Setelah dari restoran Samar mengantar naila ke panti asuhan, sesampainya di panti naila langsung menghampiri lala memeluk dengan erat, menciumi seluruh wajah bayi mungil tersebut seakan sudah terpisah lama dan naila melepaskan kerinduan nya pada bayi perempuan tersebut.
Samar semakin jatuh cinta kepada naila yang memiliki sifat penyayang walaupun itu bukan anak kandung nya tapi naila begitu menyayangi lala.
"Jangan terlalu menciumnya nanti tidurnya terusik sayang" peringat Samar karena naila sedari tadi terus mencium wajah lala.
"Aku merindukan nya" ujar naila yang masih mencium bayi tersebut dan si bayi pun menggeliat dipelukan naila.
"Tuh kan bangun" ujar Samar yang melihat lala terbangun.
Naila terkekeh "maaf sayang mama mengganggumu, mama benar-benar merindukan mu" naila berbicara dengan si bayi, bayi tersebut tersenyum dan langsung menghadapkan wajahnya ke dada naila.
"Anak mama haus yaa" naila terkekeh. Naila membuka kancing baju nya dan mengeluarkan sebelah gunung kembar nya, lala langsung menemukan ****** susu itu dan menghisap nya.
"Kok cuma sebelah yang dikeluarin? " tanya Samar.
"Kan emang sebelah dulu lala menyusu nya"
"Kan aku juga haus"
"Minum sono, minta ke ibu panti"
"Aku mau nya yang sama lala" ujar Samar menunjukkan wajah kiyowo nya tapi naila mengabaikan nya.
"Disini panti Samar, nanti ada yg lihat" peringat naila.
"Kan dikamar sayang, cuma ada kita bertiga" ujar samar.
"Tetap saja aku tidak mau menyusui bayi gede ku yang satu ini di sini" ujar naila lalu mencubit gemes pipi Samar.
"Aaaa tapi aku mau sayang" rengek Samar, uhhh manja sekali Samar ini kalau sudah dihadapkan dengan ASI.
"Eh jangan gitu, baru juga makan siang tadi masa sudah haus saja sih" jika samar terus merengek seperti anak kecil naila tidak akan tahan.
"Tapi haus lagi setelah melihat ini" tunjuk Samar ke dada naila.
"Aku gak mau yah" tolak naila tegas.
"Yaudah deh" cemberut Samar.
Naila merasa gemes dengan kekasih kulkas itu tapi begitu manja kepada nya.
Lala melepaskan emutannya pada asi naila, naila melihat kearah lala yang sedang menatapnya dengan mata bulat kecil itu.
"Kenapa sayang melihat mama terus" ujar naila berbicara pada lala. Lala tersenyum menampilkan gusinya yang belum tumbuh gigi itu.
"Anak papa ompong" ujar Samar tiba-tiba.
"Ishh bukan ompong tapi belum tumbuh gigi pa" ucap naila terkekeh.
Samar ikut terkekeh, "aku tau, cuma mau liat lala ketawa aja makanya ngelawak"
"Kamu kira lala udah ngerti dengan lawakan" naila tertawa karena tingkah kekasihnya itu.
"Siapa tau ngerti sayang" gemes Samar yang melihat naila tertawa, sebenarnya Samar sengaja ngelawak agar naila tidak lagi memikirkan masalah keluarga kurana itu. Samar bahagia melihat tawa naila itu.
'Aku akan berusaha untuk terus membahagiakan kamu sayang' batin Samar berjanji.
"Tapi kamu tidak cocok ngelawak dengan muka datar itu ha ha" naila masih saja tertawa.
"Datar tapi ganteng kan" Samar menaik turunkan alisnya.
"Kamu jelek" ledek naila.
"Masa, terus kenapa kamu suka sama aku"
"Karena kamu banyak uang ha ha ha" tawa naila mengeras karena ucapan bodohnya itu.
"Ooo jadi sekarang kamu mata duitan ya" goda Samar.
"Iyalah, kan perlu perawatan agar aku tetap cantik supaya kamu tidak melirik perempuan lain"ucap naila angkuh.
"Sekali pun kamu jadi jelek aku akan tetap mencintai mu" ujar Samar menatap naila lekat.
"Pinter gombal sekarang"
"Aku gak gombal honeyyy"
"Udah ah, anterin aku pulang ke kontrakan yukk" ajak naila.
"Gak mau tinggal sama aku aja" tawar Samar.
"Gak mau, aku akan tinggal bersama mu jika sudah menikah" tolak naila bisa habis asi nya nanti dihisap oleh 2 bayi.
Samar menghela nafas sudah berkali-kali Samar mengajak naila tinggal bersama tapi naila selalu menolak dengan alasan belum menikah tidak boleh tinggal bersama nanti khilaf padahal kan Samar gak ngapa ngapain paling cuma nen ehhh? Xixixi.
"Yaudah, ayo mau pulang sekarang? " pasrah Samar dia juga tidak ingin memaksa naila untuk tinggal bersama.
"Iya sekarang aja, pamit ke ibu tina dulu ayo" ajak naila.
Mereka keluar kamar dan berjalan menemui ibu tiba yang sedang memasak untuk anak anak panti.
"Bu kami pulang dulu" pamit naila saat sudah didepan bu tina.
"Gak makan dulu nak, bentar lagi masak kok" ujar bu tina.
"Tidak bu, nanti naila makan dirumah aja"
"Yasudah, hati hati ya"
"Kami permisi bu" pamit Samar dan bu tina mengangguk saja, bu tina senang melihat naila dengan Samar apalagi ditambah lala diantara mereka, seakan mereka keluarga kecil yang bahagia.
*****
Sesampainya di kontrakan naila Samar langsung pergi karena ada janji ketemu teman bisnis katanya dan naila percaya percaya saja.
Samar melajukan mobil sport nya menuju cafe, Samar akan bertemu dengan panraj dan menceritakan tentang naila dan hubungannya bersama naila.
Samar memasuki cafe dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe untuk mencari panraj atau lebih tepatnya calon mertuanya itu. Samar melihat panraj dan langsung mendekati panraj.
"Selamat sore paman" sapa Samar lalu duduk di hadapan panraj.
"Sore, bagaimana naila Samar" tanya panraj to the point.
"Naila baik paman, sekarang kami sudah berpacaran" beritahu Samar, biasanya jika bertemu dengan panraj hanya membicarakan keadaan naila saja tidak membicarakan hubungan antara samar dan naila karena panraj tidak ingin mendesak atau memaksakan hubungan mereka itu.
"Benarkah?" senang panraj.
"Benar paman, dan kami akan menikah jika masalah naila selesai" beritahu Samar.
Panraj mengernyit, masalah? Masalah apa yang dihadapi putrinya itu selalain masalah dirinya dan putrinya itu.
"Masalah antara saya dan naila ya? " tanya panraj.
"Benar paman, naila sebenarnya merindukan paman dan ingin merasakan pelukan paman seperti biasanya sebelum mama nya meninggal"jelas Samar.
"Saya tau saya memang salah karena mengabaikan naila disaat dia perlu kasih sayang orang tua setelah mama nya meninggal" lirih panraj dengan mata berkaca-kaca.
"Maka bertemu lah dengan naila paman, dia benar-benar merindukan mu"
"Nanti saya akan menemui nya, dan ya apakah cuma masalah dengan saya? " tanya panraj lagi.
"Tidak paman, naila mengangkat seorang bayi untuk menjadi anaknya, dan masalah itu ada pada anaknya"
"Kenapa naila memikirkan masalah anak itu? " heran panraj, setahu panraj putrinya itu tidak pernah perduli dengan orang dan tidak menyukai anak kecil tapi sekarang naila malah mengadopsi anak kecil.
"Karena naila sudah menyayangi anak itu selayaknya anak kandung sendiri. "
Samar menjelaskan semua nya pada panraj mulai dari mengadopsi lala sampai keluarga kurana itu, Samar tidak menceritakan bahwa naila sudah bisa mengeluarkan asi dia hanya bercerita bahwa naila mengadopsi anak. Panraj yang mendengar kan itu semua menanggapi dengan berbagai ekspresi, ekspresi terkejut, gemes, heran dan lainnya.
"Putri saya sudah benar-benar berubah Samar, cuma dalam waktu beberapa bulan saja dia sudah banyak berubah" cicit panraj sebenarnya dia senang tapi mendengar tentang keluarga kurana membuat panraj menjadi khawatir akan putrinya itu.
"Paman benar, naila banyak berubah"
"Kamu jaga terus naila Samar, hanya kamu yang bisa saya andalkan untuk mengawasi putri saya dari dekat"
"Aku pasti menjaga nya terus paman, aku sudah jatuh cinta pada anakmu"
Panraj tersenyum bahagia mendengar perkataan samar ada rasa lega dihatinya karena Samar dan naila berjodoh.
'Liat sayang, anak kita akan menikah dengan pria yang kamu jodohkan, pria yang bertanggung jawab'panraj membatin dan seolah sedang bicara dengan mendiang istrinya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments