Selesai kelas hari ini, aku lansung pulang ke rumah menggunakan mobil milikku. Ya, hasil nabung dari SD hingga akhirnya tetap juga dibantuin oleh Mama dan Papa, sih.
Ingat, jangan lupa nabung, Guys! Karena apa? Karena yang bisa menenangkan itu selain dekat dengan Sang Pencipta juga uang karena bisa membeli atau jalan-jalan agar pikiran kembali tenang.
Kuayunkan kaki dengan sedikit berlari, membuka pintu dan melihat sudah ada Papa juga Mama di sofa.
Kuhampiri mereka dengan hati sedikit gugup dan takut, kalau mereka akan membahas soal pernikahanku nanti.
"Assalamualaikum, Ma, Pa," salamku yang masih berdiri di samping bangku Papa.
"Duduklah Nak!" titah Papa menatap ke arahku. Aku langsung duduk di samping Mama yang sudah mengembangkan senyuman meneduhkan dengan kerudung toscanya yang senada dengan baju.
Papa menarik napasnya dalam dengan wajah yang seolah bingung mau mulai berbicara dari mana.
"Ada apa Pa?" tanyaku yang penasaran. Berharap, jika Papa memberi tahu bahwa pernikahan dibatalkan.
"Ini, mengenai kamu dan Malik," ucap Papa memecah keheningan.
Gleg ...!
Kutelah saliva dan berdzikir semoga apa yang kuinginkan benar terjadi adanya, batal nikah dengan dosen tersebut.
"K-kenapa Pa?"
"Keluarga Pak Malik, ini pernikahan kalian dimajukan!"
Woy-woy, tunggu dulu! I-ini, kayak ada yang salah. Aku tertawa sudah seperti orang gi la.
"Haha, Papa bercanda 'kan? Papa bukannya mau bilang bahwa pernikahan kami dibatalkan? Iya 'kan? Kalo iya gak masalah kok, Pa. Abibah ikhlas sangat-sangat ikhlas," jawabku jujur dari relung hati terdalam.
"Kalau Mama dan Papa malu karena Abibah gak jadi nikah, gak papa kok kalau kita harus pindah. Abibah siap ikut pindah kuliah ke mana saja," sambungku dengan senyum yang sudah kek orang bego menatap Mama.
Mama dan Papa menautkan alis menatap ke arahku, "Siapa yang mau batalin? Tante Dwi dan Om Dimas akan pergi ke luar negri selama satu tahun, itu sebabnya pernikahan kalian harus segera dimajukan. Mungkin, tidak akan ada perayaan pertunangan. Nanti malam, kamu akan dilamar. Kita akan malam bersama dengan keluarga mereka di salah satu restoran," jelas Papa yang aku berharap ini hanya mimpi.
Rencananya, pernikahanku memang akan dilaksanakan enam bulan lagi, "Jadi, kapan nikahnya Pa?" tanyaku yang sebenarnya enggan bertanya hal itu.
"Minggu depan!"
Badanku lemas, langsung tersandar di sofa. Ingin sekali rasanya pingsan dan merasakan pingsan, cuma aku terlalu kuat jadi wanita hingga tak pernah merasakan pingsan.
Lesu dan menatap dengan memelas ke arah lantai yang warnanya tak pernah berubah, tetap saja putih.
"Pa, tolonglah Abibah Pa. Apa Papa gak kasian liat Abibah? Abibah mau lanjutin S2 Pa," mohonku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ini, untuk ke sekian ratus kalinya aku memohon dengan air mata. Liat saja nanti, akan kubalaskan dendam ini ke Pak Malik.
Karenanya, aku jadi sering menangis sudah seperti artis di sinetron ikan terbang saja. Menyebalkan!
"Kan pas nikah bisa lanjutin S2-mu, Sayang," bujuk Mama sambil mengusap punggungku.
Aku langsung melihat ke arah Mama dengan tubuh masih bersandar, "Ma ... Abibah pengen di luar negri, sama temen. Bisa main bareng, kalo nikah. Mana mungkin Pak Malik mau pindah ke luar negri sana," lirihku menatap sendu ke Mama.
"Kamu kasih tunjuk wajah memelasmu itu padanya, mana tau dia iba! Gitu aja kok repot, jangan macam-macam lagi, ya, Abibah! Apalagi berani menggantung diri," peringat Papa dan pergi dari ruangan.
"Nanti malam kita akan bertemu dengan keluarga Malik, juga nanti kamu akan dilamar sederhana di sana. Kamu siap-siap nanti, ya. Jam 7 malam kita akan pergi." Mama mengusap bahuku dan melemparkan senyuman ke arahku, dia langsung berlalu pergi juga meninggalkan anaknya ini sendirian dengan kehampaan.
"Menyebalkan!" gerutuku dan mengusap air mata. Memilih ke kamar untuk berganti pakaian juga meletakkan tas kuliah.
Kusambar kembali kunci mobil dan menjauh dari rumah ini, padahal ini baru jam 3 sore. Biasanya cafe akan buka jam 5 atau jam 4.
Aku buntu, tak tahu harus ke mana. Lebih baik le cafe, sendirian tanpa ada orang. Karena, biasanya sangat jarang ada orang di jam segini.
Kubuka dan kurapikan cafe yang tak terlalu berantakan, tak lupa menghidupkan music agar mood-ku kembali naik.
Ketika tengah membenamkan wajah di tumpukan tangan, aku tersentak dan menatap ke arah pintu saat suara pintu terbuka.
Orang tersebut langsung duduk di salah satu bangku yang pastinya masih kosong.
"Kesinilah, aku ingin bicara!" titah orang tersebut menatap ke arahku.
Dengan langkah kaki yang malas dan bahu yang merosot ke bawah tak bersemangat, aku berjalan ke arahnya dengan tangan kumasukkan ke celemek.
"Ada apa Pak?" tanyaku masih berdiri.
"Duduk!"
Akhirnya aku duduk di depannya dan membuang pandangan ke arah lain.
"Baca dan lihatlah!"
Aku langsung melihat, di depanku sudah ada selembar kertas yang berasal darinya.
"Surat apa ini?" tanyaku dengan menautkan alis.
"Baca!"
Kuambil kertas tersebut dan mulai membacanya, sesekali mataku membesar karena merasa ada yang tak beres dengan suratnya.
"Ck! Ini namanya perjanjian menguntungkan Bapak!" tegasku dan meletakkan kertas kembali dengan kasar.
"Dibagian mana yang menguntungkan aku?" tanya Pak Malik menatap tulisan dia yang berisi 10 perjanjian.
"Bagian, semuanya kecuali nomor 1! Masa, saya harus patuh dengan Bapak dan Bapak malah boleh melakukan apa pun. Enak banget, jangan mentang-mentang akan jadi suami saya harus patuh, ya!"
"Asiyah saja patuh dengan Fir'aun," ujarnya.
"Ck! Dan Bapak bangga karena bisa seperti Fir'aun? Bersiplah kekal di neraka jahannam!" jelasku dengan menyungging bibir.
Rahangnya tampak mengeras, apakah dia marah? Bodo amat! Aku tak peduli sama sekali soal itu.
"Kau sungguh keras kepala!"
"Kalo gak keras, bukan kepala namanya!"
"Ck! Terserah denganmu, jika kau tak ingin menyetujui perjanjian ini tinggal tolak pernikahan bodoh itu!"
Aku berdecih dan menatap ke arah lain, di ujung jalan sudah kulihat Aulia turun dari angkot. Dia belum tahu sama sekali soal aku juga Pak Malik.
Kuambil kertas dan memperlihatkan ke arahnya, "Di dalam dunia perjanjian, harus kedua belah pihak mendapatkan untung yang setimpal!" jelasku dan mulai merobek kertas.
"Jika hanya satu yang untung dan satu pihak lagi rugi, maka itu bukan perjanjian melainkan kebodohan!"
Kuremuk kertas yang sudah kukoyak menjadi beberapa bagian.
"Saya tak akan pernah mau patuh, jika Bapak tidak mencontohkan patuh itu bagaimana. Istri, akan mengikuti bagaimana suaminya. Jika Bapak bisa bermesraan dengan wanita lain, maka saya ...," kujeda ucapanku dan mendekat ke arahnya, "juga bisa melakukan hal itu dengan pria lain!"
Bola matanya membesar dan menatap tajam ke arahku, sebelum Aulia melihat kami tengah berbicara berdua.
Aku segera kembali ke tempat kasir dan tak lupa tersenyum dengan bibir yang terangkat sebelah ke arahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Lista Agam
bagus aq suka karakter cewek kayak gini, tangguh,,
2023-07-22
0