Awal Mula

Dengan cepat, ingin kututup kembali pintu ruangan Pak Malik, "Kenapa ditutup? Masuk!" titahnya Pak Malik menyadari aku yang berniat menutup pintu.

"T-tapi Pak," gugupku dan menatap ke arahnya.

"Masuk dan tutup kembali pintunya!" tekannya dan membuat aku mau tak mau melakukan hal yang dia suruh.

Bagaimana aku tak kaget? Mis Vilo tengah duduk di atas meja kerja Pak Malik dengan Pak Malik yang duduk di bangkunya.

Mereka sangat dekat bahkan sangat dekat, aku tak paham dengan keluargaku. Kenapa mereka ingin menjodohkan aku dengan manusia yang seperti ini?

Aku berdiri di balik pintu, diam dan melihat aktivitas menjijikkan mereka berdua. Bukan, bukan berarti mereka melakukan kecup pipi apalagi hal seperti itu.

Namun, berhadapan seperti ini saja sudah sangat menjijikkan menurutku! Kupijit kaki yang sudah mulai terasa pegal.

"Pak, aish! Ada apa manggil saya, sih? Saya masih ada kerjaan lain!" gerutuku memberanikan bersuara.

"Apa kau tak bisa melihat? Bahwa di sini masih ada kekasihku?"

"Ya, kalo gitu panggil saya nanti aja kali Pak. Emangnya segabut itu saya sampe harus liat apa yang Bapak lakukan saat ini?" tanyaku dengan intonasi marah.

Sungguh, sangat menyebalkan Guys! Apa-apaan ini, dikira aku gak punya kesibukan kali, ya? Padahal masih ada nih soal yang belum kelar.

"Kenapa malah kau yang atur saya?" tanya Pak Malik sombong. Hih! Pen kucakar wajah sombongnya itu!

Berdebat dengan Pak Malik tak akan ada gunanya, pergi pun bukanlah solusinya. Aku berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan ini.

Kuletakkan buku dan membuka tas meletakkannya di sofa. Aku menghempaskan bobot tubuhku dengan tersenyum.

Kubuka buku dan mulai menyelesaikan tugas yang tinggal tiga lagi, bodo amat mau Pak Malik lagi mau apa di situ dengan kekasihnya.

"Siapa yang memberi kau izin untuk belajar di sini?" tanya Pak Malik dengan suara tegas.

Tak kupedulikan, aku asyik menulis dan lumayan. Sudah dua soal selesai, hanya tinggal satu lagi.

"Hey, Abibah! Apa kau tak tau sopan santun dan adab? Aku tengah berbicara dengan kau sekarang!"

"Selesai!" seruku bahagia, segera kututup pulpen. Memasukkan buku tugas juga pulpen ke dalam tas dan rencananya buku perpus akan langsung segera kukembalikan.

Kulirik sekilas ke arah pasangan itu, ternyata mereka tengah menatap ke arahku. Kupakai kembali tas dan memeluk buku.

"Sebelum menasehati atau berbicara tentang adab, coba Bapak kasih tau kekasih Bapak itu tentang adab. Oh, bukan adab. Tapi kewajiban seorang wanita harus menutup auratnya!" tegasku dengan menyunggingkan senyum.

Kubuka pintu ruangan yang berisi manusia tak jelas dan memilih pergi dari tempat tersebut.

Setelah keluar dari ruangan Pak Malik, kutarik udara agar memenuhi dadaku yang sesak ini. Bahkan, embun pun mulai terlihat di kelopak mataku.

Sebisa mungkin kusembunyikan dengan menatap ke atas serta mengipas-ngipasinya. Merasa lebih baik, kuayunkan kaki menuju perpustakaan.

Keluar dari perpustakaan setelah mengembalikan buku yang kupinjam, kulirik arloji di tangan kiri milikku.

Masih ada waktu setengah jam untuk mengembalikan mood yang rasanya sudah berantakan saat ini.

Berjalan dengan cepat ke arah taman belakang kampus, sendirian. Aulia tak tahu di mana keberadaannya karena di perpustakaan tadi kucari dirinya tak ada.

Beruntungnya, bangku taman yang hanya 3 ini selalu kosong. Entah mengapa orang-orang enggan ke sini. Padahal, suasananya begitu tenang.

Aku duduk dan memandang lurus ke depan, mengingat kejadian yang membuat aku akhirnya harus menerima takdir yang tak kuinginkan ini.

Takdir ... di mana, aku harus siap untuk menikah dengan seseorang yang tak kucintai dan orang yang bukan termasuk dalam laki-laki impianku.

Flashback on

Aku baru pulang dari cafe malam ini pukul tengah dua belas malam, memang jika malam minggu akan banyak pemuda-pemudi yang nongkrong di cafe milikku.

Kukendarai roda empat menuju rumah setelah mengantar Aulia pulang, kupicingkan mata ketika melihat ada mobil yang menabrak pembatas jalan.

Depan mobil sudah mengeluarkan gumpalan asap, mataku langsung terbuka lebar dan menghampiri mobil tersebut.

Jalanan sangat sunyi, wajar karena memang sudah sangat larut. Kuhentikan mobil tepat di depan mobil tersebut.

Segera berlari ke arah kaca pengemudi, "Om-om!" teriakku dengan mengetuk kaca mobil seraya mengintip ke dalam.

Terlihat, pengemudi sudah tak sadarkan diri dengan kepala yang tersandar di stir mobil. Segera kubuka dan beruntung mobil tak dikunci dari dalam.

"Om!" pekikku untuk melihat orang tersebut. Darah segar terlihat keluar dari keningnya, kututup mulut merasa tak percaya.

"Pak, Malik?" tanyaku dengan kaget.

Panik dan takut, aku bukan mahasiswi kedokteran. Aku bahkan takut melihat darah juga suntikan.

"Tolong ...!"

"Tolong ...!"

Aku kalut, tak tahu lagi harus apa. Tak kuat juga jika harus menggendong tubuh yang sepertinya beratnya dua kali lipat dibanding tubuhku.

Alhamdulillah.

Beberapa warga mendengar teriakanku, mereka datang berlari. Bukan hanya dua atau tiga, bahkan 10 orang sepertinya ada.

"Ada apa dek?" tanya sebapak menatapku dengan mata yang sepertinya masih mengantuk.

Haduh ... kasihannya.

"Ini, Pak. Bapak ini pingsan dan menabrak pembatas jalan, tolong masukkan ke mobil saya. Kebetulan, saya mahasiswi beliau Pak. Saya tau di mana rumahnya, nanti saya antar 'kan dia balik ke rumahnya," jelasku panjang dan dengan cepat. Berharap Bapak yang mungkin kesadarannya hanya beberapa persen ini paham.

"Baik, ayo semua. Bantuin!" seru Bapak tersebut membuat aku minggir.

Setelah mereka meletakkan Pak Malik di bangku samping pengemudi, salah satu orang yang ternyata ketua RT menghampiriku yang masih berada di samping mobil Pak Malik.

"Jadi, mobilnya ini gimana?" tanya Bapak tersebut.

"Saya gak tau, Pak. Coba Bapak cek, masih bisa hidup dan jalan atau tidak? Jika bisa, tolong bawa ke rumah Bapak saja. Besok saya atau keluarga beliau akan menjemputnya ke rumah Bapak," tututku sopan santun dengan nada suara bergetar.

"Baik, saya coba dulu Dek." Aku mengangguk mempersilahkan Pak RT untuk menjalankan mobil. Mesin mobil tersebut sudah hidup, aku mengerutkan dahi kala mobil tersebut tak juga jalan.

"Kenapa Pak?" tanyaku saat pak RT menurunkan kaca mobil.

"Awaslah Dek, gimana mobilnya mau dicoba kalo kamu masih di situ. Yang ada keserempet kamu!" tegur Pak RT dengan wajah datar.

Halah dalah! Aku malah lupa kalo masih ada di samping mobil Pak Malik, kaki yang lemas karena kejadian ini langsung berpindah dengan pelan.

Mobil Pak Malik dicoba oleh pak RT dengan mundur sehingga mobilku tak perlu bergeser, atau aku yang tak peka sama sekali?

Aku diam, mematung. Andai dia bukan pak RT sungguhan maka mobil Pak Malik sudah dicuri olehnya karena aku membiarkan dia mencoba mobil tersebut dengan jarak yang cukup jauh.

Dia kembali ke arahku, "Masih bisa jalan, Dek. Sini, minta KTP-mu dan catat alamat jalan ini. Besok, datang kembali ke sini suruh siapa saja untuk mengambil mobil juga KTP-mu," jelas Pak RT.

Aku mengangguk dengan cepat dan segera membuka dompet untuk mengambil KTP, kuserahkan KTP dengan tangan yang kutahan agar tak bergetar.

"Yaudah, terima kasih, ya, Bapak-bapak dan ibu-ibu. Kalau begitu, saya pamit pulang!"

"Iya, hati-hati."

Aku menunduk dan mengangguk, berjalan ke arah mobil dengan berlari kecil. Aku melupakan nyawa satu manusia lagi di dalam mobilku.

Ampun dah Abibah! Bisa mati tuh anak orang karena kelamaan lu bawa, eh, atau sudah mati? Ku-cek terlebih dahulu, kupencet-pencet nadinya, "Eh, cara ngecek masih hidup atau enggak dari nadi mah gimana?" gerutuku merutuki kebodohan sendiri.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!