Selamat membaca!
Mobil mewah milik Raymond sudah memasuki pelataran butik.
Raymond dan Alice turun setelah Albert membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Elliot sebaiknya kamu tunggu saja di mobil dengan Albert."
"Baik Tuan."
Elliot kembali masuk ke dalam mobil dan menunggu perintah selanjutnya.
Raymond mulai melangkah masuk, berjalan sejajar dengan Alice.
Wanita ini hanya diam saja di dalam mobil.
Raymond menoleh menatap Alice yang pandangannya tetap lurus menatap ke depan.
Aku paling benci jika diacuhkan.
Raymond mendesah kasar. Kedua alisnya saling bertaut, menatap tajam Alice yang seakan tak menghiraukannya.
Raymond menghentikan langkahnya.
"Mau sampai kapan kau mengacuhkanku?" tanya Raymond dengan suara arogannya.
"Seberapa sakit diacuhkan tak sebanding dengan dibohongi," tegas Alice berucap.
Alice memalingkan wajahnya sambil melanjutkan langkahnya.
Raymond terdiam mendengarnya, ia sejenak mematung dan hatinya merasa seperti sedang dipermainkan oleh Alice.
Raymond kembali meneruskan langkahnya untuk menyusul Alice.
"Selamat malam Tuan Raymond dan Nona Alice," sapa seorang Manager butik.
Alice tersenyum membalas sapaan Manager butik dengan manis.
Raymond terlihat angkuh, tak bergeming tanpa menjawab apapun. Namun akhirnya ia mulai membuka suaranya untuk sekedar memberi perintah.
"Segera selesaikan tugas kalian, 3 hari lagi, semua harus siap dan hasilnya harus terlihat elegan."
Wajah Raymond tetap memandang tinggi. Keangkuhan yang membuat setengah hati Alice, terasa semakin membencinya.
Pria ini sangat angkuh.
Alice terus menatap sinis cara dan gaya berbicara Raymond, yang sangat arogan dan angkuh.
Di sisi lain hati Alice seolah tertantang untuk merobohkan semua keangkuhan yang Raymond miliki.
Alice menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan, membuang semua pikiran yang tak ingin dipikirkannya, karena memang tujuannya adalah membuat Raymond berubah pikiran, untuk tidak jadi menikahinya, bukan untuk merubah sikap Raymond.
Tapi apa bisa aku merubah sikap arogannya agar lebih menghargai orang lain.
Alice menyibakkan pandangan matanya.
Tidak, tidak, tujuanku adalah aku tidak mau meneruskan hubungan ini, apalagi sampai ke pernikahan.
Beberapa pelayan langsung mengukur tubuh Alice dan Raymond dengan sangat detail. Mereka tidak mau terjadi sebuah kesalahan, yang sangat tidak disukai oleh Raymond.
Setelah selesai, Raymond langsung bergegas pergi, melanjutkan acaranya untuk menemui Will sahabatnya.
Tanpa sepatah kata pun, Raymond berlalu.
Dasar pria angkuh dan arogan.
"Terima kasih sudah melayani kami dengan baik," ucap Alice tersenyum manis.
Semua Manager dan Pelayan butik yang mendengarnya terperanjat kaget.
Mereka tak menyangka, bahwa wanita yang kali ini bersama oleh Tuannya, tidak seperti wanita lain yang terlebih dulu dibawanya, yaitu Patricia.
Alice membungkukkan setengah badannya, untuk sekali lagi mengucapkan terima kasih, sambil berlalu menyusul Raymond yang langkahnya jauh meninggalkannya.
"Nona Alice sungguh baik, semoga ia bisa merubah Tuan Raymond."
Seorang Manager butik memandang kepergian Alice dengan penuh harap.
Alice memasuki mobil dengan dibukakan pintunya oleh Albert, seperti biasa yang sudah sigap menunggunya.
"Silahkan, Nona," ucap Albert sambil tersenyum.
Alice menjawab dengan senyum di wajahnya.
"Terima kasih, Albert."
Alice duduk di samping Raymond. Namun baru saja ia duduk, suara kesal Raymond sudah langsung menghardiknya.
"Ada apa denganmu, kenapa begitu lama?"
Raymond menghentakkan tangannya ke arah pintu mobil, karena Alice sudah membuatnya menunggu.
Alice tersentak begitu kaget. Ia tak menyangka selain angkuh dan arogan, ternyata Raymond adalah sosok pria yang kasar terhadap wanita.
"Aku harus mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah melayani kita tadi di dalam butik, aku tidak sepertimu yang angkuh tidak menghargai bawahanmu."
Mendengar perkataan Alice, membuat wajah Raymond semakin mengeras.
"Tuan Raymond, bisa kita berangkat sekarang karena Tuan Will sudah menunggu kita," potong Elliot yang berniat, menyelamatkan Alice dari kemarahan Raymond.
Raymond mengacuhkan Alice, amarahnya mulai surut sejenak.
"Cepat! Aku tidak mau kita terlambat."
Albert melajukan mobilnya dengan cepat menuju restoran tempat mereka akan bertemu dengan Will.
"Untung saja aku mengalihkan emosi Tuan Raymond, Nona Alice harus tahu sikap Tuan Raymond yang tidak suka menunggu walau hanya beberapa menit saja," gumam Elliot sambil menghela napasnya.
Alice masih memasang wajah terkejutnya.
"Sumpah demi Tuhanku, jangan panggil aku Alice jika aku tidak bisa merubah sikap arogannya."
Namun sejenak ia kembali berpikir dan merutuki kebodohannya.
Aduh, Alice kenapa kamu berkata demikian Alice.
Alice menghela napasnya dalam.
"Aku begitu membencinya, bagaimana mungkin aku bisa bertahan hidup bersamanya apalagi sampai seumur hidupku."
Alice diam dan kembali berpikir sejenak.
Restoran Mewah.
Raymond dan Alice sudah berjalan sejajar memasuki lobi restoran.
"Bersikaplah elegan, jangan membuatku malu."
Alice menghentikan sejenak langkahnya, membiarkan Raymond mendahuluinya.
Ya Tuhan, kenapa aku harus berada di situasi seperti ini.
Alice menghela napasnya kasar. Ia melanjutkan langkahnya mensejajarkan kembali dengan Raymond.
Terlihat Will sudah duduk di kursinya dengan ditemani oleh Greta asistennya.
Pandangannya sudah tertuju kepada sosok wanita cantik dengan memakai dress merah yang terlihat anggun di matanya.
Will langsung berdiri menyambut Raymond dan Alice.
"Apa kabar brother?" sapa Will.
Raymond memeluk Will lalu menepuk punggung Will, tanda mereka sudah begitu lamanya tidak bertemu.
Raymond duduk di kursinya, sementara Alice sudah duduk terlebih dahulu, menatap penuh canggung suasana yang kini ada dihadapannya.
Raymond mengalihkan pandangannya dan tatapannya terhenti pada sosok wanita cantik yang kini berada tepat di belakang samping Will.
"Siapa wanita ini Will?"
"Perkenalkan dia adalah asisten pribadiku, Scarlett Greta Weins berdarah Swedia-Inggris, dia sudah bekerja denganku selama 3 tahun."
Greta maju untuk menjabat tangan Raymond.
Jabatan yang erat dari Raymond sebagai kode bahwa ia begitu terkesan dengan penampilan Greta.
Greta tersenyum manis, membalas senyuman Raymond.
Alice hanya mematung melihat sikap Raymond layaknya seorang playboy.
"Dasar pria arogan ini begitu menghormati wanita seksi di matanya, tapi denganku atau dengan manager butik dia bersikap angkuh dan semaunya."
Alice melirik Raymond dengan sinis dan sesekali melihat Greta dengan pakaian yang memperlihatkan bagian atas dadanya yang terlihat sintal.
Apa aku harus berpenampilan seksi seperti itu agar dia menghormatiku.
Alice terus menatap ke arah Greta, dengan pandangan tidak suka.
Namun tanpa Alice sadari sepasang mata, sudah sejak tadi terpikat dengan wajah lucunya.
"Ray, apa ini calon istrimu yang kau bicarakan akan berbagi denganku?"
Will menembak langsung ucapan yang sempat Raymond lontarkan padanya ditelepon.
Raymond menelan salivanya sendiri, ia tersedak saat akan meminum lemon yang sudah berada dalam genggamannya.
"Saat itu aku hanya bergurau brother, tapi jika kamu tertarik aku akan berikan, tapi itu bila Alice mau menghabiskan waktu denganmu."
"Bagaimana Nona Alice?" tanya Will dengan menaikan sebelah alisnya.
Alice terlihat geram mendengar percakapan dua orang pria yang ada dihadapannya, saat ini. Keduanya di mata Alice, sama-sama tidak menghargai kehormatan seorang wanita.
Wajah Alice tampak tidak suka dengan perkataan Will, namun itu dapat terbaca oleh Will, yang memang ahli dalam membaca raut wajah seseorang. Will lalu memotong ucapan Alice ketika hendak menjawab pertanyaannya.
"Ray dan Nona Alice, jangan kalian masukan ke dalam hati, aku tadi hanya bercanda."
Raymond menjadi lega mendengar ucapan Will.
"Sial kau Will jantungku hampir copot dibuat olehmu, aku hanya takut jika wanita ini nanti berkata yang bukan-bukan kepada Daddy," gumam Raymond yang mulai tenang.
"Maafkan aku Nona Alice, itu hanya gurauan orang Swedia, memberikan candaan di awal untuk mengejutkan kawan lama,"
Will terkekeh sambil menatap Alice, yang saat ini sudah begitu memerah wajahnya, karena menahan malu sekaligus amarahnya.
"Mari bersulang!"
Raymond mengangkat gelasnya, diikuti oleh Alice dan Will.
"Cheers."
Sesekali Raymond mencuri pandangan ke arah Greta, ternyata tatapan Raymond berbalas senyum manis dari Greta yang juga memandang Raymond dengan mata indahnya.
Alice menangkap pandangan itu dengan wajah jijiknya.
Dasar pria mesum, gak bisa ngelihat wanita seksi sedikit langsung terpikat.
Malam itu berlangsung begitu panjang untuk Alice. Malam yang ia sendiri tidak pernah terpikirkan akan dialaminya, walau hanya dalam mimpinya sekalipun.
Namun berbeda dengan Will, malam ini menjadi malam yang penuh dengan pesona Alice, karena begitu seringnya Alice beradu pandang dengan Will.
Makan malam pun berakhir.
Raymond dan Alice beranjak pergi meninggalkan Will dan Greta yang masih berada di mejanya.
"Terima kasih Greta, kamu sudah menjalankan semua perintahku."
"Baik Tuan, sudah tugas saya, Tuan Raymond sepertinya sudah masuk dalam perangkap kita, Tuan."
"Aku tahu Greta, aku dapat menangkap sorot matanya yang sering menatapmu."
"Selanjutnya sesuai rencana Greta."
"Baik, Tuan."
Will memicingkan senyumnya.
Ia kemudian beranjak dari kursinya untuk meninggalkan restoran, diikuti oleh Greta di belakangnya.
🍁🍁🍁
Bersambung✍️
Terima kasih ya. Ikuti terus kisahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Rossida Sity
Rey mata keranjang
2024-06-13
0
Siti Aminah
waaah ternyata will musuh dlm selimut. kapok km rey...
2023-08-24
0
Gauri Utama
Ada udang di balik batu.. Ada muslihat yg di sembunyikan... Semoga Ray aja yg terjebak yah. Alice jangan, jauhin aja dia dr musibah
2022-12-13
1