"Pa," ucap Naila yang terkejut akan kedatangan sang ayah.
Yang datang kerumah sakit adalah panraj. Panraj datang saat Samar sedang mengungkapkan bahwa dia akan menikahi Naila, beruntung tidak datang saat Samar menyusu yah guyss xixixi.
"Sudah pelukannya?" goda Panraj kepada pasangan yang berbeda kelamin itu. Naila menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu dengan bantal di sofa itu, sedangkan Samar hanya memasang wajah datar padahal dalam hatinya was was takut Panraj melihat nya sedang menyusu pada Naila.
"Udah lama di sini paman? " tanya Samar datar.
Panraj terkekeh mendengar pertanyaan Samar, dia tersenyum penuh arti.
"Sekitar satu jam yang lalu!" canda Panraj.
Naila melotot kearah Samar yang juga sudah tegang, itu berarti Panraj melihat Samar menyusu?huh Samar dan Naila menjadi was was.
'Apakah papa melihat Samar menyusu padaku?' batin naila.
Panraj yang melihat ekspresi putri dan calon menantu nya itu mengernyit heran.
"Ada apa?muka kalian kok jadi tegang?" tanya Panraj heran.
Naila dan Samar kembali saling tatap detik berikut nya mereka bernafas lega saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Panraj itu artinya Panraj tidak melihat Samar menyusu kan?.
'Baguslah paman tidak melihat ku menyusu pada Naila, jika melihat dapat dipastikan gagal jadi mantu!' Samar membatin.
"Ah tidak apa apa paman, kami tadi sedang bermain kalau paman melihat kan kami jadi malu," alibi Samar.
"Benarkah? " tanya Panraj menatap putrinya itu. Naila yang ditatap jadi gelagapan.
"I-iya pa!" ucap Naila terbata. Panraj hanya mengangguk saja padahal dia masih agak curiga dengan pasangan didepannya ini tapi dia berusaha abai, kan dia datang kesini ingin menengok cucu nya yang diangkat anak oleh putrinya itu.
"Bagaimana keadaan Lala? " tanya Panraj sambil berjalan mendekati brankar Lala.
Naila berdiri dan ikut menghampiri sang ayah.
"Lala hanya demam karena menangis terus dan tidak diberikan susu pa!" ucap Naila.
"Apakah Lala akan menginap? " tanya Panraj.
"Tidak pa, katanya nanti sore Lala bisa dibawa pulang,"
"Pulang lah ke mansion!"
Naila melihat kearah Panraj. "Apakah papa sudah mengizinkan Naila untuk pulang?" tanya Naila, memang Naila sudah tau alasan sang ayah mengusir tapi dia tidak tahu kapan sang ayah akan menyuruh nya pulang.
Panraj menatap kearah sang putri dan tatapannya berubah menjadi sendu.
"Maaf kan papa sudah mengusir kamu!" lirih Panraj.
Naila menggeleng, "bukan, bukan papa yang minta maaf, seharusnya Naila yang meminta maaf pa!"
Panraj juga menggeleng, "tidak, kamu nakal karena papa mengabaikan mu padahal kamu butuh papa saat mama meninggal kan kita! "
Panraj sudah tahu alasan Naila nakal dari Samar, dia merasa bersalah sudah mengabaikan putrinya itu. Naila pun sudah tahu bahwa sang ayah sudah mengetahui penyebab dirinya nakal. Samar mempermudah masalah nya dengan sang ayah.
"Pa!" Naila memeluk Panraj.
"Ya sayang? "
"Naila sayang papa."
"Papa juga sayang padamu! " Panraj membalas pelukan sang putri.
"Apakah Naila boleh membawa Lala pulang? " tanya Naila.
"Tentu boleh, Lala kan cucu papa! "
"Terimakasih pa! " Naila mengeratkan pelukannya pada sang ayah.
"Terimakasih juga sudah memberikan maaf kamu kepada papa,"
"Papa tidak salah, Naila yang salah karena membuat papa marah."
Samar terharu melihat interaksi sang kekasih dengan calon mertuanya itu.
"Kamu putri papa satu satunya, papa tidak berniat marah padamu, papa hanya ingin kamu berubah! "
"Naila ngerti pa, Naila nakal hanya ingin menghilang kan rasa kesepian Naila selama ini,"
"Maafkan papa yang mengabaikan mu! "
"No papa, berhenti meminta maaf, Naila bisa mengerti pa."
Panraj terkekeh mendengar omelan dari sang putri, dia tidak menyangka putri nakalnya sudah berubah hanya dalam beberapa bulan saja.
"Kamu sudah banyak berubah!" kekeh Panraj.
"Berkat papa! "
"Kok papa? "
"Ya papa, kalau papa tidak mengusir Naila, Naila tidak akan berubah."
Samar jengah melihat Naila dan Panraj lama berpelukan, dia pun berdiri dan ikut menghampiri brankar Lala.
"Sudahkah berpelukan nya nona, tuan? " ketus Samar.
Naila melihat kkearah Samar.
"Kenapa sih? Kan aku peluk papa sendiri! " heran Naila.
"Iya tapi tidak usah lama lama, aku aja tidak pernah lama peluk kamu! "
Panraj terkekeh dan melepaskan pelukannya pada sang putri.
"Calon suamimu ternyata posisif ya sayang! " goda Panraj.
"Kamu ihhh malu sama papa." tegur Naila kepada Samar.
Samar tidak menyahut Naila, dia hnya diam dengan wajah datarnya, dasar ya Samar udah ganggu acara haru Naila dan Panraj dia gak merasa bersalah xixixi.
Panraj terkekeh melihat wajah datar Samar lagi, baru saja dia tadi melihat wajah merengek Samar yang tidak pernah dia lihat. Panraj menjadi semakin yakin mempercayakan Naila pada Samar, Samar terlihat begitu mencintai Naila.
Naila memutar bola matanya jengah dan dia lebih memilih menatap Lala yang ternyata sudah membuka matanya.
"Eh anak mama udah bangun ternyata, tumben gak nangis! " kekehnya.
Panraj dan Samar langsung melihat kearah Lala.
"Anak papa udah bangun ya?" uujar Samar.
Panraj mendengar kata 'papa' jadi geli sendiri.
"Kamu belum menikah dengan putri saya jadi kamu belum pantes dipanggil papa oleh cucu saya!" goda Panraj.
"Bentar lagi juga menikah," ketus Samar.
'Kapan mereka bisa bercanda seperti ini?' batin Naila, setahu nya Samar dan Panraj kurang suka bercanda seperti itu.
"Kamu bicara ketus sama saya, saya bisa gak restuin kalian loh! " ujar Panraj semakin suka menggoda Samar.
"Tinggal saya bawa kabur terus kawin lari deh!" sahut Samar masih dengn nada ketusnya. Naila hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan ayah dan kekasihnya itu.
"Jangan berani beraninya membawa kabur putri saya!"
"Makanya restuin, kalau perlu nikah malam ini juga."
"Lihat sayang, opa dan papa bertengkar!" ucap Naila yang sudah jengah dengan candaan Samar dan Panraj.
Panraj dan Samar bersamaan menoleh kearah Naila dan Lala.
"Papa hanya bercanda! " ujar Panraj.
"Aku juga bercanda sayang!" ujar Samar juga.
"Sejak kapan manusia kulkas seperti kalian bisa bercanda? " ujar Naila. Memang ayah nya itu juga sama seperti Samar, manusia kulkas tapi Panraj tidak sedingin Samar.
"Semenjak kamu mulai jatuh cinta padaku," Samar memang suka bercanda jika bertemu dengan Panraj. Jadi mereka tidak ada rasa canggung lagi seperti awal mereka bertemu.
"Kalian bertemu tanpa aku?huh itu sangat menyebalkan!" ujar Naila pura-pura merajuk.
"Kan kamu sama papa sedang berperang dingin sayang," ucap Samar menanggapi rajukan Naila.
"Kalian berhenti berdebat, Samar panggil dokter sekarang untuk periksa Lala biar kita bisa segera pulang! " titah Panraj.
Samar tidak menjawab dia hanya memencet tombol yang ada disisi brankar untuk memanggil dokter.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments