Naila sedari pulang dari panti tidak pernah melepaskan lala dari gendongan nya entah kenapa naila tidak ingin melepaskan lala, padahal lala perlu tidur diranjang agar naila di kelelahan menggendong nya, tapi naila tidak masalah yang penting lala tetap dalam gendongan nya.
"Yahh mama mau mandi sayang" ucap naila, badannya lengket jadi dia mau mandi dlu sebelum maghrib.
"Apa mama tinggal aja ya, kan mama cuma sebentar mandi" naila meletakkan lala diranjang"mama mandi sebentar ya sayang kamu jangan nangis ya"ucap naila lalu mencium pipi gembul lala, naila mengambil baju ganti dan handuk lalu keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi, kontrakan naila kamar mandi nya didekat dapur bukan didalam kamar. Makanya naila agak ragu meninggalkan lala dikamar sendiri tapi dia sudah merasa gerah dan lengket jadi harus mandi.
Naila mandi dengan tergesa agar tidak lama meninggal kan putrinya dikamar sendirian, setelah selesai mandi naila mengelap badannya dengan handuk agar tidak basah lagi dan setelah kering naila langsung memakai piyama tidur nya.
Naila keluar dan berhenti didapur sebentar untuk minum setelah minum naila berjalan menuju kamar nya.
Ceklek
Pintu kamar dibuka dan naila mengedarkan pandangannya, wajah naila menjadi khawatir karena tidak melihat lala didalam kamar nya. Naila mendadak lemes naila seakan hancur. Lala menghilang disaat dia bersama lala, itu kelalaian naila dan naila tidak suka semua itu.
"Gue bukan ibu yang baik, gue gak bisa jagain anak sendiri, gue ibu yang buruk" lirih naila dan menangis. Hati naila sakit saat tidak melihat keberadaan anak angkat nya itu, naila merasa gagal dan naila mengingkari janji nya untuk menjaga lala, naila lengah sehingga lala bisa hilang jika saja naila tidak mandi ini semua tidak akan terjadi, naila menyalahkan diri sendiri.
"LALA" teriak naila lalu bangkit dari duduk nya, naila berlari keluar dan mencari taksi, didalam taksi naila melamun hari sudah mulai malam dan naila bingung kemana mencari lala, pikiran naila hancur naila ingin mencurah kan nya tapi kepada siapa? Samar? Naila bingung, naila sudah sering mengadu pada samar, saat ini pikirannya hanya tertuju pada sang ayah, naila ingin curhat sambil memeluk ayah nya. Naila menyuruh sopir taksi untuk ke alamat mansion ayahnya.
Sesampainya di mansion naila disapa satpam dan para penjaga di luar mansion.
"Selamat malam nona" sapa penjaga.
"Papa ada didalam" tanya naila dengan tatapan kosong.
"Ada nona, silakan masuk" ujar penjaga lalu membuka kan pintu utama kepada nona muda nya itu.
Naila hanya diam dan berjalan masuk kedalam tatapannya sendu, naila melihat sang ayah sedang menonton televisi dan segara menghampiri ayahnya.
Sang ayah terkejut melihat putri nya datang tapi dalam keadaan kacau, dapat dilihat mata yang sembab rambut acak acak kan.
"Pa" panggil naila lirih.
"Kamu kenapa sayang" tanya panraj lembut.
Naila yang mendengar perkataan lembut sang ayah tiba-tiba menghambur pelukan ke sang ayah dan menangis sejadi jadinya.
"Naila ibu yang buruk pa, naila gak bisa jagain lala dan sudah mengingkari janji naila untuk menjaga lala. Naila hancur pa tanpa lala, naila sangat menyayangi lala" tangis naila didalam pelukan sang ayah.
Panraj membalas pelukan naila, naila banyak berubah dan menjadi lebih dewasa karena panraj dapat merasakan hancur nya anaknya, padahal hanya anak angkat tapi naila segitu hancurnya.
"Lala kenapa sayang" tanya panraj.
"Lala diculik pa, lala hikkkkss" tangis naila makin menjadi kala mengingat anaknya tidak ada dikamar tadi.
"Kamu tenang sayang, kita cari lala yahh" bujuk panraj agar naila jangan terlalu bersedih.
"Pa naila ibu yang buruk setelah mencari lala pantas kah lagi naila menjadi ibunya? " sedih naila, dia semakin mengeratkan pelukannya pada sang ayah, ada rasa damai dihatinya karena sang ayah tidak membencinya seperti dulu saat sang ayah mengusirnya.
"Kamu pantas sayang, kamu ibu yang baik yang mau menjaga lala padahal itu bukan anak kamu" panraj berusaha menenangkan putrinya itu.
Naila menggeleng "naila gagal pa, naila merasa gak pantes lagi jadi ibu nya lala, tapi naila hancur dan rapuh tanpa lala pa" naila sungguh merasa rapuh bahkan dia lupa mengabari Samar.
"Kamu tenang, kita cari dan lacak dulu keberadaan lala yah" ucap panraj.
Naila melepaskan pelukannya dan menatap sang ayah, sebenarnya naila bingung kenapa sang ayah tahu akan kehadiran lala didalam hidupnya, tapi naila tidak menanyakan itu dulu karena pikiran dan hati nya hanya tertuju pada lala.
"Naila mau pergi dan mencari lala, pa naila pinjam mobil yah" ujar naila.
"Nanti sayang, kamu sedang kacau tidak aman jika membawa mobil"
"Pa naila mau cari lala"
"Iya sayang papa ngerti tapi tunggu ya"
"Gak mau, kalau papa gak kasih kunci biar naila naik taksi aja, naila gak mau lala kenapa napa naila harus cepat cari lala pa, lala tidak akan bahaya jika dia tinggal bersama pamannya yang gila akan kekuasaan itu" setelah berucap seperti itu naila langsung berlari keluar tanpa menghiraukan sang ayah berteriak memanggilnya.
"NAILA" teriak panraj. Panraj khawatir terjadi apa apa akan anaknya itu. Panraj mengambil ponsel dan menghubungi Samar lalu menyuruh samar mengikuti naila.
"Sayang semoga kamu tidak apa apa" gumam panraj.
****
Disisi lain naila terdiam di sebuah taman kota dia bingung mulai dari mana mencari lala, naila semakin merasa gagal menjadi seorang ibu karena tidak tahu keberadaan lala.
"MAAFIN MAMA SAYANG, MAMA GAGAL" teriak naila dan menghiraukan orang-orang yang berada di taman itu sedang melihat kearahnya.
Naila kembali menangis dan membenamkan wajahnya di antara kedua lutut nya.
"Mama harus memulai dari mana untuk mencari kamu sayang" lirih naila.
"Kamu pasti dibawa ke rumah kamu kan, tapi mama gak tau alamat nya, mama benar benar orang tua yang buruk karena tidak tahu menahu tentang mu sayang" naila menangis dan menyesal karena tidak menanyakan alamat rumah keluarga kurana pada orang kepercayaan Samar.
Lam naila menangis dalam posisinya tiba-tiba ada seseorang yang merangkul bahunya dan duduk disebelah naila, naila mendongak dan menatap siapa yang menghampiri nya.
"Sayang" ucap naila lalu memeluk Samar yang baru datang itu. Ya setelah dihubungi panraj Samar langsung melacak ponsel dan untuk mencari keberadaan naila.
Samar membas pelukan naila "kamu tenang ya sayang, lala sedang dicari oleh anak buahku" ucap Samar.
"Kamu tau lala hilang? " tanya naila.
"Ya aku tau, karena tadi papamu menghubungi ku" jelas Samar.
"Papa? " beo naila, dia heran apakah Samar dan sang ayah saling mengenal.
"Nanti aku jelasin ya, kita pulang dulu angin malam tidak baik untuk perempuan" ajak Samar.
"Aku dulu sudah terbiasa dengan angin malam, kita cari lala aja ya, aku takut lala kenapa napa jika bersama orang yang jahat itu" naila kembali menangis jika mengingat lala.
"Sstt lala akan baik baik saja sayang, pamannya tidak akan membunuh lala sampai lala berusia 17 tahun"
"Tetap saja, apakah kamu bisa meyakinkan aku jika lala hidup enak disana dan tidak disiksa? " tanya naila dan Samar diam.
"Tapi setidaknya malam ini lala tidak akan disiksa dulu karena dia masih bayi"
"Tapi bagaimana dengan makannya? Apakah mereka akan memberikan asi yang terbaik untuk lala? "
"Kita pulang dulu sayang, besok kita coba datangi kediaman keluarga kurana ya" bujuk Samar.
"Sekarang aja"
"Kamu istirahat dulu sayang, pulihkan tenaga agar bisa memberi pelajaran ke orang yang sudah mengambil lala darimu" Samar berusaha membujuk kekasihnya itu untuk istirahat dulu sebelum mendatangi kediaman kurana.
"Kamu benar, tenaga ku harus banyak dan kuat agar bisa ngasih pelajaran keorang yang sudah mengambil anakku" desis naila.
"Yaudah kita pulang ke mansion aku dulu ya, besok pagi kita cari lala" ajak Samar dan naila mengangguk.
Samar mengajak naila berdiri dan berjalan menuju mobilnya. Didalam mobil naila hanya diam dengan tatapan kosong, naila masih mengkhawatirkan lala.
Sesampainya di mansion Samar, dia langsung mengajak naila masuk kekamar nya dan menyuruh naila untuk berbaring diranjang, naila menurut saja pikiran nya sungguh kacau. Samar ikut berbaring disamping naila dan memeluk naila. Naila hanya diam saja.
"Tidur sayang, besok kita sama-sama cari lala yah" ucap Samar sambil mengusap usap punggung naila. Tidak butuh waktu lamaa naila terlelap mungkin dia sudah lelah menangis hari ini, terlihat jelas dari matanya yang bengkak dan hidungnya yang memerah.
"Good night my queen" ucap Samar lalu mengecup kening naila dan Samar ikut tidur. Mereka tidur dengan saling berpelukan hingga sinar matahari datang menyapa pagi mereka.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments