan yang di lalui oleh Om dan Tante tadi.
Semoga beneran dapur, sih, karena aku juga gak tahu ini lorong ke mana. Tak kulihat bagaimana ekspresi full-nya tadi.
Hanya saja, sekilas sepertinya tanduk sudah keluar dari kepalanya itu. Aku tak beneran dalam mengucapkan hal pernah meminum barang haram itu.
Tahu rasanya pun aku tidak, cuma agar membuat laki-laki itu sedikit malu saja. Tak ada salahnya, bukan?
Kupelankan langkah kaki, tak mungkin harus berlari sampai di meja makan. Om dan Tante sudah menunggu dengan berbagai makanan yang sudah terhidang.
"Silahkan duduk, Nak. Setelah makan, kita akan mengambil KTP-mu," titah Om Dimas dan langsung kubalas anggukan.
"Bagaimana tidurmu? Apakah nyaman? Maaf, ya, jika kau harus bangun sepagi ini padahal baru saja tidur. Takutnya, kedua orang tuamu malah mencari keberadaanmu," timpal Tante Dwi menatap ke arahku yang duduk di sampingnya.
"Gak papa kok Tante, nanti saya bisa sambung di rumah tidurnya," jawabku dengan kekehan kecil.
Seseorang baru datang dan menarik kursi untuk dia duduki, Tante Dwi mulai menyendokkan nasi ke masing-masing piring.
"Maaf, Tante. Punya saya jangan banyak-banyak," ucapku yang merasa sepertinya itu akan menjadi piring milikku.
"Kenapa? Bukannya kamu harus punya tenaga yang kuat 'kan kurang tidur tadi malam?" tanya Tante masih dengan memegang sendok nasi.
Eh, kayak ada yang salah. Kenapa larinya butuh tidur malah ke nasi? Ini aku yang nge-lag atau si Tante, sih?
"Gak usah Tante, udah cukup kok segitu," kataku dengan nasi yang hanya dua sendok dimasukkan Tante Dwi ke piring.
"Yaudah, kamu tuh makan harus banyak. Biar gemuk tuh badan," ujar Tante Dwi yang hanya kubalas dengan anggukan.
Aku mengambil lauk yang ada di depan, sebenarnya aku tak terlalu suka ikan dan daging juga telur. Aku alergi dengan telur.
Di rumah, aku selalu makan dengan sayur-sayuran bisa dibilang vegetarian.
"Kamu vegetarian?" celetuk Tante Dwi sambil menatap isi piringku.
"Hehehe, gak juga Tante. Lagi pengen makan ini aja," elakku dan mulai menadahkan tangan.
Aku merasa bahwa semua orang kini tengah melihat ke arahku dan ternyata benar saja, kulihat mereka menatap seolah aku tengah berada di entah berantah.
"Eh, kenapa ya Tante? B-bukannya Pak Malik muslim?" tanyaku yang entah ke mana nih pembahasan.
Tante Dwi berbinar, kulihat Om Dimas menunduk dengan wajah sendu dan Pak Malik? Dia malah asyik mengunyah makanannya.
***
Pak Malik dan keluarganya akhirnya benar-benar mengantarkan aku ke rumah dengan selamat, sebelumnya kami sudah ke rumah Pak RT untuk mengambil mobil juga KTP-ku.
Kemudian, mobil Pak Malik langsung dimasukkan ke bengkel dan nantinya setelah dari rumahku mereka akan pulang menggunakan taksi.
Aku keluar dan menatap mobil yang ada di halaman rumah, "Mobil siapa Abibah?" tanya Tante Dwi yang juga sudah membuka pintu.
"M-mobil Mama sama Papa saya Tante," jawabku terbata-bata.
"Gak usah takut, Tante dan Om akan jelasin. Kamu gak usah khawatir," tutur Tante Dwi menenangkan aku.
Aku akhirnya mengangguk dan kami mulai masuk ke dalam rumah, kuketuk pintu dan berharap Mama tidak langsung mengeluarkan tanduknya dan marah-marah.
"Eh, Non udah pulang? Masuk, Non. Nyonya sama Bapak udah pulang dan di ruang tamu, kayaknya marah deh," bisik Bibik.
"Udah pulang lama, ya, Bik?"
"Jam 6 tadi Non."
"Siapa Bik? Suruh masuk aja Abibah ke dalam!" teriak Mama dengan jelas dari dalam.
Aku langsung menelan salivaku dan menatap ke arah belakang di mana keluarga Pak Malik juga Pak Malik berada.
"Silahkan masuk, Om dan Tante," ucapku sedikit menyingkir dari pintu ketika Bibik sudah tak ada lagi setelah membukakan pintu dengan lebar.
Aku berjalan di belakang wanita yang menggunakan celana jens juga kemeja putih dengan rambut terurai sambil berdzikir karena takut jika dimarahi apalagi tiba-tiba diusir dari rumah ini.
Kulirik ke arah Pak Malik yang wajahnya tak berekpresi dan menatap ke arah lurus, dia sama sekali belum mengucapkan terima kasih padaku.
Apa dia lupa? Apa perlu kubenturkan kembali kepalanya ke setir mobil miliknya itu agar dia ingat bahwa aku yang menolongnya.
"Dasar menyebalkan!" gerutuku dan membuang pandangan kembali ke lantai.
"Siapa yang tengah kau bicarakan?"
Deg ...!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments