Aku, Mama dan Papa sudah sampai di restoran yang telah di booking oleh keluarga Pak Malik, makanan pembuka sudah dikeluarkan karena kami datang lebih awal.
Kumakan apa yang menggugah selera selagi mereka belum datang, sedangkan Papa dan Mama tampak cemas. Mungkin, mereka khawatir karena Pak Malik belum juga datang.
"Kok lama, ya, Pa?" tanya Mama dengan mengusap-usap tangannya cemas.
"Mungkin lagi di jalan Ma, kena macet. Sabar aja dulu, tenang!" tegas Papa menenangkan Mama.
Aku hanya melirik ke arah pintu dengan memasukan kentang goreng ke mulut.
"Semoga Pak Malik kabur dari rumah deh," gumamku menatap makanan yang ada.
"Apa?" teriak Mama menepuk punggung tanganku dengan marah.
"Apa, Ma?" tanyaku kaget karena ternyata ucapanku tadi di dengar oleh Mama.
"Kamu kok malah doanya kayak gitu?"
"Ya, habisnya. Main paksa-paksa aja anak orang nikah!"
"Apaan paksaan? Malik pasti mau dengan berlapang dada, kamu tuh yang sampe sekarang gak terima!"
"Yaiyalah Ma, orang cinta dan suka itu gak bisa dipaksa. Aku gak bisa dipaksa suka sama Pak Malik. Mangkanya aku gak mau nikah sama dia," ucapku.
"Udah-udah, itu keluarga Pak Dimas udah datang," tunjuk Papa ke arah pintu. Aku sontak melihat ke pintu.
Tampak Tante Dwi, Om Dimas juga Pak Malik berjalan melangkah mendekat ke arah meja kami. Pak Malik berjalan di belakang mereka dengan menggunakan jas berwarna hitamnya.
Mama dan Papa berdiri dengan tersenyum, aku pun akhirnya turut ikut berdiri juga dengan tersenyum paksaan.
"Maaf, ya, kami telat. Soalnya tiba-tiba bannya bocor," jelas Tante Dwi ke arah Mama.
"Iya, gak papa. Santai aja." Mereka mulai berpelukan dengan mengecup pipi kanan dan kiri.
Aku juga dipeluk Tante Dwi dengan wajah menatap ke arah Pak Malik tajam.
"Yuk, duduk!" ajak Mama dan akhirnya kami duduk dengan aku yang duduk di sebelah Pak Malik.
Eh, kok malah kami duduk bersampingan seperti ini? Hadeuh ....
Mereka bercerita satu dengan yang lain, aku hanya menyimak dengan seksama dan menatap satu per satu wajah mereka.
Kulirik ke samping, Pak Malik tengah bermain handphone dengan benda pipih tersebut dibuat di bawah meja.
Aku pun mengambil handphone juga, mengikuti cara dia. Kulihat ada satu notifikasi.
[Assalamualaikum, maaf. Ini saya Abil.]
Aku membulatkan mata dan segera menutup mulut, ketika ternyata Kak Abil tahu nomorku. Pasti dari Aulia, ingin rasanya loncat-loncat bahagia.
Namun, sebagai cewek aku harus jaga image juga harga diri.
[Walaikumsalam, iya, Kak Abil. Ada apa, ya? Dan maaf, kenapa bisa tau nomor saya?]
Tiba-tiba masuk satu panggilan yang membuatku panik, kukecilkan langsung suara dering dan menatap ke arah mereka yang melihat aku.
"Maaf, Ma, Tante. Abibah angkat telepon sebentar, ya," pintaku yang sebenarnya tak enak.
"Kamu ini apaan, sih, Abibah? Lagi kumpul gini seharusnya handphone-nya dimatiin!" tegas Mama menatap tajam ke arahku.
"Hehe, iya, Mama. Habis ini langsung dimatiin, kok," jawabku cengengesan dengan mengampilkan gigi rapiku.
"Udah, gak papa. Sana, kamu angkat aja, Sayang," timpal Tante Dwi dan kuangguki. Aku langsung menjauh dari meja agar tak terdengar pembicaraanku.
"Ada apa, Aulia?" tanyaku dengan ketus. Ya, Aulialah yang menelpon, bukan Kak Abil.
"Lu di mana? Kok gak ke sini lagi?"
"Gue ke situ, kok. Lu tenang aja, lagi ada acara keluarga sebentar. Udah dulu, ya, bye!" Segera kuputus panggilan dan mematikan kuota. Kulihat jam sudah tengah delapan.
Kembali ke meja dengan makanan berat sudah tersedia.
"Maaf, ya, saya lama," ucapku yang merasa tak enak.
"Gak papa, Sayang. Emangnya kenapa? Ada urusan, ya, kamu?" tanya Tante Dwi dengan mengunyah makanannya.
"Iya, Tante. Cafe Abibah kayaknya lagi rame, jadi temen butuh bantuan," ujarku jujur dan mulai memasukan makanan ke mulut setelah berdoa.
"Kenapa gak ditambah anggotanya?" tanya Om Dimas.
"Saya masih bisa handle kok, Om."
"Ya, kalo nanti kamu udah nikah. Gak mungkin kamu juga akan ikut bantu di sana 'kan?"
"Uhuk!" Aku tersedak dengan makanan yang kukunyah dengan segera mengambil minum agar makanan yang tersangkut bisa jalan ke perut.
"Hati-hati kamu tuh!" kesal Mama. Mungkin, Mama akan malu membawaku lain kali karena melihat kelakuanku ini.
Akhirnya, kami selesai dengan makanan. Suasana kembali tegang, lebih tepatnya aku yang tegang.
"Ehem!" dehem Om Dimas melirik ke arah Pak Malik. Aku langsung melihat ke arah laki-laki yang dari tadi kami tak ada saling membuka suara.
"Jadi, malam ini kami mengajak keluarga Pak Yusuf untuk makan malam bukan tanpa ada maksud juga tujuan," jelas Om Dimas dengan suasana seketika menjadi canggung.
Aku? Jangan ditanya, degub jantungku seolah memompa lebih cepat selayaknya aku yang baru selesai berlari.
"Kami ingin melamar putri Bapak Abibah Eviza untuk anak saya Malik Fazal Gafi," sambung Om Dimas kembali dengan tersenyum.
"Om dan Tante, izinkan saya Malik Fazal Gafi untuk menjadikan anak Om dan Tante sebagai calon istri saya. Sebagai penyempurna agama sama, meskipun saya bukan laki-laki yang; kaya, sabar, tampan, pintar dan sepengertian laki-laki di luar sana. Namun, saya tengah mencoba untuk belajar akan hal itu," ungkap Pak Malik menatap Papa dan Mama.
Aku mengerjapkan mata tak percaya, beberapa kali kukedipkan mata karena tak yakin bahwa orang yang ada di sampingku ini bisa berbicara semanis sekarang.
Paling cuma copas, batinku dan mengalihkan pandangan. Aku berharap ada seseorang yang masuk ke dalam cafe dan mengaku bahwa dia adalah calon istri Pak Malik.
Atau ... dia adalah wanita yang sudah dihamili Pak Malik agar ada alasanku untuk bisa membatalkan perjodohan bodoh ini.
20 menit, cincin yang dibawa dan dibeli Pak Malik sudah melingkar di jari manisku. Awalnya para orang tua menyuruh agar Pak Malik yang memasangkannya.
"Maaf, tapi saya dan Pak Malik masih belum mahram," elakku dan membuat mereka semua akhirnya mengerti.
Aku sendirilah akhirnya yang memasukkan cincin ini ke jariku, sangat-sangat mandiri! Wajah bahagia tertampil di kedua orang tuaku juga Pak Malik.
Apakah mereka tak ingin melihat ke arah kami? Wajah tertekan ini sangat menyedihkan.
"Gimana, Abibah? Kamu setuju?" tanya Tante Dwi tiba-tiba.
"Eh, setuju apanya Tante?" tanyaku yang memang tak mendengarkan pembicaraan mereka.
"Nikahnya di gedung aja."
"Ya, Abibah ngikut aja gimana mau Mama dan Tante konsep pernikahannya."
'Lagian 'kan, yang mau pernikahan ini cuma kalian. Bukan aku, ngapain aku harus repot ngurusin persiapannya?' batinku berucap kesal. Tak mungkin jika aku mengucapkan hal seperti itu secara langsung.
"Malik, kamu kok diam aja, sih? Ngomong, ajak tuh Abibah!" perintah Om Dimas dan membuat Pak Malik mendongakkan kepalanya menatap ke arahku sekilas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Dian Citra Utami
p.dosennya gak sopan,lg kumpul malah main hp 😁
2023-06-27
0
orchid
seru thor
2023-05-20
0