Setelah selesai berbicara dengan Pak Malik, aku langsung mengayunkan langkah ke arah kantin. Namun, langkahku terhenti karena suara telepon.
"Assalamualaikum, ada apa Tante?" tanyaku mengangkat panggilan dari Tante Dwi.
"Waalaikumsalam, Sayang. Tante mengganggu kamu, gak?"
"Enggak, kok Tante. Ada apa, ya?"
"Kamu jam berapa selesai kelas?"
"Mmm ... sekitar pukul 3 sore, Tante."
"Kamu 'kan gak bawa mobil, nanti ikut sama Malik aja, ya. Kalian ke tempat gaun, liat gaun pernikahannya."
Aku sampai lupa bahwa kuran waktu seminggu lagi akan menjadi seorang istri, memang Tante Dwi dan Mama berkata bahwa merekalah yang akan handle semua persiapan pernikahan.
Mulai dari baju, gedung dan lainnya. Aku hanya tinggal menyiapkan diri agar terlihat bahagia di pernikahan yang tak kami inginkan ini.
"Oh, iya, Tante."
"Oke, Tante udah bilang sama Malik, kok biar nunggu kamu."
"Baik, Tante."
"Yaudah kalau gitu, ya, Abibah. Selamat belajar."
"Iya, Tante."
Tut ...!
Panggilan diputus lebih dulu oleh Tante Dwi, aku memasukkan kembali handphone ke dalam saku gamis.
Saat ingin melanjutkan langkah menuju kantin, suara seseorang menggelegar di koridor memanggil namaku.
"Abibah!" teriak suara yang kuyakini milik Aulia. Aku langsung membalikkan badan dan menatap ke arahnya, tak jauh dari dirinya ada Pak Malik yang berjalan entah akan ke mana.
Grepp ...!
Tubuhku di peluk oleh Aulia mendadak, untung saja aku bisa menopang tubuhnya. Kalau tidak? Bisa-bisa kami akan terjatuh.
Suara isakan terdengar di telingaku, aku tak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Kuusap punggungnya mencoba menenangkan.
"Lu kenapa?" tanyaku dengan menautkan alis.
"Makasih, ya. Makasih lu udah baik banget sama gue, gue beruntung banget punya temen dan sahabat kayak lu!" lirih Aulia dengan mendekap tubuhku.
Saat bersamaan, Pak Malik lewat di samping kami dengan sedikit melirik ke arahku lalu melangkah dengan tegap.
Sesampainya di kantin, Aulia langsung melayani aku selayaknya ratu. Sedikit risih, tapi kapan lagi perempuan itu akan melakukan hal ini.
"Kok banyak banget?" tanyaku melihat ia meletakkan berbagai makanan di meja.
"Gak papa, ini gak sebanding sama yang lu bayar!" katanya tersenyum.
Oh, ternyata dia sudah tahu jika aku membayar uang semester kuliahnya. Pantasan, dia begitu bahagia.
"Tapi, gak boleh mubajir Aulia. Sayang juga segini banyak makanan," kritikku saat dirinya mulai duduk di depanku.
"Gak papa, ntar bungkus atau kasih ke yang lain," ujarnya mulai mendekat-dekatkan makanan ke aku, "ayo, makan!"
Aku akhirnya pasrah dan mulai memakanan berbagai macam makanan kantin, kulirik sekitar kantin.
Mataku menyipit ketika melihat Pak Malik di sudut kantin dengan handphone di telinganya sambil sesekali memasukkan makanan ke mulutnya.
Sebenarnya, aku ingin bertanya soal hubungan dia dengan Mis Vilo serta siapa wanita yang dia sebut di malam itu. Meskipun sudah lama kisahnya, tapi bukankah seorang wanita pengingat handal?
Tapi, kuurungkan karena takut nantinya dia berpikir bahwa aku suka atau mulai kepo dengan kehidupannya.
"Eh, lu liatin apaan?" tegur Aulia dan membuatku seketika mengalihkan pandangan.
"Ha? Gak ada," kilahku dan langsung menatap ke arahnya kembali.
***
Jadwal kelas terakhir, Aulia harus pulang duluan karena ada urusan yang harus diselesaikan sebelum datang ke cafe.
Sedangkan aku, baru saja akan berjalan ke luar pagar kampus dan mencari taksi atau ojek untuk bisa pulang.
"Ehem!" dehem seseorang yang berada di samping membuat aku menoleh.
"Ada apa Pak?" tanyaku menaikkan sebelah alis dan berhenti di sampingnya.
"Kamu lupa pesan Mama?"
Aku bergeming, mencoba mengingat apa yang di pesan oleh Tante Dwi ke aku.
"Oh, liat bajunya?" tanyaku memastikan dan akhirnya benar karena mendapat anggukan.
Aku menatap sekitar dan sedikit mendekat ke arah Pak Malik, "Pak, nanti orang-orang pada curiga kenapa kita pergi bareng di satu mobil," bisikku dengan sedikit berjinjit.
"Lalu?" tanyanya dengan polos.
Etdah! Kok malah nanya ke gue, lu seharusnya inisiatif sendiri dong sebagai cowok! Tapi, itu hanya gerutuku dan tak mungkin kuucapkan.
Bisa-bisa, akan susah mendapatkan acc dari dirinya nanti.
"Sudah, tak apa! Masuk saja, ini bukan urusan mereka," titahnya dengan wajah datar.
"Tapi, Pak," jawabku dengan nada menolak.
"Sudah, masuk saja," potongnya dengan cepat.
Aku pun akhirnya mengalah dan menatap bawah agar menutupi wajah bahwa wajah cantik jelita inilah yang masuk ke dalam mobil Pak Malik.
"Sebelum kita menikah, saya ingin kau memberi tahu ada hubungan apa antara kau dengan laki-laki tadi pagi," jelas Pak Malik memecah keheningan di dalam mobil menuju butik.
"Saya kira Bapak gak akan peduli akan hal itu, karena kita 'kan cuma nikah paksaan," sahutku dengan acuh dan melirik ke wajah fokusnya sebentar.
"Ya, memang saya tak peduli dengan hubungan kalian. Hanya agar saya tahu saja, apakah dia pasangan kau?"
"Bukan Pak, dia PDKT-an saya."
"Siapa yang mendekati?"
"Kalo di cap saya juga gak papa, secara gitu 'kan. Siapa yang gak akan tertarik sama dia; ganteng, mudah senyum, manis, tinggi, ada lesung pipinya dan paling penting ramah dan lemah lembut!" tegasku dan menatap ke arahnya.
"Bapak, namanya aja Malik Fazal Gafi seorang pemimpin yang baik hati dan ramah kepada semua orang, serta selalu lembut hati dalam berucap. Nyatanya? Galak, gak ada senyum, ketus, tukang marah-marah!" sambungku dengan wajah marah.
"Sejak kapan kau mencari tahu namaku?" tanya Pak Malik menaikkan satu alisnya.
"Barusan!"
"Sudah sejauh apa kau mencari tahu tentang diriku?"
"Dih, kepedean banget! Sejak kapan juga saya cari tahu soal kehidupan Bapak?"
"Itu buktinya, sampai arti nama saya aja kau cari tau."
"Cuma gabut!" jawabku singkat dan mengalihkan pandangan ke samping.
"Saya mau, kalau di depan orang tua kita. Tak ada yang membawa atau membahas soal pasangan masing-masing. Jadilah seperti pasangan sejati dan saling mencintai," tutur Pak Malik dan hanya kusimak.
Dia melirik ke arah tanganku membuat aku juga ikut melihat, "Mana cincin?" tanya Pak Malik dan membuat aku gelagapan mencari cincinnya.
Beruntung, cincin kuletakkan di tas sebelum pergi ke kampus tadi. Segera kupakai dan akhirnya kembali keheningan menyelimuti perjalanan hingga sampai.
"Bukannya kalo kita keliatan akur malah mereka akan semakin senang, ya, Pak?" tanyaku merasa ada yang mengganjal dengan peraturan yang dibuat Pak Malik.
"Tak ada cara yang lain, agar kita masih bisa melanjutkan hidup masing-masing selain berpura-pura menerima pernikahan ini. Meskipun, tak ada yang ingin!" tegas Pak Malik keluar dari mobil lebih dulu.
Ya, tak ada. Entah akan selamanya atau malah aku nantinya yang akan jatuh cinta padanya? Namun, kuharap tak ada yang jatuh cinta.
Baik itu Pak Malik, atau pun aku ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments