"Lu ke mana sih kemarin-kemarin? Kenapa susah banget dihubungi? Gak tau apa kalo tempat kopi kita rame?" tanya Aulia Dina sahabat baikku dari SMA.
"Maaf, gue selesaikan tugas soalnya," kataku tak ingin berdebat sambil fokus menaiki anak tangga di kampus.
"Biasanya lu kalo weekend pasti sempetin mampir buat bantu-bantu, mana banyak banget yang nyariin lu lagi!" ketus Aulia bersedekap dada menatap dengan kesal ke arahku.
"Tapi, bisa lu heandle semua 'kan?" tanyaku tersenyum dengan menaik-turunkan alis.
Dia tampak gelagap, menggaruk kening yang sepertinya gak gatal-gatal amat. Aku menautkan alis menatap heran.
"Kenapa?" tanyaku menyelidiki.
"Gue minta bantuan sama Irpan, sih," ujarnya dengan menampilan gigi putihnya itu.
Aku berhenti di salah satu anak tangga dan menatap intens ke arah dirinya, ia sudah menundukkan kepala.
"Berapa kerugian?" tanyaku tak mau basa basi, "udah gue bilang, gak usah minta bantuan sama dia! Kalo emang lu ngerasa gak mampu handle, lu bisa usir atau tutup aja!"
Aku dan Aulia memang memiliki coffe shop yang tak terlalu besar, tapi tentunya nyaman dan bersih.
Kami juga menggunakan kopi terbaik juga resep yang sudah pasti enak karena aku meminta resep dari salah satu sepupu yang memiliki usaha yang sama di luar negri.
Awal merintis, aku meminjam uang Papa dan Mama. Aulia hanya karyawan di tempat kopiku itu.
Karena dia berasal dari keluarga yang pas-pasan, aku menawarkan agar dia menjadi karyawan di tempatku.
Namun, belakangan ini dirinya ternyata memiliki hubungan dengan Irpan. Laki-laki bokek tapi gayanya selangit.
Dia sering mengajak anak buahnya atau geng-nya bermain di tempat kopiku dan memesan dalam jumlah yang tak sedikit.
Saat ditagih, ia beralibi akan membayarnya nanti waktu orang tuanya mengirim uang. Karena dia di Jakarta merantau.
Tentu saja aku tak tinggal diam, ketika dirinya tak mampu membayar kusuruh dia mencuci gelas juga piring-piring bekas makanan yang kubuat di tempat kopi.
Serta tak lupa, mengelap kaca juga menyapu dan mengepel ruangan.
"Gue gak mau tau, ya, Aulia! Kalo sampe Irpan datang lagi dan cuma ngutang, dengan berat hati lu gue pecat!"
"Kalo sekali dua kali mah oke, itu juga gak oke karena gue juga harus bayar listrik dan sewa tuh tempat. Jadi, jangan lu anggap duit atau untung dari tempat itu banyak!" tegasku lagi.
Aulia tampak memasang wajah sendunya, ia menatap ke arah sepatunya. Biarlah, dia tak bisa menyamakan keadaan begitu saja. Mentang-mentang aku sahabatnya bukan berarti dia bisa seenaknya saja.
Suara dering handphone yang berada di saku gamisku membuat aku mengalihkan fokus, kurogoh kantong mengambil benda pipih tersebut.
"Iya, ada apa Pa?" tanyaku saat melihat nama Papa yang ada di layar handphone.
Aku memalingkan wajah ke arah yang lain, tapi secara kebetulan ada pasangan yang lewat dengan mesranya.
Laki-laki tersebut memegang pinggang ramping wanita tersebut.
"Hay, Abibah, Aulia. Good morning!" sapanya dan berhenti di depan kami.
"Good morning Mis Vilo," sahut Aulia dengan tangan yang berdada sedangkan aku hanya menjawab tanpa mengeluarkan suara.
Setelah menyapa kami dan tersenyum dengan begitu ramahnya, mereka akhirnya pergi dari hadapan kami dan melanjutkan perjalanan.
"Iya, Pa. Nanti deh kita bicara pas Abibah di rumah, ya. Udah dulu, ya, Pa. Assalamualaikum," ucapku memutuskan panggilan.
Aku sampai lupa, Papa tadi bahas apaan di telepon gara-gara melihat pemandangan tadi.
"Mis Vilo sama Pak Malik cocok banget, ya," timpal Aulia dengan menatap punggung pasangan yang telah menjauh.
Aku menatap ke arah sahabatku itu, "Iya, berduit sama berduit. Bukan berduit sama kere kayak lu sama Irpan!" ketusku dan berjalan meninggalkan Aulia.
"Haish, Abibah! Maafin guelah!" teriak Aulia mengejar ke arahku tapi tak kuhiraukan teriakan darinya itu.
"Dih, emangnya boleh di kampus mesra kayak gitu? Padahal gak ada hubungan juga, tuh cowok juga ganjen banget jadi orang! Kayak gak ada bagian lain aja yang bisa di pegang!" gerutuku dengan sesekali menghentakkan kaki berjalan di koridor kampus.
Berharapnya, sih, yang aku hentakkan ini di bawahnya bukan lantai. Tapi muka dan tubuh dosen plus laki-laki songong itu.
"Abibah!" teriak seseorang dari belakang.
Aku langsung berhenti dan melihat ke sumber suara, ini bukan suara Aulia mangkanya aku mau berhenti. Karena ini suara ....
"Eh, Hay Deo. Ada apa?" tanyaku menatap laki-laki yang sudah ada di depanku.
"Kantin, yuk! Aku yang traktir!" ajaknya dengan wajah penuh harap.
Aku sedikit canggung dan menggaruk tengkuk, "Ayo, traktirin gue sekalian, ya! Kalo lu traktir sahabat gue berarti lu harus traktir gue juga!" potong Aulia yang sudah berada di tengah-tengah kami.
Lumayan, sih, setidaknya aku tak merasa canggung dengan laki-laki yang juga lumayan banyak penggemar ini karena kepintaran dan juga ketampanannya.
"Gak ada yang ngajak kamu!" ketusku menatap ke arah Aulia dengan senyumnya yang sudah mengembang.
"Ah, Abibah! Lu mah gak asyik banget, orang Deonya juga gak keberatan pun. Iya 'kan?" tanya Aulia dengan cepat memalingkan wajahnya dengan menyenggol tubuh Deo menggunakan tangannya.
"Iya, gak papa kok. Kalo kamu mau ikut sama kita ke kantin."
"Yaudah, yuk!" seru Aulia cepat dengan semangat yang membara.
Aku mendengus kesal melihat tingkah wanita yang saat ini berada di depan kami, karena aku dan Deo berjalan beriringan di belakangnya.
***
"Gimana sama tempat kerja kamu?" tanya Deo menatap ke arahku dengan memakan bubur ayamnya.
"Baik-baik aja, kok," jawabku cengengesan dan memakan roti yang sudah dibungkus-bungkus.
"Aelah, Abibah! Gak perlu gerogi kali, ini 'kan Deo. Bukan orang lain, rileks aja rileks!" timpal Aulia sambil memasukkan bubur ke mulutnya.
Aku langsung menatap tajam ke arah wanita di sampingku ini, bukan masalah aku gerogi atau apa.
Hanya saja, aku tak ingin setelah ini ada adegan tembak-menembak kembali. Karena, sudah sering sekali Deo menyatakan perasaannya padaku.
Beruntung, aku merupakan orang yang suka privasi soal kehidupan pribadi termasuk pada sahabat.
Jadi, Aulia tak pernah tahu akan hal itu tapi dia memang sering menebak karena sikap Deo yang menurutnya tak wajar jika tak memiliki perasaan pada diriku.
"Mmm ... habis kelas, kamu ada kesibukan di luar, gak?" tanya Deo menatap ke arahku.
"Ada, tadi Papa nelpon bilang ada yang mau dibicarain. Aku juga udah lama gak ke tempat kopi, udah rindu pengen sibuk di situ," jawabku dengan cepat agar laki-laki ini tak berharap.
Dia hanya mengangguk dan kembali fokus memasukkan makanan ke mulutnya, aku mengedarkan pandangan dan melihat ada seseorang yang baru masuk ke dalam kantin.
Sebuah ide yang sedikit beresiko muncul tanpa diundang, "Eh, kamu kok makannya berantakan, sih?" tanyaku dengan nada yang dibuat selembut-lembutnya tapi tetap keras dan mengusap pinggir bibir Deo dengan tisue.
"Uhuk!" batuk Aulia melihat perlakuanku yang tak biasa pada Deo.
Kulirik kembali ke arah pintu masuk kantin, tampak wajah laki-laki tersebut menampilkan amarah.
'Rasain lu Pak!' batinku tersenyum puas dan memalingkan kembali pandangan serta menjauhkan tangan dari bibir Deo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments