Samar memasuki kamar yang naila tempati sebelum dia meeting tadi, Samar melihat naila sedang tertidur dia pun tersenyum dan ikut merebahkan diri disamping naila.
Samar menatap dan mengelus wajah cantik naila dan sesekali Samar mengecup singkat kening gadisnya itu.
"Kamu cantik, aku sayang kamu" ucap Samar.
Tanpa Samar ketahui naila sudah bangun saat naila merasakan pergerakan pada kasur itu tapi dia tidak membuka mata.
"Aku sayang kamu juga" balas naila lalu membuka matanya.
"Loh? Kapan bangun hm" tanya samar.
"Tadi saat kamu mau naik keranjang" ujar naila.
Samar tersenyum lalu membawa naila dalam dekapannya dan naila merebahkan kepalanya didada samar.
"Aku sayang kamu nai, jangan tinggalin aku ya" ucap
samar.
Naila menganggukkan kepala nya"selagi kamu gak ada salah aku gak akan ninggalin kamu"ujar naila dan memeluk samar.
"Sebisa mungkin aku gak berbuat salah sama kamu"
"Makasih udah sayang sama aku"
"Terimakasih balik"
Mereka saling berpelukan mesra menyalurkan rasa sayang masing-masing.
"Sayang" panggil naila disela dekapannya.
"Ada apa hm"
"Kamu punya orang terpercaya yang ahli IT gak? " tanya naila.
Samar mengerutkan jidatnya pertanda bingung akan pertanyaan dari gadis nya itu.
"Punya, tapi untuk apa kamu bertanya seperti itu" bingung samar.
"Aku mau lacak identitas lala dan siapa keluarga lala sebenarnya" ucap naila yang hendak tahu siapa keluarga lala sehingga perempuan yang mengantarkan lala ke panti memberi peringatan bahwa lala jangan sampai jatuh ke tangan orang yang jahat.
"Baiklah, aku telpon dulu yah" ucap samar lalu dia mengambil terponnya. Samar mengotak atik ponsel nya untuk mencari nomor orang kepercayaan nya.
Telpon tersambung.
"Cari tahu identitas keluarga lala, bayi yang dititipkan beberapa bulan lalu di panti asuhan kasih ibu" ucap samar.
"Maaf tuan nama panjang nya siapa" tanya orang diseberang telpon itu.
Samar bertanya kepada naila siapa nama panjang lala tapi naila tidak tahu karena bu tina hanya memberi tahu bahwa bayi perempuan yang sedang naila adopsi itu adalah lala.
"Tidak tau, intinya namanya lala yang dititipkan oleh seorang perempuan di panti itu beberapa bulan yang lalu" ucap samar.
"Baik tuan, saya akan berusaha mencari informasi dan identitas keluarga bayi tersebut".
"Hm"
Tut tut
Samar langsung mematikan telponnya dan menatap naila yang kini sedang menatapnya seolah bertanya bagaimana?.
"Kamu tenang aja ya sayang, orang kepercayaan ku akan melakukannya dengan baik" ujar samar.
Naila menghela nafas"tidak susah kan mencari informasi tentang keluarga lala"tanya naila.
"Jika sistem keamanan nya tidak sulit maka orang kepercayaan ku langsung mengabari dan memberitahukan nya" jelas samar.
"Terimakasih sudah bantu aku" ucap naila dan tersenyum manis kearah samar.
"Heyy kenapa kamu berterimakasih, lala adalah anak kita jadi apapun akan aku lakukan demi kalian berdua" ucap samar dan naila terharu akan kebaikan Samar.
"Tetap saja aku mau berterimakasih" ujar naila.
"Mau berterimakasih hm? Boleh tapi jangan dengan ucapan".
"Terus dengan cara apa? Tanya naila heran.
"Nen"
Naila mendengkus kesal saat samar mengatakan itu. Lagi serius juga samar sempat sempat nya meminta hal itu kepada naila.
"Iya" ujar naila mengiyakan walau bagaimana pun samar sudah baik mau membantu nya.
Samar tersenyum senang lalu menurunkan kepala naila pada dada bidangnya. Samar berbaring menghadap naila dan membuka kancing baju naila. Samar mengeluarkan kedua gunung kembar itu lalu menghisap salah satunya, dan yang satunya Samar remes karena merasa gemes.
"Ahh jangan diremes" desah naila.
"Aku gemes sayang" ucap Samar.
"Sakit, pelan pelan ahhh hisapnya" kesal naila, Samar menghisap susu nya seperti kesetanan saja.
Samar yang mendengar suara ******* naila karena dia menghisap terlalu kuat dan dia juga meremes gunung kembar itu jadi bergairah, sama menginginkan hal lebih tapi dia harus tahan karena tidak ingin kelewat batas.
"Sayang apakah sebaiknya kita segera menikah slurrpp"ujar Samar disela emutannya. Samar sama sekali tidak memelankan hisapan nya karena asi naila keluar banyak mungkin karena sudah waktunya asi itu dipompa.
"Sshhh ahh" ringis naila dengan *******.
"Kondisikan suaramu sayang, aku bisa lepas kendali" ujar Samar dengan suara serak nya. Mungkin Samar sudah bergairah.
"K-kamu ahhh hisapnya terlalu ssshh kuat ahh" desah naila. Dia memegang kepala Samar dan menekan kedalam, entahlah naila merasa kenikmatan dan menyuruh Samar lebih dalam lagi untuk masuk didada nya..
"Ini nikmat sayang" senang Samar karena rasa manis susu itu.
"Sayang jawab pertanyaan aku tadi" ujar Samar kembali.
"Yang mana? " bingung naila, apakah ada Samar bertanya kepada nya? Perasaan gak ada deh.
"Ck, yang kataku apakah sebaiknya kita menikah? " decak Samar dan dia mengulangi pertanyaan nya.
"Aku tidak masalah kalau menikah tapi aku mau selesaiin masalah aku dulu baru menikah agar aku menikah dalam keadaan hati senang" jelas naila.
"Masalah nya apa? Cerita kepada ku kita harus mengatasinya berdua agar cepat kelar masalahnya".
"Not that easy, aku memikirkan lala dan aku ada masalah dengan papa, kamu mau bantu bagaimana? Mungkin kamu bisa membantu lala tapi apakah kamu bisa membantu masalahku dengan papa, sebenarnya aku sudah berubah dan merindukan papa tapi aku takut dan malu menemui papa, takut papa masih marah atau malu karena memiliki anak yang nakal sepertiku" ucap naila dan dia hampir menangis karena mengingat sang ayah. Samar diam mendengar penuturan naila, ya naila sudah menceritakan masalahnya dengan sang ayah kepada Samar, Samar yang sudah tahu sejak awal tidak terkejut dan dia mencoba membuat ekspresi terkejut agar naila tidak curiga bahwa dia sering bertemu panraj hanya untuk membicarakan naila saja.
"Aku merindukan papa, apakah papa masih menyayangiku? Apakah papa juga merindukan ku, aku ingin memeluk papa dan bermanja lagi dengan nya, semenjak mama meninggal papa menyibukkan diri dengan bekerja dan melupakan aku yang perlu dekapan seorang papa disaat kehilangan mama, tapi papa malah sibuk dengan pekerjaan, dan itu lah alasan aku menjadi nakal dan suka balapan karena aku butuh perhatian papa, perlu papa tapi papa hanya acuh sampai waktu aku sering berbuat masalah disekolah sampai dikeluarkan terus menerus, papa marah dan kami bertengkar papa tidak memelukku padahal aku mau pelukan papa agar bisa mengendalikan emosi dan bisa menuruti kemauman papa untuk tidak nakal. Sampai waktu itu aku balapan dan pulang nya papa langsung mengusir ku mungkin karena papa sudah lelah dengan kenakalan ku" naila menangis mengingat bagaimana dia selalu berbuat nakal sampai membuat panraj marah. Samar berhenti menyusu dan membenari pakaian naila. Samar memeluk naila dan mengusap usap lembut punggung naila.
"Apakah kamu membenci papa mu" tanya Samar.
Naila menggeleng "tidak, walaupun papa membentak ku tapi papa tidak pernah main fisik sedikit pun, aku menyayangi papa, aku mengerti telah membuat papa marah, tapi mau bagaimana lagi hanya dengan balapan dan membuat masalah lah yang bisa menghibur ku dari kesepian, aku kesepian jika di mansion maka dari itu aku balapan" lirih naila. Naila membalas pelukan Samar, naila ingin memeluk sang ayah naila kangen bermanja dengan ayah nya.
"Sstt tenang lah, aku yakin papamu sangat menyayangi mu dia mengusir mu karena ingin membuat mu berubah" Samar menghapus air mata naila dan memeluk naila erat,Samar sekarang tahu apa alasan naila menjadi nakal, naila perlu ayahnya untuk tumbuh rapi sang ayah malah sibuk bekerja dan tidak memperhatikan anaknya yang butuh kasih sayangnya.
"Apakah papa menyayangiku Samar? " tanya naila dan suara serak karena menangis.
Samar mengangguk"tentu, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya".
"Tapi kenapa seperti ini, harusnya papa memelukku dan aku akan berhenti nakal bukan malah membentak dan mengusir ku, itu artinya papa tidak menyayangiku" tangis naila lagi.
"Kita tidak tau isi hati orang sayang, dan itulah yang papamu rasakan dia tidak tahu apa yang kamu inginkan, karena papamu sudah pusing melihat kenakalan kamu jadi dia mengusir mu agar kamu bisa berubah" jelas Samar agar naila tidak membenci ayahnya itu.
"Kamu benar, tapi sekarang aku sudah berubah apakah papa akan menerima ku lagi? Dan tidak malu mempunyai anak seperti ku mengingat dulu aku sering berbuat masalah".
"Papa pasti akan sangat senang dengan perubahan mu dan menyayangi mu sayang".
"Semoga aja, dan semoga papa sehat selalu agar aku bisa bermanja dengannya sama seperti dulu".
Samar mengelus elus kepala naila dan terdengar suara ponsel pertanda ada pesan yang orang kirim dan Samar terkejut dengan apa yang dikirim orang kepercayaan nya itu.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments