Bukan Tempat Tertekan

Mobil berhenti di depan toko yang cukup ternama, aku segera keluar lebih dulu karena Pak Malik sedang mengangkat telepon.

"Abibah!" panggil seseorang dengan melambaikan tangan. Ternyata Tante Dwi sudah menunggu kami di dalam dengan wanita yang mungkin adalah pemilik toko ini.

Kucium punggung tangan wanita yang sebentar lagi akan menjadi mertuaku dan tak lupa juga berkenalan dengan orang yang ternyata sesuai dengan dugaanku bahwa ia pemilik toko ini.

"Malik mana?"

"Lagi angkat telpon Tante."

"Yaudah kalau gitu, kamu coba gaunnya duluan, ya. Tante nunggu di sini, nanti kamu dibantu sama asisten dari Tante Widiya."

Aku hanya mengangguk, mau menolak pun rasanya tak mungkin. Berjalan dengan dituntun oleh pegawai pemilik toko ini ke ruang ganti.

Belum sempat memilih gaun mana yang kuinginkan, Tante Dwi sudah memilihnya lebih dulu tanpa bertanya padaku.

Tak salah, sih, karena dari awal aku juga sudah bilang bahwa menyerahkan segalanya tentang pernikahan ini ke mereka.

Namun, minimal konfirmasi dulu kek sama aku. Apakah aku mau atau enggak, sudahlah! Bukan waktunya untuk menggerutu lagi.

Kulihat tubuhku yang berbalut dengan gaun berwarna putih, peyet yang ada di mana-mana serta manik-manik putih juga menghiasi di gaun juga khimar yang beruntungnya menutupi dada.

Tanpa terasa, bulir bening menetes, 'Aku seharusnya menggunakan ini di acara pernikahan yang mana aku menyukai calonku dan dia juga menyukaiku. Bukannya, malah terpaksa seperti ini. Bahkan, aku tak tau apakah nantinya akan ada kebahagiaan di rumah tanggaku itu,' batinku dan mengusap pipi.

"Bahagia, ya, Mbak? Saya juga dulu begitu, sangat bahagia bisa menikah dengan pacar saya yang udah 4 tahun kami pacaran. Namun, saya kira itu adalah awal kebahagiaan. Ternyata, malah awal penderitaan. Saya kira 4 tahun pacaran sudah cukup untuk tahu bagaimana sifat dan sikap dia. Ternyata? Saya salah, dia malah melakukan saya semaunya bahkan memukuli saya tanpa ampun ketika masalah di dapatkannya," ungkap asisten Tante Widiya sambil menatap ke arahku dari pantulan kaca.

"Sekarang, Mbak udah cerai?" tanyaku menatap ke arahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Dia mengangguk dan mengusap air mata yang sudah tak terbendung, mencoba tersenyum dan menatap ke arahku, "Jika di dalam rumah tangan tak ada bahagia, jadi untuk apa rumah tangga itu ada Mbak? Lebih baik sendiri, tapi kebahagiaan, ketenangan kita dapatkan. Menikah, bukan tempat tertekan."

Aku tertegun, seolah susah untuk menelan saliva. Menunduk merasa bahwa yang diucapkan oleh asisten Tante Widiya ini bener.

Namun, aku bisa apa? Semua cara sudah kulakukan untuk bisa membatalkan pernikahan ini.

Akan tetapi, semua cara pula mereka lalukan agar aku tetap menikah dengan Pak Malik.

"Yaudah, Mbak. Ayo kita ke depan, mungkin calon Mbak dan mertua Mbak udah nunggu," potongnya dan memegang bahuku.

Aku terkesiap dari lamunan, menatap ke arahnya dan memberikan senyuman serta mengangguk. Kami mulai berjalan ke arah ruang tunggu.

Dengan sangat perlahan karena aku juga tengah menggunakan hels, "Mbak, gak bisa pake sendal biasa aja gitu?" keluhku yang memang tak biasa memakai sendal dengan hak yang tinggi seperti ini.

"Hahaha, ya, gak bisa Mbak. Nanti, gaunnya bisa-bisa menyeret banget. Mbak cantik, kok pake hels. Tinggal latihan aja lebih sering," jelas asisten yang membuat aku mencebik.

Dia kira gampang kali, ya? Bahkan, aku pernah pakai sendal yang hanya menggunakan tumit 5cm saja sudah jatuh-jatuh, apalagi ini yang katanya 7cm.

Di ruang tunggu, sudah ada Tante Dwi juga Pak Malik. Pemilik tokonya sudah tak ada lagi di sofa, mereka berdua tampak asyik berbicara sampai tak menyadari kedatanganku.

Aku dan asisten saling pandang, karena jujur sangat malu dan gerogi rasanya jika harus memberi tahu bahwa aku sudah ada di depan mereka.

"Ehem, Nyonya, Tuan!" panggil asisten mengalihkan perhatian kedua orang yang ada di depanku sekarang.

Aku hanya cengengesan, malu rasanya jika harus dilihat menggunakan gaun seperti ini.

"Wah ... kamu cantik sekali, Sayang," puji Tante Dwi yang langsung bangkit mendekat ke arahku.

"Kalau begitu, saya pergi sebentar, ya, Nyonya. Mau mengambilkan baju pengantin laki-lakinya," pamit asisten yang melepaskan tangannya dari lenganku.

"Emm ... Tante, hels-nya boleh diganti dengan sendal, gak, sih? Abibah gak tau pake hels ginian, mana tinggi banget lagi," keluhku yang mulai merasa kalau betisku tegang.

"Haha, kamu gak biasa pakai hels ternyata, Sayang? Padahal, cewek akan tampak lebih cantik kalo pakai hels, lho," kata Tante Dwi tertawa ke arahku.

Dengan enggan, aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya. Kulirik ke arah Pak Malik yang masih ada di sofa.

Dia malah tampak hanya diam di situ, mencoba mencari kesibukan sendiri. Apa aku gak cantik, ya?

"Yaudah, gak papa. Sini Tante ajarin," ucap Tante Dwi memegang kedua tanganku. Aku membulatkan mata karena merasa takut jika sampai terjatuh.

"Udah, tenang aja. Gak akan jatuh, kok," sambung Tante Dwi yang seolah tahu apa yang ada di pikiranku.

Aku mulai melangkah secara pelan-pelan, menyeimbangkan tubuh yang rasanya begitu berat.

Huh, kenapa orang keliatannya sangat nyaman dan mudah menggunakan hels, ya? Kok, aku malah susah banget?

Kulirik kembali ke arah Pak Malik, ternyata dia tengah menatap ke arahku yang tengah belajar ini.

Merasa keciduk olehku, dia kembali sok sibuk dengan benda pipihnya. Seketika aku menahan senyum atas kelakuan dirinya yang ternyata seperti anak-anak juga.

"Nah, sekarang kamu jalan sendirian, Sayang. Pelan-pelan aja, kayak tadi," ungkap Tante Dwi yang melepaskan tangannya dari tanganku.

"Eh, Tante. Jangan dong, Abibah takut," keluhku karena merasa memang belum bisa.

"Udah, gak papa Sayang. Coba!" suruh Tante Dwi dengan senyuman yang seolah tengah menyemangati aku. Dia pun segera bergeser agak jauh dariku.

Kuhela napas agar rasa gugup ikut pergi menjauh dari diri, berjalan dengan begitu pelan-pelan, "Oh, ya, ampun. Se-ribet inikah mau nikah?" gerutuku yang ternyata masih di dengar Tante Dwi. Dia terkekeh mendengar gerutuanku.

Saat sudah mendapatkan 4 langkah dan bisa berbalik, tiba-tiba keseimbangan tak bisa kudapatkan.

"Eh, eh, Tante!" pekikku merasa takut jika harus jatuh. Pasti rasanya sangat sakit, mungkin aku akan langsung menangis di tempat jika rasanya sakit.

Beruntung, meskipun tububku tetap merasakan sakit tapi tak sesakit bila jatuh ke lantai. Pak Malik dengan sigap menangkap tubuhku dan jadilah aku sekarang ada di dekapannya.

Tak lama, karena kulirik ke arah Tante Dwi yang tersenyum begitu manis. Aku langsung tersadar dan menjauhkan diri dari Pak Malik yang tetap dengan wajah datarnya.

"Ehem!" dehem Pak Malik yang mencoba memecahkan suasana barusan, "kalo emang gak bisa, jangan dipaksa Ma. Biarin dia pake apa yang dia nyaman aja." Pak Malik berlalu dengan wajah yang tampak datar dari ruangan ini.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!