Samar dan Naila sedang berada di ruang rawat inap Lala, Mereka saat ini sudah berada dirumah sakit untuk memeriksa keadaan Lala. Dokter mengatakan bahwa Lala hanya demam karena tidak meminum Asi dan itu membuat Lala kekurangan vitamin beruntung bukan penyakit yang ditakuti, jika Lala demam yang ditakuti maka dapat dipastikan Marko tidak akan selamat dari keganasan Naila.
"Sayang mama Minta maaf, " Naila duduk disamping brankar Lala, Naila terus meminta maaf atas kejadian yang menimpa anak angkat nya itu. Samar hanya bisa mengelus punggung Naila agar tenang.
"Sudah berapa kali kamu minta maaf, sudah lah Lala tidak apa apa," ujar Samar.
"Tapi Lala demam karena aku."
"Itu tidak benar, Sayang kamu jangn menyalahkan diri sendiri dong,"
Naila diam saja, Dia membelai lembut wajah Lala dan sesekali menciumnya.
"Sayang Lala tidur jangan mengusiknya seperti itu, " peringat Samar.
"Baiklah," Naila berhenti mengelus wajah anaknya itu.
"Kita duduk disofa ya, biarkan Lala tidur." ajak Samar lalu menggandeng Naila dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.
Samar duduk di sofa dan Dia membawa Naila duduk di atas pangkuan nya membuat Naila terkejut.
"Ishh duduk di sofa aja! " protes Naila.
"Gak, biarin seperti ini aku mau nagih janji kamu," ucap Samar.
"Janji? " beo Naila dan Samar mengangguk lalu menunjuk ke arah dada Naila. Naila yang melihat itu memutar bola mata malas.
"Ini dirumah sakit, nanti saja ya! " bujuk Naila.
"Mau sekarang."
"Dirumah aja, takut dokter masuk!" Naila berusaha membujuk Samar karena dia tidak mau sampai dilihat orang.
"Kunci pintu kan bisa!" ucap Samar dan Naila bingung harus beralasan apa lagi.
"Mmm dirumah saja ya!" Naila memberi kan senyuman indah nya agar Samar luluh tapi seperti nya itu tidak berhasil dan malah membuat Samar merengek seperti bayi yang minta dibelikan jajanan.
"Haus sayang," rengek Samar sambil memanyunkan bibirnya seperti Donald bebek.
"Minum yang lain!" ujar Naila sambil mengalihkan pandangan nya kearah lain karena takut akan luluh jika melihat kearah Samar.
"Gak mau, aku mau nya cuma ini." tunjuk Samar kearah dada Naila.
"Dirumah saja! "
"Sayang!!!" rengek Samar menjadi dan itu berhasil mengalihkan pandangan Naila kearah Samar. Mereka saling tatap dan Samar memeluk pinggang ramping Naila.
"Aku mau menagih janji itu sekarang sayang," bisik Samar yang terdengar sensual dan membuat tubuh Naila meremang.
Naila hanya diam dan terus menetap Samar. Mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat seakan terbuai dengan tatapan masing-masing itu membuat Naila gugup. Samar mendekat kan wajahnya kearah Naila dan Naila reflek memejamkan matanya.
Samar tersenyum melihat Naila memejamkan matanya dan dia pun semakin mendekatkan wajahnya lagi dan....
Cup
Samar mencium bibir Naila membuat jantung sang empu makin berdebar karena ini firts kiss nya tapi Naila tidak protes toh Samar adalah pacarnya dan selama mereka pacaran baru kali ini berciuman. Naila melingkar tangannya ke leher Samar dan merasakan ciuman yang diberikan oleh sang pacar.
Samar menahan tengkuk Naila dan menekankan kepala Naila agar memperdalam ciuman nya. Samar terus ******* dan menyesap bibir Naila, tapi Naila tidak membalas dan bibirnya pun tidak dibuka agar Samar bisa masuk. Samar merasa Naila kaku dalam berciuman makanya Naila diam saja. Samar menggigit bibir bawah Naila pelan dan membuat Naila membuka mata lalu meringis pelan.
"Sshh!" ringis Naila dan dia membuka mulutnya, kesempatan itu tidak disia sia kan Samar. Samar langsung menerobos masuk kedalam mulut Naila dan membelit lidah Naila mengabsen setiap gigi Naila. Lama mereka berciuman membuat nafas Naila hampir habis, Naila menepuk pelan ppunggung Samar.
Samar melepaskan ciumannya dan menatap Naila yang sedang ngos ngosan bernafas. Samar tersenyum manis kearah Naila dan mampu membuat Naila kembali terbuai akan tatapan dan senyuman Samar. Samar perlahan menurunkan Naila dari pangkuan nya dan merebahkan Naila ke sofa.
"Sayang boleh ya!" Samar berucap dengan lembut dan membuat Naila menganggukkan kepala nya.
Samar tersenyum dan menyingkap hodie yang dikenakan Naila lalu Samar melepaskan bra yang dipakai Naila, Samar masuk kedalam hodie tersebut dan mulai menghisap ASI Naila. Karena sudah hampir siang ASI yang dikeluarkan Naila sangat banyak dan itu membuat Samar menghisap kuat.
"Ahhh." desah Naila karena Samar menghisap ASI yang kuat dan tangan sebelah Samar meremas gunung kembar itu.
"P-phelan Samar ahh!" ujar Naila dengan suara serak tapi tangan Naila menekan kepala Samar seakan menyuruh memperdalam hisapan nya.
Cukup lama Samar menyusu dan dia beralih menyusu disebelah gunung yang tadi dia remes, gunung itu sudah basah karena ASI nya keluar tarus saat diremes nya.
"Ahh Samar! " Naila hanya bisa mendesah dengan apa yang dilakukan Samar. Naila terangsang dan membuat area bawah Naila seperti mengeluarkan sesuatu. Samar membuat nya gila hanya dengan menyusu bisa membuat Naila merasakan sensasi mengeluarkan cairan. Tubuh Naila meremang saat merasakan air itu keluar.
Hampir satu jam Samar menyusu tapi dia tidak melepaskan nya. Samar terus menyusu dan meremas pelan gunung kembar Naila.
Sedangkan Naila hanya bisa mendesah dan merasakan nikmat itu.
"Ahh Samar sudahh!" ucap Naila setengah mendesah.
"Tidak," ujar Samar. Dia masih ingin menyusu karena ASI Naila sangat membuatnya candu.
"Lanjutkan nanti ahh!"
"Tidak,"
Naila menghela nafas pelan dan berhenti membujuk Samar, dia membiarkan saja bayi gede nya itu menyusu karena kalau dipaksa berhenti akan membuat bayi gede itu merajuk. Dan akan sulit untuk membujuk si bayi itu.
'Sayang bangun, mama butuh bantuanmu agar lepas dari papamu.' Naila membatin berharap anaknya bangun agar dia bisa lepas dari Samar.
Samar terus menyusu dia sangat gemes dengan dua gunung kembar itu. Samar menggigit ****** Naila pelan saking gemesnya membuat Naila meringis sakit.
"Ahh sakit Samar," ucap Naila lalu memukul pelan kkepala Samar pelan di balik hodie yang dipakai nya itu.
Samar terkekeh, "gemes sayang," kekeh Samar.
"Ya tapi gak usah digigit juga!" ketus Naila.
Samar melepaskan emutannya dan membenarkan bra Naila, dia sudah cukup puas menyusu selama satu jam. Naila tersenyum karena akhirnya Samar berhenti juga menyusu.
Samar memperbaiki baju Naila lalu membangunkan Naila agar duduk saja.
"Ini menjadi candu dan minuman favorit aku," Samar meremas pelan gunung kembar Naila.
"Ahh Samar!" desah Naila.
"Suaramu membuat ku bergairah sayang,dan membuatku ingin menyusu lagi!!" bisik Samar terkekeh.
Naila mendelik dan menatap tajam Samar.
"Gak yahh, nanti Lala bangun dan aku harus meyusui nya, pegel tau." ketus Naila.
Samar kembali terkekeh dan membawa Naila kedalam pelukannya.
"Terimakasih sudah mau menyusui bayi gede ini sayang, aku bersyukur bisa meminum ASI langsung dari sumbernya," Samar terkekeh dengan ucapannya sendiri. "Aku berjanji akan selalu ada untuk mu dan akan segera menikahimu, aku tidak akan seperti laki-laki lain yang hanya menginginkan tubuhmu, aku ingin memiliki mu seutuhnya dalam ikatan sebuah pernikahan. Aku menyayangimu sayang."lanjut Samar serius.
Naila terharu dan membalas pelukan Samar. "Sama sama, dan aku juga menyayangi mu!!" ucap Naila.
"I love you!!" bisik Samar.
"Love you too." balas Naila.
Mereka saling berpelukan dan menyalurkan rasa sayang mereka masing-masing. Karena telalu asikk berpelukan mereka tidak sadar ada seseorang yang masuk keruangan itu.
"Ekhmm!!" deham orang itu dan membuat Naila dan Samar terkejut dan melepaskan pelukan mereka. Mereka tersenyum kikuk melihat orang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments