POV. Pak Malik.
Aku tak tahu apa yang terjadi padaku malam itu, hanya yang kuketahui aku berada di level terendah dan terhancur dari seorang Malik Fazal Gafi.
Wanita yang begitu kucintai dan kujaga, pergi dengan laki-laki lain dan menikah di luar negri tanpa mengucapkan apa pun padaku.
Hal tersebut kuketahui dari salah satu rekan kerjaku di kampus, Vilo Anastasya. Wanita yang selalu mengejar aku.
Namun, tak sedikit pun aku ada perasaan dengannya dari zaman SMA dulu. Bukan karena dia tak cantik, dia sangat cantik. Karena blasteran Amerika dan Indonesia.
Semua begitu terasa mendadak, sampai akhirnya aku mendapatkan kenyataan bahwa akan dijodohkan dengan mahasiswiku sendiri.
Aku berulang kali menolak dan berkata bahwa akan menikah nantinya dengan kekasih hatiku. Akan tetapi, digubris sedikit pun tidak oleh kedua orang tuaku.
Kukira, wanita yang akan dijodohkan adalah dia yang mudah untuk kubuat menurut dan lemah lembut seperti wanita penghianat itu.
Ternyata, dia sangat berbeda. Keras kepala, cerewet, berani menentang dan tak akan mau kalah jika dia benar atau salah.
Pagi ini, aku memergoki dia turun dari mobil laki-laki yang kemarin malam ingin mengantarnya pulang.
"Apa kau tuli sekarang?" tanyaku karena dia tidak juga berbalik menatapku yang ada di belakangnya.
Akhirnya, ia berbalik dengan cengiran yang memuakkan. Wajahku datar, tak ada senyuman tipis mau pun tebal di wajah ini.
"Itu, Pak. Dia temen saya," jawab Abibah. Wanita yang kata kedua orang tuaku sekitar seminggu lagi akan menjadi istriku.
"Temen?" tanyaku menaikkan alis sebelah dan dibalas anggukan olehnya.
"Sejak kapan diantara wanita dan pria ada kata 'teman'?"
"Ya, emangnya kenapa Pak? Kalo pun dia gebetan saya gak ada salahnya 'kan? Di kampus juga gak ada larangan, kok. Bahkan, udah nikah masih boleh kuliah," jawabnya panjang kali lebar seolah tak mau kalah.
"Saya bertanya pelan, tapi jawaban kau entah sampai mana," ujarku memijit pelipis.
"Lagian, Bapak! Ngapain ngurusin dan nanya begitu ke saya?" ketus Abibah dengan wajah tak suka.
Kulirik sekitar, ada beberapa pasang mata melihat ke arah kami karena memang kebetulan aku dan Abibah berdiri di sekitar kampus.
Segera berbalik dan berjalan masuk ke dalam kampus tanpa meninggalkan sepatah kata pun pada Abibah.
Langkahku terhenti di koridor sebab tali sepatu yang terlepas, saat akan berjongkok tiba-tiba tubuhku hampir terjatuh sebab ada yang menabrak.
"Eh, Pak Malik kok malah berhenti, sih?" tegur wanita itu sengit!
Aku langsung menghebuskan napas kasar memilih bangkit dan menatap ke arahnya, "Kau tuh yang seharusnya liat-liat kalo jalan!" tekanku.
"Atau ... kau sengaja ngikuti saya?" sambungku menaikkan alis sebelah menatap ke arahnya.
Dia malah menaikkan satu bibirnya, "Gosah kegeeran, Pak! Sok ganteng banget, sih!" ejeknya dan berlalu meninggalkanku begitu saja.
Aku hanya terkekeh melihat dirinya yang sudah menjauh, segera memperbaiki sepatu karena tadi memang belum jadi dan berjalan ke ruangan.
"Pak Malik!" teriak seseorang yang kuhafal suaranya.
Aku yang sudah memegang gagang pintu ruangan menatap malas ke arah orang tersebut, "Ada apa Mis Vilo?"
"Nanti, ada waktu, gak? Bisa temani saya makan siang di restoran? Ada restoran baru buka," jelasnya dengan senyum yang merekah.
"Maaf, tidak bisa Mis. Saya ada kerjaan," potongku cepat.
"Mmm ... yaudah, deh."
Aku mengangguk dan masuk ke dalam, tak ingin melihat wajah memelasnya itu.
Tok ...!
Tok ...!
Tok ...!
"Siapa?" tanyaku dari dalam ruangan dengan berkas-berkas di tangan.
"Abibah, Pak!" sahutnya setengah berteriak. Kulirik arloji, ternyata sudah jam 10. Artinya, kelas pertama sudah selesai.
"Masuk!" titahku dengan mata kembali fokus pada kerjaan.
Ceklek ...!
Suara pintu terdengar di buka dan di tutup kembali, langkah sepatu yang di kenakan seketika memenuhi ruangan dan suaranya berhenti.
"Duduklah," perintahku menunjuk ke arah kursi.
"Jadi, gimana Pak?" tanyanya tanpa basa basi setelah duduk di depanku.
Aku menghentikan aktivitas dalam bekerja, meletakkan pulpen dan merenggangkan otot-otot jari.
Kutarik napas dalam-dalam agar bisa lebih sabar nantinya berbicara dengan dirinya, "Kamu mau perjanjian yang seperti apa?" tanyaku meminta pendapatnya.
Bibirnya langsung terangkat ke atas karena kupinta pendapat, "Tapi, tak semua akan saya setujui. Jika saya merasa diuntungkan, maka akan saya setujui!" potongku cepat dan membuat bahunya kembali merosot ke bawah.
"Oke, gak papa!" serunya dan membuka tas. Entah apa yang dicarinya, aku hanya menaikkan alis memperhatikan apa yang tengah dia lakukan.
Diberikannya selembar kertas ke arahku, "Ck! Kau ternyata menulis perjanjian seperti ini?" tanyaku mencebik.
"Iya, dong! Kan, ide dari Bapak. Sudah saya pastikan bahwa kita sama-sama untung dalam perjanjian ini," ujarnya percaya diri dengan tersenyum.
Kubaca dengan seksama dan kembali meletakkan kertas tersebut di meja, mengambil pulpen dan menggarisi setiap kalimat yang sama sekali tak kudapatkan untung di pihakku dalamnya.
Wajahnya di tekuk dengan garang menatap tajam ke arahku, "Kenapa semua di coret?" tanyanya dengan tak senang.
"Bukankah kau yang sendiri berkata, bahwa di dalam perjanjian harus kedua belah pihak merasa untung? Dan kurasa, aku tak memiliki untung di dalam beberapa perjanjian yang kau tulis!" tegasku menyandarkan punggung ke kursi.
"Dih, apaan. Itu udah untung juga!" ketusnya tak terima disalahkan.
"Jika nanti kita tinggal satu rumah atau apartemen, Bapak tidak boleh memakan masakan atau makanan saya. Tapi, saya boleh memakan masakan atau bahan makanan yang ada di kulkas." Kubaca tulisannya yang kugarisi sebagai tak setuju.
"Bagian mana untungnya saya?" tanyaku menaikkan alis.
"Lah 'kan emang kewajiban seorang suami adalah menafkahi istri!" tegasnya seolah paling pintar.
Aku tertawa pelan dan memajukan tubuhku ke arahnya yang hanya terhalang meja saja, "Kau membahas soal kewajiban, apakah kau sudah tahu kewajiban seorang istri? Kalau kau ingin aku melakukan kewajiban, kau pun harus melakukan kewajibanmu juga. Bagaimana?" tanyaku menaikkan alis dan tersenyum ke arahnya.
Wajahnya tampak pasi dan langsung memajukan bibir, menatapku dengan kesal dan merebut kertas di atas mejaku dengan kasar.
"Jangan mesum, ya, Pak! Saya lapor Bapak nanti ke dosen yang lain!" omelnya yang menurutnya pasti tengah mengancam diriku.
Aku menaikkan bahu acuh, "Sudah tak ada lagi perjanjian yang kau ingin layangkan?"
"Gak!"
"Baiklah, jalan terakhir adalah kau harus lari dan pindah dari kota ini."
"Eh, enak aja!" pekiknya tak terima dengan keputusanku, "bapak ingat baik-baik, saya bahkan sudah pernah gantung diri. Bapak pernah? Mana pernah! Karena apa? Karena---"
"Karena saya tidak sebodoh kau!" potongku dengan cepat ucapannya itu.
Dia tampak tak terima dan mengepalkan tangannya, "Saya gak akan mau kabur! Kalo Bapak mau kabur, kabur aja sono!" suruhnya dan berdiri.
"Kirain yang dibahas berpaedah, tapi, ya, gimana mau berpaedah! Orang temen bicaranya aja unfaedah!" sambungnya lagi dan pergi melangkah keluar dengan menghentakkan kakinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Dian Citra Utami
Sbnernya gmn hub Malik dan Vilo? Pernah pelukan,duduk diatas meja jg? 🤔
2023-06-27
0