Kulirik, Aulia sudah akan masuk dengan cepat kumasukkan robekan kertas tadi ke dalam celemek dan mengambil lap untuk membersihkan sekitar di dekatku.
"Eh, ada Pak Malik! Tumben mampir, udah pesan Pak?" sapa Aulia tersenyum ramah ke arahnya. Kulihat, dia tersenyum tipis ke arah Aulia.
"Iya, kebetulan lewat tadi. Udah, kok. Ini mau pulang," ucapnya berbohong dan berdiri.
"Mari!" pamitnya ke Aulia dan meninggalkan cafe milikku.
Apaan yang pesan, yang ada tuh dia mengajak untuk aku menyetujui perjanjian yang unfaedah itu! Dia kira aku akan mau? Jangan terlalu banyak berharap.
"Abibah, Pak Malik kok aneh, ya?" tanya Aulia dengan pandangan masih menatap punggung Pak Malik yang masuk ke dalam mobil.
"Aneh? Aneh apa?" tanyaku dan meletakkan kain lap kembali ke tempatnya.
"Iya, lu ngobrol sama dia ya tadi?" selidik Aulia sembari membuka tas dan memasang celemek miliknya.
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, "Mungkin dia ada masalah kali, ya, sama Mis Vilo?" tanya Aulia menatapku.
Kuangkat bahu acuh, tak ingin tahu apa yang terjadi dengan laki-laki itu. Kuambil benda pipih dan memilih untuk berselancar di media sosial.
Suara pintu dibuka terdengar, Aulia ada di samping. Jadi, aku rasa dia yang akan melayani pembeli kali ini.
"Mau pesan apa Kak?" tanya Aulia kudengar.
"Mmm ... saya pesen kopi latte-nya satu, ya, Mbak," ucap laki-laki tersebut. Sedangkan aku? Tetap fokus ke handphone.
"Mmm ... Mbak?" tegur orang tersebut membuat aku akhirnya melihat ke arah Aulia. Dia sudah tercengang dengan mulut yang terbuka.
Kalian punya teman yang seperti ini, gak? Yang lebay banget setiap kali ketemu dengan orang cakep, capek beut rasanya.
"Woy, Aulia!" teriakku menggguncang tubuhnya agar sadar.
"Indah banget ciptaan-Mu, ya, Allah," kata Aulia. Aku hanya menggelengkan kepala dan menatap customer yang datang.
"Mau dibungkus atau minum sini?" tanyaku menatap ke arah orang tersebut dengan acuh.
"Temannya kenapa, Mbak?" tanya laki-laki tersebut dengan lembut juga kekehan pelan.
Gleg ...!
Seketika kutelan saliva ini, suaranya lembut banget dan sopan masuk ke telinga. Gak, gak bisa seperti ini. Aku harus waras, cukup Aulia saja.
"Oh, dia pengen di pecat itu Kak," ketusku dengan suara agak keras agar Aulia bisa fokus kembali.
"Eh, enak aja lu!" protes Aulia dengan menepuk lenganku.
"Udah sadar?"
"Dih, dari tadi juga sadar, kok!" gerutunya dengan memajukan bibir.
"Gimana, Kak? Mau bungkus atau minum di sini?" tanyaku dengan senyum simpul.
"Minum di sini saja Mbak," jawabnya.
"Baik, silahkan duduk."
"Gak dibayar memang, ya, Mbak?" tanyanya menaikkan alis.
"Tidak Kak, nanti saja," jelasku. Dia mengangguk dan berjalan ke arah bangku di sudut.
Aulia setelah tersadar langsung membuatkan kopi yang dipesan laki-laki tadi, kini ia sudah berjalan ke arah meja orang tersebut.
Aku hanya memperhatikan dari jauh, Aulia tampak tebar pesona dengan tersenyum-senyum ke arah laki-laki itu. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Kakak baru di kota ini, ya?" tanya Aulia berdiri dengan memeluk nampan kopi.
"Iya, saya baru seminggu di Jakarta. Beberapa hari ini nyari kopi terbaik di kota ini dan menurut google kopi di sini enak. Jadi, ya, saya langsung datang ke sini karena lumayan dekat juga," jelas laki-laki itu menatap ke arah Aulia dengan tersenyum membuat lesung pipinya terlihat.
Aulia semakin salah tingkah bak cacing kepanasan, aku yang masih memperhatikan mereka cuma bisa menahan tawa melihat tingkah Aulia yang tak berubah sama sekali.
"Iya, Kak. Di sini memang paling top deh kopinya, apalagi penjaga di sini pada cantik-cantik," ucap Aulia sembari merapikan rambut sebahunya itu.
Tiba-tiba, laki-laki tersebut menatap ke arahku yang tengah tersenyum menatap ke arah mereka. Otomatis, pandangan kami bertemu.
Aku segera memutus dan mendatarkan wajah ini sambil menatap handphone kembali. Malu rasanya diketahui tengah memperhatikan mereka.
"Nama Kakak siapa?" tanya Aulia tanpa basa-basi. Beginilah dia anaknya memang, tak ada rasa malu dan segan di dalam hidupnya.
"Abil Daffa Muwaffaq. Kamu bisa panggil saya dengan sebutan Abil," ucap laki-laki tersebut yang masih bisa kudengar pembicaraan mereka.
"Oh, oke Kak Abil. Semoga jadi langganan di sini, ya. Nama saya Aulia," ujar Aulia mengulurkan tangannya dan aku kembali melihat ke arah mereka.
Kak Abil menangkup tangannya di depan dada, "Salam kenal Aulia," kata Kak Abil dengan sopan.
Nah, rasain tuh lu Aulia! Pengen sekali aku tertawa serta menyoraki dia dari sini, sangat tak malu sekali berdekatan dengan laki-laki.
"Eh!" gagap Aulia dan mengambil tangannya kembali, "kalau begitu, saya ke sana balik, ya, Kak. Kalau ada apa-apa panggil aja."
"Baik, terima kasih Aulia."
Aku segera kembali mengalihkan pandangan karena tak mau ketahuan lagi tengah memperhatikan mereka.
Laki-laki berlesung pipi, bibir tipis, hidung mancung, tinggi, juga berkacamata meskipun pakai kacamata itu terlihat cocok di wajahnya yang lonjong tersebut.
Aulia tersenyum-senyum kembali ke arah kasir, aku masih mode pura-pura tak tahu dengan apa yang tengah mereka bicarakan tadi.
"Abil, Abibah!" bisik Aulia dengan gregetan.
"Aulia, Abil. Beuh ... sangat cocok!" sambungnya kembali dengan kaki yang diayun-ayunkan seolah tengah kegirangan.
"Lu cuma dapat namanya, bukan dapat undian 1M. Jangan berlebihan!" kritikku dengan wajah datar. Seketika Aulia memajukan mulutnya yang mungkin jika diikat, bisa.
"Lu mah, awalnya nama. Baru deh hati, apa salahnya? Hati dia bahkan lebih berharga dari uang 1M itu!" tegas Aulia dan hanya kubalas gelengan.
Oh, ya. Aku belum cek keuangan juga bahan yang sudah habis, kulihat buku keuangan sedangkan Aulia memegang dagunya menggunakan tangan menatap ke arah Kak Abil.
Segera kuhitung, aku menautkan alis, "Lu yang nalangin uang kopi si Irpan?" tanyaku saat menghitung uang pas.
"Enggak, kok. Gue cuma nalangin dikit doang itu mah," ucap Aulia melirik ke arahku.
"Sama aja! Itu namanya lu nalangi juga!" ketusku dan mencatat berapa uang yang kuambil hari ini.
"Gue mau bayar air dan ngisi token lampu dulu, lu udah makan? Biar gue belikan makanan," tuturku sambil membuka celemek.
"Mmm ...." Aulia tampak berpikir, memang biasanya dia akan membawa makan ke tempat kerja, sih.
"Aman, gak akan gue potong dari gaji lu!" timpalku dengan wajah datar.
"Hahaha, oke, gue mau! Belikan apa aja, makasih Abibah!" seru Aulia memelukku dari samping.
"Gak usah lebay!"
Aulia bersungut dan melepaskan pelukan, "Yaelah, sesekali juga!" sebalnya.
Kuambil kunci mobil juga uang, pergi dari cafe dengan melempar senyuman ke arah Kak Abil karena dia pun tengah melihat ke arahku juga tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Dian Citra Utami
bau baunya saingannya p.dosen nih 😁
2023-06-27
0